Lanjutan pewaris dewa pedang
Jian Wuyou yang sedang melawan langit dan utusannya harus mengalami kegagalan total dalam melindungi peti mati istrinya.
Merasa marah dia mulai naik ke alam yang lebih tinggi yaitu langit, tempat di mana musuh-musuh yang mempermainkannya berada.
Tapi sayang dia kalah dan kembali ke masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Benih Cinta dan Bayang-Bayang Dengki
Hari-hari berikutnya di Desa Bambu terasa seperti mimpi yang tak ingin Jian Wuyou akhiri. Hampir setiap sore, setelah sesi kultivasi yang melelahkan dengan Jiwu, Jian Wuyou akan mengunjungi kedai kecil Li Hua. Kadang ia datang hanya untuk membeli kue beras, namun lebih sering mereka hanya duduk di bangku kayu kecil di bawah pohon persik, membicarakan hal-hal sederhana—mulai dari harumnya teh hingga dongeng-dongeng kuno tentang para dewa.
"Kau tahu, Wuyou?" Li Hua berkata sambil menatap langit senja, "Terkadang aku merasa kau bukan berasal dari dunia ini. Tatapan matamu terlihat seperti seseorang yang sudah hidup ribuan tahun dan melihat segalanya."
Jian Wuyou tersenyum getir, menutupi gejolak di hatinya. "Mungkin aku hanya terlalu banyak melamun, Li Hua."
Kedekatan mereka tidak lagi menjadi rahasia. Li Hua mulai merasa nyaman tertawa di dekat Jian Wuyou, dan Jian Wuyou mulai menemukan kembali kehangatan kemanusiaannya. Namun, di balik kedamaian itu, sepasang mata penuh kebencian selalu mengawasi mereka dari balik jendela lantai dua mansion tuan tanah.
Lin Feng, putra tunggal dari Tuan Tanah Lin, adalah pria yang terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan dengan uang dan kekuasaan ayahnya. Sejak lama, ia telah mengincar Li Hua untuk dijadikan selirnya, namun selama ini ia hanya menunggu waktu yang tepat. Melihat Li Hua begitu akrab dengan "pemuda pendatang" bernama Wuyou, darahnya mendidih.
"Siapa sebenarnya pemuda itu?" geram Lin Feng sambil menghancurkan cangkir keramik di tangannya.
"Dia hanya orang kaya baru yang pindah ke kediaman ujung desa, Tuan Muda," lapor salah satu pengawal pribadinya, seorang pria berwajah sangar dengan bekas luka di pipi. "Sepertinya dia tidak memiliki latar belakang sekte atau jabatan pemerintahan."
Lin Feng menyeringai kejam. "Bagus. Jika dia hanya orang kaya tanpa kekuasaan, maka menghancurkannya akan semudah menginjak semut. Aku tidak suka miliku disentuh oleh orang lain. Malam ini, berikan dia sedikit 'pelajaran'. Bakar kedai gadis itu, dan pastikan pemuda itu cacat sehingga ia tidak berani menatap Li Hua lagi."
Malam itu, saat desa telah sunyi dan hanya menyisakan suara jangkrik, tiga sosok bayangan bergerak mengendap-endap menuju kedai Li Hua yang menyatu dengan gubuk tempat tinggalnya. Di tangan mereka terdapat obor dan botol minyak tanah.
Namun, mereka tidak menyadari bahwa di atas atap kediaman seberang, Jian Wuyou sedang duduk bermeditasi dalam kegelapan. Meskipun ia tidak lagi memiliki kekuatan Dewa, indra Ranah Penyatuan Roh Level 10 miliknya mampu menangkap suara langkah kaki yang paling halus sekalipun dalam radius ratusan meter.
"Jiwu," panggil Jian Wuyou tanpa membuka mata.
Seketika, Jiwu muncul dari bayang-bayang di sampingnya. "Aku sudah merasakannya, Kak. Tikus-tikus kecil utusan Tuan Muda Lin."
"Jangan bunuh mereka di sini. Aku tidak ingin darah mengotori tempat Li Hua," perintah Jian Wuyou dingin. Mata hitamnya kini berkilat tajam. "Patahkan saja tangan mereka yang memegang minyak itu, dan seret mereka ke hutan belakang."
Para preman itu baru saja hendak menyiramkan minyak ke dinding kayu kedai Li Hua ketika mereka merasakan suhu udara di sekitar mereka turun drastis.
"Siapa—"
KRAKK! KRAKK!
Sebelum salah satu dari mereka bisa menyelesaikan kalimatnya, Jiwu muncul seperti hantu di tengah mereka. Dengan gerakan yang terlalu cepat untuk mata manusia fana, ia mematahkan pergelangan tangan kedua preman itu secara bersamaan.
"AAARRGGHH—"
Mulut mereka segera dibekap oleh Jian Wuyou yang muncul di hadapan mereka dengan tatapan yang sangat menakutkan—tatapan yang sama saat ia membantai armada langit.
"Kalian ingin membakar tempat ini?" bisik Jian Wuyou di telinga pemimpin preman tersebut. "Kembalilah pada majikanmu. Katakan padanya, jika seujung kuku gadis ini terluka, aku tidak hanya akan membakar rumahnya, tapi aku akan menghapus nama klan Lin dari muka bumi ini."
Jian Wuyou menghempaskan mereka ke tanah. Para preman itu lari kocar-kacir sambil memegangi tangan mereka yang terkulai lemas, ketakutan setengah mati melihat aura yang terpancar dari pemuda yang mereka kira "semut" itu.
Jian Wuyou menatap jendela kamar Li Hua yang masih tertutup rapat. Gadis itu tidur dengan tenang, sama sekali tidak menyadari bahwa maut baru saja menjauh darinya.
"Lin Feng..." gumam Jian Wuyou sambil mengepalkan tangan kanannya. "Kau baru saja memulai permainan yang tidak akan bisa kau menangkan."