NovelToon NovelToon
Mahar Penebus Dosa Ayah

Mahar Penebus Dosa Ayah

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Perjodohan / Nikahmuda / Balas Dendam
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Ayah, kenapa Nin dipakaikan baju pengantin? Nin kan besok mau ujian matematika..."

Kalimat polos Anindya (10 tahun) menjadi pisau yang menyayat hati Rahardian. Demi melunasi hutang nyawa dan harta pada keluarga kaya di kota, Rahardian terpaksa menjual masa depan putri tunggalnya.

Anindya dibawa pergi, meninggalkan bangku sekolah demi sebuah pernikahan dini yang tidak ia pahami.

Di rumah mewah Tuan Wijaya, Anindya bukanlah seorang menantu. Ia adalah pelayan, samsak kemarahan ibu mertua, dan mainan bagi suaminya yang sombong, Satria.

Namun, di balik tangisnya setiap malam, Anindya menyimpan sebuah janji. Ia akan terus belajar meski tanpa buku, dan ia akan bangkit meski kakinya dirantai tradisi.

Ini adalah kisah tentang seorang bocah yang dipaksa dewasa oleh keadaan, dan perjuangannya untuk kembali menjemput martabat yang telah digadaikan ayahnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Istana Berduri

Bab 2: Istana Berduri

Mobil hitam mewah itu membelah kegelapan malam dengan kecepatan stabil, meninggalkan debu-debu jalanan desa yang kini terasa seperti kenangan jauh bagi Anindya. Di dalam kabin yang sejuk oleh AC, Anindya duduk meringkuk di kursi kulit yang empuk. Namun, bagi gadis sepuluh tahun itu, keempukan kursi tersebut terasa asing dan menakutkan. Ia memeluk erat boneka kain kusamnya, satu-satunya benda yang masih berbau keringat ayahnya dan aroma asap kayu bakar rumah mereka.

"Jangan menangis, nanti matamu bengkak. Tidak enak dilihat calon mertuamu," suara dingin dari kursi depan memecah keheningan. Itu adalah suara asisten Tuan Wijaya, seorang pria kaku yang sejak tadi tidak tersenyum sedikit pun.

Anindya hanya menunduk, air matanya jatuh membasahi kepala boneka kainnya. "Om, apa rumahnya jauh? Apa besok Ayah benar-benar akan datang?"

Pria itu tidak menjawab. Ia hanya menatap jalanan di depan dengan dingin. Jawaban itu menggantung, menciptakan lubang besar di hati Anindya yang mulai menyadari bahwa kata "pesta" yang diucapkan ayahnya tadi hanyalah sebuah kebohongan manis untuk menutupi kenyataan pahit.

Beberapa saat kemudian, mobil itu berbelok memasuki sebuah gerbang besi raksasa yang menjulang tinggi. Di baliknya, berdiri sebuah bangunan megah berlantai dua dengan pilar-pilar putih yang besar. Lampu kristal bersinar terang dari balik jendela kaca, memberikan kesan kemewahan yang tak pernah dibayangkan oleh anak desa seperti Anindya. Namun, bagi mata kecilnya, rumah itu tidak terlihat seperti istana putri raja. Rumah itu terlihat seperti mulut raksasa yang siap menelannya hidup-hidup.

Pintu mobil dibuka. Anindya melangkah keluar dengan ragu, kakinya yang hanya beralaskan sandal jepit tipis menginjak lantai marmer teras yang dingin. Di sana, sudah berdiri Tuan Wijaya bersama istrinya, Nyonya Lastri, dan seorang anak laki-laki yang usianya mungkin tiga atau empat tahun di atas Anindya. Anak laki-laki itu—Satria—menatap Anindya dengan tatapan jijik, seolah-olah Anindya adalah kotoran yang terbawa masuk ke rumah mereka.

"Jadi, ini bocah yang harus kubayar mahal dari bapaknya yang miskin itu?" Nyonya Lastri berucap sambil melipat tangan di dada. Matanya menilai Anindya dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Kurus, dekil, dan baunya... baunya seperti bau matahari. Wijaya, apa kau yakin dia bisa berguna di sini?"

Tuan Wijaya hanya terkekeh pelan, tawa yang tidak sampai ke mata. "Dia akan belajar, Lastri. Dia masih muda, masih mudah dibentuk. Lagipula, ini adalah jaminan agar Rahardian tidak melarikan diri dari hutang-hutangnya. Setidaknya, Satria sekarang punya pelayan pribadi yang juga berstatus istri di atas kertas."

Anindya tidak mengerti apa itu "istri di atas kertas" atau "pelayan pribadi". Yang ia tahu, perutnya mulai melilit karena takut.

"Sini kau," Nyonya Lastri menarik kasar tangan Anindya, menyeretnya masuk ke dalam rumah.

Anindya hampir tersandung gaun kebayanya sendiri yang kepanjangan. "Jangan berani-berani menyentuh karpet mahal ini dengan sandal kotormu! Lepaskan!"

Anindya segera melepas sandalnya dengan tangan gemetar. Ia berjalan bertelanjang kaki di atas lantai marmer yang sangat dingin, mengikuti langkah kaki Nyonya Lastri yang angkuh. Mereka melewati ruang tamu yang luas, namun mereka tidak berhenti di sana. Nyonya Lastri membawanya terus ke bagian belakang rumah, melewati dapur yang sangat modern, hingga sampai di sebuah ruangan kecil di dekat gudang bawah tangga.

"Mulai malam ini, ini kamarmu," Nyonya Lastri menunjuk sebuah kasur tipis di lantai tanpa ranjang. Ruangan itu pengap dan hanya ada satu lampu kecil yang redup. "Jangan berharap tidur di kamar mewah. Kau di sini bukan untuk dimanja. Kau di sini untuk melayani putraku dan keluargaku. Besok pagi, pukul lima, kau harus sudah bangun untuk membantu di dapur."

"Tapi... tapi Ayah bilang Nin akan sekolah..." suara Anindya bergetar hebat.

Nyonya Lastri tertawa renyah, tawa yang terdengar sangat kejam di telinga Anindya. "Sekolah? Untuk apa anak perempuan miskin sepertimu sekolah? Tugasmu sekarang adalah mengurus Satria. Jika aku melihatmu menyentuh buku, akan kubakar buku itu di depan matamu. Mengerti?"

Anindya hanya bisa mengangguk pelan, kepalanya tertunduk dalam. Setelah Nyonya Lastri pergi dan mengunci pintu dari luar, Anindya jatuh terduduk di atas kasur tipis itu. Ia memeluk lututnya, menatap kegelapan di sudut ruangan. Bayangan wajah ayahnya muncul di benaknya—wajah lelah yang penuh air mata saat melepasnya tadi.

Ayah... Nin takut. Nin mau pulang... bisiknya dalam hati.

Tiba-tiba, pintu kamarnya diketuk dengan kasar. Sebelum ia sempat menjawab, pintu terbuka dan Satria masuk. Anak laki-laki itu membawa sebuah gelas berisi

air jeruk. Ia menatap Anindya dengan sombong.

"Kau lapar, ya?" tanya Satria.

Anindya mengangguk pelan. Ia belum makan sejak siang karena terlalu bersemangat memikirkan "pesta" yang dijanjikan ayahnya.

Satria berjalan mendekat, lalu dengan sengaja ia memiringkan gelasnya. Air jeruk itu tumpah tepat di atas baju kebaya merah Anindya yang baru. Cairan lengket itu meresap ke dalam kain, merusak payet-payet indahnya.

"Eh, tumpah. Ups," Satria menyeringai nakal. "Jangan berpikir karena kau istriku, kau bisa sejajar denganku. Kau itu hanya barang yang dibeli Ayahku untuk menghiburku kalau aku sedang bosan. Jangan pernah masuk ke kamarku kalau tidak kusuruh, mengerti, Gadis Dekil?"

Satria kemudian keluar sambil tertawa, meninggalkan Anindya yang kini menangis tersedu-sedu melihat baju kesayangannya kotor. Ia menggosok kain kebaya itu dengan tangannya, mencoba menghilangkan noda, namun noda itu justru semakin melebar—sama seperti nasibnya yang kini mulai ternoda oleh pahitnya kenyataan.

Malam itu, Anindya tidak bisa memejamkan mata. Setiap suara langkah kaki di luar kamarnya membuatnya gemetar. Ia merindukan suara jangkrik di desanya, ia merindukan suara batuk ayahnya di malam hari, dan ia merindukan rasa aman yang kini hilang entah ke mana.

Di gubuk reyot di Desa Sukasari, Rahardian mungkin sedang menatap bulan yang sama, meratapi kemiskinannya. Namun di sini, di istana megah ini, Anindya menyadari bahwa emas dan marmer tidak menjamin kebahagiaan. Baginya, rumah mewah ini tak lebih dari sebuah penjara berpagar emas yang baru saja mengurung masa kecilnya.

Ia mengambil boneka kainnya, memeluknya sekuat tenaga hingga jahitan di leher boneka itu sedikit robek. "Kita harus kuat, ya? Ayah pasti akan jemput kita... Ayah tidak mungkin bohong," bisiknya pada boneka itu, mencoba meyakinkan dirinya sendiri meskipun hatinya dipenuhi keraguan yang mencekam.

Anindya tidak tahu bahwa mulai esok hari, hari-harinya tidak lagi diisi dengan bermain kelereng atau belajar berhitung, melainkan dengan cacian, kerja keras yang melampaui usianya, dan perjuangan panjang untuk mempertahankan sisa-sisa martabatnya sebagai seorang manusia.

Penderitaan sang Anindya kecil baru saja dimulai, dan jalan menuju kedewasaan masih terasa begitu sangat jauh dan penuh duri tajam yang siap melukai setiap langkah kakinya yang mungil.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!