Setelah mengetahui pengkhianatan sang kekasih, serta ada masalah di pabriknya, Rayyan memutuskan untuk healing sejenak ke sebuah desa, tempat salah seorang sahabatnya berada.
Tapi, nasib justru mempermainkannya. Rayyan terjebak dalam sebuah kondisi, yang mana ia harus menikahi Lilis, seorang janda kembang.
Suatu hari, Rayyan pamit harus kembali ke Ibu Kota demi menyelesaikan urusannya. Tapi lama waktu berlalu, Rayyan tak kunjung kembali, hingga Lilis makin gelisah menanti.
Bagaimanakah lika-liku perjalanan mereka selanjutnya?
Apakah Rayyan akan tetap mempertahankan Lilis sebagai istri, dan menetap di desa tersebut?
Lantas apa yang sebenarnya terjadi pada Rayyan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#27
#27
Sementara itu, di peternakan sapi milik Juragan Sastro, Bu Saodah tengah terduduk lemas dengan nafas ngos-ngosan setelah membersihkan kandang sapi.
Baru beberapa hari bekerja di peternakan, tapi tulang-tulang di sekujur badannya mulai terasa pegal nyaris rontok, karena selama ini tak pernah di gunakan untuk bekerja keras.
“Saodah! Kok malah bengong?!” tegur Bu Yati, istri kedua Juragan Sastro, yang ikut serta menjadi mandor bagi para pekerja di peternakan tersebut.
“Iya, Bu, sebentar lagi,” sahut Bu Saodah lemas.
“Sebentar lagi, buruan! Sebentar lagi sapi-sapinya pulang dari sungai setelah dimandikan,” perintah Bu Yati tanpa rasa kasihan.
Benarkah Bu Yati tak memiliki belas kasihan? Atau selama ini hanya Bu Saodah saja yang tak pernah bekerja? Karena itulah ia merasa sangat kepayahan, padahal para pekerja yang lain biasa saja.
Selama bekerja di peternakan, Bu Saodah tak mendengar kabar apa-apa dari Arimbi ataupun Lilis, karena ponsel bututnya sudah pergi menghadap Ilahi.
Jika ingin melunasi hutang, atau ingin membeli ponsel baru maka mau tak mau ia harus bekerja dengan giat, entah sampai kapan.
Wanita itu pun bangkit dengan susah payah, mulutnya misuh-misuh, mengumpat pada Lilis suaminya, serta sang nyonya bos, yang telah berjasa membuatnya terkurung di peternakan sapi milik Juragan Sastro.
“Sabar Saodah, orang sabar rezekinya lebar,” gumam Bu Saodah menyemangati dirinya sendiri.
Sementara di kejauhan ketiga istri Juragan Sastro tersenyum puas, melihat Saodah yang bekerja dengan sangat keras demi melunasi hutangnya. “Rasakan kau, Odah! Berani-beraninya menyodorkan calon madu untuk kita.”
“Benar, Yu. Puas sekali aku melihat wanita pemalas itu sengsara.”
Sejak awal, niat mereka memang sudah tak baik, hendak menjadikan madu baru mereka sebagai babu di peternakan.
Kini, pernikahan Juragan Sastro batal, tapi mereka tetap merasa puas walau hanya Bu Saodah yang menggantikan pekerjaan yang tadinya disiapkan untuk Lilis setelah tinggal di peternakan yang berdekatan dengan rumah mewah Juragan Sastro.
•••
Di tempat lain, Arimbi pun serupa dengan ibunya. Kini ia meringis karena harus membersihkan kamar mandi umum yang biasa dipergunakan para napi untuk keperluan MCK.
“Sialan! Sialan! Sialan! Awak kamu, Lis! Kamu dan suamimu, harus merasakan pembalasanku! Aw!” umpat Arimbi yang diakhiri dengan keluhan ketika sebuah gayung melayang mengenai kepalanya.
“Apa kamu bilang, sialan?! Kamu misuh-misuh padaku?! Hah?!” geram wanita bernama Sulis, si penguasa di tahanan. Tubuhnya kurus, tapi penuh tato, wajahnya juga garang, membuat Arimbi merinding ketakutan manakala berhadapan dengan wanita itu.
Arimbi membeku seketika, ia tak menyangka makian yang ditujukan untuk Lilis justru salah alamat. “Heh! Tikus kecil!” kata Sulis sambil menjambak rambut indah Arimbi yang kini mulai kusam.
“Jangan beralasan! kamu cuma beberapa bulan di sel ini, belajarlah berkelakuan baik, dan bekerja dengan benar, demi keselamatanmu selama beberapa Bulan ke depan. Jika tidak belajar dan bekerja dengan benar, maka kamu akan berhadapan denganku. Paham!”
“I-iya, Kak.”
Sulis melepaskan jambakannya di rambut Arimbi. “Bagus! Jangan lupa WC yang di pojok sana mampet. Bereskan, ya!”
Setelah memberikan mandat, wanita itu pun pergi dengan senyum bahagia.
•••
Hari kedua di PT Erlangga Niaga Food, berjalan seperti biasa, Rayyan dan Agung masih menyembunyikan hasil temuan mereka. Mengamati selama beberapa hari kedepan apakah ada perbaikan atau tetap terus berjalan dengan pola yang sama.
Jika benar demikian maka si tikus itu harus segera dibereskan sebelum ia menenggelamkan seluruh penumpang di atas kapal.
Penat serta rasa lelah luar biasa, karena sudah lama Rayyan tak berjibaku dengan angka dan data, membuat pria itu bersandar di kursi yang ia duduki, sambil memejamkan kedua matanya. Bibirnya tersenyum ketika melihat wajah Lilis tengah tersenyum padanya, mendadak jantung Rayyan berdegup aneh, padahal baru 2 hari tak bersua.
Jika pekerjaannya di sini selesai mungkin esok lusa ia sudah bisa berjumpa dengan istrinya yang lugu, pemalu, dan wajahnya menggemaskan ketika sedang panik. Panik karena Rayyan memergokinya sedang dalam pose tanpa busana di dalam kamar, dan saat Rayyan memberinya sebuah ciuman tipis di bibir.
Rayyan mengerang pelan, ketika tubuhnya bereaksi padahal hanya membayangkan. Segera ia membuka mata, dan bergegas keluar dari ruangan. Kembali ke hotel seorang diri untuk mandi air dingin, karena tadi Agung sudah pamit pulang duluan.
•••
Tiba di hotel ia berpapasan dengan Agung yang sepertinya baru keluar dari kamar yang ia tempati. “Makan malammu sudah ada di dalam.”
“Hmm, Thanks, Om,” jawab Rayyan lesu.
“Kenapa, kamu? Lelah? Pusing? Atau— rindu?” seringai Agung.
Rayyan hanya bisa manyun, malu menjelaskan bagaimana perasaannya saat ini. “Ckckckck, kasihan sekali pengantin baru ini, padahal LDR-nya baru dua hari belum juga setahun,” ledek Agung sambil ngeluyur pergi, setelah puas melihat wajah Rayyan yang merah padam sambil misuh tak karuan.
Klik
Bunyi handle pintu setelah Rayyan menempelkan kartu aksesnya. Wajahnya lelah tak berekspektasi apa-apa ketika masuk kamar, tujuannya hanya mandi, makan, sholat, lalu tidur.
Tapi, pria itu dikejutkan dengan keberadaan seorang perempuan di dalam kamarnya. Rayyan mengerjapkan matanya berkali-kali, mengucek, bahkan menampar pipinya sendiri, berharap halusinasinya akan hilang setelah itu.
Ternyata tidak berpengaruh apa-apa, “Mas, sudah pulang?”
Rayyan berjingkat kaget karena perempuan itu menyapanya, mungkin ia salah kamar, pikir Rayyan.
Pria itu berbalik, membuka pintu dan memeriksa nomor kamar yang menempel di pintu. Lilis tersenyum simpul melihat kelakuan aneh suaminya, “Mas, tidak salah kamar,” kata Lilis.
“L-Li-lis?”
“Iya, Mas? Kaget, ya. Maaf tak memberi kabar, mendadak Nyonya mengajakku ke—”
Sret!
Ucapan Lilis terhenti karena Rayyan tiba-tiba menarik tubuhnya, lalu membungkam bibir yang pernah Rayyan cicipi sebelumnya.
Hatinya berbunga, perasaannya bahagia, ia suka, benar-benar suka dengan kejutan dari Rosa. Jas yang sebelumnya sudah ia lepas dan kalungkan di pundak, kini melorot begitu saja, karena si pemilik, sedang sibuk meluapkan dahaganya.
setelah Rayyan liat apa akan langsung ehem ehem ya🤭