Menjadi orang asing adalah satu-satunya cara kita bisa bekerja sama tanpa harus saling menghancurkan lagi."
Lima tahun lalu, Maya pergi membawa luka yang tidak sempat ia jelaskan. Ia mengira waktu dan jarak akan menghapus segalanya. Namun, takdir memiliki selera humor yang pahit. Maya dipaksa kembali ke hadapan Arlan Dirgantara—pria yang kini menjadi sosok dingin, berkuasa, dan penuh kebencian.
Arlan bukan lagi pria hangat yang dulu ia cintai. Arlan yang sekarang adalah klien sekaligus "penjara" bagi karier Maya. Arlan menuntut profesionalisme, namun tatapannya masih menyimpan bara dendam yang menolak padam.
Di tengah proyek renovasi rumah tua yang penuh kenangan, mereka terjebak dalam permainan pura-pura. Berpura-pura tidak kenal, berpura-pura tidak peduli, dan berpura-pura bahwa getaran di antara mereka sudah mati.
Mampukah mereka tetap menjadi asing saat setiap sudut ruangan mengingatkan mereka pada janji yang pernah terucap? Ataukah kembali mengenal satu sama lain justru akan membu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Kebenaran yang Terpotong
Hujan di luar gedung Dago itu seolah ingin meruntuhkan atap, tapi kebisingannya kalah telak oleh kesunyian yang mencekik di antara Arlan dan Maya. Surat di tangan Arlan remuk, menciptakan bunyi kertas yang menyedihkan.
"Lan, dengerin aku dulu..." Suara Maya parau, nyaris habis.
"Jawab saja, Maya!" Arlan melangkah maju, memaksanya mundur hingga tumitnya membentur anak tangga kayu. "Malam itu... malam sebelum kamu menghilang. Aku menunggumu di taman selama empat jam. Aku sudah bawa cincin itu, May! Tapi kamu nggak datang. Dan sekarang surat ini bilang kamu ada di Hotel Braga dengan laki-laki lain?"
Maya menggeleng kuat-kuat. Air matanya jatuh, hangat di tengah udara Bandung yang membeku. "Aku memang ke sana, tapi nggak seperti yang kamu pikirkan. Aku dijebak, Lan!"
Arlan tertawa, sebuah tawa kering yang terdengar seperti pecahan kaca. "Dijebak? Alasan paling klasik di dunia. Siapa yang menjebakmu? Rentenir itu? Atau justru kamu yang sadar kalau cintaku nggak bisa melunasi utang-utang ayahmu?"
"Ayahku mau dijual, Arlan!" teriak Maya akhirnya. Suaranya bergema di ruang tamu yang kosong. "Rentenir itu bilang, kalau aku nggak datang ke hotel itu untuk 'negosiasi', mereka bakal bawa ayahku ke kantor polisi atau... atau lebih buruk lagi. Aku ke sana untuk memohon, Lan. Cuma memohon!"
Arlan terdiam. Cengkeramannya di bahu Maya melemah, tapi tatapannya masih penuh keraguan yang menyakitkan. "Lalu kenapa kamu nggak bilang padaku? Kenapa kamu malah pergi besok paginya tanpa penjelasan?"
Maya menunduk, bahunya berguncang hebat. "Karena saat aku di kamar itu... pria itu bukan cuma mau negosiasi. Dia mencoba... dia hampir..." Maya tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Memori tentang tangan kotor yang menyentuh lengannya dan aroma alkohol yang menyesakkan kembali menyerang kepalanya. "Aku berhasil kabur, Lan. Tapi aku merasa sangat kotor. Aku merasa nggak pantas lagi berdiri di sampingmu yang begitu sempurna. Aku takut kalau aku tetap di sana, pria itu bakal menghancurkan karirmu yang baru dimulai sebagai arsitek muda."
Arlan mematung. Wajahnya yang tadinya merah padam karena amarah, kini perlahan memucat. Ia menatap Maya yang meringkuk di tangga, tampak begitu rapuh dan kecil.
"Kenapa kamu harus memikul semuanya sendiri, May?" suara Arlan sekarang hanya berupa bisikan yang hancur. "Kamu pikir dengan pergi, kamu menyelamatkanku? Kamu justru membunuhku perlahan-lahan selama lima tahun ini."
Tiba-tiba, dari arah lorong gelap dekat dapur, terdengar suara tepuk tangan pelan yang berirama.
Prok. Prok. Prok.
Seorang wanita muncul dari balik bayangan. Sandra. Ia memegang sebuah payung hitam yang masih basah, wajahnya tampak sangat puas, seolah baru saja memenangkan lotre.
"Wah, drama yang luar biasa," sindir Sandra. Ia berjalan mendekat, setiap langkah sepatunya terdengar sangat angkuh. "Tapi sayang, ceritamu ada yang kurang, Maya. Kamu lupa bilang kalau pria di kamar hotel itu adalah... pamanku sendiri?"
Jantung Maya seolah berhenti berdetak. Ia menatap Sandra dengan tatapan tidak percaya. "Pamanmu?"
Sandra tersenyum tipis, lalu menoleh pada Arlan. "Lan, jangan percaya air mata buayanya. Pamanku bilang dia yang mengundang Maya ke sana karena Maya butuh uang cepat. Dan soal kabur? Dia nggak kabur, Lan. Dia pergi setelah menerima cek tunai dari pamanku. Itu sebabnya dia punya modal buat hidup di Jakarta selama ini, kan?"
"BOHONG!" teriak Maya. "Aku nggak pernah terima uang sepeser pun!"
"Lalu dari mana kamu punya uang buat bayar biaya rumah sakit ibumu seminggu setelah kamu sampai di Jakarta?" tanya Sandra telak, sebuah pertanyaan yang membuat Maya terbungkam.
Maya terperangah. Ia memang menerima transferan anonim saat itu, tapi ia pikir itu adalah asuransi lama ayahnya yang cair.
Arlan menatap Maya dengan tatapan yang sangat asing. Luka di matanya kini bercampur dengan rasa jijik. "Jadi... itu benar? Kamu menjual kepergianmu untuk uang itu?"
"Nggak, Lan... aku nggak tahu itu uang dari siapa..."
"Cukup, Maya." Arlan berbalik, ia tidak sanggup lagi menatap wajah wanita yang selama ini menjadi pusat dunianya. "Keluar dari rumah ini. Sekarang."
"Arlan, tolong dengar aku!" Maya mencoba meraih tangan Arlan, tapi Arlan menepisnya dengan kasar hingga Maya jatuh tersungkur di lantai yang dingin.
"Keluar sebelum aku melakukan sesuatu yang bakal aku sesali!" bentak Arlan tanpa menoleh.
Sandra berjalan mendekati Maya yang terduduk lemas, ia membungkuk dan berbisik tepat di telinga Maya. "Sudah kubilang, jangan pernah mendaki terlalu tinggi. Sekarang, nikmati jatuhmu."
Maya bangkit dengan sisa tenaga yang ia miliki. Ia tidak lagi menangis. Hatinya sudah terlalu hancur untuk sekadar mengeluarkan air mata. Ia menatap punggung Arlan untuk terakhir kalinya—punggung yang dulu selalu melindunginya, kini terasa seperti tembok raksasa yang tidak akan pernah bisa ia tembus lagi.
Ia berjalan keluar menembus hujan deras Dago tanpa payung. Ia tidak peduli lagi jika petir menyambarnya. Namun, di tengah langkahnya yang gontai menuju gerbang, Maya teringat sesuatu.
Kotak kayu di ruang kerja Arlan.
Jika Arlan yang menebus kotak itu dari tempat loak setahun setelah ia pergi, berarti Arlan sudah mencari tahu keberadaannya sejak lama. Dan jika Sandra benar-benar dalang di balik semua ini, berarti Arlan juga sedang dalam bahaya. Sandra tidak hanya menginginkan Arlan, dia ingin menghancurkan siapa pun yang pernah dicintai Arlan.
Maya berhenti di bawah lampu jalan yang remang. Ia merogoh sakunya, mencari ponselnya. Ia tidak akan menyerah. Jika Arlan tidak mau mendengarnya sebagai kekasih, maka ia akan bicara sebagai orang yang tahu bahwa Arlan sedang dipelihara oleh seekor ular.
"Kamu boleh benci aku, Arlan," gumam Maya di tengah gemuruh hujan. "Tapi aku nggak akan biarkan kamu hancur karena kebohongannya."