NovelToon NovelToon
Menikahi Mantan Istri Sahabatku

Menikahi Mantan Istri Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Romantis / Romansa
Popularitas:12.3k
Nilai: 5
Nama Author: yuningsih titin

​Demi melunasi hutang budi, Dokter Yoga terpaksa menikahi Dinda, wanita pengkhianat yang tak pernah ia sentuh selama setahun pernikahan. Di tengah sandiwara itu, ia harus menjaga Anindya, istri mendiang sahabatnya yang lumpuh akibat kecelakaan tragis.
​Saat Yoga berhasil bebas dan menceraikan Dinda demi menikahi Anindya, sebuah rahasia besar meledak: Anindya ternyata adalah Nayla Rahardjo, putri sulung yang hilang dari keluarga mantan mertuanya sendiri.
​Bagaimana Yoga mencintai wanita yang ternyata adalah kakak dari mantan istrinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Anindya melahirkan

Suara tangisan bayi yang melengking kencang itu seolah membelah ketegangan yang sejak tadi menyelimuti ruang persalinan Rumah Sakit Aditama Yoga Medika. Bagi Dokter Prayoga Aditama, suara itu bukanlah sekadar fenomena biologis, melainkan melodi paling indah yang pernah menyapa indra pendengarannya selama ia hidup tiga puluh lima tahun di dunia ini.

"Selamat, Dokter Yoga, Anindya... Bayinya laki-laki. Sangat tampan dan sempurna," ucap Dokter Maya dengan senyum lega sambil mengangkat sosok mungil yang masih kemerahan itu.

Yoga yang baru saja pulih dari fase "lumpuh sesaat" akibat syok emosional, kini terduduk di samping kepala Anindya. Air matanya mengalir tanpa permisi. Ia mengecup kening istrinya yang basah oleh keringat dengan penuh takzim.

"Terima kasih, Anin. Terima kasih, Sayang. Kamu hebat sekali," bisik Yoga dengan suara serak yang bergetar.

Anindya hanya mampu tersenyum lemah. Napasnya masih satu-satu, namun binar matanya menunjukkan kebahagiaan yang tak terlukiskan saat suster meletakkan bayi itu di atas dadanya untuk proses inisiasi menyusu dini. "Dia mirip kamu, Mas," gumam Anindya lirih.

Yoga memperhatikan jemari kecil anaknya yang bergerak-gerak. "Arya Satria Prayoga," ucap Yoga mantap. "Namanya Arya Satria Prayoga. Aku ingin dia tumbuh menjadi ksatria yang setia, mulia, dan selalu menjaga kehormatan keluarganya."

****

Dua jam setelah proses persalinan yang dramatis itu, Anindya dipindahkan ke ruang perawatan VVIP Presidential Suite.

Ruangan itu tidak lagi tampak seperti kamar rumah sakit. Ratusan karangan bunga dari rekan bisnis, pejabat, hingga kolega dokter memenuhi sudut-sudut ruangan, menebarkan aroma mawar dan lili yang menenangkan.

Yoga benar-benar menjelma menjadi suami siaga yang protektif. Selama lima hari masa pemulihan, ia tidak pernah meninggalkan sisi Anindya. Ia bahkan memindahkan meja kerjanya ke dalam ruang perawatan. Jika ada berkas yang harus ditandatangani, Cakra harus datang ke sana dan berbicara dengan suara sepelan mungkin agar tidak mengganggu tidur Anindya dan Arya.

"Mas, kamu tidak capek tidur di sofa terus?" tanya Anindya pada malam ketiga. Ia melihat Yoga yang sedang sibuk mengganti popok Arya dengan gerakan yang—meski sangat hati-hati—terlihat masih agak kaku.

Yoga menoleh, lalu tersenyum tipis. "Sofa ini jauh lebih nyaman daripada kursi tunggu di luar ruang operasi, Anin. Lagipula, melihat kalian berdua bernapas dengan tenang adalah obat tidur paling ampuh untukku."

Yoga berjalan mendekat, membawa Arya yang sudah kembali tenang ke dalam dekapan Anindya. Ia ikut duduk di tepi ranjang, merangkul bahu istrinya.

"Aku merasa menjadi pria paling kaya di dunia saat ini," ujar Yoga sambil menatap putranya yang terlelap. "Dulu, fokusku hanya pada karir dan bagaimana cara membalas dendam pada orang-orang yang menyakitiku. Tapi sekarang... melihat kalian, aku merasa semua itu tidak ada artinya jika dibandingkan dengan satu senyumanmu."

Anindya menyandarkan kepalanya di bahu Yoga. "Terima kasih sudah menjaga kami, Mas. Aku sempat takut kalau aku tidak bisa menjadi ibu yang baik karena masa laluku."

"Masa lalu itu sudah mati, Anin. Yang ada hanya masa depan kita bersama Arya," tegas Yoga sambil mengecup puncak kepala istrinya.

Hari kelima tiba, dan Dokter Maya akhirnya memberikan izin bagi Anindya untuk pulang. Yoga tidak membiarkan Anindya berjalan meski hanya beberapa langkah. Ia sendiri yang mendorong kursi roda istrinya hingga masuk ke dalam mobil mewah yang sudah disiapkan di lobi rumah sakit.

Setibanya di rumah mereka di Surabaya, suasana terasa sangat berbeda. Rumah yang biasanya terasa sunyi dan maskulin itu kini telah berubah. Di pintu masuk, terdapat rangkaian balon berwarna biru dan putih dengan tulisan "Welcome Home, Arya Satria Prayoga".

"Wah, ini kerjaan siapa?" tanya Anindya saat memasuki ruang tengah yang sudah didekorasi cantik.

"Siapa lagi kalau bukan Diandra dan Ibu Sekar," jawab Yoga sambil menggendong Arya yang sedang tertidur pulas dalam bedongannya.

Ibu Sekar, ibunda Yoga, langsung menyambut mereka dengan wajah berseri-seri. "Selamat datang, cucu jagoan nenek! Anin, sayang, kamu langsung istirahat di kamar ya. Ibu sudah masakan sup ayam dan jamu khusus untuk pemulihanmu."

Anindya merasa matanya memanas karena haru. Ia tidak pernah membayangkan akan memiliki keluarga yang begitu hangat setelah semua badai yang ia lalui.

Yoga membimbing Anindya ke kamar utama mereka yang sudah diubah sedikit tata letaknya untuk menempatkan box bayi di samping tempat tidur. Aroma minyak telon dan bedak bayi kini menggantikan aroma parfum mahal yang biasanya mendominasi ruangan itu.

"Ini surga kita yang sebenarnya, Anin," bisik Yoga saat mereka sudah berada di dalam kamar.

Anindya duduk di tepi tempat tidur, memperhatikan Yoga yang dengan sangat telaten meletakkan Arya ke dalam keranjang bayinya. Yoga mengatur kelambu, memastikan tidak ada nyamuk yang bisa mengusik tidur putranya.

Setelah memastikan Arya aman, Yoga menghampiri Anindya. Ia berlutut di depan istrinya, menggenggam kedua tangan Anindya. "Anin, aku tahu beberapa bulan ke depan mungkin akan berat. Kita mungkin akan kurang tidur, Arya mungkin akan sering menangis di malam hari, dan aku mungkin masih harus membagi waktu dengan rumah sakit."

Yoga menatap mata Anindya dengan intensitas yang dalam. "Tapi aku janji, aku tidak akan membiarkanmu menghadapi ini sendirian. Kamu adalah ratuku, dan Arya adalah pangeranku. Rumah ini akan menjadi tempat paling aman untuk kalian."

Anindya tersenyum, menyentuh pipi suaminya. "Kita hadapi bersama ya, Mas?"

Yoga mengangguk, lalu menarik Anindya ke dalam pelukan hangat. Di luar sana, angin Surabaya berhembus pelan, seolah ikut merayakan kedamaian yang akhirnya singgah di rumah itu. Namun, di balik kedamaian itu, Yoga tidak menyadari bahwa tantangan sebenarnya baru saja dimulai—bukan dari musuh lama, melainkan dari kesibukan dan ego yang perlahan akan menguji pondasi cinta mereka.

****

Malam pertama di rumah berlalu dengan penuh kehangatan. Yoga benar-benar membuktikan ucapannya. Setiap kali Arya merintih karena haus atau popoknya basah, Yoga adalah orang pertama yang terjaga.

"Mas, biar aku saja. Kamu besok ada jadwal rapat penting di kantor pusat," ucap Anindya saat melihat Yoga sedang mencoba menimang Arya di tengah malam.

"Ssttt, sudah, kamu tidur saja. Ini tugas ksatria untuk menjaga pangerannya," canda Yoga dengan suara berbisik agar tidak membangunkan bayi mereka.

Yoga berjalan mondar-mandir di kamar sambil menyanyikan senandung kecil yang tidak bernada, namun entah bagaimana berhasil membuat Arya tenang kembali. Anindya memperhatikan punggung kokoh suaminya dari atas tempat tidur. Ia merasa sangat beruntung.

Siapa yang menyangka, Dokter Yoga yang dingin dan kaku bisa menjadi begitu lembut hanya karena seorang bayi mungil?

Kehidupan mereka terasa begitu sempurna, seolah tidak ada satu hal pun yang bisa meretakkannya. Namun, itulah hidup; saat kita merasa berada di puncak kebahagiaan, terkadang kita lupa bahwa jalan menurun selalu ada di depan mata.

Halaman luas kediaman Aditama di Surabaya hari ini tampak sangat berbeda. Sebuah tenda dekoratif bernuansa putih dan biru laut berdiri megah, namun tetap memancarkan kesan religius yang kental.

Aroma harum nasi kebuli dan sate kambing menyeruak di udara, bercampur dengan wangi bunga melati yang dirangkai indah di area pelaminan kecil tempat prosesi pemotongan rambut akan dilaksanakan.

Hari ini adalah acara aqiqah bagi putra pertama mereka, Arya Satria Prayoga.

****

Yoga berdiri dengan gagah mengenakan baju koko modern berwarna biru tua yang senada dengan gamis elegan yang dikenakan Anindya. Di gendongannya, Arya tampak tenang dalam balutan jubah bayi berwarna putih bersih.

"Selamat ya, Yoga. Kamu benar-benar sudah menjadi pria seutuhnya sekarang," ucap Dokter Reza sambil menepuk bahu menantunya dengan bangga.

Di sampingnya, Ibu Kanaya Dewi tampak tak henti-hentinya tersenyum. Tangannya sibuk mengelus pipi gembul Arya. "Cucu Oma tampan sekali. Yoga, terima kasih sudah menjaga Nayla dan Arya dengan sangat baik. Mama benar-benar terharu melihat keluarga kecil kalian," ujar Kanaya tulus. Kebencian masa lalu itu kini telah menguap, berganti dengan rasa sayang yang mendalam kepada Yoga yang telah membuktikan kesetiaannya.

Ibu Sekar dan Diandra juga sibuk menyapa tamu, sementara Nenek Lastri duduk di kursi kehormatan dengan rona bahagia. Kehadiran keluarga besar yang utuh ini adalah impian yang menjadi nyata bagi Yoga.

Acara ini juga dihadiri oleh rekan-rekan dokter dari RS Sehati dan jajaran petinggi perusahaan medis. Mereka semua menatap kagum pada pasangan ini.

"Lihat mereka, benar-benar couple goals. Yang satu dokter bedah saraf jenius, yang satu wanita lembut yang luar biasa. Anak mereka pasti akan jadi orang hebat nanti," bisik salah satu rekan sejawat Yoga saat melihat Yoga dengan telaten membantu Anindya duduk ketika istrinya terlihat mulai kelelahan.

Yoga memang tidak membiarkan Anindya terlalu banyak berdiri. Ia sesekali mengabaikan obrolan bisnis dengan kolega hanya untuk memastikan Anindya sudah minum atau menanyakan apakah punggung istrinya terasa pegal. Perhatian kecil yang konsisten itu membuat para tamu wanita merasa iri sekaligus kagum.

Momen Manis di Keheningan Malam

Setelah hiruk-pikuk acara selesai dan para tamu undangan pulang, rumah kembali sunyi. Hanya menyisakan lampu temaram dan aroma sisa-sisa pengajian yang menenangkan.

Anindya berdiri di samping box bayi di kamar mereka. Ia sudah berganti pakaian dengan daster sutra yang nyaman. Matanya menatap lekat wajah Arya yang tertidur pulas dengan mulut sedikit terbuka.

"Dia benar-benar mirip kamu, Mas. Garis rahangnya, hidungnya... bahkan cara dia mengerutkan dahi saat tidur pun sangat mirip denganmu," gumam Anindya lembut.

Tiba-tiba, sepasang lengan kokoh melingkar di pinggangnya. Yoga datang tanpa suara, memeluk istrinya dari belakang. Ia menyandarkan dagunya di bahu Anindya, memejamkan mata sejenak untuk menghirup aroma khas tubuh istrinya yang selalu menjadi candu baginya. Cup....

1
Mardiana
tegangggg.... kasihan Hanin nyawanya bolak balik terancam.....🤣🤣🤣
yuningsih titin: makasih komentarnya kak👍
total 1 replies
Siti Amyati
emang udah watak jahat di kasih kesempatan yg baik malah tetap bikin onar smoga dapat karma yg setimpal buat Dinda
yuningsih titin: makasih komentarnya kak
total 1 replies
Echy Izzafa
emang la kekanak-kanakan kamu anin dikit-dikit ada masalah ngadu ke mama
mana anin yang dulu hidup sendiri tanpa kehadiran orang tua
ga selesai masalah kamu anin klo ditangani orang tua jangan manja
yuningsih titin: makasih komentarnya kak
total 1 replies
Echy Izzafa
koq muter2 ga jelas alur ceritanya ga sesuai harapan
yuningsih titin
makasih komentarnya kak
Echy Izzafa
semangat yoga
untuk dinda hukum tabur tuai semoga kamu n emak mu dapat karmanya segera
Siti Amyati
ngga suka sikap Anin,harusnya di omongi cari solusi bukanya setiap ada masalah lari ke ortu lanjut kak
Lisna Wati
mana lanjutan nya
Siti Amyati
kok di bikin muter terus ceritanya baru bahagia udah di kasih konflik
yuningsih titin: makasih komentar nya kak
total 1 replies
yuningsih titin
bastian memang serigala berbulu domba....
Siti Amyati
ceritanya sekarang kok di bikin muter" jadi ngga sesuai alurnya
yuningsih titin: makasih komentar nya kak, biar seru dikit kak, muter muter dikit ya
total 1 replies
yuningsih titin
makasih komentar nya👍
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
«☆ ⃟⃟Ms•° Achaa♡
Semangat Yogaa
«☆ ⃟⃟Ms•° Achaa♡
SAHHH KATA INI PAS UDAH DIUCAPIN KITA UDAH BUKAN PUNYA ORANG TUA TETAPI PUNYA SUAMI KITA DAN PASTINYA BAKAL SIAO NANGGUNG SEMUA KEWAJIBAN DAN TUGAS YANG HARUS KITA LAKUIN.
yuningsih titin: makasih komentar nya kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!