Selama empat tahun pernikahan, Laras menjadi mesin ATM bagi keluarga suaminya. Sebagai wanita karier dengan posisi mapan dan gaji besar, ia tidak hanya menafkahi rumah tangganya sendiri, tetapi juga menanggung gaya hidup mewah ibu mertua dan adik iparnya, sementara suaminya, Arga, lepas tangan dengan alasan gajinya yang kecil.
Puncak kesabaran Laras habis ketika ia menyadari bahwa kebaikannya tidak pernah dihargai dan justru dianggap sebagai kewajiban mutlak. Laras memutuskan untuk melakukan "pemogokan finansial". Ia memotong uang bulanan secara drastis, berhenti membayar cicilan mobil sang adik ipar, dan mulai menikmati hasil jerih payahnya untuk dirinya sendiri.
Keputusan Laras memicu "perang" dalam keluarga besar. Arga yang manipulatif, serta ibu mertua dan adik ipar yang parasit, mulai melakukan berbagai cara untuk menekan Laras, mulai dari intimidasi, adu domba dengan keluarga besar, hingga ancaman perceraian. Namun, Laras yang kini lebih berdaya tidak lagi bisa ditindas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tunggu Pembalasanku !!!
Melalui layar ponsel yang terhubung dengan CCTV, Laras menyaksikan segalanya. Hatinya mencelos melihat bahan makanan di dapur dijarah oleh Ratih, kakak iparnya, tanpa izin. Namun, kejutan yang lebih menyakitkan menghantam dadanya saat melihat sosok Angel berada di rumah itu. Bahkan, wanita itu dengan berani masuk dan menginap di kamar pribadinya.
Meski pencahayaan kamar remang-remang, Laras tidak buta untuk memahami apa yang dilakukan Arga dan Angel di sana. Perasaan Laras hancur, remuk tak bersisa. Ia tak habis pikir, mengapa Arga setega itu membawa selingkuhannya ke atas ranjang pernikahan mereka? Dan yang lebih menyayat hati, tak satu pun anggota keluarga Arga yang mencoba melarangnya.
"Hiks..Hiks...."
Laras segera masuk ke kamar di rumah orang tuanya dan mengunci pintu. Tangisnya pecah dalam kesunyian.
"Kamu sudah keterlaluan, Mas. Kamu bawa perempuan itu ke kamarku, di atas ranjangku... Apa kurangnya aku selama empat tahun pernikahan ini?" bisik Laras di antara isak tangis yang menyesakkan. "Baiklah, jika ini yang kamu mau, aku akan ikuti permainanmu."
Laras menyeka air matanya dengan kasar, lalu membasuh wajahnya agar terlihat segar. Ia harus kuat. Rahasia pahit ini belum saatnya diketahui oleh Pak Harun dan Bu Sulis, orang tuanya. Ia tidak ingin merusak kebahagiaan mereka.
Tok! Tok! Tok!
Ketukan di pintu mengejutkannya. Laras segera memoleskan make-up tipis untuk menyamarkan sembab di matanya.
"Mbak Laras? Ada apa di dalam?" tanya Ratna sepupunya, saat Laras membuka pintu dengan senyum yang dipaksakan.
"Eh, Ratna. Ada apa, Na?"
"Mbak dipanggil Bu Sulis, diajak makan siang bareng. Mumpung sotonya masih panas, yuk Mbak."
"Oh iya, yuk. Kebetulan Mbak memang lapar banget." jawab Laras berusaha ceria, meski hatinya terasa seperti dihantam ribuan jarum.
Sejak pengkhianatan Arga terungkap, rasa cintanya perlahan menguap, berganti dengan tekad yang dingin. Ia tidak ingin menjadi wanita bodoh yang hanya bisa meratapi nasib. Di ruang makan, ia harus tampil sempurna. Ia tidak ingin mengacaukan acara syukuran keluarga besarnya.
"Kamu kuat, Laras. Kamu pasti bisa melewati ini." batinnya menyemangati diri sendiri.
**
Sementara itu, di sebuah paviliun mewah, suasana jauh dari kata tenang. Angel sedang mendapatkan omelan keras dari ayahnya, Pak Komar.
"Sadar diri, Angel. Ini bukan rumah kita. Ini rumah majikan Bapak." bentak Pak Komar. "Kalau mereka tahu kamu lancang membawa orang masuk ke sini, kita bisa dipecat. Kalau miskin ya miskin saja, jangan berlagak jadi anak orang kaya. Kamu ini bikin Bapak pusing saja.”
Pak Komar tidak keberatan jika hanya sekadar menjamu keluarga Arga, tapi ia muak harus berpura-pura menjadi pemilik rumah mewah itu, apalagi harus berbohong mengenai status sosialnya.
"Bapak ini kenapa sih? Sekali-sekali menyenangkan anak apa susahnya?" Bu Sitti muncul membela putrinya. "Majikan kita sedang tidak di rumah, mereka tidak akan tahu. Bantu Angel supaya disegani oleh calon suaminya itu apa susahnya sih?"
"Kalau cuma makan malam tidak masalah, Bu. Tapi pura-pura kaya itu salah. Kalau lelaki itu tulus, dia akan menerima Angel apa adanya tanpa harus mempersalahkan status sosial kita." tegas Pak Komar.
"Mas Arga itu mapan, Pak." sahut Angel sombong. "Gajinya saja dua digit, belum lagi bonusnya. Kakak dan adiknya semua orang terpelajar. Aku harus terlihat setara dengan mereka. Aku nggak mau malu."
Angel sangat percaya pada bualan Arga yang mengaku bergaji Rp75 juta per bulan. Ia tidak tahu bahwa Arga hanya pintar bersandiwara, sama seperti dirinya.
"Bapak tidak mau ikut campur. Silakan mereka datang, tapi Bapak tidak akan ikut berbohong." Pak Komar tetap teguh.
"Kalau Bapak mau mengacau, lebih baik Bapak tidak usah keluar kamar nanti malam. Angel benci Bapak. Kalau sampai acara ini gagal, jangan salahkan Angel kalau Angel nekat lagi." ancam Angel sebelum membanting pintu kamarnya.
BRAKK!
"Lihat itu, Pak. Kamu mau dia nekat seperti satu tahun yang lalu?" ancam Bu Sitti, mengingatkan Pak Komar pada kejadian saat Angel mencoba mengakhiri hidup karena ditinggal menikah.
Pak Komar hanya bisa menghela napas panjang. Ia terjebak dalam pusaran kebohongan istri dan anaknya sendiri.
**
Malam tiba. Arga datang bersama rombongan besar. Dimas, Ratih dan Maya. Doni, suami Maya memilih tidak ikut dengan alasan tidak enak badan padahal ia sebenarnya tidak setuju dengan tingkah laku iparnya itu.
"Wah, rumahnya besar sekali, Mas. Gerbangnya tinggi, ada pos satpamnya juga. " puji Tiara, adik bungsu Arga dengan mata berbinar.
"Apa aku bilang? Keluarga Angel ini bukan orang sembarangan. Rumah di komplek mewah begini harganya pasti miliaran. " sahut Arga dengan bangga, meski ia heran melihat pos satpam yang kosong.
Angel segera keluar menyambut mereka. "Maaf ya lama, aku kira belum sampai. Pak satpam tadi izin pulang karena kurang enak badan. Ayo masuk, parkir di dalam saja halamannya luas kok."
"Calon menantuku memang cantik, rumahnya juga luar biasa." puji Bu Ajeng, ibu Arga.
"Ah, Ibu bisa saja. Anggap saja rumah sendiri ya." balas Angel dengan gaya sosialita palsu.
Di dalam, mereka disambut oleh Bu Sitti dan Pak Komar. Sandiwara pun dimulai.
"Oh, ini Nak Arga? Tampan sekali. Pantas saja Angel selalu membanggakanmu." puji Bu Sitti basa-basi. "Kenalkan, ini Papanya Angel, Pak Komar dan saya Ibunya, Bu Sitti."
"Salam kenal, Om, Tante." sapa Arga sopan.
"Maaf ya Bu Ajeng, semalam saya tidak bisa mampir karena baru pulang dari luar kota, badan terasa capek sekali. " bohong Bu Sitti sambil melirik suaminya.
Pak Komar yang merasa tidak nyaman dengan kebohongan itu segera memotong, "Ini sudah malam, lebih baik kita langsung makan saja."
Di meja makan, suasana sedikit canggung. Maya dan Ratih berbisik-bisik saat melihat Pak Komar makan menggunakan tangan tanpa sendok.
"Mbak Ratih, lihat Papanya Angel. Kok gayanya begitu ya? Apa dia tidak suka dengan Arga?" bisik Maya pelan.
"Mungkin memang karakternya begit atau mungkin dia keberatan karena Arga masih punya istri." jawab Ratih ragu.
Angel yang merasa malu segera menimpali "Maaf ya semuanya, Papa memang punya kebiasaan unik. Kalau di rumah lebih suka makan pakai tangan, katanya lebih nikmat."
"Pak Komar benar. Makan pakai tangan memang lebih terasa seleranya. " sahut Dimas mencoba mencairkan suasana. Dalam hatinya, Dimas membatin, Orang kaya sungguhan biasanya memang sederhana begini. Siapa tahu dia nasabah prioritas di Bank Orange.
Setelah makan malam selesai, mereka berkumpul di ruang keluarga. Arga menarik napas dalam, bersiap menyampaikan niatnya untuk melamar Angel secara resmi, tanpa menyadari bahwa di tempat lain, Laras sedang menyusun rencana untuk menghancurkan panggung sandiwara mereka semua.