Bijaklah dalam memilih bacaan.
Cerita ini hanya fiksi belaka!
-------------------------
Megan Ford, seorang agen elit CIA, mengira ia memiliki kendali penuh saat menodongkan pistol ke pelipis Bradley Brown, bos mafia berdarah dingin yang licin.
Namun, dalam hitungan detik, keadaan berbalik. Bradley,seorang manipulatif yang cerdas menaklukkan Megan dalam sebuah One Night Stand yang bukan didasari gairah, melainkan dominasi dan penghancuran harga diri.
Malam itu berakhir dengan kehancuran total bagi harga diri Megan.
Bradley memiliki bukti video yang bisa mengakhiri karier Megan di Langley kapan saja. Terjebak dalam pemerasan, Megan dipaksa hidup dalam "sangkar emas" Bradley.
Mampukah Megan dengan jiwa intelnya melarikan diri dari tahanan Bradley Brown?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririnamaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 10
Di dalam ruang kerja Direktur yang luas dan dingin di Langley, Virginia, suasana seketika berubah menjadi pengap. Seorang wanita cantik dengan rambut pirang yang tergerai indah tampak duduk bersandar manja di lengan kursi Arthur Ford.
Alice. Sekretaris pribadi yang penampilannya selalu terlalu sempurna untuk sekadar mencatat agenda. Tangan Alice yang lentik tidak bisa diam; jemarinya menari, memainkan dasi di leher Arthur.
Arthur memegang tangan Alice dengan lembut.
"Jangan sekarang, Alice," desis Arthur, suaranya berat karena beban pikiran.
"Kenapa? Biasanya kita sangat menikmati waktu berdua di ruangan ini, bukan?" Alice berbisik tepat di telinga Arthur.
"Aku tidak bisa menghubungi Megan. Sudah seminggu ponselnya tidak bisa di hubungi," Arthur memijat pangkal hidungnya yang berdenyut. "Laporan dari London selalu sama. Deep cover. Tapi ini tidak masuk akal "
Alice tersenyum miring,sebuah senyum yang mampu melumpuhkan seluruh saraf Arthur. Dengan gerakan lembut, ia mengusap rahang Arthur, mencoba menenangkan sang atasan yang mulai kehilangan ketenangan.
"Sayang, tenanglah. Megan itu agen terlatih didikanmu sendiri. Jika dia tidak bisa dihubungi, itu hanya karena dia sedang melakukan misi rahasia demi keberhasilan misinya. Kau tahu sendiri, terkadang untuk menangkap hantu, kita harus menjadi hantu juga."
"Tapi Sean seperti menyembunyikan…"
"Sean hanya menjalankan tugasnya," potong Alice. "Berikan putrimu waktu. Sementara itu, biarkan aku membantumu melupakan rasa pusing ini, Arthur
Alice tersenyum tipis, tangannya mulai membuka kancing jas mahal Arthur satu per satu dengan gerakan yang begitu lambat, seolah sedang menyiksa pria itu dengan rasa penasaran. Ia melepaskan jas itu, membiarkannya jatuh begitu saja ke lantai marmer yang dingin. Jemarinya beralih ke dasi sutra Arthur, melonggarkannya dengan tarikan pelan yang membuat napas Arthur semakin berat.
Arthur sudah sepenuhnya diselimuti kabut gairah. Baginya, Alice adalah oase di tengah gurun kekacauan yang ia hadapi.
"Sayang... kau selalu tahu cara menyenangkanku," gumam Arthur, suaranya serak.
"Aku selalu ada untukmu, Arthur. Bukankah itu alasan aku di sini?" suara Alice terdengar seperti nyanyian yang memabukkan.
Arthur tak lagi bisa menahan diri. Ia menarik pinggang Alice, membalikkan tubuh wanita itu hingga Alice bersandar di atas meja jatinya yang besar. Arthur sudah berada di atas tubuh Alice, hampir mencium leher jenjang itu saat tiba-tiba…
TOK! TOK! TOK!
Ketukan pintu yang keras dan berirama menghantam kesunyian ruangan.
"Sial! Siapa yang berani mengganggu kesenanganku?!" bentak Arthur, rahangnya mengeras karena frustrasi.
Alice justru tertawa, suara tawa yang terdengar sangat merdu namun menyimpan ejekan. Ia mendorong dada Arthur pelan, cukup untuk menciptakan jarak.
"Sabar, Sayang. Kita masih punya banyak waktu nanti malam. Pakai kembali pakaianmu, biarkan aku yang menemuinya. Mungkin ini urusan penting dari markas," ucap Alice sambil merapikan rambut pirangnya yang sedikit berantakan.
Arthur mendengus, namun ia tetap mengikuti kata-kata wanita itu. Ia memungut jasnya dengan geram.
Alice berjalan menuju pintu dengan langkah anggun. Begitu pintu terbuka, seorang agen berdiri di sana dengan wajah kaku.
"Kau datang tepat waktu, Jasper. Terima kasih," ucap Alice dengan nada datar yang penuh wibawa, seolah dialah bos di sana.
"Sama-sama, Alice. Berkas yang kau minta sudah siap," jawab Jasper singkat, tanpa berani menatap mata Alice terlalu lama.
Alice menutup pintu kembali, memberikan tatapan "nanti lagi" pada Arthur yang masih terlihat kesal di kursinya. Ia kembali ke mejanya di ruang depan, jemarinya menari di atas laptop yang terenkripsi. Sebuah notifikasi email masuk dengan kode rahasia "Obsidian Alpha."
Alice membacanya sekilas, lalu sebuah senyum terukir di wajahnya. Ia bangkit, melangkah menuju lift menuju rooftop gedung Langley. Di bawah langit Virginia yang kelabu, ia menekan nomor internasional.
"Halo," bisik Alice saat sambungan terhubung. "Arthur sedang di bawah kendaliku. Dokumen yang kau minta sedang aku usahakan.”
***
Alice melangkah kembali ke dalam ruang kerja Arthur dengan keanggunan yang mematikan. Aroma parfum mahalnya langsung mengisi ruangan, seolah mengklaim kembali wilayahnya.
"Alice, ada apa? Apa ada info penting?" tanya Arthur, matanya masih menyiratkan kecemasan yang dalam.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Sayang," Alice mendekat, suaranya sehalus sutra. "Itu telepon dari unit pendukung di London. Mereka meminta duplikat berkas Megan untuk keperluan Verifikasi Identitas Protokol Keamanan di markas MI6. Kau tahu sendiri betapa kolotnya The Cousins Inggris itu kalau menyangkut akses agen luar."
Arthur mengernyit, sedikit ragu. "Verifikasi? Bukankah data Megan sudah ada di database bersama?"
"Hanya prosedur rutin, Arthur. Mereka butuh salinan fisik akta dan dokumen kewarganegaraan asli untuk memperbarui akses biometrik Megan di zona merah London," Alice meletakkan tangannya di bahu Arthur, memijatnya pelan. "Biarkan aku yang mengurusnya."
Arthur menghela napas panjang, ketegangannya mulai luruh akibat sentuhan Alice. "Baiklah. Aku percayakan padamu. Nanti malam datanglah ke rumah," ucap Arthur, menarik pinggang Alice hingga wanita itu duduk di pangkuannya.
Alice tersenyum penuh kemenangan, jemarinya menyusuri garis rahang hingga berhenti di bibir Arthur. "Aku akan datang malam ini, Sayang. Kamu tenang saja. Urusan Megan... biarkan aku yang membereskan semuanya hingga tuntas."
Arthur menatap Alice dengan tatapan memuja, benar-benar buta akan bisa yang sedang disiapkan wanita di hadapannya. "Terima kasih, Alice. Kau begitu peduli pada Megan, meskipun kau tahu dia belum bisa menerimamu sebagai bagian dari hidupku."
Alice tertawal, suara tawa yang terdengar sangat tulus namun terasa dingin bagi siapa pun yang mengenal jati dirinya.
"Tenang saja, Arthur. Megan hanya butuh waktu. Dia seusia denganku, wajar jika dia berpikir aku tidak serius denganmu atau hanya mengincar posisimu. Tapi suatu saat nanti, dia akan mengerti betapa besar 'perhatian' yang kuberikan untuknya."
Alice mengecup pipi Arthur sekilas, sementara otaknya sudah menyusun rencana untuk mencuri dokumen asli Megan malam ini.
***
Sore itu di Surrey, Bradley berdiri tegak di dekat jendela besar, kedua tangannya terbenam di saku celana kainnya. Wajahnya datar, matanya tak lepas memperhatikan Megan yang berdiri mematung di tengah ruangan.
Seorang wanita paruh baya dengan kacamata berbingkai perak Madame Genevieve, desainer kepercayaan keluarga kerajaan sibuk melilitkan metline di tubuh Megan. Ia mencatat setiap inci ukuran tubuh sang agen dengan teliti.
"Semuanya sudah saya catat, Nona. Kini giliran Anda yang memilih desain mana yang paling cocok untuk hari besar Anda," ucap Madame Genevieve dengan senyum ramah.
"Aku tidak mau memilih," tolak Megan dingin. Suaranya datar, tanpa gairah hidup.
Madame Genevieve tertegun sejenak, namun ia segera menguasai diri dan menoleh pada Bradley yang masih mengawasi. "Ah, baiklah. Bagaimana jika Anda yang memilihkan untuk calon istri Anda, Tuan?" Wanita itu menyodorkan katalog koleksi mahakarya terbarunya.
Bradley melangkah mendekat, lalu duduk di samping Megan. Aroma sandalwood dan maskulin yang kuat langsung mengepung indra penciuman Megan.
"Coba jelaskan detail gaun yang ini," tunjuk Bradley pada sebuah sketsa gaun yang nampak memukau di halaman tengah.
"Pilihan yang luar biasa, Tuan," sahut Madame Genevieve antusias. "Ini adalah gaun dengan potongan A-line klasik berbahan sutra satin terbaik. Bagian dadanya memiliki aksen sweetheart neckline yang tertutup brokat halus hingga ke leher, memberikan kesan tertutup namun sangat elegan. Bagian punggungnya sedikit terbuka, melambangkan keberanian dan keanggunan."
Megan merasa muak mendengarnya. Informasi tentang kain dan potongan baju itu terasa seperti sampah di telinganya. Namun, rasa mual yang hebat tiba-tiba kembali menyerang tanpa ampun. Perutnya bergejolak, kepalanya pun seolah berputar.
Tak punya pilihan lain, Megan justru semakin merapatkan duduknya ke arah Bradley. Ia mencari perlindungan pada aroma tubuh pria itu, satu-satunya hal yang bisa menenangkan sarafnya saat ini.
Bradley menyadari perubahan itu. Ia segera meraih pinggang Megan, menariknya hingga tak ada jarak di antara mereka.
"Jadi, bagaimana Tuan?" tanya Madame Genevieve.
"Bagaimana, Sayang? Kau suka desain ini? Atau kau punya pilihan lain sesuai keinginanmu?" Bradley bertanya lembut, tangannya mengusap pinggang Megan dengan posesif.
"Terserah kau saja, Brad. Aku tidak peduli," bisik Megan. Ia menyerah, merebahkan kepalanya di dada bidang Bradley, menghirup dalam-dalam aroma kemeja pria itu demi mengusir rasa mualnya.
"Maafkan calon istri saya, Madame. Dia memang sedang sangat sensitif belakangan ini," ucap Bradley dengan nada pengertian yang sangat meyakinkan.
"Ah, tidak apa-apa, Tuan. Itu sangat wajar, dan Anda terlihat sebagai calon suami yang begitu perhatian," puji Madame Genevieve.
Megan ingin sekali berteriak bahwa ini semua adalah sandiwara gila, tapi ia tak punya tenaga. Hormon kehamilan benar-benar mengkhianati logika intelejennya.
Baiklah, aku pilih gaun Ivory Silk ini. Pastikan semuanya siap tepat waktu," tegas Bradley.
"Pilihan yang sangat tepat, Tuan. Gaun ini akan terlihat sangat sempurna pada tubuh Nona," ujar Madame Genevieve. Ia lalu mengangguk hormat sebelum berpamitan undur diri.
Setelah pintu tertutup, Megan masih bergeming di dada Bradley. Bradley menunduk, menatap puncak kepala Megan. "Kau akan terus bersandar padaku seperti ini, Meg?"
Megan tersentak, ia segera menjauhkan tubuhnya dengan wajah memerah menahan amarah. "Aku pun tidak sudi jika bukan karena benih sialanmu ini!"
Bradley mendorong halus bahu Megan, sorot matanya menajam secara tiba-tiba. "Dengar aku sekali lagi, Meg. Jangan pernah sebut janin itu sialan. Jika kau ingin memaki, makilah aku sepuasmu. Jangan dia."
Megan tertegun. Bradley terlihat begitu membencinya, namun pada janin itu, pria ini tampak menaruh harapan yang begitu besar.
"Brad," suara Megan terdengar datar tanpa emosi. "Sebenarnya apa yang tidak aku ketahui tentangmu? Tentang masa lalu ini? Kau membenciku padahal kita tidak saling mengenal. Kau tidak menginginkanku, tapi kau begitu menginginkan bayi ini. Bukankah kau bisa mendapatkan bayi dari wanita lain yang mungkin mencintaimu?"
Bradley terdiam sejenak, lalu kembali membawa Megan ke dalam pelukannya, kali ini lebih protektif. "Jangan bertanya lagi tentang itu, Meg. Janin itu tidak berdosa, dia berhak lahir ke dunia ini."
"Tapi aku tidak mencintaimu," desis Megan di balik pelukannya.
"Aku tidak butuh kau mencintaiku. Aku hanya butuh kau tetap di sini, di sampingku."
"Tapi ini bukan kehidupan yang aku inginkan!"
"Kau tak punya pilihan, Meg. Kau akan tetap bersamaku... sebagai ibu dari anak-anakku."
Kata "anak-anak" membuat Megan semakin merasa mual. Memiliki satu saja sudah terasa seperti neraka, dan kini Bradley mengatakan lebih?
"Kau sakit, Brad!" teriak Megan frustrasi. Ia melepaskan pelukan Bradley dengan kasar dan melangkah cepat menuju kamar, meninggalkan Bradley yang masih terpaku dalam keheningan yang menyesakkan.
***
Malam itu, kediaman megah Direktur CIA di Virginia terasa sunyi, namun penuh dengan tegangan yang disamarkan oleh aroma parfum mahal. Di ruang tengah yang remang, Alice duduk dengan anggun di pangkuan Arthur Ford.
Tangannya melingkar manja di leher pria paruh baya itu, sementara tawa renyahnya pecah, mengisi keheningan.
"Sayang, jangan menghindar lagi," bisik Arthur, suaranya berat penuh harap.
"Ini malam kita, Sayang, aku pastikan kau tidak akan 'kelaparan'."
"Kau selalu tahu bagaimana menyenangkanku," bisiknya di telinga Alice.
"Tapi sebelumnya," kata Alice, "ambilkan dokumen Megan yang kau ceritakan tadi. Takutnya nanti kau sudah terlalu lelah untuk mengambilnya." Alice mencium sekilas bibir Arthur untuk memancingnya.
Dengan berat hati, Arthur kemudian menurunkan Alice. "Tunggu sebentar," katanya mencubit pelan hidung Alice lalu berjalan menuju ruang kerjanya.
Sepeninggal Arthur, ekspresi Alice berubah dingin. Ia mengeluarkan ponselnya yang sejak tadi terlihat menyala. "Alpha," itulah nama yang tertera di layar. Ia segera menjawab panggilan itu.
"Halo."
"Bagaimana data Megan? Kau sudah berhasil mendapatkannya?"
"Sebentar lagi. Sekarang aku sedang berada di rumah 'Tua Bangka' itu."
"Aku tunggu tidak lebih dari 24 jam, Alice. Dan ingat, kau mendekati pria itu untukku, tidak lebih."
"Kau tenang saja. Aku bisa mengatasinya."
"Bagus. Jangan sampai kau jatuh ke pelukannya. Kau boleh melakukan apa pun, tapi ingat batasanmu, Alice," ujar suara itu dengan nada posesif.
"Alice... kau bicara dengan pria lain? Sepertinya dia sangat posesif padamu?"
Alice membeku. Darahnya seolah berhenti mengalir saat mendengar suara dingin tepat di belakang telinganya. Ia menoleh perlahan dan mendapati Arthur Ford sudah berdiri di sana.
Tidak ada lagi tatapan penuh gairah seperti beberapa menit lalu. Di tangan Arthur, sebuah map cokelat terpegang erat, namun matanya menatap Alice dengan kilat kecurigaan yang mematikan.
"Kau sedang bermain-main denganku di rumahku sendiri, Alice?" tanya Arthur dengan nada rendah yang jauh lebih menakutkan daripada bentakan mana pun.
Alice menelan ludah, ponsel di tangannya masih dalam keadaan tersambung. Dan kini Arthur menatapnya dengan tatapan dingin.
😔
Megan hamil ✅
🤭🤭