NovelToon NovelToon
Asisten Kesayangan Pak Manager

Asisten Kesayangan Pak Manager

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Kantor / Cinta pada Pandangan Pertama / Office Romance
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Seribu Bulan

Felicia datang ke kantor itu hanya untuk bekerja.
Bukan untuk jatuh cinta pada manajer yang usianya lima belas tahun lebih tua—dan seharusnya terlalu jauh untuk didekati.
James Han tahu batas. Jabatan, usia, etika—semuanya berdiri di antara mereka.
Tapi semakin ia menjaga jarak, semakin ia menyadari satu hal: ada perasaan yang tumbuh justru karena tidak pernah disentuh.
Ketika sistem memisahkan mereka, dan Felicia hampir memilih hidup yang lain, James Han memilih menunggu—tanpa janji, tanpa paksaan.
Karena ada cinta yang tidak datang untuk dimiliki, melainkan untuk dipilih di waktu yang benar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seribu Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian Dua Puluh Tujuh

Pagi di Bogor diawali dengan kegemparan kecil. Begitu Felicia mengabarkan bahwa Pak Han akan berkunjung, Nek Diah seolah mendapat komando perang.

​"Wa Pian! Itu punten rumput di dekat tangga dibabat habis nya, jangan sampai ada yang ngarumbay. Isin dilihat calon mantu!" seru Nek Diah sambil sibuk mengikat capingnya. Tanpa menunggu jawaban, ia segera bergegas ke pasar subuh untuk memburu bahan makanan terbaik dan camilan paling legit untuk suguhan.

​Felicia sempat memprotes, "Nek, Pak Han itu cuma mau menjemput Felicia sebentar, gak perlu seheboh ini."

​Namun, Nek Diah hanya mengibaskan tangan. "Hus! Ini soal kesan pertama untuk calon suamimu. Kamu cepat bersihkan ruang tamu, terus mandi yang wangi!"

​Setelah rumah dipastikan kinclong berkat komando sang nenek, Felicia segera bersiap.

Sebuah pesan masuk dari Pak Han: “Sepuluh menit lagi saya berangkat.”

Dengan jantung yang berdebar halus, Felicia berpamitan pada Nek Diah, dan berjanji akan kembali bersama pria itu nanti. Ia memesan ojek daring dan meluncur menuju sebuah kedai kopi nyaman di pusat kota.

​Lima belas menit menunggu di sudut kedai yang tenang, sosok yang dinanti akhirnya muncul. Pak Han melangkah masuk, memancarkan aura maskulin yang berbeda dari biasanya. Ia mengenakan kemeja garis-garis biru dongker yang pas di badan, tanpa dasi, dengan kancing teratas yang sengaja dibuka—memberikan kesan santai namun tetap berkelas.

​"Sudah lama? Maaf, ya, saya terlambat karena sedikit macet di pintu tol," sapanya sambil menarik kursi di depan Felicia.

​Felicia menggeleng cepat, matanya tak berkedip menatap penampilan baru atasannya itu. "Bapak nggak telat, kok. Saya aja yang sengaja datang lebih awal."

​Pak Han menghela napas panjang, menatap Felicia dengan tatapan protes yang lembut. "Fel, sudah saya bilang, jangan panggil saya Bapak kalau kita sedang berkencan seperti ini."

​"Maaf, saya lupa... James," ralat Felicia canggung.

​"Nah, itu jauh lebih baik."

​Felicia memutar-mutar sendok kopinya. "Tapi rasanya kurang sopan. Kamu kan jauh lebih dewasa dari aku."

​"Panggil apa saja yang menurutmu nyaman, asal jangan Bapak atau Pak. Rasanya seperti sedang rapat di ruang direksi," pinta Pak Han sambil terkekeh.

​"Aa?" Felicia mencoba satu panggilan lokal.

"Biasanya di sini, laki-laki yang lebih tua dipanggil Aa. Tapi kayanya kamu nggak cocok dipanggil Aa James." Felicia tertawa kecil membayangkan pria seformal Pak Han dipanggil dengan sebutan Sunda yang kental.

​Pak Han ikut tersenyum. "Panggil saja Oppa, di Korea, saya sering dipanggil dengan sebutan itu oleh orang yang lebih muda."

​"Ih, nggak mau. Aku nggak mau panggilannya sama dengan orang lain," Felicia tampak berpikir keras, matanya berbinar saat sebuah ide muncul. "Ah! Gimana kalau Mas Jimmy?"

​"Mas Jimmy?" Pak Han mengulang nama itu, dahinya berkerut tipis.

​"Iya! Mas itu panggilan sopan untuk pria dewasa dalam bahasa Jawa, kedengaran lebih hangat kan? Dan Jimmy itu panggilan lucu untuk James. Jadi, Mas Jimmy. Gimana?"

​Pak Han terdiam sejenak, mencerna nama panggilan yang terdengar jauh lebih muda dan rumahan itu. Sebuah senyum tulus mengembang di wajahnya, lalu ia mengulurkan tangan untuk mengusap rambut Felicia dengan sangat lembut.

​"Boleh. Terserah kamu saja," bisik Pak Han hangat. "Kamu ini... kenapa menggemaskan sekali, sih?"

Pak Han menyesap kopi hitamnya yang masih mengepul, lalu meletakkan cangkir itu perlahan. Tatapannya terkunci pada Felicia.

​"Jadi... hal serius apa yang ingin kamu bahas, Fel?" tanya Pak Han lembut, suaranya rendah seolah tak ingin mengusik ketenangan gadis di depannya.

​Felicia menghirup napas panjang, bahunya tampak bergetar sedikit saat ia berusaha mengumpulkan kepingan keberanian.

"Sebenarnya, aku malu menceritakan ini padamu, Mas. Tapi cepat atau lambat, kamu akan tahu sendiri."

​Ia menjeda, menunduk menatap jemarinya yang saling bertaut erat di atas meja. "Sebelum kamu benar-benar menginjakkan kaki di rumahku dan bertemu mereka, kamu harus tahu ini dulu. Agar kamu bisa memutuskan... apakah kamu masih ingin melanjutkan pertemuan ini, atau memilih untuk berbalik arah sekarang juga."

​"Katakan semuanya, Fel. Saya mendengarkan," pinta Pak Han dengan nada protektif yang tulus.

​"Aku tidak bisa menceritakan detailnya sekarang, butuh waktu yang sangat panjang untuk menjelaskan luka itu satu per satu. Tapi, aku akan ceritakan bagian yang paling penting," suara Felicia mulai serak.

​Ia mendongak, matanya yang berkaca-kaca menatap Pak Han dengan kejujuran yang pedih. "Saat ini, aku hanya tinggal bersama nenekku. Ayahku... aku bahkan tidak tahu dia ada di mana sekarang. Sedangkan ibuku, beliau sudah wafat sejak aku masih kecil. Bisa dibilang, aku tumbuh tanpa sosok orang tua yang utuh."

​Hati Pak Han terasa mencelos, seperti ada beban berat yang menghantam dadanya. Ia melihat sosok Felicia yang selama ini tampak ceria dan tangguh di kantor dengan cara yang sangat berbeda. Ada luka lama yang disembunyikan rapat-rapat di balik senyum itu. Rasa iba dan sayang yang meluap-luap memenuhi rongga dadanya, membuatnya ingin menarik gadis itu ke dalam pelukannya saat itu juga.

​"Di rumah nanti, Mas akan bertemu Wa Pian. Beliau anak tertua nenek, orang yang selama ini menjaga kami dan menjadi pengganti sosok Ayah bagiku," jelas Felicia lagi, air matanya kini jatuh satu tetes melewati pipinya.

​"Jadi, sebelum Mas Jimmy menemui mereka... tolong pikirkan lagi soal latar belakang keluargaku. Dan yang paling penting, apakah keluarga Mas yang mungkin terpandang, bisa menerima gadis sepertiku?"

​Pak Han tidak menjawab dengan kata-kata terlebih dahulu. Ia menjangkau tangan Felicia, menggenggam jemari mungil yang dingin itu dengan telapak tangannya yang hangat dan kokoh.

​"Fel, dengarkan saya," ucapnya dalam.

"Apapun kondisi keluarga kamu, saya terima. Kamu tahu? Ada hal-hal di dunia ini yang tidak bisa kita pilih; salah satunya adalah keluarga. Kita tidak bisa memilih dari siapa kita dilahirkan atau dari mana kita berasal. Itu takdir yang sudah tertulis, Fel, itu bukan sesuatu yang harus kamu tangisi atau membuat kamu merasa rendah diri."

​Pak Han mengeratkan genggamannya. "Kalau kamu berpikir saya akan mundur hanya karena itu, kamu salah besar. Saya tidak akan pernah menghakimi kamu atas sesuatu yang berada di luar kendali kamu. Itu bukan kesalahan kamu."

​Felicia tercekat, dadanya sesak oleh rasa lega yang bercampur haru. "Kamu serius, Mas?"

​"Tentu saja. Saya mencintai kamu, Fel. Itu berarti saya menerima seluruh paket tentang kamu. Bukan hanya soal bahagia kamu, tapi juga masa lalu kamu, luka kamu, dan segala kekurangan yang kamu rasa kamu miliki."

​"Tapi, bagaimana dengan orang tua kamu?" tanya Felicia ragu.

​Pak Han terkekeh pelan, mencoba mengurai suasana melankolis itu dengan senyum hangatnya. "Saya bukan keturunan konglomerat, Fel. Saya lahir dari keluarga biasa. Kami juga bukan keluarga yang sempurna, tapi, mereka adalah orang-orang yang hangat. Saya yakin mereka akan menyukai kamu, karena mereka percaya pada pilihan saya."

​Ia mengusap punggung tangan Felicia dengan ibu jarinya. "Mereka tidak akan peduli dengan status sosial. Keluarga saya bukan tipe yang punya kriteria khusus untuk menantu. Nanti, kalau urusan pekerjaan kita sudah agak longgar, saya sendiri yang akan membawamu bertemu mereka. Kamu akan lihat sendiri betapa mereka akan menyayangimu."

Mata Felicia membulat kecil, sisa air mata masih menggantung di bulu matanya. "Maksudnya... Mas Jimmy mau membawa aku ke Korea?" tanya Felicia, menyebut negara asal pria yang kini duduk di hadapannya dengan perasaan tak menentu.

​Pak Han tersenyum lembut, kali ini lebih santai seolah ingin menghapus sisa-sisa kesedihan di wajah Felicia. "Dulu memang kami tinggal di sana, Fel. Tapi sekarang, seluruh keluargaku menetap di Singapura. Mereka sedang menjalankan kedai mie peninggalan nenek yang sudah berdiri puluhan tahun."

​"Wah, keluarga Mas Jimmy punya bisnis kuliner?" Felicia tampak terpana, membayangkan pria berjas rapi yang biasanya ia lihat di kantor ternyata berasal dari keluarga pengelola kedai mie yang hangat.

​Pak Han mengangguk antusias, binar matanya menunjukkan rasa bangga yang jujur terhadap asal-usulnya. "Iya. Sudah aku bilang, kan? Keluargaku itu sederhana. Aku bisa berada di posisi sekarang, menjabat sebagai pimpinan di perusahaan kita, itu murni karena aku bekerja keras dan belajar mati-matian. Bukan karena privilese atau warisan keluarga."

​Ia mencondongkan tubuh, menatap Felicia dengan tatapan yang sangat dalam dan penuh penghargaan.

​"Jadi, kalau dilihat-lihat, kita ini sebenarnya sama, Fel. Kita berdua adalah perintis. Aku merintis karierku dari nol, dan kamu pun sedang berjuang dengan kakimu sendiri. Jadi, tolong... jangan pernah merasa kecil hati lagi soal latar belakang. Kita berdiri di garis yang sama."

​Kalimat itu seolah menjadi penawar bagi semua rasa rendah diri yang selama ini menghantui Felicia. Ruang kafe yang tadinya terasa dingin dan asing, mendadak terasa hangat.

​"Sudah siap pulang?" tanya Pak Han lembut, jemarinya masih menggenggam tangan Felicia. "Kasihan nenekmu sudah menunggu di rumah. Saya tidak mau membuat calon nenek saya menunggu terlalu lama."

​Felicia tersenyum lebar, kali ini tulus tanpa beban. "Siap, Mas Jimmy."

1
Seribu Bulan 🌙
siap kak makasih yaa😍
Andina Jahanara
lanjut sampe tamat kak 💪
Faidah Tondongseke
Ceritanya seru,Cinta bersemi di kantor,Asiik deh pokoknya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!