Di Desa Oetimu, Nusa Tenggara Timur, hidup adalah perjuangan melawan tanah merah yang retak dan matahari yang membakar. Jonatan, seorang pemuda cerdas namun miskin, tumbuh besar dalam bayang-bayang penghinaan. Di sekolah, ia dijuluki "Anak Tanah" dan dipandang sebelah mata oleh mereka yang berpunya. Namun, di balik seragamnya yang menguning, Jonatan menyimpan mimpi besar: memutus rantai kemiskinan keluarganya.
Kesempatan emas datang ketika ia diterima di sebuah universitas ternama di Jawa. Namun, mimpi itu menuntut harga yang sangat mahal. Demi tiket berangkat, ayahnya, Pak Berto, secara rahasia menggadaikan tanah warisan leluhur kepada rentenir kejam. Kepergian Jonatan pun berubah menjadi sebuah pertaruhan hidup-mati; jika ia gagal, keluarganya akan kehilangan segalanya.
Jakarta ternyata jauh lebih dingin daripada kemarau di NTT. Jonatan harus berjuang melawan diskriminasi dan rasa lapar yang mencekik. Di tengah rasa putus asa saat kiriman uang terhenti karena ayahnya jatuh sakit,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon joekris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: GOYAH DI ATAS KERTAS BURAM
Minggu pertama perkuliahan ternyata jauh lebih melelahkan daripada seluruh rangkaian ospek yang menguras fisik. Bagi Jonatan, kesulitan itu bukan hanya tentang memahami materi yang disuapkan para dosen, tetapi tentang mengejar ketertinggalan yang seolah-olah berjarak satu samudera. Di saat teman-temannya sibuk mengetik di laptop tipis dengan jari-jari yang lincah dan layar yang jernih, Jonatan masih harus berjuang dengan pulpen yang seringkali macet dan buku tulis bersampul cokelat yang kertasnya kasar. Setiap goresan pulpennya terasa seperti usaha keras untuk memahat masa depan di atas batu.
Pagi itu, di dalam aula besar yang dinginnya menusuk hingga ke sumsum tulang—sebuah kemewahan AC yang bagi Jonatan justru terasa seperti siksaan—mata kuliah Kalkulus I dimulai. Dosen di depan kelas, seorang pria muda berkacamata dengan gaya bicara yang sangat cepat, menuliskan deretan angka dan simbol di papan tulis digital dengan gerakan yang seolah tidak butuh berpikir. Simbol-simbol itu meluncur deras, memenuhi layar, menciptakan labirin logika yang rumit.
"Kita masuk ke turunan fungsi trigonometri. Saya asumsikan kalian semua sudah melahap dasar-dasarnya di SMA, jadi kita langsung ke aplikasi soal yang lebih kompleks," ujar dosen itu tanpa menoleh, terus menuliskan fungsi $f(x)$ yang tampak seperti benang kusut bagi Jonatan.
Jonatan menatap papan tulis dengan mata tak berkedip. Ia tahu konsepnya, otaknya mengerti logikanya secara mendasar, tetapi ia butuh waktu untuk menerjemahkan simbol-simbol modern itu ke dalam pola pikirnya yang selama ini belajar secara otodidak di bawah lampu pelita yang redup di Oetimu. Di kampung, ia belajar dengan membayangkan air yang mengalir atau batu yang jatuh, bukan dengan variabel-variabel abstrak yang dingin. Tangannya bergerak cepat mencatat, namun keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.
"Jon, kamu oke? Wajahmu pucat sekali," bisik Sarah yang duduk di sebelahnya. Sarah sedang sibuk mencatat di tablet digitalnya, namun ia sempat melirik Jonatan yang tampak menahan napas.
"Hanya sedikit pusing," jawab Jonatan singkat, suaranya nyaris hilang.
Padahal, kenyataannya jauh lebih pahit. Perutnya sedang berteriak, sebuah simfoni kelaparan yang ia coba sembunyikan dengan menekan perutnya ke pinggiran meja kayu. Sejak kemarin sore, ia hanya makan sepotong roti sobek pemberian Sarah yang ia bagi dua—setengah untuk malam tadi, setengah untuk pagi ini. Uang sakunya benar-benar di titik kritis, dan ia belum menemukan pekerjaan paruh waktu meski sudah berkeliling ke beberapa toko dan gudang di sekitar kampus hingga kakinya lecet.
Di akhir jam kuliah, sang dosen memberikan sebuah lembar tugas yang difotokopi. "Ini dikumpulkan besok pagi di meja saya. Jika salah satu saja dari lima soal ini keliru, kalian tidak boleh ikut kuis minggu depan. Dan ingat, nilai kuis adalah syarat mutlak kelulusan mata kuliah ini."
Kelas mendadak riuh dengan keluhan. Mahasiswa lain mulai berdiskusi tentang aplikasi solver di ponsel mereka yang bisa memecahkan soal dalam hitungan detik. Jonatan hanya diam, menatap lembar kertas itu. Soal nomor lima adalah sebuah tantangan logika turunan berantai yang sangat rumit. Ia tahu itu adalah soal jebakan, sebuah ujian untuk memisahkan mereka yang hanya menghafal dengan mereka yang benar-benar paham.
"Ayo ke perpustakaan, Jon. Kita kerjakan bareng. Aku punya langganan situs premium untuk kunci jawaban kalau kita mentok," ajak Gani sambil merapikan tas mahalnya yang bermerek. "Gila, dosen itu pikir kita Einstein apa? Aku mau makan siang dulu di depan, lalu langsung ke perpus."
Jonatan menggeleng pelan, mencoba tersenyum meski bibirnya terasa kering. "Kalian duluan saja. Aku ada urusan sebentar di bagian administrasi."
Bohong. Urusan Jonatan adalah melarikan diri dari aroma makanan di kantin yang mulai memenuhi selasar kampus. Ia berjalan menuju taman belakang kampus, mencari tempat yang paling tersembunyi di balik rimbunnya pohon mahoni untuk menenangkan perutnya yang perih agar ia bisa berpikir jernih. Ia duduk di atas akar pohon yang menonjol, membuka buku catatannya yang lusuh. Ia mulai mencoret-coret kertas buram di sana, mencoba membedah soal nomor lima.
Satu jam berlalu. Jonatan terjebak. Rumus yang ia gunakan seolah-olah menemui jalan buntu pada langkah ketiga. Angka-angka itu mulai menari, mengabur di matanya yang mulai lelah. Rasa lapar bukan lagi sekadar bunyi di perut, tapi mulai menyerang konsentrasinya. Ia menyandarkan kepalanya ke batang pohon, menatap langit Surabaya yang putih tanpa awan.
"Kalau cuma mengandalkan hafalan rumus SMA yang kaku, kau akan terjebak di sana sampai tahun depan, atau sampai kau pingsan karena lapar."
Suara berat itu membuat Jonatan tersentak hingga hampir menjatuhkan pulpennya. Pak Johan berdiri di sana, hanya beberapa meter darinya. Tangan kirinya memegang cangkir kopi plastik yang uapnya masih mengepul, sementara tangan kanannya memegang beberapa buku tua tebal dengan sampul kulit yang sudah mengelupas. Pria itu menatap kertas buram Jonatan yang penuh dengan coretan garis dan lingkaran acak.
"Pak Johan..." Jonatan segera berdiri, merapikan bajunya yang sedikit kusut.
"Duduk saja. Jangan formal-formal di bawah pohon, saya bukan dosenmu di kelas ini," Pak Johan ikut duduk di akar pohon yang menonjol, tidak peduli celana kainnya terkena tanah. Ia mengambil kertas Jonatan tanpa permisi, memeriksanya sebentar dengan mata yang menyipit di balik kacamata tebalnya, lalu mengeluarkan pulpen dari saku kemejanya.
"Kau terlalu kaku, Jonatan. Kau memperlakukan matematika seperti hukum adat yang tidak boleh diubah. Matematika itu bukan tentang menghafal jalan yang sudah dibuat orang lain. Matematika itu tentang membangun jalanmu sendiri dari titik A ke titik B. Lihat soal nomor lima ini," Pak Johan melingkari sebuah variabel $t$ yang tersembunyi di dalam fungsi trigonometri. "Kau menganggap variabel ini sebagai beban, padahal dia adalah kuncinya. Coba balik perspektifmu. Gunakan permisalan yang paling sederhana."
Pak Johan memberikan satu coretan kecil, sebuah substitusi variabel yang sangat elegan di sudut kertas. Seketika, seperti sebuah tirai yang dibuka setelah sekian lama menutupi jendela, Jonatan melihat jalannya. Logika yang tadinya tertutup rapat kini terbuka lebar. Kerumitan itu mendadak runtuh menjadi langkah-langkah yang logis dan indah.
"Ah... saya mengerti. Saya terlalu terpaku pada metode substitusi biasa yang diajarkan di buku teks," gumam Jonatan, matanya kembali berbinar, melupakan rasa perih di perutnya sejenak.
Pak Johan mengangguk, lalu menatap Jonatan dengan tajam, sebuah tatapan yang seolah bisa menembus hingga ke dalam lambung Jonatan yang kosong. "Otakmu bagus. Logikamu tajam seperti parang yang baru diasah. Tapi tubuhmu lemah, Jonatan. Kau belum makan sejak pagi, kan?"
Jonatan terdiam, rasa malu kembali menyergapnya lebih hebat daripada rasa lapar. Ia hanya bisa menunduk, memainkan ujung pulpennya yang sudah mulai kehabisan tinta. "Tadi pagi saya sudah makan sedikit roti, Pak."
Pak Johan menghela napas, sebuah helaan napas yang terdengar seperti rasa sesal yang mendalam. Ia merogoh tas kulitnya yang berukuran besar, lalu mengeluarkan sebungkus nasi jinggo yang dibungkus daun pisang, masih terasa hangat. "Ini sisa rapat di dekanat tadi. Banyak dosen yang sok diet dan tidak menyentuhnya. Daripada dibuang dan menjadi mubazir, mending kau habiskan. Jangan bantah, ini perintah dari orang yang meminjamimu uang pendaftaran."
Jonatan menerima bungkusan itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Bau nasi, sambal goreng, dan suwiran ayam itu membuat pertahanannya runtuh. Ia makan dengan lahap namun tetap berusaha sopan, mencoba menahan air mata yang hampir jatuh. Di dunia yang asing dan dingin ini, kebaikan Pak Johan yang kasar namun tulus terasa seperti pelukan seorang ayah yang ia tinggalkan di Oetimu.
"Dengar, Jonatan," ujar Pak Johan sambil menatap ke arah gedung rektorat yang megah di kejauhan. "Di kampus ini, banyak orang yang punya uang tapi otaknya kosong, mereka kuliah hanya untuk gaya-gayaan. Ada juga yang otaknya penuh tapi hatinya batu, mereka pintar tapi tidak peduli pada sekitar. Kau punya keduanya; otak yang cerdas dan alasan yang kuat untuk berjuang. Jangan biarkan tekanan kecil seperti soal kalkulus atau perut lapar membuatmu goyah. Dunia tidak butuh orang pintar yang cengeng. Dunia butuh orang pintar yang tahu rasanya sakit, agar saat kau sukses nanti, kau tidak lupa pada mereka yang masih merasakan sakit itu."
Jonatan berhenti mengunyah sebentar, meresapi setiap kata yang keluar dari mulut pria tua itu. Kalimat itu meresap jauh ke dalam sanubarinya, lebih menguatkan daripada nasi yang ia makan. "Terima kasih, Pak. Saya janji... saya tidak akan mengecewakan Bapak."
"Jangan berjanji padaku. Aku tidak butuh janjimu. Berjanjilah pada orang-orang di Oetimu yang menunggumu pulang membawa air dan perubahan," Pak Johan berdiri, menepuk bahu Jonatan dengan mantap sebelum melangkah pergi meninggalkan aroma kopi dan kebijaksanaan di bawah pohon mahoni.
Sore itu, Jonatan menyelesaikan tugas kalkulusnya dengan keyakinan baru. Ia tidak lagi merasa seperti anak desa yang tersesat di labirin angka. Ia merasa seperti seorang pemahat yang sedang membentuk masa depannya sendiri dari batu-batu kesulitan yang ia temui setiap hari.
Malamnya, saat ia kembali ke masjid tempat ia menumpang tidur sementara—kali ini penjaganya sudah lebih ramah setelah melihat kartu mahasiswanya dan mendengar cerita Jonatan—ia berbaring di atas sajadah tipis. Ia membuka halaman terakhir buku tulisnya dan menuliskan sebuah refleksi:
Hari ini aku belajar bahwa logika bukan hanya soal angka, tapi soal ketahanan hati. Pak Johan benar, aku tidak boleh goyah hanya karena kerumitan di atas kertas. Jika soal nomor lima ini bisa aku selesaikan, maka nasib keluargaku pun pasti ada jalan keluar logisnya. Aku hanya perlu berani membangun jalan itu sendiri.
Di luar, hujan turun dengan deras, mencuci debu-debu kota Surabaya yang melekat di selasar masjid. Jonatan tidur dengan perut yang sedikit lebih tenang dan mimpi yang sedikit lebih terang. Ia tahu, esok hari tekanan baru akan datang, tapi sekarang ia punya senjata baru: ia tahu bahwa di tengah dunia yang asing ini, ada orang-orang yang diam-diam mendukungnya, dan ada Tuhan yang selalu memberinya jalan di saat langkahnya mulai goyah.
tanah outimu menanti perubahan & akan mendukungmu jon, 💪💪💪
smoga keberuntungan sll menyertaimu 💪💪💪
kasian