NovelToon NovelToon
Sistem Penghancur - Kebangkitan Pecundang

Sistem Penghancur - Kebangkitan Pecundang

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / CEO / Sistem / Mafia / Balas Dendam / Roman-Angst Mafia
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Kenzo Banyu Samudera adalah anak tiri dari keluarga konglomerat, hidup sebagai pecundang yang dihina, disiksa, dan dibuang. Lemah, cupu, dan tak pernah melawan—hingga suatu malam ia nyaris mati bersimbah darah. Namun kematian itu justru menjadi awal kebangkitan.
Kesadaran Bayu Samudra, petarung jalanan miskin yang tewas dalam pertarungan brutal, terbangun di tubuh Kenzo. Bersamaan dengan itu, sebuah Sistem Pemburu aktif di kepalanya. Kebangkitan ini bukan hadiah. Keluarga Kenzo memfitnah, menghapus identitasnya, dan mengusirnya dari rumah.
Dari jalanan kumuh, Bayu merangkak naik. Tinju jalanannya berpadu dengan kecerdasan Kenzo dan kekuatan sistem. Perlahan ia membangun kerajaan bayangan bisnis legal di permukaan, mafia di balik layar. Namun sisa memori Kenzo menghadirkan luka, kesepian, dan konflik batin.
Di antara dendam, cinta, dan kegelapan, Bayu harus memilih: menjadi monster penguasa, atau manusia yang masih mengingat rasa kalah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32: THE REAPER TIBA

#

Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Pagi hari. Ramai. Orang-orang berlalu lalang. Koper diseret. Anak kecil nangis. Pengumuman penerbangan bergema dari speaker.

Pintu kedatangan internasional terbuka. Penumpang keluar satu per satu.

Lalu... dia muncul.

Pria tinggi. Mungkin seratus sembilan puluh sentimeter. Badan tegap tapi nggak terlalu besar. Pakai jas hitam rapi. Kemeja putih. Dasi hitam. Sepatu kulit mengkilap.

Tapi yang paling mencuri perhatian...

Topeng putih polos menutupi wajahnya. Nggak ada lubang mata. Nggak ada lubang hidung. Nggak ada mulut. Cuma... putih polos.

Tapi entah kenapa... dia bisa jalan normal. Lihat jalan. Nggak nabrak orang.

Orang-orang melirik. Bisik-bisik.

"Itu... apa?"

"Cosplay ya?"

"Serem banget topengnya..."

Pria itu jalan santai. Tangan di saku celana. Langkah tenang. Seperti lagi jalan di taman, bukan bandara rame.

Dia berhenti di depan konveyor bagasi. Tunggu koper.

Tiga menit kemudian. Koper hitam besar keluar. Dia ambil. Angkat dengan satu tangan. Ringan banget buat dia.

Lalu jalan keluar bandara.

Tapi pas mau keluar...

BRAK!

Seseorang nggak sengaja nabrak dia. Pria gemuk. Buru-buru. Lagi telepon.

"Ah, maaf... maaf..." kata pria gemuk itu sambil lanjut jalan.

Tapi pria bertopeng putih itu berhenti. Berdiri diam.

Lalu... dia taruh koper. Berbalik.

Jalan pelan ke arah pria gemuk yang udah jalan jauh.

Pria gemuk itu masih telepon. Nggak sadar ada yang ngikutin.

Sampai...

Tangan bertopeng putih itu megang bahunya.

Pria gemuk menoleh. "Ya? Ada apa..."

Sebelum dia selesai bicara...

Tangan bertopeng putih itu bergerak cepat. Jari-jari telunjuk dan tengah menusuk leher pria gemuk. Tepat di titik nadi.

Nggak ada darah. Nggak ada luka kelihatan.

Tapi pria gemuk itu langsung jatuh. Mata melotot. Mulut terbuka. Nggak bernapas.

Mati.

Orang-orang di sekitar mulai teriak.

"ADA ORANG JATUH!"

"PANGGIL AMBULANS!"

Tapi pria bertopeng putih itu udah jalan santai balik ke kopernya. Angkat lagi. Lanjut jalan keluar.

Nggak ada yang curiga ke dia.

Karena nggak ada luka. Nggak ada darah. Kelihatannya cuma orang yang kena serangan jantung mendadak.

Di luar bandara. Mobil hitam sedan udah nunggu. Sopir keluar. Buka bagasi.

"Selamat datang, Tuan Penuai."

Pria bertopeng putih itu nggak jawab. Cuma masukkin kopernya sendiri. Lalu masuk ke kursi belakang.

Sopir nutup bagasi. Masuk ke kursi depan. Nyalain mesin.

"Ke mana, Tuan?"

Pria bertopeng putih ambil tablet kecil dari saku jas. Layar menyala. Menampilkan peta kota.

Ada titik merah berkedip. Lokasi mansion Samudera.

Dia ngetik di tablet. Tulisan muncul di layar. Lalu tablet bersuara dengan suara robotik.

"Mansion Samudera. Sekarang."

Sopir mengangguk. Mobil melaju keluar bandara.

***

Satu jam kemudian. Mansion Samudera.

Valerie menunggu di ruang tamu. Duduk di sofa. Tangan dilipat. Wajahnya udah lebih tenang dari semalam. Tapi mata masih merah. Bekas nangis.

Arjuna duduk di sampingnya. Raka berdiri di belakang. Wajah mereka tegang.

Pintu terbuka. Pelayan masuk. "Nyonya... tamu sudah tiba."

Valerie berdiri. "Bawa masuk."

Pelayan keluar. Beberapa detik kemudian...

Pria bertopeng putih itu masuk. Langkah tenang. Tangan di saku.

Valerie menatapnya. Sedikit tersentak lihat topeng putih itu. Tapi dia tahan.

"Kau... Sang Penuai?"

Pria itu mengangguk pelan.

"Duduk. Silakan."

Pria itu duduk di sofa berhadapan dengan Valerie. Postur tegak. Tenang.

Valerie duduk lagi. "Aku sudah transfer lima juta dolar ke rekeningmu. Sisanya setelah pekerjaan selesai."

Pria itu mengangguk lagi.

"Target adalah Kenzo Banyu Samudera. Anak tiriku." Valerie ambil tablet. Tunjukkan foto Kenzo. "Ini dia."

Pria bertopeng putih itu menatap foto. Lama. Seperti menghapal setiap detail.

Lalu dia ambil tablet sendiri. Ketik. Suara robotik berbunyi.

"Info lengkap. Lokasi. Kebiasaan. Kelemahan."

Valerie mengangguk. Dia ambil flashdisk dari meja. Kasih ke pria itu.

"Semua ada di sini. Termasuk lokasi terakhir dia terlihat. Dan... orang-orang yang kerja sama dengannya."

Pria itu terima flashdisk. Masukkan ke tablet. Baca cepat.

Lalu ketik lagi.

"Waktu estimasi: 48 jam."

"Secepat itu?"

Pria itu ngangguk.

Raka yang dari tadi diam akhirnya bicara. "Kau... kau yakin bisa bunuh dia? Dia... dia berbahaya. Dia udah bunuh puluhan orang."

Pria bertopeng putih itu menoleh ke Raka. Nggak gerak. Cuma menatap.

Dan entah kenapa... Raka merasa dingin luar biasa. Seperti ditatap sama maut sendiri.

Dia mundur satu langkah.

Pria itu ketik lagi di tablet.

"Aku sudah bunuh 247 orang. Belum pernah gagal. Kenzo Samudera akan jadi nomor 248."

Valerie tersenyum tipis. "Bagus. Aku tunggu kabar baikmu."

Pria itu berdiri. Angguk sekali. Lalu berbalik. Jalan keluar.

Setelah dia keluar. Valerie bersandar di sofa. Napas lega.

"Akhirnya... akhirnya ada yang bisa bunuh Kenzo..."

Arjuna menatapnya. "Kau yakin ini jalan yang benar?"

Valerie menatap balik. Tajam. "Dia atau kita. Pilih."

Arjuna diam. Nggak bisa jawab.

***

Mobil hitam sedan melaju di jalanan kota. Pria bertopeng putih duduk di belakang. Menatap tablet.

Di layar, data lengkap Kenzo. Foto. Riwayat. Lokasi terakhir.

Dan... nama-nama orang yang kerja sama.

Maya Kusuma. Hacker.

Tekong. Mantan petarung.

Wahyu. Debt collector.

Sari. Mantan polisi.

Semua ada.

Pria itu zoom ke lokasi terakhir Kenzo terdeteksi.

Rumah tua. Pinggiran kota. Koordinat GPS jelas.

Dia ketik di tablet.

"Lacak aktivitas digital Maya Kusuma. Semua jejak."

Tablet bekerja. Layar berubah jadi kode-kode. Angka. Simbol.

Lima menit kemudian. Hasil muncul.

Alamat IP. Lokasi. Rumah tua yang sama.

"Ditemukan."

Pria itu tersenyum di balik topeng. Nggak ada yang lihat. Tapi senyum itu... dingin.

Dia ketik lagi.

"Serangan: besok fajar. Pukul lima pagi. Semua target eliminasi."

Tablet menyimpan data. Lalu mati.

Pria itu bersandar. Menutup mata di balik topeng.

Istirahat.

Karena besok... dia akan bekerja.

***

Rumah tua. Malam itu.

Bayu duduk di depan api unggun kecil. Sendirian. Yang lain udah tidur.

Dia menatap api yang berkobar. Pikirannya melayang.

Dua hari lagi. Misi sistem harus selesai. Bunuh Raka dalam tujuh hari. Sekarang udah hari kelima.

"Gue harus serang lagi. Lebih brutal. Lebih cepat."

Gumaman pelan keluar.

Lalu... sistem muncul.

**[PERINGATAN DARURAT]**

**[ANCAMAN TINGKAT SSS TERDETEKSI]**

**[PEMBUNUH PROFESIONAL: THE REAPER]**

**[KEMAMPUAN: PEMBUNUHAN SENYAP MAKSIMAL, DETEKSI PERGERAKAN, KECEPATAN SUPER MANUSIA]**

**[TINGKAT KESELAMATAN: 5 PERSEN]**

**[REKOMENDASI: EVAKUASI SEGERA]**

Bayu tersentak. Berdiri cepat.

"Apa?!"

Dia baca pesan itu berulang kali.

Lima persen.

Kemungkinan selamat cuma lima persen.

"Sial..."

Dia langsung masuk rumah. Bangunin semua orang.

"BANGUN! BANGUN SEMUA!"

Tekong terbangun kaget. "Ada apa?!"

"Kita harus pindah! Sekarang!"

"Kenapa?!"

"Ada pembunuh bayaran kelas dunia yang dibayar buat bunuh kita! Dia... dia terlalu berbahaya!"

Maya langsung bangun. Buka laptop cepat.

"Gue cek... gue cek jejak digital kita..."

Jari-jarinya menari di keyboard. Cepat. Panik.

Lalu wajahnya pucat.

"Bayu... ada yang lagi lacak IP kita... sekarang... real time..."

"APA?!"

"Dan dia... dia udah tau lokasi kita..."

Hening.

Semua orang menatap satu sama lain.

Wahyu ambil pistol. "Kita lawan?"

Bayu menggeleng. "Nggak. Kita kabur. Sekarang. Ambil barang penting aja. Tinggalin yang lain."

Mereka semua bergerak cepat. Ambil laptop. Senjata. Uang. Dokumen.

Lima menit kemudian. Mereka keluar rumah. Naik van.

Tekong nyetir. Gas maksimal.

Van meluncur cepat di jalanan gelap.

Di belakang. Bayu menatap rumah tua itu yang makin jauh.

"Sang Penuai..."

Gumaman pelan keluar.

"Siapa lu sebenarnya..."

Dan malam itu...

Mereka kabur.

Tapi...

Apakah cukup cepat?

Apakah cukup jauh?

Nggak ada yang tau.

Yang pasti...

Besok fajar...

Pemburu dan mangsa akan bertemu.

Dan cuma satu yang akan selamat.

1
REY ASMODEUS
mantap
aa ge _ Andri Author Geje: terimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!