NovelToon NovelToon
EXPIREDENS

EXPIREDENS

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Misteri / Spiritual / Identitas Tersembunyi / Epik Petualangan
Popularitas:42
Nilai: 5
Nama Author: Karamellatee

Tittle : EXPIREDENS
Author : Karamellatee Clandestories

VOL. 1 : Keturunan tanah darah Kutukan

Cerita tentang bagaimana para mahasiswa yang membangun akar dari masalah menghubungkan timbal balik antara masa lalu dan masa depan, terciptanya gelombang tanpa ampunan bagi mereka sang pendosa harus diselesaikan oleh kelima mahasiswa ini. Terjebak antar ruang dan waktu merajalela nyawa satu per satu, nyawa adalah taruhan dan mereka adalah detak jantung dari setiap tragedi yang akan memutarbalikkan fakta.

Pada kenyataannya mereka adalah manusia biasa yang menjadi tokoh utama dari setiap kelam nya masa lalu?

Menyusun harmoni yang ada dalam monarki, disaat semua orang memiliki pemahaman komunisme, fanatisme, dan liberalisme. Sungguh, tekad yang membawa mereka dalam angan-angan kematian. Diiringi kisah pilu, dalam nestapa berdiam diri, goyah oleh setiap godaan ingatan terukir, takkan pernah terkikis oleh waktu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#Bab 07: Pengembara yang menjadi raja [1]

...●◉◎◈◎◉●...

...#1 Original story [@clandestories]...

...#2 No Plagiatrism...

...#3 Polite and non-discriminatory comments...

...•...

...•...

...⪻ ⋅•⋅⊰∙∘☽༓☾∘∙⊱⋅•⋅ ⪼...

Angin lembah berhembus membawa aroma tanah basah saat Zachary Demar menancapkan pedang pusakanya ke tanah gersang yang baru saja ia temukan. Di tanah kecil wilayah Jawa ini, ia tidak lagi melihat dirinya sebagai pewaris takhta Kartaswiraga yang agung, melainkan hanya seorang pelarian yang lelah akan bau amis darah saudara sendiri. Ia melepaskan jubah kebesarannya yang koyak, menyisakan pakaian perjalanan yang penuh debu, lalu mulai membangun gubuk pertama di antara rimbunnya pohon jati.

Kabar tentang seorang pria dengan teknik berpedang yang mampu membelah angin namun memilih hidup sebagai petani mulai menyebar ke desa-desa sekitar. Satu demi satu, orang-orang yang tertindas oleh perang saudara di Kartaswiraga datang menyusulnya.

Mereka bukan mencari sang Pangeran Kartaswiraga, melainkan mencari kedamaian yang ditawarkan Zachary Demara Kartaswiraga yang membuang nama belakangnya.

Dengan tangan yang terbiasa menggenggam hulu pedang, Zachary mulai mengajari mereka cara bercocok tanam dan membangun sistem irigasi, namun ia tetap waspada. Pedang yang ia sandarkan di sudut gubuknya selalu bergetar setiap kali ada langkah kaki orang asing mendekat, seolah senjata itu merindukan tuannya kembali ke medan laga.

Tanah kosong itu perlahan berubah menjadi pemukiman yang mandiri. Zachary menamainya Demar, sebuah wilayah yang tidak mengenal kasta pangeran atau rakyat jelata. Namun, kedamaian itu terusik saat sekelompok pendekar bayaran kiriman saudaranya berhasil melacak keberadaan sang pangeran. Mereka mengepung Demar di tengah malam, menuntut Zachary menyerahkan pedang pusakanya sebagai bukti penyerahan takhta.

Zachary keluar dari gubuknya tanpa baju zirah. Ia hanya membawa pedang yang selama ini ia sembunyikan. Dalam kegelapan malam, gerakan berpedangnya terlihat seperti tarian cahaya ketika ia bergerak begitu cepat hingga para pengepung nya hanya melihat bayangan yang melintas di antara mereka. Tanpa mengambil satu nyawa pun, Zachary melucuti semua senjata lawan dan mematahkan semangat tempur mereka hanya dengan satu tebasan yang membelah udara tepat di depan leher pemimpin bayaran tersebut.

"Katakan pada saudaraku," ucap Zachary sambil menyarungkan pedangnya dengan tenang, "Takhta Kartaswiraga bisa ia miliki, tapi tanah Demar adalah milik mereka yang ingin hidup tanpa pedang di lehernya."

Sejak malam itu, para pengepung pergi dengan ketakutan, dan nama Zachary Demar bukan lagi dikenal sebagai pangeran yang kabur, melainkan sebagai Raja dari kerajaan kecil yang berdiri di atas prinsip perlindungan, bukan penaklukan. Ia tahu perang besar suatu saat akan datang menjemputnya, tapi untuk saat ini, Zachary memilih untuk terus mencangkul tanahnya, menjaga Demar tetap tenang di bawah naungan teknik berpedangnya yang melegenda.

Tahun-tahun berlalu dengan tenang di bawah kepemimpinan Zachary. Demar tidak lagi sekadar pemukiman kecil, melainkan telah menjelma menjadi sebuah oase kemakmuran yang tersembunyi. Zachary memimpin dengan tangan dingin namun penuh kasih; ia tidak pernah memungut upeti yang memberatkan dan tidak pernah memerintahkan tentaranya untuk mencaplok wilayah tetangga.

Baginya, kedaulatan bukan soal seberapa luas peta kekuasaan, melainkan seberapa aman rakyatnya bisa tidur di malam hari. Ia hidup sebagai raja yang bersahaja, seringkali masih terlihat turun ke ladang bersama rakyatnya, meskipun pedang legendarisnya selalu terikat erat di pinggang.

Namun, ketenangan Demar justru menjadi bumerang.

Kabar tentang tanah yang subur, rakyat yang makmur, dan kepemimpinan Zachary yang tanpa celah sampai ke telinga saudaranya di Kartaswiraga. Bagi sang saudara, keberadaan Demar bukan hanya soal wilayah, melainkan tanah yang bisa ia injak dan kuasai. Ia tidak tahan melihat Zachary berhasil membangun "Kerajaan" tanpa pertumpahan darah, sementara Kartaswiraga mulai goyah akibat keserakahan dan perang yang tak kunjung usai.

Rasa iri itu berubah menjadi ambisi yang gelap.

Sang saudara mulai membentuk pasukan besar, bukan lagi sekadar mengirim pendekar bayaran diam-diam, melainkan sebuah armada perang resmi dengan panji-panji Kartaswiraga. Ia menginginkan Demar bukan karena butuh tanahnya, tapi karena ingin menghancurkan simbol kedamaian yang diciptakan Zachary. Ia ingin membuktikan bahwa tidak ada tempat di pulau ini yang bisa berdiri tanpa sujud di bawah kakinya, apalagi adiknya yang selalu dibanggakan kerajaan Kartaswiraga dari dulu.

......................

Zachary berdiri di atas bukit tertinggi di Demar, menatap debu yang mengepul di cakrawala, pertanda ribuan kuda pasukan saudaranya mulai merangsek masuk ke wilayahnya. Ia menghela napas panjang, merasakan beratnya pedang di pinggangnya. Ia telah berusaha lari dari perang, ia telah mencoba menjadi orang biasa, namun ternyata takdir darah Kartaswiraga tidak membiarkannya pergi begitu saja.

Rakyat Demar mulai berkumpul di belakangnya, wajah mereka penuh ketakutan namun mata mereka menyiratkan kesetiaan mutlak. Zachary menarik napas dalam-dalam, lalu perlahan menghunuskan pedangnya yang berkilau di bawah sinar matahari Jawa. Kali ini, ia tidak akan lari. Bukan demi takhta yang dulu ia tinggalkan, tapi demi setiap nyawa yang telah memercayakan hidup padanya di tanah kecil ini.

Pertempuran antara dua saudara ini kini bukan lagi soal siapa yang paling berhak menjadi raja, melainkan soal pertahanan sebuah prinsip melawan nafsu kekuasaan yang tak berujung.

Langit di atas Demar memerah, bukan karena senja, melainkan karena pantulan api dan genangan darah yang membanjiri tanah subur itu. Zachary tidak lagi bertarung sebagai seorang pelindung; ia bertarung sebagai badai kematian.

Teknik berpedangnya yang dulu ia gunakan untuk melucuti lawan tanpa melukai, kini berubah menjadi instrumen pembantaian yang efisien. Setiap tebasan pedang pusakanya memutus nyawa pasukan Kartaswiraga yang berani melangkah maju. Dalam amukan yang dingin, Zachary menembus ribuan prajurit lawan sendirian hingga ia tiba di depan tandu kencana saudaranya.

Satu tebasan terakhir yang brutal meruntuhkan segalanya. Zachary berdiri di tengah lapangan yang kini menjadi kuburan massal, tubuhnya basah kuyup dari ujung kepala hingga kaki oleh darah-darah pasukannya, darah musuhnya, dan akhirnya, darah saudaranya sendiri yang kini tersungkur di bawah kakinya dengan dada terbelah.

Zachary terengah, matanya merah menatap sosok yang dulu pernah bermain bersamanya di istana. Ia memegang hulu pedangnya dengan tangan yang gemetar hebat, bukan karena takut, tapi karena kebencian yang meledak.

Dalam nafasnya yang tersengal dan mulut yang memuntahkan darah, sang saudara mencengkeram jubah Zachary. Ia tertawa kecil, suara tawa yang parau dan mengerikan di tengah kesunyian medan perang.

"Kau pikir kau menang, Zachary?" bisik saudaranya, matanya melotot penuh dendam. "Kau membangun tanah ini untuk lari dari darah, tapi lihat dirimu sekarang... kau mandi di dalamnya."

Ia terbatuk, darah kental merembes dari sela giginya saat ia membisikkan kutukan terakhirnya. "Dengarlah... demi leluhur Kartaswiraga yang kau khianati. Aku mengutukmu dan setiap benih yang lahir dari rahim keturunanmu. Mereka tidak akan pernah tahu apa itu kedamaian. Setiap generasi Demar akan mewarisi penderitaan yang tiada habisnya, mereka akan saling membunuh, gila oleh bayang-bayang, dan mati dalam kehampaan seperti yang kau lakukan padaku hari ini."

Cengkeraman tangan itu melemas. Saudaranya mati dengan mata tetap terbuka, seolah-olah kutukan itu adalah segel yang baru saja ia pasang pada garis darah Zachary.

Zachary berdiri mematung di tengah ribuan mayat. Angin dingin bertiup, namun ia tidak lagi merasakan ketenangan tanah Demar yang dulu ia cintai. Ia melihat tangannya yang merah dan menyadari bahwa meskipun ia memenangkan peperangan, ia telah kalah dalam pelariannya. Kutukan itu merambat di udara, menyatu dengan tanah Demar, menunggu waktu yang tepat untuk menagih janji penderitaan pada anak cucu Zachary di masa depan.

Kerajaan Demar tetap berdiri, namun sejak hari itu, ia bukan lagi kerajaan cahaya. Ia adalah kerajaan yang berdiri di atas pondasi kutukan darah.

Tahun-tahun berlalu, dan kejayaan Demar seolah menutupi aroma busuk kutukan yang tertanam di tanahnya. Zachary telah menua, namun bayang-bayang wajah saudaranya yang mati masih menghantui setiap mimpinya. Harapan terakhirnya adalah putra sulungnya, Aditya Demar, seorang pemuda yang lahir dengan bakat kepemimpinan luar biasa dan ketenangan yang melebihi Zachary di masa muda.

Namun, kutukan itu tidak mati; ia hanya sedang mengeram.

Pada malam penobatan Aditya sebagai pangeran mahkota, keanehan mulai muncul. Aditya yang dikenal lembut tiba-tiba terjatuh di tengah aula perjamuan. Tubuhnya kejang, dan dari pori-pori kulitnya merembes keringat berwarna merah pekat seperti darah. Suaranya berubah parau, menggumamkan kalimat-kalimat dalam bahasa kuno Kartaswiraga yang seharusnya tidak ia ketahui.

"Darah meminta darah," bisik Aditya dengan mata yang berubah menjadi hitam legam, menatap lurus ke arah Zachary yang duduk di singgasana.

Sejak malam itu, kegelapan mulai memakan jiwa Aditya. Ia mulai mendengar bisikan-bisikan dari sudut-sudut istana yang memerintahkannya untuk membunuh. Ia tidak bisa lagi menyentuh makanan tanpa melihatnya sebagai tumpukan daging busuk, dan ia tidak bisa lagi tidur tanpa melihat ribuan nyawa yang telah ditebas ayahnya berdiri di ujung tempat tidurnya.

Penderitaan itu begitu hebat hingga Aditya mulai kehilangan akal sehatnya. Ia yang dulu mencintai rakyatnya, kini mulai memandang setiap orang di Demar sebagai ancaman yang harus dimusnahkan.

Puncaknya adalah ketika Aditya, dalam keadaan tidak sadar, menghujamkan pisau ke arah istrinya sendiri yang sedang mengandung.

Zachary yang mendengar teriakan itu berlari ke kamar putranya, hanya untuk menemukan Aditya sedang menangis di pojok ruangan dengan tangan berlumuran darah, sementara bibirnya terus mengulang kutukan pamannya.

"Ayah... kenapa kau berikan kutukan ini padaku?" tanya Aditya dengan suara hancur. "Aku merasakan setiap sayatan yang kau berikan pada saudaramu... aku merasakan kematian mereka semua di dalam kepalaku."

Zachary menyadari bahwa kutukan itu bukan sekadar hiasan kata-kata. Saudaranya telah mengikat penderitaan mental dan fisik ke dalam darah mereka. Setiap kali keturunan Demar mencoba membangun sesuatu yang indah, kutukan itu akan membelokkan kewarasan mereka hingga mereka menghancurkan apa yang paling mereka cintai.

Aditya akhirnya mengakhiri hidupnya sendiri di depan mata Zachary menggunakan pedang pusaka ayahnya, tak tahan dengan siksaan bisikan di kepalanya. Zachary hanya bisa meratap, menyadari bahwa ia baru saja menyaksikan awal dari kehancuran garis keturunannya. Kerajaan Demar yang agung kini menjadi penjara bagi jiwa-jiwa yang terkutuk, tempat di mana menderita adalah satu-satunya warisan yang pasti.

Zachary kembali ke Kartaswiraga bukan sebagai penakluk, melainkan sebagai pria hancur yang memikul mayat kewarasan putranya. Ia berjalan melewati gerbang istana yang dulu ia tinggalkan dengan rasa bangga, kini hanya ada abu dan sunyi. Di singgasana perunggu yang dingin, duduklah Saning Ayu, kakak iparnya. Ratu itu tidak mengenakan mahkota emas, melainkan kerudung putih tanda berkabung yang tak pernah lepas sejak kematian suaminya.

Alih-alih memanggil pengawal untuk memenggal kepala Zachary, Saning Ayu justru turun dari takhtanya. Matanya yang sembab menatap Zachary dengan tatapan yang tidak mengandung kebencian, hanya kesedihan mendalam yang sama besar.

"Kau membawa darah di tanganmu, Zachary, tapi aku membawa racun di dalam hatiku selama bertahun-tahun," bisik Saning Ayu saat Zachary berlutut di kakinya. "Suamiku... dia tidak pernah menjadi pria yang kau kenal di masa kecil. Dia telah lama menjual jiwanya pada kegelapan demi kekuasaan sebelum kau menebasnya."

Saning Ayu meraih kedua tangan Zachary yang kasar dan gemetar. Ia tidak memberontak atas kematian suaminya karena ia tahu bahwa itulah satu-satunya cara menghentikan kegilaan Kartaswiraga saat itu. Namun, ia tahu kutukan yang diucapkan di ambang maut adalah sihir hitam yang paling sulit dipatahkan karena ia mengikat pada detak jantung keturunan.

"Kutukan itu tidak bisa dihapus, Zachary. Darah tidak bisa dicuci dengan air jika ia sudah meresap ke dalam sukma," ujar Saning Ayu dengan suara tenang yang berwibawa.

"Tapi, ia bisa diredam. Ia bisa ditidurkan."

Saning Ayu membawa Zachary ke ruang bawah tanah istana, tempat di mana prasasti-prasasti tua Kartaswiraga disimpan. Ia menjelaskan bahwa satu-satunya cara untuk menyelamatkan keturunan Zachary adalah dengan Membagi Penderitaan.

"Kutukan ini memakan jiwa karena ia hanya menyerang satu titik: garis darahmu. Untuk meredamnya, kau harus mengikat darahmu dengan darah orang-orang yang memiliki kesetiaan murni. Kau harus menciptakan sebuah ikatan persaudaraan yang bukan berdasarkan rahim, melainkan berdasarkan sumpah dan tujuan."

Saning Ayu mengusulkan agar Zachary tidak lagi memimpin Demar sebagai raja tunggal. Ia harus mencari orang-orang dengan jiwa yang kuat untuk mendampingi setiap keturunannya kelak.

Jika keturunan Demar mulai "sakit" karena kutukan itu, jiwa-jiwa pendamping ini akan berfungsi sebagai jangkar yang menahan mereka agar tidak jatuh ke dalam kegilaan.

"Biarkan keturunanmu menderita, tapi jangan biarkan mereka menderita sendirian. Kekuatan dari 'persatuan' itulah yang akan membuat kutukan suamiku tetap tertidur di dalam urat nadi mereka. Selama mereka bersama, kutukan itu hanya akan menjadi bisikan yang bisa diabaikan. Begitu mereka terpisah... kiamat bagi jiwa mereka akan dimulai."

Zachary mendengarkan dengan seksama.

Saning Ayu menatap Zachary dengan pandangan yang tajam, seolah sedang melihat jauh ke masa depan yang kelam. Ia menggenggam jemari Zachary lebih erat, suaranya merendah menjadi bisikan yang berat.

"Membagi penderitaan saja tidak cukup, Zachary. Darahmu membawa api kemarahan, dan darah suamiku membawa racun kutukan. Jika keduanya tetap terpisah, mereka akan terus saling memburu hingga garis keturunanmu punah dalam kegilaan."

Saning Ayu menarik napas panjang, wajahnya menunjukkan sebuah ketetapan hati yang sulit.

"Hanya ada satu cara untuk menetralkan racun ini dari dalam. Kita harus menyatukan kembali apa yang telah kau pecahkan. Kita harus menikahkan keturunan kita."

Zachary tertegun.

Menikahkan darah Demar dengan darah Kartaswiraga berarti menyatukan sang pembunuh dengan keturunan dari yang dibunuh.

Sebuah ikatan yang terdengar mustahil namun masuk akal dalam hukum mistis tanah Jawa.

"Jika putra atau putrimu kelak bersatu dengan darahku," lanjut Saning Ayu, "maka kutukan itu akan menemukan rumahnya kembali. Ia tidak akan lagi menyerang sebagai musuh dari luar, melainkan akan diredam oleh cinta dan pengampunan yang lahir dari penyatuan dua keluarga ini. Darah Kartaswiraga di dalam keturunanku akan menjadi penawar bagi kegelapan yang menghuni darah Demar-mu."

Saning Ayu menjelaskan bahwa pernikahan ini bukan sekadar urusan ranjang atau politik, melainkan sebuah Ritual Abadi. Setiap generasi pertama dari kedua belah pihak harus terikat satu sama lain. Dengan begitu, kutukan penderitaan itu akan berubah menjadi sebuah kekuatan pelindung; sebuah beban yang dipikul bersama sehingga tidak akan ada lagi satu orang pun yang gila sendirian di bawah bayang-bayang masa lalu.

"Namun ingatlah, Zachary," Saning Ayu memberi peringatan terakhir, "Pernikahan ini adalah segelnya. Jika suatu saat nanti keturunan kita gagal bersatu, atau jika salah satu dari mereka mengkhianati janji ini, maka kutukan itu akan bangkit berkali-kali lipat lebih kejam. Penderitaan yang mereka rasakan bukan lagi sekadar halusinasi, melainkan kehancuran dunia yang nyata."

Zachary tertunduk di hadapan Ratu itu. Ia menyadari bahwa takdir anak cucunya kini telah tertulis di atas kertas kontrak darah yang baru. Ia menyetujui perjanjian itu demi menyelamatkan apa yang tersisa dari kewarasan keluarganya.

Saning Ayu kemudian menyerahkan sebuah selendang sutra berwarna kuning gading milik garis keturunan Ratu, yang harus disimpan oleh Zachary di Demar sebagai tanda bahwa suatu saat nanti, seorang pengantin akan datang untuk menagih janji penyatuan tersebut.

...⪻ ⋅•⋅⊰∙∘☽༓☾∘∙⊱⋅•⋅ ⪼...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!