Hujan deras mengguyur atap seng pos keamanan belakang RSU Cakra Buana, menyamarkan suara seretan langkah kaki yang berat di lorong beton. Seorang petugas keamanan muda, dengan napas memburu dan seragam basah oleh keringat dingin, berusaha memutar kunci pintu besi berkarat dengan tangan gemetar.
Dia tidak berani menoleh ke belakang, ke arah kegelapan pekat di mana suara lonceng kaki pengantin terdengar gemerincing, semakin lama semakin mendekat, diiringi aroma melati yang begitu menyengat hingga membuat mual.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Bab 22: Labirin Bawah Tanah
Udara di dalam lorong pembuangan itu terasa begitu berat, seolah-olah oksigen enggan mampir ke tempat yang telah dilupakan oleh waktu dan peradaban manusia modern. Elara Senja menarik napas pendek, berusaha menyaring aroma busuk yang merupakan campuran dari limbah medis, tanah basah, dan sesuatu yang lebih amis menyerupai darah lama. Kakinya terbenam ke dalam lumpur hitam setinggi mata kaki, menciptakan suara kecipak basah yang menggema memantul di dinding beton berlumut.
Pak Darto berjalan dua langkah di depannya, tangan kanannya menggenggam erat sebuah senter tua yang cahayanya mulai meredup dan berkedip tidak stabil. Pria tua itu tampak jauh lebih tegang daripada biasanya, punggungnya membungkuk waspada seakan siap menerima serangan dari kegelapan yang mengepung mereka dari segala arah. Ia tahu betul bahwa gorong-gorong di bawah RSU Cakra Buana bukan sekadar saluran air, melainkan labirin yang menyimpan sejarah kelam kota Arcapura.
"Hati-hati melangkah, Neng, jangan sampai menyentuh dinding," ucap Pak Darto dengan suara serak yang tertahan.
Elara mengangguk meski ia tahu Pak Darto tidak bisa melihatnya dalam keremangan itu, lalu ia menarik tangannya yang hampir menyentuh permukaan dinding yang dipenuhi lendir kehijauan. Dinding itu terasa hidup, berdenyut pelan seirama dengan tetesan air yang jatuh dari langit-langit retak di atas kepala mereka. Rasa takut yang dingin merambat naik dari tulang punggungnya, bukan hanya karena kegelapan fisik, tetapi karena sensasi diawasi yang begitu kuat.
Mereka terus bergerak menyusuri lorong sempit itu, meninggalkan area basement kamar jenazah yang kini terasa seperti tempat paling aman dibandingkan terowongan ini. Di kejauhan, suara gemuruh mesin pendingin rumah sakit terdengar sayup-sayup, namun semakin mereka melangkah masuk, suara itu perlahan digantikan oleh kesunyian yang menekan gendang telinga. Hanya suara napas mereka yang memburu dan detak jantung Elara yang menjadi penanda kehidupan di sana.
"Pak, sebenarnya saluran ini menuju ke mana?" tanya Elara setengah berbisik, mencoba mengusir ketakutan.
Pak Darto berhenti sejenak, menyorotkan senternya ke arah persimpangan lorong yang tampak seperti mulut raksasa yang menganga lebar. Cahaya senter menyoroti tumpukan barang bekas—kursi roda berkarat, brankar patah, dan botol-botol infus kosong—yang menumpuk seperti barikade sampah di sudut jalan.
"Dulu, zaman kolonial, ini jalur evakuasi darurat ke arah sungai di timur Arcapura," jawab Pak Darto pelan sambil menyeka keringat di dahinya.
"Tapi setelah renovasi tahun sembilan puluhan, banyak jalur yang ditutup beton karena pondasinya ambles," lanjutnya dengan nada prihatin. "Sekarang, tempat ini jadi wilayah abu-abu, Neng. Manusia jarang lewat sini, tapi 'penghuni' lain justru menjadikannya rumah."
Elara menelan ludah, teringat pada tatapan dingin Dr. Arisandi sebelum mereka melarikan diri tadi. Dokter itu tidak mengejar mereka secara fisik, namun senyum tipis di wajahnya menyiratkan bahwa ia memiliki cara lain untuk menghentikan langkah mereka. Elara meraba saku jaketnya, memastikan flashdisk berisi data pasien ilegal itu masih aman tersimpan, satu-satunya bukti yang bisa meruntuhkan reputasi RSU Cakra Buana.
Tiba-tiba, suara geraman rendah terdengar dari arah belakang mereka, bukan suara tikus atau hewan pengerat biasa, melainkan suara gesekan benda keras yang diseret paksa di atas lantai beton. Elara menoleh cepat, matanya menyipit menembus kegelapan pekat di belakang punggungnya, mencari sumber suara yang membuat bulu kuduknya meremang seketika.
"Pak Darto, Bapak dengar itu?" bisik Elara dengan suara gemetar.
Pak Darto mematikan senternya seketika, membuat mereka berdua tenggelam dalam kegelapan total yang menyesakkan dada. Tangan kasar penjaga kamar jenazah itu mencengkeram lengan Elara, memberi isyarat agar ia diam membeku dan menahan napas. Dalam kegelapan itu, indra pendengaran Elara menjadi jauh lebih tajam, menangkap setiap detail suara di sekelilingnya.
Suara seretan itu semakin dekat, disertai dengan bunyi 'cepak-cepak' langkah kaki yang tidak beraturan, seperti seseorang yang berjalan dengan kaki patah atau diseret. Bau anyir darah segar tiba-tiba menyeruak, mengalahkan bau busuk limbah yang sejak tadi mendominasi udara di lorong tersebut. Elara membekap mulutnya sendiri, menahan keinginan untuk muntah atau berteriak histeris.
"Itu bukan satpam," gumam Pak Darto sangat pelan, nyaris tak terdengar.
Cahaya kemerahan samar mulai terlihat memantul di dinding basah jauh di belakang mereka, perlahan mendekat seperti mata iblis yang mencari mangsa. Elara bisa melihat bayangan sosok tinggi besar yang terdistorsi di dinding, bentuknya tidak proporsional dengan lengan yang terlalu panjang hingga menyentuh tanah. Itu adalah sesuatu yang dikirimkan oleh Dr. Arisandi, sebuah 'eksperimen' yang gagal atau mungkin entitas yang dipelihara oleh rumah sakit.
"Lari, Neng!" seru Pak Darto tiba-tiba sambil menyalakan senternya kembali.
Tanpa menunggu perintah kedua, Elara memacu kakinya berlari menerobos lumpur, tidak peduli lagi pada cipratan air kotor yang mengotori celana jinsnya. Adrenalin membanjiri tubuhnya, memberikan energi tambahan untuk melompati pipa-pipa yang melintang dan menghindari genangan air yang mungkin menyembunyikan lubang dalam. Di belakang mereka, suara geraman itu berubah menjadi jeritan melengking yang memekakkan telinga, suara yang tidak mungkin berasal dari pita suara manusia normal.
Mereka berbelok tajam ke kanan di sebuah persimpangan, napas Elara terasa panas membakar paru-parunya yang bekerja terlalu keras. Lorong ini lebih sempit dari sebelumnya, dengan langit-langit yang begitu rendah hingga Pak Darto harus sedikit menunduk agar kepalanya tidak terbentur beton. Kabel-kabel listrik putus bergelantungan seperti akar pohon beringin yang mati, menambah kesan horor di jalur pelarian mereka.
"Lewat sini! Ada pintu besi tua di ujung!" teriak Pak Darto sambil mengarahkan senternya ke depan.
Namun, harapan itu pupus seketika ketika cahaya senter menyoroti sebuah jeruji besi kokoh yang tertutup rapat, digembok dengan rantai berkarat yang tampak mustahil untuk diputuskan dengan tangan kosong. Jalan buntu. Elara berhenti mendadak, tangannya menyentuh dinginnya besi yang memisahkan mereka dari kebebasan, sementara suara makhluk pengejar itu semakin mendekat dengan cepat.
Elara berbalik, menatap Pak Darto dengan kepanikan yang terpancar jelas dari matanya yang membelalak lebar. "Pak, kita terjebak! Tidak ada jalan lain!"
Pak Darto tidak menjawab, ia sibuk merogoh tas pinggang lusuhnya, mengeluarkan sebuah linggis kecil dan segenggam garam kasar. Wajah tua itu tampak keras, garis-garis keriputnya menegang saat ia menyadari bahwa konfrontasi tidak mungkin dihindari lagi. Ia menaburkan garam itu membuat garis batas di lantai, sebuah upaya klenik terakhir untuk menahan apa pun yang sedang mengejar mereka.
"Mundur ke belakang saya, Elara," perintah Pak Darto tegas, nada suaranya berubah menjadi pelindung.
Sosok itu akhirnya muncul di tikungan lorong, tersorot oleh cahaya senter yang diletakkan Pak Darto di atas pipa. Makhluk itu mengenakan sisa-sisa seragam pasien RSU Cakra Buana yang telah koyak-moyak, kulitnya pucat keabu-abuan dengan pembuluh darah hitam yang menonjol di seluruh tubuh. Wajahnya—jika bisa disebut wajah—tertutup perban kotor yang meneteskan cairan kuning, hanya menyisakan satu mata yang menatap kosong namun penuh kebencian.
"Itu... itu pasien yang hilang bulan lalu," desis Elara, mengenali postur tubuh makhluk itu dari foto yang ia temukan di arsip Dr. Arisandi.
Makhluk itu menerjang maju tanpa peringatan, menabrak batas garam yang dibuat Pak Darto hingga terpelanting ke dinding. Namun, garam itu hanya menahannya sesaat; makhluk itu bangkit kembali dengan tulang-tulang yang berbunyi 'krak' mengerikan, seolah rasa sakit hanyalah konsep asing baginya. Dr. Arisandi benar-benar telah mengubah manusia menjadi monster penjaga bawah tanah.
"Cari celah di samping jeruji! Pasti ada mekanisme tuasnya!" teriak Pak Darto sambil mengayunkan linggisnya ke arah makhluk itu.
Elara memaksa dirinya untuk tidak terpaku pada perkelahian mengerikan di depannya, ia meraba-raba dinding di sekitar jeruji besi dengan panik. Jari-jarinya yang gemetar menyentuh permukaan batu bata yang lembap, mencari tonjolan atau sakelar tersembunyi. Di belakangnya, suara benturan keras terdengar saat tubuh Pak Darto dihantam ke dinding oleh makhluk itu, membuat Elara menjerit tertahan.
"Jangan pedulikan saya! Buka pintunya!" raung Pak Darto sambil berusaha bangkit.
Jari Elara menyentuh sebuah kotak panel listrik yang tertutup lumut, ia membukanya paksa hingga engselnya patah. Di dalamnya terdapat tuas berkarat yang tampak rapuh. Dengan sisa tenaga dan doa yang ia rapalkan dalam hati, Elara menarik tuas itu ke bawah sekuat tenaga. Terdengar suara gemuruh mesin hidrolik tua yang terbangun dari tidur panjangnya, diikuti dengan getaran hebat yang merontokkan debu dari langit-langit.
Jeruji besi itu bergeser perlahan, menciptakan celah sempit yang cukup untuk dilewati satu orang. Elara menoleh, melihat Pak Darto sedang kewalahan menahan serangan makhluk itu yang semakin beringas. Tanpa berpikir panjang, Elara mengambil batu besar dari lantai dan melemparkannya tepat ke kepala makhluk itu, mengalihkan perhatiannya sejenak.
"Ayo Pak! Sekarang!" teriak Elara sambil mengulurkan tangannya.
Pak Darto memanfaatkan momen itu untuk menendang lutut makhluk tersebut hingga terhuyung, lalu berlari tertatih-tatih menuju celah pintu. Mereka berdua menerobos masuk tepat saat tangan panjang makhluk itu mencoba meraih kaki Elara. Dengan cepat, Elara mendorong tuas kembali, menutup jeruji besi itu tepat di depan wajah makhluk yang kini meraung marah sambil mencakar-cakar besi pembatas.
Mereka jatuh terduduk di lantai yang lebih kering di sisi lain jeruji, napas mereka memburu hebat di tengah kegelapan yang sedikit lebih hening. Mereka selamat, setidaknya untuk saat ini. Namun, ketika Elara menyorotkan senter ke depan, ia menyadari bahwa mereka belum keluar. Mereka justru masuk ke bagian yang lebih tua dari RSU Cakra Buana, sebuah ruangan bawah tanah dengan arsitektur kolonial yang masih utuh, lengkap dengan simbol-simbol aneh yang terukir di pilarnya.
"Ini bukan jalan keluar," bisik Elara, menatap simbol okultisme yang sama dengan yang ada di ruangan Dr. Arisandi.
Pak Darto menyeka darah dari sudut bibirnya, menatap ruangan itu dengan pandangan ngeri. "Bukan, Neng. Ini jantungnya. Kita justru masuk ke pusat 'perjanjian' itu dibuat."