"Aku tahu kamu bukan dia. Dan sekarang, bayar harga penyamaranmu dengan menjadi istriku."
Demi nyawa ibunya, Alana nekat menyamar menjadi kakaknya untuk bekerja pada Arkananta, CEO kejam yang dijuluki "Monster Es". Namun, Arkan justru menjebaknya dalam pernikahan kontrak untuk menghadapi ular-ular di keluarganya.
Dari puncak kemewahan hingga titik terendah saat Arkan dikhianati dan terusir dari hartanya, Alana tetap bertahan. Bersama, mereka membangun kembali kekaisaran dari nol untuk membalas dendam pada setiap pengkhianat.
Saat rahasia identitas terbongkar dan dunia membuang mereka, mampukah cinta sang sekretaris pengganti menjadi kekuatan terakhir sang CEO?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjamuan Agen Ganda
Pagi di mansion Arkananta tidak pernah terasa sepi, namun hari ini, keheningan yang menyelimuti bangunan kolonial modern itu terasa mencekam—seperti keheningan di tengah medan perang sebelum peluru pertama ditembakkan. Kabut tipis masih menyelimuti taman yang basah oleh sisa hujan semalam, menciptakan siluet abu-abu yang suram di luar jendela besar ruang kerja Arkan.
Arkan berdiri mematung di depan jendela tersebut. Bahunya yang lebar tampak tegang di balik kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku. Ia menatap kosong ke arah luar, sementara Alana duduk di kursi kulit di hadapan meja kerja jati yang masif. Di atas meja itu, lampu kerja masih menyala, berpendar di atas tumpukan dokumen yang tak tersentuh. Rencana yang mereka bicarakan semalam—sebuah pertaruhan gila untuk menjadikan Alana sebagai agen ganda—kini bukan lagi sekadar wacana. Ini adalah eksekusi.
"Bianca adalah wanita yang sangat intuitif," Arkan memulai tanpa berbalik. Suaranya parau, berat oleh beban kurang tidur dan kecemasan yang ia sembunyikan dengan rapi. "Dia menghirup kecurigaan seperti menghirup parfum mahal. Dia tidak akan percaya begitu saja jika kau tiba-tiba mendekatinya tanpa alasan yang kuat. Kau harus memberinya umpan yang tidak bisa dia tolak. Kau harus menjadi mangsa yang terluka."
Arkan berbalik perlahan, menatap Alana dengan intensitas yang membuat napas wanita itu tertahan. "Kau harus berpura-pura bahwa kau mulai takut padaku. Kau harus menunjukkan bahwa 'cinta' atau 'kesetiaan' yang dia duga ada di antara kita telah retak oleh tekanan."
Alana meremas ujung lengan blusnya, merasakan tekstur kain itu di bawah jemarinya yang dingin. "Takut pada Anda? Itu tidak akan sulit untuk diperankan, Tuan," sahutnya dengan nada getir yang jujur. "Mengingat bagaimana Anda bisa menjadi sangat dingin dan tak tersentuh saat marah. Saya hanya perlu mengingat malam-malam di mana Anda menatap saya seolah saya hanyalah pion yang bisa dibuang."
Arkan terdiam. Ada kilatan luka yang melintas cepat di matanya sebelum kembali tertutup oleh topeng dinginnya. "Bagus. Gunakan rasa sakit itu. Gunakan amarah itu. Katakan padanya bahwa aku mulai bersikap kasar sejak ancaman Adrian muncul. Katakan padanya kau ketakutan karena aku mulai kehilangan kendali atas emosiku. Katakan padanya kau butuh perlindungan dan kau bersedia memberikan informasi tentang kelemahan finansial pribadiku sebagai jaminan keselamatanmu."
Alana menelan ludah. Jantungnya berdegup kencang, menghantam dinding dadanya dengan ritme yang tidak beraturan. Ini bukan sekadar permainan akting; ini adalah berjalan di atas seutas tali tipis di atas jurang yang penuh dengan hiu. Jika Bianca atau Adrian mencium bau pengkhianatan sedikit saja, Alana tahu ia tidak akan punya tempat untuk lari. Dunia Arkananta akan menelannya bulat-bulat.
"Jika saya melakukan ini," bisik Alana, "Anda harus berjanji bahwa ibu saya akan tetap aman. Apapun yang terjadi pada saya nanti."
Arkan melangkah mendekat, memangkas jarak di antara mereka hingga Alana bisa mencium aroma kayu cendana dan kopi pahit yang melekat pada pria itu. Ia meletakkan tangannya di atas meja, condong ke arah Alana. "Aku bersumpah dengan nyawaku, Alana. Jika rencana ini gagal, kau adalah orang pertama yang akan kukeluarkan dari garis api."
Pertemuan di Galeri Seni
Sore harinya, langit Jakarta berubah warna menjadi ungu kemerahan yang dramatis, seolah ikut mendramatisir ketegangan yang dibawa Alana. Sesuai rencana, ia mengatur pertemuan dengan Bianca di sebuah galeri seni kontemporer di kawasan Jakarta Selatan. Tempat itu sengaja dipilih karena suasananya yang sepi, dingin, dan dikelilingi oleh karya-karya seni yang provokatif—sebuah metafora sempurna untuk pengkhianatan yang sedang dirancang.
Alana tiba lebih awal. Ia berdiri di depan sebuah lukisan abstrak raksasa yang didominasi oleh sapuan warna merah darah dan hitam legam. Ia memastikan bahunya sedikit membungkuk, matanya menunjukkan keletihan yang dibuat-buat, dan tangannya sesekali gemetar saat memegang tas kecilnya.
Langkah kaki yang anggun dan ritmis bergema di lantai marmer yang sunyi. Tanpa menoleh pun, Alana tahu itu adalah Bianca. Aroma oud dan rose yang mahal mendahului kedatangannya. Bianca berhenti tepat di samping Alana, mengenakan gaun sutra berwarna emerald yang mencolok, sangat kontras dengan latar belakang galeri yang monokrom.
"Kau tampak gelisah, Alana," ucap Bianca datar, matanya tetap terpaku pada lukisan di depan mereka. "Atau haruskah aku memanggilmu Elena? Nama yang penuh dengan kepalsuan, sama seperti posisimu di mansion itu sekarang."
Alana menarik napas gemetar, sebuah reaksi yang ia sempurnakan dengan rasa takut yang nyata di hatinya. Ia menoleh perlahan, menatap Bianca dengan mata yang berkaca-kaca. "Arkan... dia bukan lagi pria yang sama, Bianca. Sejak paket jam tangan dari Adrian itu datang, suasana di mansion berubah menjadi neraka. Dia tidak lagi menjadi pria yang dingin dan terkendali. Dia menjadi paranoid. Dia menuduhku bekerja sama dengan Adrian setiap kali aku terlambat pulang."
Bianca akhirnya menoleh, sebuah senyum miring tersungging di bibirnya yang dipulas lipstik merah gelap. Ia tampak menikmati setiap kata yang keluar dari mulut Alana. "Dan bukankah itu benar? Kau sedang berbicara denganku sekarang, yang secara teknis adalah sekutu paling setia Adrian. Bukankah kecurigaannya memiliki dasar?"
"Aku tidak punya pilihan!" seru Alana pelan namun tajam, suaranya pecah oleh keputusasaan yang terencana. "Aku hanyalah seorang sekretaris, Bianca! Seorang wanita biasa yang terjebak dalam perang antara dua monster. Aku tidak peduli dengan Arkananta Group atau ambisi Adrian. Aku hanya ingin hidup. Arkan mengancam akan menjebloskanku ke penjara karena pemalsuan identitas jika aku mencoba pergi. Dia gila. Dia akan menyeret aku bersamanya jika dia jatuh."
Bianca menyipitkan mata, mencari celah kebohongan di wajah Alana. Namun, Alana telah memberikan umpan yang paling meyakinkan: kebenaran yang dicampur dengan ketakutan akan kelangsungan hidup.
"Lalu," Bianca berbisik, melangkah lebih dekat hingga ia bisa melihat pantulan dirinya di pupil mata Alana. "Apa yang bisa ditawarkan oleh seorang 'sekretaris yang ketakutan' kepadaku? Mengapa aku harus membantumu lepas dari cengkeraman Arkan?"
Alana mendekat, memastikan tidak ada orang lain atau kamera pengawas yang bisa menangkap gerak bibirnya dengan jelas. Ia membisikkan sesuatu yang telah dirancang Arkan sebagai "bom waktu" finansial.
"Arkan memiliki sebuah rekening bayangan, kode namanya 'Aethelred'. Itu adalah rekening yang ia gunakan untuk mendanai operasional luar negeri yang tidak pernah masuk dalam audit tahunan. Di sana tersimpan bukti aliran dana yang bisa dianggap sebagai penggelapan pajak berskala besar dan pencucian uang. Jika kau bisa mengakses log transaksinya, kau punya cukup amunisi untuk meruntuhkan kredibilitasnya di depan dewan komisaris tanpa harus menghancurkan nilai saham perusahaan secara keseluruhan."
Mata Bianca berkilat. Informasi itu jauh lebih berharga daripada sekadar gosip perselingkuhan atau skandal kecil. Ini adalah kunci untuk memenggal kepala raja tanpa merusak kerajaannya.
"Berikan aku kodenya," tuntut Bianca, suaranya kini penuh dengan gairah kekuasaan. "Berikan aku aksesnya, dan aku secara pribadi akan memastikan Adrian memberimu tempat berlindung. Kau dan ibumu akan mendapatkan identitas baru, paspor baru, dan kehidupan di luar jangkauan Arkananta."
Alana berpura-pura ragu sejenak, membiarkan keheningan menyelimuti mereka sebelum akhirnya ia mengeluarkan secarik kertas kecil yang sudah diremas dari tasnya. "Ini adalah bagian pertama dari enkripsinya. Aku akan memberikan sisanya setelah kau membuktikan bahwa kau bisa mengeluarkan ibuku dari pengawasan orang-orang Arkan."
Bianca mengambil kertas itu dengan gerakan cepat, menyembunyikannya di dalam genggaman tangannya yang bersarung tangan kulit. "Kau melakukan hal yang benar, Elena. Dalam permainan ini, kesetiaan adalah beban. Hanya insting bertahan hidup yang akan membuatmu tetap bernapas."
Saat Bianca melangkah pergi dengan kemenangan yang tersirat dalam setiap gerakannya, Alana tetap berdiri di depan lukisan merah-hitam itu. Tubuhnya kini benar-benar gemetar. Ia baru saja menyuapi singa dengan daging beracun, dan sekarang ia hanya bisa berharap bahwa Arkan tidak akan ikut tertelan dalam jebakan yang mereka buat sendiri.