NovelToon NovelToon
Aku Bukan Pelacur

Aku Bukan Pelacur

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: mommy Almira

Intan harus berjuang membuktikan pada keluarga sang suami bahwa dia bukanlah pelacur walaupun dia terlahir dari rahim seorang pelacur. Namun akibat pengkhianatan sang suami yang menikah lagi tanpa sepengetahuan darinya dan tidak diperlakukan dengan adil oleh suaminya, akhirnya Intan terjerumus dalam sebuah dosa dengan kakak iparnya . Dan hal itu lah yang menjadi penyebab hancurnya rumah tangganya bersama dengan Aldy. Dan intan harus rela dibenci oleh anak kandungnya sendir hingga bertahun- tahun lamanya akibat sang anak dipengaruhi oleh keuarga Aldy jika sang ibu bukan orang baik. Apakah Intan bisa kuat menjalani kehidupannya yang dipenuhi dengan kebencian dari keluarga Aldy dan juga anak kandungnya...? Yuk baca cerita selengkapnya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8. Hamil

Sejak kejadian malam itu, Intan terus mengurung diri di dalam kamar. Bahkan dia tidak mau pergi kerja lagi. Kejadian malam itu bersama Aldy benar- benar membuat Intan merasa bersalah pada Ridwan almarhum suaminya. Intan merasa telah mengkhianati suaminya. Hari- harinya pun Intan lewati dengan rasa penyesalan.

"Intan...keluar kamu...! Mau sampai kapan kamu tidak masuk kerja...? Mami nanyain kamu terus..." panggil bu Yuyun sambil mengetuk- ngetuk pintu kamar Intan.

Iya, tentu saja mami Monic terus menanyakan kapan Intan masuk kerja lagi. Karena para pengunjung terus menanyakan di mana Intan. Iya, ternyata Intan sudah menjadi waiters favorit buat para pengunjung khususnya pengunjung laki- laki. Walaupun selama ini mereka tidak bisa menyetuh Intan, tapi setidaknya mereka bisa memandang wajah cantik Intan dan terkadang mereka menggoda Intan dengan berbagai macam gombalan.

Mereka paling suka jika Intan yang membawakan pesanan mereka. Tak tanggung- tanggung mereka akan memberikan tips yang besar kepada Intan. Bahkan ada beberapa laki- laki yang tertarik pada Intan sudah mencoba mendekatinya untuk menjalin hubungan yang serius. Namun Intan menolak dengan alasan dia masih ingin sendiri karena belum bisa melupakan almarhum suaminya.

Dan sudah satu minggu ini Intan tidak terlihat lagi di diskotik. Tentu saja para pengujung merasa ada yang kurang. Oleh karena itu mereka terus bertanya pada mami Monic kapan Intan mulai kerja lagi.

"Intan sudah bilang kan sama ibu, Intan nggak mau kerja di sana lagi bu..." jawab Intan dari dalam kamar.

''Trus kamu mau kerja di mana...! Dasar anak susah diatur...! Sudah dikasih pekerjaan enak malah tidak mau kerja lagi...! Sebenarnya maumu apa sih Intan...! Bisa tidak sih kamu jangan membuat ibu kesal terus...!'' bu Yuyun marah.

Pintu kamar terbuka dan Intan keluar dari dalam kamar.

"Bu, Intan nggak mau kejadian waktu itu terulang lagi . Intan nggak mau melakukan dosa seperti itu lagi. Diskotik itu tempat maksiat, walaupun Intan tidak ada niat untuk berbuat zina, tapi pada akhirnya Intan terjebak juga kan bu..." ucap Intan yang terus- terusan merasa berdosa setelah kejadian malam itu bersama Aldy.

"Halah... Dasar sok suci kamu Intan... Sok- sokan tidak mau zina, tapi kamu menikmatinya juga kan Intan. Kamu merasakan enaknya juga... Buktinya kamu mau melayani laki- laki itu dari malam sampai pagi. Itu apa artinya kalau kamu tidak menikmatinya...?" sahut bu Yuyun.

"Tidak usah sok jual mahal kamu Intan. Ibu kasih tahu ya Intan... Harga diri ibu itu jauh lebih tinggi dari kamu karena setiap tamu yang ibu layani selalu membayar ibu dengan harga tinggi. Sedangkan kamu malah menyerahkan tubuhmu secara gratis pada laki- laki itu. ..''

"Itu artinya... Tubuh kamu tidak ada harganya Intan...! Jadi tidak usah sok suci lagi... " seru bu Yuyun.

"Cukup bu...! cukup...! Intan tidak mau dibayar karena Intan bukan perempuan bayaran bu...! Dan Intan menyesal atas apa yang terjadi malam itu...!'' seru Intan sambil menangis.

Bu Yuyun mendengus kesal. Iya, bu Yuyun merasa percuma saja bicara dengan Intan yang keras kepala dan tidak mau menuruti perkataannya.

💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝

Dua minggu telah berlalu akhirnya Intan kembali bekerja di diskotik. Sebenarnya Intan sudah menolaknya untuk bekerja di sana, tapi baik bu Yuyun maupun mami Monic terus membujuk Intan agar kembali kerja.

Mami Monic pun berjanji akan menyediakan pengawas untuk mengawasi Intan agar kejadian itu tidak terulang lagi.

"Hai Intan sayang... Ke mana aja nih lama baru kelihatan lagi... Abang kangen tahu..." ucap salah satu pengunjung diskotik ketika Intan mengantarkan minumannya.

Dan beberapa pengunjung lain pun juga menanyakan kemana saja Intan selama dua minggu ini dengan diselingi godaan- godaan ringan.

Dan Intan pun hanya senyum datar saja menanggapi godaan tersebut. Iya, sejak kejadian malam itu bersama Aldy, Intan memang menjadi murung dan tidak bersemangat kerja. Dia selalu dihantui rasa bersalah pada almarhum suaminya yaitu Ridwan. Intan merasa sudah mengkhianati kepercayaannya.

💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝

Satu bulan kemudian

Intan masih menjalani pekerjaannya sebagai waiters di diskotik. Sejauh ini Intan merasa aman- aman saja. Tidak ada yang menganggunya. Hanya godaan- godaan tak berarti saja dari beberapa pengunjung genit. Dan hal itu tidak menjadi masalah berarti untuk Intan.

Dan suatu malam Intan tak sengaja bertemu dengan Kedua sahabat Aldy yaitu Angga dan Dandy. Namun Intan sengaja menghindari kedua orang tersebut. Karena saat melihat mereka berdua, Intan jadi teringat dengan apa yang terjadi di malam sial itu bersama Aldy. Dan Intan jadi sedih jika mengingatnya.

"Hoek..."

Intan tiba- tiba merasa mual saat dia selesai mengantar minuman ke salah satu meja pengunjung. Intan pun segera berlari ke toilet.

"Hoek...hoek..." Intan muntah di salah satu wastafel toilet.

Intan lalu membasuh mulutnya sambil melihat pantulan wajahnya di cermin.

"Hoek...hoek..." Intan kembali muntah, namun yang keluar hanya cairan.

'' Oh ya ampun... Ada apa denganku...?'' ucap Intan sambil mengelap dahinya yang berkeringat

Intan memejamkan mata. Iya, dia baru menyadari jika dua bulan ini dia tidak mengalami menstruasi.

"Oh...nggak...ini nggak mungkin..." Intan menggeleng- gelengkan kepalanya.

Iya, tentu saja Intan langsung kepikiran jika dirinya hamil.

"Ya ampun... aku nggak mungkin hamil kan... Hik...hik..." Intan terisak.

💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝

Keesokan harinya Intan pergi ke apotik untuk membeli tespek. Iya, Intan merasa dia perlu mengetes kehamilan dengan alat tersebut. Setelah membeli barang tersebut, Intan segera membawanya ke kamar mandi untuk mengetes urinnya.

Setelah menunggu beberapa detik dengan perasaan deg- degan, mata Intan terbuka lebar melihat dua buah garis berwarna merah muncul di alat tes kehamilan tersebut.

"Oh ya ampun... Nggak... ini nggak mungkin... hik..hik.." Intan menutup mulutnya sambil menangis.

"Apa yang harus aku lakukan...hik..hik..." Intan terus menangis sambil duduk di lantai kamar mandi.

"Intan...Intan..." terdengar bu Yuyun memanggil nama Intan sambil menggedor- gedor pintu kamar mandi.

"Intan...kamu ngapain di kamar mandi...? Kamu nangis ya...?'' tanya bu Yuyun.

Intan segera menghapus air matanya lalu mencuci muka agar tidak ketahuan kalau dia menangis. Kemudian Intan membuka pintu kamar mandi.

"Ada apa bu...?'' tanya Intan sengaja membiarkan wajahnya basah.

"Kamu kenapa ...? Ngapain kamu di kamar mandi lama banget. Tadi ibu mendengar suara orang menangis. Apa kamu yang nangis...? Menangis kenapa...?'' bu Yuyun memberondong Intan dengan banyak pertanyaan.

"Eng..nggak kok.. Intan nggak nangis..." jawab Intan.

Bu Yuyun memperhatikan wajah Intan dengan seksama untuk memastikan ucapan Intan benar atau bohong.

"Udah ya bu... Intan mau ke kamar..." Intan berlalu begitu saja dari hadapan sang ibu.

Di dalam kamar, Intan langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur dan kembali menangis. Intan tentu saja bingung apa yang harus dia lakukan dalam kondisi seperti sekarang ini.

"Ya Alloh... Maafkan aku...aku berdosa. Maafkan aku ya Alloh... Maafkan aku... Hik...hik..." Intan terus menangis menyesali apa yang sudah terjadi.

"Aku harus bagaimana ya Alloh... Apa yang harus aku lakukan..hik...hik..."

Tiba- tiba Intan teringat dengan kartu nama yang pernah Aldy berikan padanya saat Aldy mengantarnya keesokan harinya setelah mereka berdua menghabiskan malam panas. Intan lalu bangun dari tempat tidur dan mengambil dompet di dalam tas di dalam lemari.

Intan mengeluarkan sebuah kartu nama bertuliskan Renaldy Wibisono. Dan di dalam kartu nama tersebut ada nomor ponsel.

"Aku harus menghubungi mas Aldy..." ucap Intan sambil menatap kartu nama yang ada di tangannya.

💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝

Sementara itu Aldy yang ada di perusahaan tempat dia bekerja ,sedang berada di ruang kerjanya di ruangan divisi personalia. Aldy terlihat sibuk dengan laptopnya, mengerjakan pekerjaannya yang belum kunjung selesai. Begitu juga dengan teman satu divisi yang sibuk dengan pekerjaan masing- masing. Di antara mereka apa Angga dan Dandy yang satu divisi dengannya.

Tiba- tiba ponsel Aldy berdering menandakan panggilan masuk. Aldy melirik layar ponsel yang menampilkan deretan nomor tidak dia kenal. Dan Aldy pun tidak berniat untuk mengangkatnya. Aldy membiarkan panggilan tersebut hingga mati dengan sendirinya.

Angga dan Dandy yang juga mendengar ponsel berdering namun diabaikan menoleh ke arah Aldy.

"Aldy... ponsel kamu bunyi tuh... Didiemin aja..." ucap Dandy.

"Biarin aja lah, paling juga telpon dari Bank, nawarin kartu kredit...." jawab Aldy sambil memijit keningnya.

Iya, banyaknya pekerjaan setiap harinya tentu saja membuat Aldy maupun karyawan lain dibuat pusing. Aldy lalu menyeruput kopi yang ada di meja kerjanya. Ini adalah kopi kedua yang dia minum hari ini. Iya, kerja tanpa kopi tentu saja membuat ngantuk. Dan Aldy bisa menghabiskan tiga hingga empat gelas kopi hitam setiap harinya. Bahkan jika lembur bisa lebih dari itu.Iya, Aldy tidak merokok seperti temannya yang lain. Jadi dia lebih kuat ngopinya.

Tak lama kemudian ponsel kembali berdering dari nomor yang sama. Aldy yang sejak tadi hanya melirik ponselnya, akhirnya hatinya tergerak untuk menerima telpon dari nomor tersebut siapa tahu itu telpon penting.

''Hallo..." ucap Aldy.

"Ha...hallo...a...apa ini nomornya mas Aldy...?'' terdengar suara perempuan di sebrang sana.

"Iya benar...ini siapa...?'' tanya Aldy.

Namun perempuan di ujung telpon tidak langsung menjawabnya.

"Halo...ini siapa...?'' Aldy mengulangi pertanyaannya.

"I...ini...ini aku mas... Intan... A...apa mas Aldy masih Ingat sama Intan...?'' jawab Intan.

Dan kali ini Aldy yang terdiam tidak langsung menjawab pertanyaan Intan. Iya, tentu saja Aldy masih ingat yang namanya Intan. Perempuan yang sudah menjadi pelampiasannya akibat pengaruh obat p*rangs*ng.

"I..intan..." ucap Aldy yang langsung yakin pasti ada hal penting yang ingin dia sampaikan padanya yang berhubungan dengan malam itu.

"Sebentar ya..." Aldy segera keluar dari ruang divisi personalia karena tidak mau pembicaraannya dengan Intan dapat mengganggu konsentrasi karyawan lain yang sedang fokus kerja.

" Hei...siapa tadi yang menelponnya...?'' tanya Angga pada Dandy.

"Tadi Aldy menyebut nama Intan..." jawab Dandy.

"Wah... Dasar si Aldy. Dia nggak ngomong- ngomong kalau dia masih berhubungan dengan gadis itu..." sahut Angga.

"Mungkin dia malu. Kan kamu tahu sendiri, Aldy itu sangat tertutup jika mengenai perempuan..." jawab Dandy.

Sementara itu Aldy memilih menerima telpon dari Intan di toilet agar pembicaraan mereka tidak ada yang menguping.

"Halo Intan..." ucap Aldy.

"Mas...." sahut Intan di ujung telpon.

"Ada apa...?'' tanya Aldy.

"Ma...mas.Aldy... A...aku i..ingin..."

"Ingin apa Intan...?''

"A..aku ingin bertemu sama mas Aldy..ada yang ingin aku sampaikan. Apa mas Aldy ada waktu buat ketemu Intan. .." jawab Intan.

"Ini ada apa Intan...?'' tanya Aldy.

"Mas,... Intan nggak bisa bicara di telpon. Intan harus ketemu langsung sama mas Aldy. Ini penting mas..." jawab Intan.

"Baiklah... Besok kita ketemu ya..."

Aldy lalu memberikan alamat sebuah cafe di mana mereka berdua akan ketemuan. Dan tepat di hari sabtu pukul satu siang mereka bertemu di cafe tersebut.

Mereka duduk berhadapan di salah satu meja pengunjung cafe. Intan terlihat nampak gelisah. Sedangkan Aldy menatap wajah cantik Intan dan menunggu dengan sabar apa sebenarnya yang ingin dia sampaikan.

''Intan... Apa yang ingin kamu bicarakan...?'' tanya Aldy.

"Ehmm... Iya..." Intan menghela nafas.

"Mas Aldy... Maaf kalau Intan sudah mengganggu waktunya mas Aldy. Tapi ada hal penting yang harus Intan bicarakan sama mas Aldy..." ucap Intan sambil memainkan jarinya di bawah meja.

Iya, Intan benar- benar gugup. Dan takut dengan reaksi Aldy setelah mendengar apa yang akan dia sampaikan.

"Nggak papa Intan... Ayo katakan, ada hal penting apa...?'' tanya Aldy.

"I...Intan... Intan hamil mas..." ucap Intan sambil menatap wajah Aldy.

Mendengar apa yang dikatakan oleh Intan, Aldy langsung membeku sambil menatap wajah Intan.

"Intan sudah dua bulan tidak menstruasi, dan setelah Intan cek menggunakan tespek, ternyata ternyata Intan hamil mas..." sambung Intan.

Aldy menghela nafas lalu menghembuskannya dengar perlahan. Kemudian dia mengalihkan pandangannya ke arah lain sambil mengusap wajahnya dengan kasar.

Iya, Aldy memang sudah menduganya dari awal. Ketika Intan menghubunginya, dan mengajaknya bertemu, Aldy yakin bahwa telah terjadi sesuatu pada Intan yang berkaitan dengan kejadian malam itu. Dua hari ini Aldy merasa gelisah jika apa yang ditakutkannya terjadi. Dan sekarang kegelisahannya terjawab, dan tebakan Aldy tidak meleset. Iya Intan hamil, sama dengan dugaan Aldy sebelumnya.

"Mas Aldy... Mas Aldy mau tanggung jawab kan mas...? Intan benar- benar bingung harus ngapain selain minta pertanggungjawaban sama Mas Aldy..." ucap Intan.

Aldy kembali menatap Intan dan diam beberapa saat.

"Apa kamu yakin calon bayi dalam kandunganmu itu anak biologis saya...?'' tanya Aldy.

Mendengar pertanyaan Aldy, tentu saja Intan merasa sedih. Bagaimana tidak, padahal hanya Aldy satu- satunya laki- laki yang telah menyentuhnya tapi Aldy malah memberikan pertanyaan seolah- olah Intan biasa disentuh olah banyak lelaki.

Tapi Intan bisa memaklumi pertanyaan Aldy. Mungin dia bertanya seperti itu mengingat pekerjaan Intan di dunia hiburan malam yang tentu saja dekat sekali yang namanya maksiat. Jadi wajar jika orang lain akan beranggapan lebih.

"Tentu saja ini anak mas Aldy... Apa mas Aldy sudah lupa dengan apa yang mas Aldy lakukan malam itu...? Bahkan mas Aldy melakukannya lebih dari satu kali..." jawab Intan dengan yakin.

Aldy kembali menghela nafas. Kemudian kembali menatap wajah Intan.

"Ya tentu saja saya masih mengingatnya sampai sekarang Intan..tapi apa kamu yakin kalau kamu tidak melakukannya dengan laki- laki lain juga...?'' tanya Aldy.

Bersambung...

1
Salsa
Playing victim banget si Fatimah 😄😄
Asmara
Keren ceritanya
Asmara
Umi sendiri yg duluan menghina Intan giliran dibalas sama Intan dia mewek merasa terzolimi ih najis bgt mertua model begitu 😡
Asmara
Pasti si Aldy punya istri lain
Asmara
Hadeh apes amat kamu Intan
Asmara
Suami nyebelin si Aldy😡
Asmara
Sungguh terlalu mertua sama iparmu Intan 😡
Salsa
Ceritanya menarik 🥰🥰🥰
Salsa
Ngeselin ya si Aldy
Salsa
Apes amat nasibmu Intan ,pynsuami nggak tegas, ibu mertua menyebalkan, adik ipar ngeselin , ibu kandung nya jg edan , lengkap SDH penderitaan kamu
Salsa
Aldy sebenarnya cinta SMA intan cuma gengsi saja dia
Salsa
Suka nya ngalahin org lain tuh si Umi.. pdhl anak sndiri jg salah
Salsa
Umi Fatimah itu ciri" orng munafik
Asmara
Akhirnya menikah jg
Asmara
Duhh intan intan kasihan amat hidupmu
Asmara
Ibunya nggak ngotak
Asmara
Hadir Thor ,.
Mommy Almira: Mksih dah mampir 😊
total 1 replies
Salsa
Lanjut Thor, ceritanya menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!