NovelToon NovelToon
Tergoda Janda Kembang

Tergoda Janda Kembang

Status: sedang berlangsung
Genre:Janda / Romansa pedesaan / CEO
Popularitas:91.4k
Nilai: 5
Nama Author: moon

Setelah mengetahui pengkhianatan sang kekasih, serta ada masalah di pabriknya, Rayyan memutuskan untuk healing sejenak ke sebuah desa, tempat salah seorang sahabatnya berada.

Tapi, nasib justru mempermainkannya. Malam itu, Rayyan menyelamatkan Lilis yang hendak di lecehkan seseorang, tapi Rayyan terjebak dalam sebuah kondisi, yang membuat warga desa salah paham, hingga mengharuskannya menikahi Lilis, seorang janda kembang.

Bagaimanakah lika-liku perjalanan mereka selanjutnya?

Apakah Rayyan akan tetap mempertahankan Lilis sebagai istri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#31

#31

Pintu kamar mandi terbuka, dan Lilis keluar dari dalam sana, dengan wajah segar dan wangi usai mandi pagi dan wudhu, ia hendak bersiap menjalankan sholat. Tapi, sebelum itu ia harus membangunkan sang suami yang semalam tertidur karena kelelahan setelah minta jatah tambahan di jam dini hari 

Meski kedua mata Lilis masih lengket, tubuh lelah bukan main, ditambah area pribadinya yang masih bengkak dan nyeri setelah sebelumnya Rayyan menjelajahinya seolah tak ada rasa lelah. Lilis mengangguk setuju demi menenangkan rengekan suaminya karena tiba-tiba Rayyan cosplay menjadi bayi yang manja ingin di tenangkan ibunya. 

Lilis menahan rasa ngilu dan sedikit tak nyaman kala berjalan menghampiri pembaringan, Rayyan tidur miring ke sisi tempat kosong yang sejak semalam Lilis tempati. 

“Mas—” kata Lilis sambil duduk di tepi pembaringan, tangannya terjulur menggoyang perlahan pundak dan bahu suaminya. 

“Mas, bangun, ayo subuhan dulu,” ulang Lilis. 

Rayyan membuka mata sejenak, mendapati Lilis ada di belakangnya pria itu berbalik, alih-alih bangun, Rayyan justru memindahkan kepalanya ke pangkuan Lilis. 

“Mas, kok malah pindah, sih? Ayo subuhan dulu.” Lilis kembali mengulangi kalimatnya. 

“Jam berapa sekarang?” 

“Sudah jam 5, ayo, kita sudah kesiangan, nih.” 

“Aku kira kamu bangunin aku supaya bisa mengulang yang semalam,” gerutu Rayyan. 

Lilis tercengang, bisa-bisanya Rayyan berpikir demikian, sementara yang semalam saja masih meninggalkan rasa tak nyaman, dan sedikit ngilu ketika ia berjalan. “Ish, yang semalam saja masih sakit,” protes Lilis. 

“Kan semalam sudah mau aku kompres air hangat, kamunya nggak mau.” 

“Malu, Mas—”

“Malu kenapa? Aku sudah melihat, menyentuh menc— aaakkhh!” ucapan Rayyan berakhir dengan jeritan karena Lilis mencubit pelan perutnya. 

“Malah di ulang!” Kedua mata Lilis melotot. 

Rayyan terkekeh gemas, kemudian bangkit dan mencubit pelan kedua pipi istrinya. “Lagian kamu, sih, gemesin banget. Sudah sama-sama lihat juga, masih malu aja.” 

“Udah, ah, ayo buruan mandi dulu.” Lilis berinisiatif membuka selimut dan menarik lengan suaminya agar segera turun. Tapi, Lilis justru melihat pemandangan yang membuatnya menelan ludah, wanita itu memalingkan wajahnya karena malu. 

“Tuh, kan, dia bangun lagi,” cetus Rayyan iseng, benar-benar tak malu di depan Lilis, seolah-olah hendak mengatakan bahwa ini hal yang wajar bagi suami dan istri. 

“Ah, bodo amat,” sahut Lilis, wajahnya mulai merah seperti kepiting rebus. 

“Tapi, ini bernilai ibadah, loh.” 

“Sholat subuh juga wajib, Mas. Ibadah yang ‘itu’ nanti saja.” 

“Oh, jadi nanti setelah sholat subuh, boleh?” Rayyan berjingkrak kegirangan, belum sempat Lilis menjawab, pria itu sudah menghilang di balik pintu kamar mandi. 

•••

Setelah jama'ah dan dzikir sesudahnya, Lilis mencium punggung tangan suaminya, “Gimana? Jadi, kan, acara setelah sholat subuh?” 

“Ya, ampun, masih dibahas juga?”

Rayyan menggeser posisi duduknya, agar bisa melihat lebih jelas, ekspresi malu-malu di wajah Lilis. “Masih, dong. Namanya juga ibadah menyenangkan,” jawab Rayyan, tanpa permisi, pria itu membuka kain sholat yang menutupi tubuh dan kepala Lilis. 

Rambut Lilis masih lembab, tapi Rayyan tak peduli, karena merupakan hal yang wajar bila pengantin baru rambutnya basah di pagi hari. “Mas— rambutku saja masih basah, loh.” Lilis protes ketika Rayyan mulai mendaratkan ciuman di leher dan tulang selangka-nya. 

“Tidak apa-apa, Lis, nanti Mas belikan pengering rambut.” Selalu ada jawaban, bila Lilis memprotes ulah Rayyan, pokoknya pria itu tak suka bila ada yang menghalangi keinginannya bermesraan dan bermanja dengan wanita yang baru ia resmikan menjadi istri yang sesungguhnya. 

Lilis pun hanya bisa pasrah jika sudah begini, maka pagi syahdu kembali mereka lalui dengan berbagi peluh, andai tak berpahala, mungkin Lilis enggan menuruti kemauan suaminya. Tapi karena ini berpahala dan bisa menciptakan ketenangan dalam berumah tangga, maka Lilis dengan senang hati menuruti permintaan suaminya. 

•••

Pukul 08.00 tepat. 

Tok! 

Tok! 

Suara ketukan membuat Rayyan menghampiri pintu, pria itu sedang menggosok rambut basahnya dengan handuk bersiap setelah mandi untuk kesekian kali. 

Rayyan membuka pintu, dan nampaklah wajah Agung yang sudah rapi dengan setelan jasnya. “Sudah siap?” tanyanya. 

Rayyan mengangkat kedua pundaknya, menyeringai dengan wajah bahagia, Agung tak butuh penjelasan, karena sudah paham aura wajah yang Rayyan tunjukkan. Malahan terlalu kentara, ditambah Rayyan justru sengaja menampakkan diri bahwa ia baru selesai mandi. 

“Ya, sudah, hari ini biar aku saja, lagipula ini weekend,” pungkas Agung. “Nanti bila ada yang urgent, aku kirimkan via email,” sambungnya dengan penuh pengertian pada sang pengantin baru. 

“Thanks, Om,” ucap Rayyan, yang hanya dibalas lambaian tangan oleh Agung. 

Rayyan menutup pintu dan berjingkrak bahagia, kembali merangsek masuk dalam selimut hangat yang memeluk istrinya. Dengkuran halus yang berasal dari suara nafas Lilis, masih terdengar, Rayyan menatap tulus pada wanita yang telah membuatnya kehilangan keperjakaan, bahkan kini menjelma menjadi lelaki sempurna. 

“Sayang, bangun,” bisik Rayyan, mencoba membangunkan istrinya, bermaksud mengajak wanita itu sarapan untuk mengganti tenaga mereka yang sudah terkuras habis semalaman. 

Lilis mengerjapkan matanya, berat sekali rasanya, “Mas, aku lemes banget.” 

“Iya, makanya aku bangunin kamu buat sarapan. Nanti tidur lagi nggak papa.” 

“Harus, ya? Bisakah hari ini libur, tak perlu sarapan?” Gumam Lilis belum sepenuhnya sadar. Rayyan kembali tersenyum gemas. 

“Nggak bisa, apalagi setelah menjadi istri Rayyan Arsyaq, kamu tak boleh bolos makan,” timpal Rayyan menyahuti perkataan Lilis yang masih ngelantur. 

Tak lagi menunggu jawaban Lilis, pria itu menyibak selimut hingga nampaklah tubuh polos Lilis yang kini penuh dengan jejak yang ia tinggalkan di sana. Rayyan tersenyum puas, seolah bahagia setelah berhasil menandai wanitanya. 

Rayyan segera menggendong Lilis ke kamar mandi, “Mas, aku malu.” Lilis meringis, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher suaminya. Rayyan tak peduli dengan protes tersebut, perlahan ia menurunkan tubuh Lilis agar wanita itu bisa rendaman sejenak untuk merilekskan tubuhnya. 

“Berendamlah dulu, aku menunggu di luar, jika butuh apa-apa, panggil saja,” kata Rayyan sebelum meninggalkan Lilis agar istrinya bisa relaksasi sejenak. 

“Iya, Mas. Terima kasih.” 

Rayyan mengacak rambut Lilis, “Aku yang harusnya berterima kasih padamu. 

Pandangan Lilis mengikuti kepergian Rayyan keluar dari kamar mandi, Lilis memejamkan kedua matanya bahagia, iya, Lilis terlalu bahagia. Karena ini jauh melebihi bayangannya, perlakuan Rayyan padanya benar-benar membuat Lilis merasa dipuja sebagai seorang wanita berharga. 

•••

Sarapan pagi yang hangat, ini pun pengalaman pertama bagi Lilis, kemarin ia diperlakukan seperti Ratu, dimanjakan dengan perawatan tubuh, lalu di ajak menginap di hotel mewah, kamar yang nyaman, kini sarapan dengan puluhan menu beragam. Jika tak memikirkan kapasitas perutnya, Lilis ingin makan semuanya. 

Dengan sabar, tanpa mencela sedikitpun, Rayyan memberitahukan apa yang seharusnya Lilis ketahui, menjelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami, agar Lilis tak merasa rendah diri berada di sisinya. 

“Ayo, habiskan.” 

Lilis hanya bisa mengangguk, sambil mengunyah perlahan, buah melon yang rasanya amat manis dan segar. Di hadapannya membentang pemandangan kota yang ramai dengan aktivitas para warganya. 

“Kenyang banget,” ungkap Lilis, karena Rayyan terus menyuruhnya makan agar tenaganya kembali pulih. Tapi yang Lilis rasakan justru ia seperti akan kekenyangan hingga dua hari kemudian. 

“Alhamdulillah, mumpung di kota, hari ini mau jalan kemana?” tanya Rayyan. 

“Mau tidur seharian.” 

“Asik, aku temani, ya?” bisik Rayyan jahil. 

Radar Lilis seolah langsung paham arah pembicaraan Rayyan. “Nggak perlu, Mas. Aku profesional jika berurusan dengan tidur sendiri,” tolak Lilis. 

Rayyan terkekeh paham, memang setelah ini ia bermaksud membiarkan istrinya istirahat. lagi pula ia pun harus tetap membantu urusan Agung, agar pekerjaan segera selesai. 

Keduanya bergandengan mesra meninggalkan ruang sarapan, tak hanya itu ketika di depan lift, Rayyan sengaja memeluk mesra pinggang istrinya. Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang sejak tadi mengikuti kemanapun langkah kaki mereka melangkah, hingga sepasang pengantin baru itu menghilang di balik pintu lift. 

“Benarkah itu dia?” gumam Dio tak percaya. 

“Ah, mana mungkin, wanita itu terlalu kampungan, sementara wanita tadi terlihat menawan dengan pakaian muslimah yang modis.” Dio menggeleng pelan, sambil menertawakan rasa penasarannya beberapa saat yang lalu. 

1
Rahmawati
dulu lilis makan asal kenyang, gk peduli ada gizinya ato tidak.
cepet pulih ya lis
ardan
bagus ceritanya seru nih
Bunda Aish
wes cari yang lain saja Nang, yang gak menilai dari fisik dan materi.... makan hati kalau dpt yg begituan mah
Bunda Aish
habis itu lihatlah mukanya anaknya Monica ya Dio biar semakin menyesal kau memilih wc umum 😏
Esther
Makan yang banyak Lis supaya cepat pulih kesehatanmu
Shee_👚
nah Nanang kenapa ini, ngasih kabar kah kalau ibu nanang harus op
Shee_👚
😭😭😭😭
pantes lah kalau kurang gizi, lilis banting tulang buat nyari uang kebutuhan emak tiri
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
waduh ada apa tuh 🤔
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
🥺😭😭😭
Nar Sih
makan yg banyak ya lis,biar sehat dan sgra bisa hamil lgi ,kira,,ada apa dgn nanang ,lanjut kakk moon👍🥰
Patrick Khan
eh kenapa q ikut bukak mulut mw makan juga😂
moon: ngarep ada yang nyuapin, ternyata cuma nyuapin harapan palsu
total 3 replies
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
sabar ya Lis,nanti bisa hamil lagi...
Meliandriyani Sumardi
bawa emaknya nanang ke rsnya tuan ulat bulu biar diobatin dengan maksimal..kasian nanang kalau gitu
Netty Siska Rondonuwu
lanjut dong
Bunda Aish
tunjukkan pesona mu Lis.... Dio,semoga dikau segera dirambati perasaan menyesal 😏
Dew666
💎💎💎💎💎
ardan
wkwkwk🤣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Semoga cepet diganti ya 😭😭😭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Hebatnya lagi
Rahmawati
nanti kasih mereka anak kembar Thor biar rumah tuan gusman rame
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!