Arthur tumbuh di bawah perlindungan seorang pelayan tua yang setia, tanpa pernah benar-benar memahami ayahnya dan apa yang telah ia tinggalkan. Ketika waktu mulai merenggut kekuatan pelindung lamanya, Arthur dipaksa menghadapi dunia yang selama ini dijauhkan darinya dunia yang dibangun di atas hutang lama, keputusan sunyi, dan enam nama yang tidak pernah disebutkan secara utuh.
Sedikit demi sedikit, Arthur menemukan bahwa kebaikan ayahnya di masa lalu telah membentuk takdir banyak orang, namun juga meninggalkan retakan yang kini mengincar dirinya.
Di antara latihan, pengkhianatan yang tidak terucap, dan sosok-sosok yang mengawasi dari kejauhan, Arthur harus memilih:
meneruskan warisan yang tidak lengkap atau menyerah bahkan sebelum ia sempat memutuskan...
baca novelnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DavidTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8 - Pertemuan
Di Wilayah Marquis Florence, Gerbang Perbatasan Tirpen
Setelah dari Hutan Nostradus, Para Knight rombongan Arthur, Seren, si berotot Gareth, dan Elrian memasuki wilayah Marquis Florence saat matahari hampir tenggelam, tidak sepenuhnya.
Armor para knight kusam oleh darah kering serigala merah. Jubah Arthur sendiri masih menyisakan noda merah gelap di bagian bahu lengan kanan. Mereka tidak membersihkannya sepenuhnya bukan karena lalai, melainkan karena tidak sempat.
Dan itu… menjadi pusat perhatian bagi Masyarakat Florence.
Warga menghentikan aktivitas mereka. Pedagang melambatkan langkah. Anak-anak menatap dengan mata membesar.
“Hey, Lihat Mereka, pasti datang dari hutan Nostradus…”
“Korlen, Lihat ada darah disana…”
“Siapa mereka?”
Arthur berjalan tenang di depan, wajahnya datar. Ia bisa merasakan tatapan itu seperti tekanan halus di kulitnya.
Toxen mendekat sedikit.
“Arthur, wilayah Florence tidak terbiasa melihat rombongan berdarah masuk tanpa kabar ataupun pemberitahuan.”
Arthur menjawab pelan.
“Biarkan mereka melihat Toxen, mereka masih memiliki mata dan memang seharusnya dipakai untuk melihat.”
Di sisi lain, Elrian terkekeh kecil.
“Jika mereka tahu darah itu milik monster serigala merah dengan tinggi melebihi manusia, mungkin mereka akan berhenti menatap dan pingsan saat ini juga wkwkwk.”
Penginapan “Tanduk Perak”
Sebelum menuju kediaman Marquis Florence keesokan paginya, rombongan memilih bermalam di penginapan terbesar wilayah itu: Tanduk Perak.
Api unggun besar menyala di tengah aula. Suasana ramai jelas banyak keluarga penerus telah tiba.
Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.
Dua kelompok duduk di sisi berlawanan aula.
Arthur langsung mengenali simbol di armor mereka.
Keluarga Duke New Gate
Keluarga Duke Polein
Dua dari empat keluarga yang secara terbuka bermusuhan dengan ayahnya, Moren.
Seorang pemuda dari New Gate bangkit, tinggi dan berambut cokelat keemasan. Senyumnya tajam.
“Ah… lihat siapa yang datang ini.”
Ia menatap noda darah di baju Arthur.
“Barbar dari perbatasan akhirnya tahu cara masuk kota?”
Tawa ringan terdengar dari meja Polein.
Pemuda Polein, bermata sempit dan bersuara dingin, menimpali:
“Atau mungkin mereka terbiasa mandi darah. Tradisi keluarga, mungkin?”
Ruangan menghangat bukan oleh api.
Para knight Arthur langsung berdiri setengah langkah. Elrian menghentakkan gelasnya ke meja.
“Ulangi perkataan kalian!.”
Seren sudah menghilang dari kursinya bayangannya bergerak di belakang musuh. Gareth si berotot menghela napas pelan, namun tangannya sudah berada dekat gagang senjata.
Arthur berdiri.
Tidak terburu-buru. Tidak berteriak.
“Jika darah monster membuatku terlihat seperti orang-orang barbar, maka...”
ia menatap mereka satu per satu,
“lalu apa sebutan bagi mereka yang duduk aman sambil menunggu wilayah lain berdarah untuk kepentingannya mereka sendiri?”
Suasana langsung membeku.
Pemuda New Gate menyipitkan mata.
“Berani sekali kau, anak Marquis Fireloren!?.”
Arthur melangkah satu langkah maju.
“Keberanian bukan berasal dari darah keturunan. Tapi dari apa yang kau hadapi sendiri.”
Suara besi mulai terdengar. Knight dari kedua pihak bergerak.
Pemilik penginapan turun tangan
“CUKUP!”
Suara berat menggema.
Seorang pria tua bertubuh besar, dengan bekas luka panjang di wajahnya, pemilik Tanduk Perak berdiri di tengah aula.
“Ini wilayah Marquis Florence. Jika kalian ingin saling membunuh, lakukan di luar penginapan dasar para bedeb#h!.”
Ia menatap tajam ke semua pihak.
“Ku dengar besok kalian akan berdiri di ruangan yang sama sebagai penerus keluarga kalian sendiri. Jika kalian ingin memulai perang di sini, aku sendiri yang akan menghajar nama kalian satu per satu.”
Keheningan jatuh.
Pemuda Polein mendecak, lalu duduk kembali. Pemuda New Gate tersenyum tipis, penuh ejekan, lalu mengangkat gelasnya.
“Istirahatlah, para barbar. Besok… kita bicara dengan cara yang lebih ‘terhormat’ hahaha.”
Arthur tidak menjawab.
Ia hanya berbalik dan berjalan pergi.
Di Malam Sebelum Pertemuan Besar Terjadi
Di kamar masing-masing, kelelahan mulai terasa.
Arthur berdiri di dekat jendela, memandangi kota Florence yang bermandikan cahaya lampu.
Toxen berdiri di belakangnya.
“Tuan muda, mereka sengaja memancing kita.”
Arthur mengangguk.
“Aku tahu itu.”
“Dan kau tidak terpancing.”
Arthur mengepalkan tangan perlahan.
“Belum saat ini.”
Di kejauhan, lonceng besar wilayah Florence berdentang menandai tengah malam.
Besok, 21 penerus keluarga akan bertemu untuk pertama kalinya. Dan setelah malam ini, tidak ada lagi topeng yang akan benar-benar aman.
Berganti Ke Aula Agung Marquis Florence
Hari Pertemuan Para Penerus Keluarga Di Wilayah Tirpen
Aula itu luas dan tinggi, ditopang pilar marmer pucat dengan ukiran lambang kekaisaran Valerion yang sangat megah. Cahaya matahari pagi menembus jendela kaca, memantul di lantai batu marmer yang dipoles sempurna.
Di ujung aula, singgasana Marquis Florence berdiri namun kosong.
Hari ini bukan hari para penguasa lama berbicara.
Ini hari para penerus saling menilai.
Arthur melangkah masuk bersama Elrian, Seren, dan si berotot Gareth. Para knight masing-masing keluarga berdiri di luar ruangan pertemuan, sementara Toxen dan para pelayan keluarga lainnya berada di ruangan yang terpisah
Kemudian Seorang bangsawan tua yaitu Helvar Florence, paman Marquis Yoir Florence melangkah ke tengah aula.
“Hari ini, dua puluh satu keluarga mengirimkan penerus mereka, untuk mengenali siapa yang akan berdiri.”
Satu per satu, penerus diperkenalkan oleh bangsasan tua tersebut.
"Yang pertama dari penerus keluarga adalah..." Katanya.
Arthur Fireloren - Marquis Fireloren Wilayah Tirpen
Sikap: Tenang, terukur, diam mengamati
Banyak mata menilai ulang Arthur setelah kabar Nostradus beredar.
(Dan beberapa mencium ancaman. Beberapa melihat potensi)
Elrian Valeris - Count Valeris
Sikap: Terbuka, jujur, penuh api
Ia berdiri santai, seolah aula ini ruang latihan.
(Keluarganya dikenal setia pada Moren saat kejatuhan)
Seren Liorant - Baron Liorant
Sikap: Pendiam, tajam, tak mudah ditebak
Beberapa penerus tidak menyadari kehadirannya…
(Dan itu justru membuat Seren berbahaya)
Gareth Brackenford - Viscount Brackenford
Sikap: Tenang, sopan, analitis
Ia mencatat ekspresi orang lain, bukan sebaliknya.
(Politik baginya adalah matematika)
Iris Elyndor - County Elyndor
Sikap: Lembut, namun penuh jarak
(Ia memberi anggukan kecil ke Arthur tanda rasa hormat lama terhadap keluarga Fireloren)
Maelis Kaedryn - Viscount Kaedryn
Sikap: Tegas, wujud ksatria sejati, dingin tetapi tidak kejam
Tatapannya lurus. Ia tidak menyukai intrik, tapi tidak naif.
Aldric Morcant - Baroness Morcant
Sikap: Cerdas, penuh senyum palsu
Ia ramah pada Arthur dan semua orang tahu itu bukan sebuah kebetulan.
Albrecht New Gate - Duke New Gate
Sikap: Arogan, provokatif
Ia tersenyum saat Arthur disebut, sebuah senyuman yang menunggu celah.
Varyn Polein - Duke Polein
Sikap: Dingin, menghitung, memandang rendah
Ia tidak bertepuk tangan.
(Diamnya lebih menghina daripada ejekan)
Oskar Halbrecht - Baron Halbrecht
Sikap: Agresif, oportunis
Ia sering berpihak pada yang kuat dan hari ini sedang menilai siapa itu.
Luwhin Viremont - Count Viremont
Sikap: Elegan, bermusuhan secara halus
Kata-katanya manis, niatnya seperti ular beracun.
Joran Fenroth - Countess Fenroth
Sikap: Netral, pengamat pasif
Vael Iskend - Baron Iskend
Sikap: Penasaran, belum memilih pihak
Mirel Redwyn - Viscount Redwyn
Sikap: Pendiam, menghindari konflik
Selwyn Orynth - Viscount Orynth
Sikap: Diplomatis, licin
Lyra Kresthal - Duke Kresthal
Sikap: Hati-hati, trauma konflik lama
Rhea Calden - Marquis Calden
Sikap: Pragmatis, menunggu hasil
Thane Caelum - Baron Caelum
Sikap: Sinis, tidak percaya siapa pun
Edric Norrveil - Baron Norrveil
Sikap: Cerdas, menyembunyikan niat
Nessa Alveric - Duke Alveric
Sikap: Militeristik, menghormati kekuatan
Darian Pelgrave - Marquis Pelgrave
Sikap: Misterius, hampir tak berbicara
(Tatapannya sempat berhenti lama pada Arthur terlalu lama)
Arthur duduk dengan tenang di tengah semua itu.
Ia menyadari satu hal penting:
Tidak ada satu pun keluarga yang datang hanya untuk pertemuan, Mereka punya kepentingan mereka sendiri-sendiri.
Beberapa datang untuk mengukur.
Beberapa untuk menjatuhkan.
Dan beberapa… untuk memastikan setiap keluarga yang hadir benar-benar layak.
Di kejauhan, seorang utusan Marquis Florence berbisik pada Tuan Helvar.
Pertemuan ini baru dimulai.
Dan Arthur tanpa menyadarinya sepenuhnya sudah berada tepat di pusat suasana yang mulai bergejolak perlahan namun pasti...
NB-:(mungkinkah main character syndrome)
tentang orang jadi pembunuh gitu aja, kalau penasaran boleh di baca🔥