Felicia datang ke kantor itu hanya untuk bekerja.
Bukan untuk jatuh cinta pada manajer yang usianya lima belas tahun lebih tua—dan seharusnya terlalu jauh untuk didekati.
James Han tahu batas. Jabatan, usia, etika—semuanya berdiri di antara mereka.
Tapi semakin ia menjaga jarak, semakin ia menyadari satu hal: ada perasaan yang tumbuh justru karena tidak pernah disentuh.
Ketika sistem memisahkan mereka, dan Felicia hampir memilih hidup yang lain, James Han memilih menunggu—tanpa janji, tanpa paksaan.
Karena ada cinta yang tidak datang untuk dimiliki, melainkan untuk dipilih di waktu yang benar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seribu Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian Dua Puluh Empat
Setelah pertemuan dengan Pak Bramasta berakhir, Pak Han tidak langsung mengantar Felicia pulang. Sesuai janji Felicia yang katanya akan bicara jujur, ia membawa Felicia ke sebuah gedung apartemen kelas atas di pusat kota.
Awalnya Felicia menolak keras. Pikirannya sudah melalang buana ke arah yang tidak-tidak. Namun, Pak Han menatapnya dengan sorot mata yang begitu tulus, nyaris memohon.
"Saya tidak akan melakukan apa pun yang melanggar batas, Fel. Saya hanya ingin tempat yang privat agar kamu bisa bicara tanpa takut didengar orang kantor atau siapapun. Saya janji," ucapnya meyakinkan.
Begitu pintu unit terbuka, aroma pengharum ruangan dan maskulin yang sangat khas dengan kepribadian Pak Han langsung menyapa indra penciuman Felicia.
Apartemen itu tidak bergaya mewah yang norak dengan lapisan emas di mana-mana. Sebaliknya, tempat itu mengusung konsep kemewahan yang fungsional.
"Dulu saya tinggal di sini sebelum memegang jabatan ganda," jelas Pak Han sambil meletakkan kunci mobilnya di meja island dapur yang terbuat dari granit.
"Tapi sejak mengurus Pemasaran sekaligus Sampel, saya pindah ke mess. Lebih efisien untuk memantau pekerjaan pagi-pagi sekali tanpa harus terjebak macet satu jam."
Ia melepas jasnya, menyisakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku. Pak Han kemudian mengambil dua botol air mineral dari kulkas dan beberapa bungkus camilan impor yang tampaknya masih tersimpan rapi di lemari kabinetnya.
Pak Han meletakkan air mineral itu di depan Felicia yang duduk dengan kaku di pinggir sofa. Ia sendiri memilih duduk di kursi single di seberang Felicia, memberikan jarak yang cukup agar gadis itu tidak merasa terintimidasi.
"Maaf kalau sedikit berdebu, saya sudah jarang ke sini," ucap Pak Han pelan. Ia menyandarkan punggungnya, menatap Felicia yang masih menunduk.
Pak Han mencondongkan tubuhnya sedikit, menatap Felicia dengan intensitas yang melunak. "Katakan pada saya, Fel. Apa yang membuat kamu tiba-tiba membangun tembok setinggi ini setelah seharian tadi? Saya tidak akan bisa tidur kalau masalah ini tidak selesai malam ini."
Felicia menatap pantulan lampu-lampu kota di jendela besar apartemen itu. Tangannya yang dingin menggenggam botol air mineral dengan erat.
Setelah pergulatan batin yang melelahkan sejak siang tadi, Felicia akhirnya menarik napas panjang dan menoleh perlahan ke arah Pak Han.
"Pak... saya rasa Bapak perlu mencari calon istri lain," ucap Felicia lirih, namun cukup tegas untuk memecah kesunyian.
Pak Han yang sedang menyandarkan punggungnya di sofa seketika menegak. Keningnya berkerut dalam, matanya menyipit mencari penjelasan di balik wajah pucat Felicia. "Kenapa tiba-tiba kamu bicara seperti itu?"
"Saya mohon maaf, Pak. Tapi sepertinya saya tidak bisa... membersamai Bapak menuju posisi yang Bapak harapkan di Surabaya nanti," lanjut Felicia. Suaranya sedikit bergetar, ia buru-buru menunduk agar tidak tenggelam dalam tatapan tajam pria itu.
Pak Han meletakkan botol minumnya di atas meja dengan bunyi yang cukup keras, menunjukkan kegelisahan yang mulai memuncak.
"Bisa beri saya alasan yang masuk akal? Bukannya kemarin kamu sudah mulai membuka diri? Kita bahkan sudah melewati hari ini dengan cukup baik sebelum... sebelum ini terjadi."
Felicia tersenyum kecut, masih enggan menatap Pak Han. "Saya rasa, saya belum memberikan jawaban resmi, Pak. Bapak sendiri yang bilang kalau Bapak memberikan saya waktu satu bulan untuk menjawab, kan?"
"Iya, tapi sikap kamu menunjukkan kalau kamu... mau," sahut Pak Han cepat. Suaranya merendah, terselip nada kecewa yang tidak bisa ia sembunyikan. "Cara kamu tertawa tadi pagi, cara kamu menarik saya ke photobox... itu bukan sikap seseorang yang berniat menolak."
Felicia menggigit bibir bawahnya, merasa tertangkap basah. Namun, bayangan wajah Anissa dan kalimatnya yang tajam kembali menghantamnya.
"Maaf, Pak. Saya rasa saya memang tidak bisa melanjutkan ini." ucap Felicia.
Pak Han menghela napas kasar, ia menggeser posisi duduknya lebih dekat ke arah Felicia.
"Kamu harus kasih saya satu alasan kuat, Felicia. Jangan buat saya menebak-nebak seperti orang bodoh."
Felicia mendongak, matanya kini berkaca-kaca karena rasa sesak yang tertahan. "Alasannya karena saya tidak bisa melakukan lompatan kuantum, Pak! Dari seorang pekerja biasa, asisten yang sering Bapak suruh-suruh, tiba-tiba menjadi nyonya direktur di perusahaan sebesar Cipta? Itu tidak masuk akal bagi saya, apalagi bagi orang-orang di sekitar Bapak."
Pak Han memejamkan mata sejenak, ia mengusap wajahnya dengan frustrasi. "Soal ini lagi? Soal kasta dan tingkatan jabatan?"
"Ini bukan cuma soal jabatan, Pak! Ini soal bagaimana dunia memandang Bapak kalau membawa saya ke atas sana," suara Felicia naik satu oktaf.
"Bapak butuh seseorang yang bisa membantu Bapak, bukan seseorang yang justru menjadi beban atau bahan gosip karena dianggap 'tidak selevel'. Saya tidak mau menjadi batu sandungan buat karir Bapak hanya karena saya tidak tahu cara bersikap di lingkungan direksi."
Pak Han terdiam, ia menatap Felicia dengan tatapan yang sangat dalam—tatapan yang kini tidak lagi berisi perintah, melainkan penuh dengan kesungguhan yang menyakitkan.
"Felicia," panggil Pak Han pelan, kali ini ia memberanikan diri meraih bahu gadis itu. "Siapa yang bilang kamu akan jadi beban? Siapa yang bilang kamu harus tahu semuanya dalam satu malam?
Saya tidak sedang mencari rekan bisnis untuk dipamerkan, saya sedang mencari seseorang yang bisa membuat saya merasa 'pulang' setelah lelah menghadapi dunia direksi yang rumit itu. Dan orang itu kamu."
Pak Han bergerak mendekat. Ia meraih telapak tangan Felicia yang dingin, lalu menangkupnya dengan kedua tangannya yang hangat dan kokoh—seolah ingin menyalurkan seluruh keyakinan yang ia miliki ke dalam tubuh gadis itu.
"Saya sangat yakin, kalau kamu bisa cepat beradaptasi, Felicia. Saya tidak akan memilih calon istri saya dengan sembarangan. Saya memilih kamu karena saya tahu kamu mampu," ucap Pak Han dengan nada rendah yang bergetar penuh kesungguhan.
Pak Han diam sejenak, membiarkan kalimatnya meresap. Ia kemudian melepaskan satu tangannya untuk meraih dagu Felicia, mengangkatnya perlahan agar sepasang mata yang berkaca-kaca itu terpaksa menatapnya.
"Saya memilih kamu karena saya menyukai kamu. Bahkan sejak pertama kali saya melihat kamu di ruangan sampel dulu. Jauh sebelum jabatan Direktur ini ada di depan mata saya," bisik Pak Han.
"Pak..." Suara Felicia tercekat di tenggorokan.
"Siapa pun yang bicara pada kamu hari ini, siapa pun yang membuat kamu merasa tidak yakin dengan diri kamu sendiri... tolong, jangan dengarkan mereka, Fel. Karena satu-satunya orang yang harus kamu percaya saat ini adalah saya. Saya yang akan menjadi suami kamu, bukan mereka. Saya yang akan berdiri di samping kamu, bukan mereka."
"Tapi Pak... dunia kita sangat berbeda," isak Felicia pelan. Satu tetes air mata akhirnya jatuh melewati pipinya.
Pak Han tidak membiarkan air mata itu membasahi wajah Felicia lebih lama. Dengan gerakan yang sangat lembut, ibu jarinya menghapus jejak basah itu. "Saya harus lakukan apa lagi agar kamu bisa yakin dan percaya dengan kesungguhan saya? Agar kamu berhenti merasa kecil di depan saya?"
"Saya tidak tahu, Pak," jawab Felicia jujur. Logikanya masih berperang dengan perasaannya.
"Jika kamu berpikir saya hanya menikahi kamu demi jabatan itu, kamu salah besar. Saya sudah bilang, kan? Saya tidak akan menikah jika wanitanya bukan kamu. Saya lebih baik kehilangan posisi itu daripada harus kehilangan kesempatan untuk memiliki kamu."
Pak Han menatap wajah Felicia dengan intensitas yang memabukkan, meneliti setiap inci wajah asistennya yang kini tampak begitu rapuh. Ia mengikis jarak di antara mereka hingga hembusan napasnya terasa di kulit wajah Felicia.
"Boleh saya melakukan sesuatu untuk membuktikan bahwa saya benar-benar menginginkan kamu?" tanya Pak Han, suaranya kini serak dan penuh permohonan.
Felicia bergeming. Ia tidak menolak, namun juga tidak sanggup berkata-kata. Ia hanya bisa mematung, tenggelam dalam tatapan mata Pak Han yang seolah sedang mengunci dirinya.
Perlahan, Pak Han menunduk. Bibirnya menyentuh bibir Felicia dalam sebuah kecupan singkat yang lembut—sebuah pengakuan cinta tanpa kata.
Namun saat Pak Han menjauhkan wajahnya, ia melihat mata Felicia masih terpejam dengan napas yang memburu, pertahanannya kembali runtuh.
Ia kembali mencium Felicia, kali ini dengan intensitas yang lebih dalam, menumpahkan segala rasa rindu dan damba yang selama ini ia tekan di balik setelan jas formalnya.
Dalam ciuman yang terasa seperti janji itu, dunia di luar sana seolah menghilang. Tidak ada Anissa, tidak ada Rey, tidak ada beban pekerjaan. Hanya ada mereka berdua.
Pak Han melepaskan pagutannya perlahan, namun tetap membiarkan kening mereka bersentuhan. Napasnya masih menderu saat ia berbisik tepat di depan bibir Felicia, "Kamu calon istri saya. Kamu layak, kamu berharga, dan kamu lebih dari cukup untuk saya.
Jangan pernah dengar apa pun yang dikatakan orang lain lagi. Cukup dengar saya."
Haiiiii guyssssss!!! Maafkeun yaaa updatenya malem, karena ada scene kiss kiss nya sedikitttt jadi aku update nya pas udah buka puasa! Hahahaha
Jangan lupa like dan komen yaaa supaya aku makin semangat update ✨✨