Mengangkat sudut pandang unik dari perspektif guru yang terjebak dalam hubungan dengan dua murid sekaligus, mempertanyakan apakah dirinya korban atau pemangsa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Titik Terendah
Tiga bulan setelah perceraian, kehidupan Rizky berubah drastis.
Apartemen yang dulu hangat dengan tawa Sasha dan tangis Kirana kini terasa seperti kuburan. Sepi. Dingin. Hanya ada suara AC dan sesekali dering ponsel yang jarang sekali berbunyi.
Rizky menghabiskan sebagian besar waktunya di kantor. Bekerja lembur sampai larut, pulang hanya untuk tidur, lalu kembali lagi ke kantor. Teman-teman kerjanya mengira ia sangat berdedikasi. Mereka tak tahu bahwa Rizky sebenarnya lari—lari dari kenyataan, lari dari kesepian, lari dari bayang-bayang masa lalu yang terus menghantuinya.
Akhir pekan adalah waktu terberat. Setiap Sabtu pagi, ia menjemput Kirana di rumah orang tua Sasha. Melihat mantan istrinya—yang kini tampak lebih cantik dan lebih bahagia tanpa dirinya—adalah siksaan tersendiri. Tapi demi Kirana, ia jalani.
Kirana tumbuh menjadi bayi yang lucu. Di usianya yang menginjak 4 bulan, ia sudah bisa tersenyum dan tertawa kecil. Saat Rizky menggendongnya, melihat matanya yang bening, selalu ada rasa sesak di dada. Anak ini harus tumbuh tanpa keutuhan keluarga. Dan itu semua salahnya.
"Maafin Papa, Nak," bisik Rizky suatu sore, saat menggendong Kirana di taman dekat rumah Sasha. "Papa orang bodoh."
Kirana hanya tersenyum, tak mengerti apa-apa.
---
Di Balikpapan, Ima hidup dalam kesunyian yang tak kalah berat.
Setelah perceraian, ia tinggal sendirian di rumah yang dulu ia bagi dengan Wira dan Rakha. Setiap sudut rumah mengingatkannya pada masa lalu—sofa tempat Wira biasa duduk sambil menonton TV, kamar bayi yang kini kosong, dapur tempat ia biasa memasak untuk keluarganya.
Rakha, anaknya, kini tinggal bersama Wira. Hak asuh jatuh ke tangan Wira karena bukti perselingkuhan Ima terlalu kuat. Ima hanya bisa melihat anaknya tumbuh dari foto-foto yang dikirim Wira—itupun hanya sesekali.
Ia mencoba menghubungi Wira berkali-kali, bukan untuk balikan, tapi hanya untuk sekedar bertanya kabar Rakha. Wira jarang membalas. Saat membalas pun, hanya satu dua kata.
"Rakha sehat."
"Jangan hubungi lagi."
Ima mengerti. Ia tahu Wira terluka. Tapi rasa rindu pada anaknya tak pernah surut.
Malam-malam, ia sering terbangun dan menangis. Membayangkan Rakha yang mungkin menangis mencari ibunya. Membayangkan Wira yang harus menjadi ayah sekaligus ibu untuk anak mereka.
Dan di tengah kesunyian itu, ponselnya berdering.
Rizky.
"Ima, aku di Balikpapan. Bisa ketemu?"
---
Mereka bertemu di kafe dekat hotel tempat Rizky menginap. Ima datang dengan gamis panjang dan hijab, wajahnya lebih kurus, lingkaran hitam di bawah mata menandakan malam-malam tanpa tidur.
"Kamu kurusan," kata Rizky begitu Ima duduk.
"Kamu juga."
Mereka tersenyum getir. Memesan minuman. Diam cukup lama.
"Gimana kabar?" tanya Ima akhirnya.
"Berantakan." Rizky menghela napas. "Sasha bawa Kirana. Aku cuma bisa ketemu akhir pekan. Kantor jadi pelarian. Hidup aku... kosong."
Ima mengangguk. "Ima juga. Rumah kosong. Rakha sama Wira. Ima cuma bisa lihat fotonya dari jauh."
Mereka berdua diam. Menyesali semua keputusan bodoh yang membawa mereka ke titik ini.
"Ima, aku nyesel." Suara Rizky bergetar. "Aku nyesel pernah mulai semua ini. Andai dulu aku bisa nahan diri, mungkin semuanya nggak akan hancur."
Ima menunduk. "Ima juga nyesel. Tapi nyesel nggak bisa balikin waktu."
Air mata Ima jatuh. Rizky meraih tangannya.
"Kamu tahu nggak, Rizky? Ima mikir, andai dulu Ima nggak pernah pindah ke SMA 6, andai Ima nggak pernah jadi guru kamu, andai kita nggak pernah bertemu... mungkin Ima masih jadi istri Heru. Mungkin rumah tangga Ima masih utuh."
"Tapi kamu nggak bahagia sama Heru."
"Iya, tapi mungkin itu lebih baik daripada sekarang." Ima mengusap air matanya. "Sekarang Ima kehilangan segalanya. Suami, anak, harga diri."
Rizky diam. Ia tak bisa membantah.
---
Mereka menghabiskan waktu berjam-jam di kafe itu. Bukan untuk bercinta, bukan untuk mencari kesenangan. Tapi untuk saling menguatkan di tengah kehancuran.
Saat senja mulai turun, Ima berkata, "Rizky, Ima mau minta maaf."
"Buat apa?"
"Buat semua ini. Ima yang pertama kali mulai. Ima yang nggak bisa jaga diri. Ima yang rusakin hidup kamu."
Rizky menggeleng. "Bukan salah kamu seorang, Ima. aku juga mau. Akunjuga nggak bisa nolak. Kita sama-sama salah."
"Tapi Ima lebih tua. Ima harusnya lebih bijak."
"Umur nggak jaminan, Ima."
Mereka diam lagi. Lalu Ima berdiri.
"Rizky, Ima pamit. Mungkin ini pertemuan terakhir kita."
Rizky terkejut. "Maksud kamu?"
"Ima mau pindah. Kembali ke kampung. Mulai hidup baru. Jauh dari kenangan, jauh dari dosa." Ima tersenyum getir. "Ima harus perbaiki diri. Ima harus jadi lebih baik."
Rizky berdiri. "Ima..."
"Ima sayang kamu, Rizky. Sampai kapan pun. Tapi Ima nggak mau terus-terusan begini. Nggak mau jadi sumber kehancuran."
Ima meraih tangan Rizky, menggenggamnya erat. Lalu ia berbalik dan pergi. Meninggalkan Rizky yang terpaku di tempat.
---
Di Bakikpapan, Wira juga berusaha bangkit dari keterpurukan.
Mengurus Rakha sendirian bukan hal mudah. Ia harus belajar segalanya—mengganti popok, menyuapi, menidurkan, bahkan menenangkan saat Rakha rewel tengah malam. Tapi ia jalani dengan penuh cinta.
Rakha adalah satu-satunya alasan ia bangun pagi. Rakha adalah alasan ia terus bertahan.
Suatu sore, saat ia sedang menggendong Rakha di teras rumah, sebuah mobil berhenti di depan. Pintu terbuka. Sasha turun dengan Kirana dalam gendongan.
Wira terkejut. "Sasha?"
Sasha tersenyum canggung. "Boleh mampir?"
Mereka duduk di ruang tamu. Rakha dan Kirana, dua bayi yang tak tahu dosa orang tuanya, tidur nyenyak di gendongan masing-masing.
"Kamu ke Balikpapan?" tanya Wira.
"Iya. Urus kerjaan. Sekalian... pengen ketemu kamu." Sasha menunduk. "Aku kangen ngobrol sama kamu, Wir."
Wira diam. Ia juga kangen. Tapi ada luka yang belum sembuh.
"Sasha, kita udah hancur. Rumah tangga kita hancur karena ulah kita sendiri."
"Aku tahu. Tapi aku nggak bisa lupain kamu." Sasha menatapnya. "Kamu masih mikirin aku?"
Wira menghela napas. Jujur, ia juga masih mikirin Sasha. Tapi—
"Sasha, kita harus realistis. Kita udah punya anak masing-masing. Masa depan mereka yang harus kita pikirin."
"Aku tahu. Tapi—"
"Nggak ada tapi." Wira memotong. "aku sayang lo, Sasha. Jujur. Tapi kita nggak bisa ulangi kesalahan yang sama. Ini udah cukup."
Sasha menunduk. Air matanya jatuh.
"Maafin aku, Wir. Udah bikin kamu susah."
Wira menghela napas. "Lo nggak sendiri. Kita sama-sama salah."
Mereka diam cukup lama. Lalu Sasha berdiri.
"Aku pamit. Besok balik ke Jakarta."
Wira mengangguk. "Jaga diri, Sha. Jaga Kirana."
Sasha tersenyum getir. "Kamu juga. Jaga Rakha."
Mereka berpelukan singkat. Lalu Sasha pergi.
---
Malam itu, Wira menulis pesan panjang untuk Sasha.
"Sha, aku nggak akan bohong. Aku masih sayang lo. Tapi kita harus dewasa. Aku udah belajar dari kesalahan. Kehilangan Ima dan Rakha (meskipun Rakha masih bisa aku lihat) adalah pelajaran paling pahit dalam hidup aku. Aku nggak mau kehilangan lagi. Dan kamu juga pasti ngerasa hal yang sama.
Mungkin suatu hari nanti, kalau luka ini udah sembuh, kalau kita udah jadi pribadi yang lebih baik, kita bisa ketemu lagi. Tapi untuk sekarang, biarkan kita fokus jadi orang tua yang baik buat anak-anak kita.
Makasih udah pernah jadi bagian hidup aku. Makasih udah ngasih aku warna di saat hidup aku kelabu. Tapi sekarang, kita harus jalan masing-masing.
Jaga diri, Sasha. Jaga Kirana. Doa ku selalu buat kalian berdua.
Wira."
Ia kirim. Lalu mematikan ponsel, menggendong Rakha yang mulai rewel.
"Sabarlah, Nak. Papa di sini. Papa nggak akan ninggalin kamu."
---
Di Jakarta, Rizky membaca pesan dari Ima.
"Rizky, Ima udah sampai di kampung halaman. Ima mulai hidup baru di sini. Ima minta maaf udah bikin kamu susah. Ima minta maaf udah hancurin hidup kamu. Tapi Ima bersyukur pernah kenal kamu. Kamu ngajarin Ima banyak hal—tentang cinta, tentang dosa, tentang konsekuensi.
Ima akan selalu doain kamu. Semoga kamu bahagia sama Sasha dan Kirana. Meskipun sekarang lagi berantakan, Ima yakin suatu hari nanti kamu bisa baikan.
Makasih, Rizky. Selamat tinggal.
Ima."
Rizky membaca pesan itu berulang kali. Lalu ia membalas:
"Makasih, Ima. Akunjuga belajar banyak dari kamu. Maafin semua kesalahan aku. Semoga kamu bahagia di tempat baru. Jaga diri.
Selamat tinggal."
Ia menghapus semua chat dengan Ima. Lalu mematikan ponsel.
---
Di apartemennya yang sepi, Rizky membuka album foto. Foto pernikahannya dengan Sasha. Foto Kirana baru lahir. Foto mereka bertiga di rumah sakit.
Air matanya jatuh.
"Maafin Papa, Kirana. Papa orang bodoh. Tapi Papa janji, Papa akan berusaha jadi lebih baik. Buat kamu. Buat Mama."
Ia memandangi layar ponsel. Nomor Sasha masih tersimpan. Sudah berapa lama ia tak meneleponnya?
Dengan tangan gemetar, ia menekan tombol panggil.
"Halo?" suara Sasha di ujung sana.
"Sasha... aku... aku minta maaf."
Hening cukup lama. Lalu Sasha berkata, "Aku tahu, Rizky. Aku juga minta maaf."
"Mungkin nggak langsung. Mungkin lama. Tapi gue mau berusaha. aku mau jadi lebih baik. Buat kamu. Buat Kirana."
Sasha menangis di ujung sana. "Aku juga, Rizky. Aku juga mau berusaha."
Mereka berbicara lama malam itu. Bukan sebagai mantan suami istri yang penuh luka, tapi sebagai dua orang tua yang ingin memberikan yang terbaik untuk anak mereka.