NovelToon NovelToon
Terms And Conditions

Terms And Conditions

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Obsesi / Bad Boy / Antagonis / Enemy to Lovers / Playboy
Popularitas:141
Nilai: 5
Nama Author: Muse_Cha

Dua ego yang bersinggungan. Dua imperium yang beradu. Satu perasaan yang dilarang.

Every adalah sang penguasa kampus, River adalah sang pemberontak yang ingin menggulingkannya. Mereka menyebutnya rivalitas, dunia menyebutnya kebencian.

"...semua yang terjadi di gubuk ini, jangan pernah lo anggap sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar cara lo membayar utang.."

River hanya menyeringai, "... gue tetap orang yang tahu persis gimana rasanya lo gemetar ketakutan di pelukan gue semalam."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muse_Cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Takhta Lumpur dan Ego yang Tak Mau Tumbang

Ketegangan baru muncul dari dalam kubu River sendiri. Sementara River sibuk menjaga Every di dalam tenda, di luar sana, api cemburu dan ketidakpuasan mulai membara di antara kelompok anti-BEM.

Di luar tenda medis, beberapa anggota inti komunitas motor River berkumpul mengelilingi api unggun. Suasana yang biasanya santai kini terasa tegang. Aluna, gadis dengan rambut pendek tomboy dan jaket kulit yang penuh emblem—sosok yang selalu ada di samping River dalam setiap balapan—mempu lemparkan puntung rokoknya ke tanah dengan kasar.

"Gue nggak habis pikir sama River," suara Aluna tajam, memecah keheningan. "Kita ke sini buat bantu warga, bukan buat jadi pelayan pribadi si Tuan Putri BEM itu."

"Tenang, Lun. River cuma mastiin dia nggak mati di sini. Kalau Every mati, urusannya panjang sama polisi dan keluarga Riana," sahut salah satu pria mencoba menenangkan.

"Nggak usah naif!" Aluna berdiri, wajahnya memerah di bawah cahaya api. "Kalian lihat sendiri gimana River natap dia? Gimana River ngusir Axel seolah Every itu barang miliknya? Kita ini kelompok anti-BEM! Kita di sini buat nentuin kalau kita nggak butuh kepemimpinan kaku kayak Every. Tapi sekarang? Pemimpin kita malah jadi anjing penjaga buat dia!"

Aluna mengepalkan tangan. Baginya, River adalah dunianya. Mereka berbagi hobi yang sama, keringat yang sama di bengkel, dan jalanan yang sama. Ia merasa lebih berhak atas River daripada gadis manja yang bahkan tidak bisa berjalan di lumpur tanpa mengeluh.

Tepat saat itu, River keluar dari tenda dengan wajah lelah namun tetap terlihat waspada. Langkahnya terhenti saat ia merasakan atmosfer yang tidak enak dari teman-temannya.

"Ada masalah?" tanya River singkat, suaranya dingin.

Aluna berjalan menghampiri River, menatapnya dengan pandangan menuntut. "Masalahnya itu lo, Riv. Sejak kapan lo jadi budak Every Riana? Lo sadar nggak, anak-anak mulai bingung? Kita di sini buat nunjukin pengaruh kita, bukan buat jadi bawahan BEM."

River menatap Aluna datar. "Gue nggak pernah jadi bawahan siapa pun, Lun. Termasuk Every."

"Tapi lo memperlakukan dia seolah dia itu segalanya!" suara Aluna meninggi. "Dia itu musuh kita, Riv! Dia itu bidadari palsu yang cuma bisa merendahkan orang kayak kita. Kenapa lo posesif banget tadi? Kenapa lo nggak biarin Axel atau anak buahnya yang urus?"

River maju satu langkah, membuat Aluna sedikit terintimidasi oleh tatapan matanya yang menggelap. "Karena gue nggak suka milik gue disentuh orang lain."

Hening seketika.

"Milik lo?" suara Aluna bergetar. "Jadi sekarang lo akuin dia milik lo? Terus gimana sama komunitas kita??"

"Jangan campur adukkan urusan komunitas sama urusan pribadi gue, Aluna," River memperingatkan dengan nada yang tidak bisa dibantah. "Every pingsan karena dia kerja lebih keras dari kalian semua hari ini. Kalau lo punya masalah sama cara gue memperlakukan dia, simpan buat diri lo sendiri. Jangan sampai gue dengar lo atau siapa pun di sini coba-coba cari masalah sama dia selagi dia nggak berdaya."

River berbalik untuk kembali ke tenda, namun ia berhenti sejenak tanpa menoleh. "Satu lagi... Every bukan bidadari palsu. Dia punya keberanian yang mungkin lo sendiri nggak punya. Jadi, jaga mulut lo."

River masuk kembali ke dalam, meninggalkan Aluna yang berdiri terpaku dengan air mata kemarahan yang mulai menggenang. Obsesinya pada River selama bertahun-tahun seolah hancur hanya dalam satu malam oleh kehadiran seorang wanita yang seharusnya mereka benci.

Di dalam tenda, Every perlahan membuka matanya. Ia mendengar sayup-sayup perdebatan di luar, dan hal pertama yang ia lihat adalah punggung lebar River yang kembali duduk di sampingnya.

"Lo... berisik banget," bisik Every lemah.

River menoleh, senyum miringnya kembali, meski kali ini terlihat lebih tulus. "Selamat bangun, Eve. Tidur lo lama banget, gue sampai bosan jagain bidadari pingsan."

Every ingin memaki, tapi tenaganya belum pulih. Ia hanya bisa menatap tangan River yang secara tidak sadar masih menggenggam ujung selimutnya dengan sangat erat, seolah takut ia akan menghilang.

River menjaga Every bukan karena cinta, setidaknya untuk saat ini. River menganggap Every adalah proyek pribadinya yang tidak boleh rusak di tangan orang lain. Dia masih benci setengah mati dengan sifat otoriter Every.

......................

Pagi harinya, suhu di desa Sukamaju masih lembap. Every terbangun dengan kepala yang berat, namun hal pertama yang ia rasakan adalah amarah. Ia melihat dirinya berbaring di sleeping bag kotor di dalam tenda yang bau oli, dan River Armani sedang duduk di kursi lipat di sudut tenda sambil membersihkan belati kecilnya.

"Siapa yang izinin lo bawa gue ke sini?" suara Every parau tapi tetap setajam silet.

River menoleh, matanya merah karena kurang tidur, tapi seringainya tetap menyebalkan. "Selamat pagi, Tuan Putri. Bukannya terima kasih karena nggak gue biarin terkubur lumpur, lo malah bangun sambil menggigit."

"Gue nggak butuh dikasihani, River!" Every bangkit berdiri meski tubuhnya masih sedikit goyah. Ia menyentakkan jaket River yang menyelimutinya seolah itu adalah kain kotor. "Lo pikir dengan jadi pahlawan semalam, gue bakal lunak sama lo? Jangan harap. Program kerja lo yang berantakan di lapangan bakal tetap gue evaluasi total."

River berdiri, melangkah mendekat dengan aura yang mengancam. "Evaluasi? Lo hampir mati karena nggak tahu batasan tubuh lo sendiri, Eve. Kepemimpinan kaku lo itu hampir bikin lo jadi mayat cantik di tengah hutan. Lo itu keras kepala, arogan, dan nggak tahu cara kerja tim."

"Itu namanya tanggung jawab! Sesuatu yang nggak akan pernah lo pahami dengan otak 'pemberontak' lo itu!" Every membalas, matanya berapi-api.

Tepat saat itu, tirai tenda tersingkap. Aluna masuk dengan wajah sinis, membawa nampan berisi sarapan seadanya.

"Oh, bidadari kita sudah bangun?" sindir Aluna, matanya menatap Every dengan kebencian yang terang-terangan. "Riv, anak-anak anti-BEM sudah siap di lapangan. Mereka nunggu instruksi lo, bukan instruksi dari cewek yang pingsan cuma karena kena hujan."

Every menoleh pada Aluna, tatapannya meremehkan dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Lo siapa? Asisten River? Atau cuma pengikut setianya yang nggak punya suara sendiri?"

Wajah Aluna memerah. "Gue orang yang kerja di lapangan saat lo cuma bisa pingsan!"

"Cukup," potong River dingin. Ia menatap Every dengan tatapan penuh permusuhan yang masih sangat kental. "Eve, lo balik ke kota sekarang pakai helikopter Axel. Gue nggak mau kerjaan gue terhambat karena harus jagain cewek manja yang saking sombongnya lupa cara napas."

"Gue. Nggak. Akan. Pulang," Every menekankan setiap kata. Ia berjalan melewati River dan Aluna, bahunya sengaja menabrak bahu Aluna dengan keras. "Gue Ketua BEM. Gue yang pegang kendali di sini. Kalau lo nggak suka, silakan pergi dari desa ini dengan gerombolan lo itu. Tapi selama gue di sini, lo tetap bawahan gue."

Every keluar dari tenda dengan kepala tegak, meski kakinya sebenarnya masih lemas.

Aluna mendekati River, suaranya merendah dan penuh provokasi. "Riv, lo lihat kan? Dia baru saja ngeremehin kita lagi setelah lo jagain dia semalaman. Kenapa kita nggak kasih dia pelajaran saja? Biar dia tahu kalau di sini, aturan BEM dia itu cuma sampah."

River menatap pintu tenda yang masih bergoyang. Tangannya mengepal kuat di saku celana. Dia benci cara Every merendahkan teman-temannya, tapi dia juga benci fakta bahwa Every memiliki keberanian yang hampir membuatnya... terpesona. Namun, ego River terlalu besar untuk mengakui itu.

"Jangan sentuh dia, Lun," kata River pendek, suaranya sangat dingin. "Bukan karena gue peduli. Tapi karena kalau ada yang mau menjatuhkan Every Riana dari takhtanya, orang itu harus gue. Bukan lo, bukan Axel, dan bukan siapa pun. Dia urusan gue."

River melangkah keluar, menyusul Every untuk kembali beradu urat saraf. Perang dingin mereka belum berakhir; lumpur ini justru baru saja memanaskan kebencian di antara mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!