NovelToon NovelToon
Sistem Penghancur - Kebangkitan Pecundang

Sistem Penghancur - Kebangkitan Pecundang

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / CEO / Sistem / Mafia / Balas Dendam / Roman-Angst Mafia
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Kenzo Banyu Samudera adalah anak tiri dari keluarga konglomerat, hidup sebagai pecundang yang dihina, disiksa, dan dibuang. Lemah, cupu, dan tak pernah melawan—hingga suatu malam ia nyaris mati bersimbah darah. Namun kematian itu justru menjadi awal kebangkitan.
Kesadaran Bayu Samudra, petarung jalanan miskin yang tewas dalam pertarungan brutal, terbangun di tubuh Kenzo. Bersamaan dengan itu, sebuah Sistem Pemburu aktif di kepalanya. Kebangkitan ini bukan hadiah. Keluarga Kenzo memfitnah, menghapus identitasnya, dan mengusirnya dari rumah.
Dari jalanan kumuh, Bayu merangkak naik. Tinju jalanannya berpadu dengan kecerdasan Kenzo dan kekuatan sistem. Perlahan ia membangun kerajaan bayangan bisnis legal di permukaan, mafia di balik layar. Namun sisa memori Kenzo menghadirkan luka, kesepian, dan konflik batin.
Di antara dendam, cinta, dan kegelapan, Bayu harus memilih: menjadi monster penguasa, atau manusia yang masih mengingat rasa kalah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33: PERTARUNGAN VS THE REAPER

#

Van berhenti di hutan kecil. Jauh dari kota. Gelap. Cuma suara jangkrik dan angin.

"Kita tidur di sini malam ini," kata Bayu. "Besok pagi cari tempat lebih aman."

Mereka semua turun. Sari dan Wahyu jaga giliran. Yang lain tidur di dalam van.

Tapi Bayu nggak bisa tidur. Dia duduk di luar. Megang pistol. Menatap kegelapan hutan.

Maya keluar. Duduk di sampingnya.

"Lu... takut?" tanya Maya pelan.

Bayu diam sebentar. Lalu ngangguk. "Iya. Pertama kalinya... gue beneran takut."

"Kenapa?"

"Karena sistem bilang kemungkinan selamat cuma lima persen. Itu artinya... hampir pasti mati."

Maya megang tangan Bayu. "Tapi lu udah kabur. Dia nggak akan nemuin kita."

Bayu menggeleng. "Orang kayak dia... nggak gampang nyerah. Dia akan terus cari sampai nemu."

"Terus gimana?"

"Gue nggak tau..."

Mereka diam. Cuma suara angin yang terdengar.

Lalu...

KRAK!

Suara ranting patah. Dari dalam hutan.

Bayu langsung berdiri. Pistol terangkat.

"Siapa di sana?!"

Hening.

Maya juga berdiri. Ambil pisau dari pinggang.

"Mungkin... hewan?" bisiknya.

"Atau... dia."

Bayu jalan pelan ke arah suara tadi. Masuk hutan sedikit.

Gelap. Nggak kelihatan apa-apa.

Dia ambil senter kecil dari saku. Nyalain.

Sorot ke semak-semak.

Nggak ada apa-apa.

"Mungkin emang cuma hewan..."

Dia berbalik mau balik ke van.

Tapi...

Seseorang berdiri di belakangnya.

Topeng putih polos.

Sang Penuai.

"BAYU!" teriak Maya.

Tapi terlambat.

Tangan Sang Penuai bergerak cepat. Pukulan ke perut Bayu.

"UGHH!"

Bayu terpental. Jatuh ke tanah. Pistol lepas dari tangan.

Sang Penuai jalan pelan mendekat. Tangannya di saku.

Bayu bangun cepat. Ambil pisau. Serang.

Tapi Sang Penuai menghindar. Gampang. Seperti tari.

Lalu tangannya bergerak. Cepat. Nyaris nggak kelihatan.

BRAK!

Pukulan ke wajah Bayu. Keras.

Bayu jatuh lagi. Darah keluar dari hidung.

"Sial... dia... terlalu cepat..."

Bayu coba bangun. Tapi Sang Penuai udah di depannya. Tendangan ke dada.

BRAK!

Bayu terlempar. Punggungnya bentur pohon. Tulang rusuk retak.

"AAAHHH!"

Maya lari. Lempar pisau ke Sang Penuai.

Tapi Sang Penuai tangkap pisau itu. Dengan tangan kosong. Nggak kena.

Lalu dia lempar balik. Lebih cepat.

Maya menghindar. Tapi pisau nyaris kena lehernya.

"MAYA! LARI! BANGUNIN YANG LAIN!" teriak Bayu.

Maya nggak mau ninggalin Bayu. Tapi dia tau... dia nggak bisa lawan Sang Penuai.

Dia lari ke van. Bangunin semua orang.

"BANGUN! SANG PENUAI DI SINI!"

Tekong, Wahyu, Sari langsung bangun. Ambil senjata.

Mereka keluar van. Lihat Bayu lagi berantem sama Sang Penuai.

Tapi... bukan berantem. Lebih ke... Bayu dihajar satu arah.

"TEMBAK DIA!" teriak Wahyu.

DOR! DOR! DOR!

Tiga tembakan. Tapi Sang Penuai bergerak cepat. Semua meleset.

Lalu dia bergerak ke arah Wahyu. Cepat. Seperti bayangan.

Wahyu nggak sempet reaksi. Tangan Sang Penuai mencengkram lehernya. Angkat.

"GHHKKK!"

Wahyu nggak bisa napas.

"LEPAS DIA!" Sari tembak lagi.

DOR! DOR!

Tapi Sang Penuai pakai Wahyu sebagai perisai. Peluru kena Wahyu.

"AAAHHH!"

Wahyu jatuh. Darah keluar dari bahunya.

Sari panik. "WAHYU!"

Sang Penuai jalan ke arah Sari.

Tapi Tekong udah di belakangnya. Pukul kepala pakai tongkat besi.

BRAK!

Kena. Keras.

Tapi... Sang Penuai cuma gerak kepala sedikit. Nggak jatuh.

Dia berbalik. Menatap Tekong.

Lalu bergerak.

Cepat.

Tekong nggak sempet blok. Pukulan ke perutnya. Keras.

Tekong muntah darah. Jatuh berlutut.

Lalu Sang Penuai tendang kepalanya. Tekong pingsan.

"TEKONG!" teriak Bayu.

Bayu bangkit. Aktifkan mode pembunuh.

**[MODE PEMBUNUH: AKTIF]**

Matanya berubah. Tajam. Dingin. Aura mematikan keluar.

Dia lari ke Sang Penuai. Cepat. Lebih cepat dari sebelumnya.

Tinju kanan meluncur. Keras.

Sang Penuai blok dengan tangan kiri.

Tapi Bayu nggak berhenti. Tinju kiri. Tendangan. Sikut. Berturut-turut. Cepat.

Sang Penuai blok semua. Tapi... dia mulai mundur.

"Gue... gue bisa lawan dia..."

Gumaman Bayu penuh harap.

Tapi...

Sang Penuai tiba-tiba bergerak. Lebih cepat dari sebelumnya.

Pukulan ke rahang Bayu.

BRAK!

Bayu terpental. Jatuh ke tanah.

Mode pembunuh... nggak cukup.

Sang Penuai jalan pelan ke arah Bayu. Ambil pisau dari pinggang.

Mau bunuh Bayu.

Bayu coba bangun. Tapi tubuhnya nggak kuat. Rusuk retak. Rahang bengkak. Pusing berat.

"Gue... gue bakal mati di sini..."

Sang Penuai angkat pisau. Siap tusuk.

Tapi...

DOR!

Tembakan dari belakang.

Peluru kena punggung Sang Penuai.

Dia berhenti. Menoleh pelan.

Maya berdiri di sana. Pistol di tangan. Gemetar. Nangis.

"JANGAN SENTUH DIA!"

DOR! DOR! DOR!

Tiga tembakan lagi. Semua kena Sang Penuai. Dada. Perut. Bahu.

Sang Penuai mundur. Darah keluar dari lukanya.

Tapi... dia nggak jatuh.

Malah... dia tertawa. Suara tawa keluar dari balik topeng. Tawa yang dingin. Menyeramkan.

Lalu dia ketik di tablet kecil yang dia ambil dari saku.

Tablet berbunyi dengan suara robotik.

"Kau... berani... gadis kecil..."

Maya gemetar. Tapi tetep arahkan pistol.

"PERGI! ATAU AKU TEMBAK LAGI!"

Sang Penuai menatapnya lama.

Lalu ketik lagi.

"Aku... akan kembali... Kenzo... kita belum selesai..."

Dia berbalik. Jalan pelan masuk ke hutan.

Hilang di kegelapan.

Maya langsung lari ke Bayu. Berlutut di sampingnya.

"BAYU! KAU BAIK-BAIK SAJA?!"

Bayu batuk darah. "Gue... gue masih hidup..."

"TEKONG! WAHYU! SARI!" teriak Maya ke yang lain.

Sari bangun. Luka ringan. Dia bantu Wahyu yang luka parah di bahu.

Tekong masih pingsan. Tapi napas masih ada.

Maya nangis. "Kita... kita harus pergi... dia bisa balik..."

Bayu ngangguk lemah. "Bawa... bawa semua orang ke van... cepat..."

Mereka semua dengan susah payah naik ke van. Sari nyetir karena Tekong pingsan.

Van melaju cepat. Keluar hutan.

Di belakang. Bayu duduk bersandar. Napas ngos-ngosan. Darah di mana-mana.

"Dia... dia terlalu kuat..."

Maya megang tangannya. "Tapi kita selamat... kita masih hidup..."

Bayu menatapnya. "Makasih... kalau lu nggak tembak dia... gue udah mati..."

Maya nangis makin keras. Peluk Bayu erat. "Jangan bilang kayak gitu... kumohon... jangan tinggalin aku..."

Bayu nggak bisa bales peluk. Tubuhnya terlalu sakit.

Tapi dia bisik pelan. "Gue... nggak akan mati... gue janji..."

***

Hutan. Sang Penuai berjalan keluar. Darah masih keluar dari lukanya. Tapi dia jalan tenang. Seperti nggak kesakitan.

Mobil hitam sedan nunggu di pinggir jalan.

Sopir keluar. Kaget lihat kondisi Sang Penuai.

"Tuan! Anda terluka!"

Sang Penuai nggak jawab. Cuma masuk ke kursi belakang.

Sopir nyetir ke rumah sakit gelap. Tempat yang sama Budi dibawa dulu.

Dokter tua itu kaget lihat Sang Penuai masuk.

"Kau... kau siapa..."

Sang Penuai ketik di tablet.

"Obati. Sekarang. Bayaran sepuluh juta."

Dokter langsung kerja. Cabut peluru. Jahit luka. Perban.

Dua jam kemudian. Selesai.

"Kau... kau beruntung. Peluru nggak kena organ vital. Tapi kau harus istirahat..."

Sang Penuai berdiri. Jalan keluar tanpa ngomong apa-apa.

Masuk mobil. Sopir nyetir ke hotel mewah.

Di kamar hotel. Sang Penuai buka topengnya.

Wajahnya... tampan. Kulit putih. Mata biru tajam. Rambut pirang pendek.

Tapi ada bekas luka panjang dari dahi sampai pipi kiri.

Dia menatap cermin. Lalu tersenyum dingin.

Ambil tablet. Ketik.

"Kenzo Samudera. Menarik. Sangat menarik."

Dia berbaring di ranjang. Menatap langit-langit.

"Kita belum selesai. Aku akan kembali. Dan kali ini... kau akan mati."

Dan malam itu...

Dua monster beristirahat.

Menyembuhkan luka.

Bersiap untuk babak akhir.

Babak yang akan tentukan...

Siapa yang hidup.

Dan siapa yang mati.

1
variable of ancient
ngaret
variable of ancient
alahhh, latihan sama tekong aja minggu²an
variable of ancient
Kenzo beban hama Thor, udah bayu aja jadi mc
Sumitro van Persie
sistem edan bukan menolong malah ngancam mati permanen....Thor matiin aja Bayu trus tamat
Sumitro van Persie
g asyik Thor rekarnasi didua lain trus sistemnya g bisa nyebuhin adeh pa gunanya punya sistem 👹👹👹
REY ASMODEUS
hey semangat 💪💪💪💪
REY ASMODEUS
mantap
aa ge _ Andri Author Geje: terimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!