Alice selalu terlihat biasa-biasa saja di mata semua orang—culun, pendiam, dan mudah dibully.
Tak ada yang tahu bahwa di balik senyumnya, ia menyimpan luka… dan sebuah rasa yang tak pernah terucap.
Danzel, sahabat yang selalu ada di sisinya, menjadi satu-satunya tempat Alice merasa aman. Namun, Danzel tak pernah menyadari bahwa kehadirannya adalah alasan Alice bertahan selama ini.
Mencintai dalam diam, terluka tanpa suara.
Bisakah perasaan yang tak terbalas menemukan jalannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wnd ayn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Setelah menempuh perjalanan dengan motor, Danzel dan Alice tiba di bawah kolong jembatan.
Danzel sempat melirik ke sekeliling, tampak sedikit heran. Tempat itu sederhana—hanya beberapa meja kayu, rak kecil berisi bunga-bunga segar, dan aroma wangi samar yang bercampur dengan suara lalu lintas di atas kepala mereka.
Alice menyadari kebingungan di wajah Danzel. “Jangan khawatir. Temanku tinggal di sini dan dia merangkai sendiri bunga-bunganya. Memang bukan toko bunga mewah… tapi hasil rangkaiannya sangat indah.”
Danzel tersenyum kecil, matanya beralih menatap Alice."Aku percaya denganmu Alice.”
Alice ikut tersenyum, meskipun hatinya sedikit bergetar mendengar kata-kata itu. Ia lalu melangkah lebih dulu. “Ayo, kita temui dia.”
“Rania…” panggil Alice.
Seorang gadis menoleh. Rania sedang sibuk merangkai bunga di meja kayu yang penuh kelopak warna-warni. Matanya sedikit terbelalak saat melihat Alice datang bersama seorang pemuda berparas tampan.
*Dia pasti Danzel,* batinnya. Alice sering menceritakan sosok itu padanya—dan cara Alice menggambarkannya sudah cukup membuat Rania merasa seperti mengenalnya dari jauh.
Alice segera menjelaskan maksud kedatangannya. Rania mengangguk mengerti.
---
Saat ini Alice membantu Rania merangkai bunga sambil mengobrol santai. Tak jauh dari sana, Danzel duduk di atas sepeda motornya, matanya sesekali melirik ke arah mereka.
Alice tampak begitu akrab dengan Rania, bahkan sesekali anak-anak jalanan yang lewat mendekat hanya untuk menyapa Alice. Senyum mereka lebar, suara mereka riang saat berbicara dengannya.
Danzel tanpa sadar melengkungkan senyumnya. Ada rasa kagum di matanya, melihat Alice begitu tulus berbaur tanpa memandang status atau latar belakang siapa pun.
“Alice, lihat ke sana…” bisik Rania sambil melirik ke arah Danzel.
Alice menoleh sedikit. “Kenapa memangnya?”
“Kau tidak sadar? Dari tadi Danzel terus memperhatikanmu. Tatapannya… seperti seseorang yang sedang mengagumi.” Rania menatap Alice serius, namun matanya berkilat penuh godaan.
Alice tersenyum tipis dan menggeleng pelan. “Dia cuma kagum karena aku bisa akrab sama orang-orang di sini. tidak lebih dari itu. Kau kebanyakan berasumsi, Rania.”
“Oh ayolah, Al. Sekali-sekali berharap itu tidak dilarang, kan? Siapa tahu dia benar-benar—”
Alice terkekeh kecil, tapi senyumnya memudar perlahan. Di balik tawanya, ada rasa pahit yang menyeruak. Ia teringat kenyataan bahwa hatinya tidak mungkin lagi berharap—karena Danzel sendiri sudah memiliki seseorang yang ia sukai… Rachel.
Rania sempat mengernyit melihat perubahan ekspresi Alice. Ia baru akan bertanya, namun…
“Akhhh!” Alice memekik kecil. Tangannya tertusuk duri mawar yang sedang ia rangkai. Setetes darah muncul di ujung jarinya.
“Al!” Rania terkejut, namun sebelum ia sempat bergerak, Danzel yang melihat dari kejauhan langsung melompat turun dari motor dan berlari menghampiri mereka.
“Alice, kamu terluka?” Suara Danzel terdengar cemas.
Alice terdiam, hendak berkata bahwa ini hanya luka kecil, namun Danzel sudah sigap mengambil tangannya. Tanpa ragu, ia memasukkan ujung jari Alice ke dalam mulutnya, berusaha menghentikan pendarahan.
Alice membeku, matanya melebar. Rania yang berdiri di samping mereka ikut tertegun, meski sudut bibirnya terangkat tipis.
“Rania, ada kotak obat di sini?” tanya Danzel sambil tetap memegang tangan Alice dengan hati-hati.
“Ada. Sebentar, aku ambilkan.” Rania segera bergegas mengambil kotak P3K, lalu menyerahkannya kepada Danzel.
Danzel menerima kotak itu dan duduk berlutut di hadapan Alice. “Tenang saja, Al. Aku akan obati lukamu.” Suaranya lembut, gerakannya hati-hati, seolah takut menyakiti.
“T-tapi Danzel, ini cuma luka kecil. Kamu tidak perlu repot—”
“Sstt… biar aku yang urus. Aku tidak bisa diam melihatmu terluka.” Potong Danzel dengan senyum tipis, namun nada suaranya penuh ketulusan.
Alice terdiam. Ia membiarkan Danzel membersihkan lukanya. Tatapannya jatuh pada wajah Danzel, dan tanpa sadar jantungnya berdebar kencang.
“Terima kasih… Danzel.” ucap Alice pelan, matanya berkilat samar.
Danzel menatap balik, senyum hangat menghiasi wajahnya. “Sama-sama.”
Rania yang menyaksikan dari dekat ikut tersenyum. Ada rasa lega sekaligus harapan di hatinya—melihat bagaimana Danzel memperlakukan Alice, ia berharap jauh di dalam hati Danzel, ada ruang yang disimpan untuk sahabatnya itu.
---
Danzel sudah pulang lebih dulu, membawa rangkaian bunga dari Rania yang dibelinya. Sementara itu, Alice masih tinggal bersama Rania di bawah jembatan.
“Alice…” Rania menoleh sambil tersenyum penuh rasa ingin tahu. “Untuk apa Danzel membeli bunga?”
Ia lalu mengerling nakal. “Dan tadi, sepertinya aku juga melihat ada cokelat dan boneka di motornya. Jangan-jangan… untukmu, ya?”
Alice tersenyum tipis, tapi perlahan menggeleng. “Bukan. Semua itu bukan untukku, Rania.”
Rania mengerutkan kening. “Kalau bukan untukmu… untuk siapa?”
Alice menarik napas pelan, mencoba memilih kata-kata yang tak membuat suaranya bergetar. “Danzel… dia mencintai gadis lain.”
Rania langsung tertegun. “Apa?”
Alice menunduk, menahan sesak di dadanya. “Ya, Rania. Itulah kenyataannya. Danzel mencintai orang lain… dan orang itu bukan aku.”
Rania terdiam sejenak, lalu menarik napas panjang. Ia bisa merasakan pedihnya hati sahabatnya. Perlahan, ia meraih Alice ke dalam pelukannya. “Alice… aku tahu ini tidak mudah untukmu.”
Alice mencoba tersenyum dan membalas pelukan Rania.
“Lalu… apa rencanamu selanjutnya?” tanya Rania lembut setelah melepas pelukan itu. “Apa kau akan berusaha menghapus perasaanmu padanya?”
Alice menggeleng pelan. “Seberapa pun aku berusaha, rasa itu akan tetap ada, Rania. Aku akan tetap mencintainya… meski hanya dalam diam. Meskipun sakit, aku janji akan tetap ada di sisinya sebagai teman yang mendukungnya.”
Ia menatap ke langit, matanya berkaca-kaca. “Karena cinta yang tulus… tidak selalu harus dimiliki. Kadang, melihat orang yang kita cintai bahagia saja… itu sudah cukup.”
Rania tersenyum lembut, bangga pada kekuatan hati sahabatnya. “Kau luar biasa, Alice. Semoga suatu hari nanti, Danzel sadar dan berbalik mencintaimu. Dan kalau pun tidak… semoga Tuhan kirimkan seseorang yang bisa mencintaimu setulus yang kamu berikan.”
Alice menatap Rania, senyumnya penuh haru. “Terima kasih, Rania.”