NovelToon NovelToon
Mencari Jawaban

Mencari Jawaban

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Sabana01

Hidup Almira dan Debo nyaris sempurna. Tumbuh besar di Washington D.C. dengan fasilitas diplomat, mereka melihat ayah mereka, Pak Baskoro, sebagai pahlawan tanpa celah. Namun, impian itu hancur berkeping-keping dalam satu malam di Bandara Soekarno-Hatta.
Koper yang seharusnya berisi oleh-oleh dari Amerika, berubah menjadi maut saat petugas menemukan bungkusan kristal putih seberat 5 kilogram di dalamnya. Ayah mereka dituduh sebagai kurir narkoba internasional.
Di tengah keputusasaan, teman-teman berkhianat dan harta benda disita. Almira dan Debo dipaksa menghadapi realita pahit: mereka kini adalah anak seorang "kriminal". Di tengah badai tersebut, muncul Risky, seorang pengacara muda yang dingin dan misterius. Risky setuju membantu, namun ia memperingatkan satu hal:
"Kebenaran terkadang lebih menyakitkan daripada kebohongan. Apakah kalian siap menemukan jawaban yang sebenarnya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18

Gudang di pinggiran dermaga itu berbau karat dan garam. Di dalamnya, Debo sudah berkutat dengan kabel-kabel yang melintang seperti urat nadi di atas meja kerja darurat. Laptopnya berdengung keras, mencoba mendinginkan prosesor yang bekerja melampaui batas. Risky duduk di sudut, membersihkan luka di pelipisnya dengan sobekan kain kemeja. Ia tidak banyak bicara sejak kejadian di hotel; ada semacam jarak yang ia ciptakan sendiri, sebuah tembok rasa bersalah yang bahkan Almira sulit tembus.

"Selesai," bisik Debo. Suaranya serak, tapi matanya berkilat penuh kemenangan. "Aku sudah berhasil masuk ke backdoor sistem satelit penyiaran publik. Kita punya waktu sekitar tujuh menit sebelum mereka bisa melacak IP kita dan memutus jalurnya. Begitu aku tekan 'Enter', video ini akan muncul di setiap layar televisi, papan reklame digital di Bundaran HI, sampai ke ponsel semua orang yang punya aplikasi berita nasional."

Almira berdiri di samping Debo, menatap layar yang menampilkan wajah ibunya di masa lalu. Ia merasa jemarinya dingin. "Tujuh menit untuk menghancurkan kebohongan lima belas tahun."

"Al," panggil Risky pelan. Ia berdiri, mendekati mereka. Wajahnya yang babak belur tampak lebih tenang, seolah ia sudah menerima kenyataan pahit bahwa darahnya memang bercampur dengan dosa. "Begitu video ini tayang, tidak ada jalan kembali. Sekjen, para jenderal di belakangnya, dan sisa-sisa loyalis ayahku akan mengejar kita sampai ke ujung dunia. Kau siap?"

Almira menatap Risky. Ia tidak melihat anak seorang pembunuh. Ia melihat pria yang berkali-kali menaruh nyawanya di garis depan demi keluarganya. "Aku tidak pernah sesiap ini, Risky."

Pak Baskoro berdiri di ambang pintu, berjaga-jaga. Ia mengangguk pelan pada anak-anaknya. "Lakukan, Deb."

Debo menekan tombol Enter dengan mantap.

Di Jakarta, malam yang biasanya diisi dengan siaran sinetron dan iklan-iklan ceria mendadak mati. Di Bundaran HI, layar LED raksasa yang menampilkan produk jam tangan mewah tiba-tiba berubah menjadi statis abu-abu, lalu muncul gambar hitam putih yang berpasir.

Suara Ratna, ibu Almira, menggema di tengah kemacetan Jakarta.

"...Kau tidak bisa melakukan ini, Irwan! Ini bukan sekadar uang, ini soal nyawa orang banyak!"

Jutaan pasang mata terpaku. Di warung kopi, di apartemen mewah, hingga di kantor-kantor pemerintahan yang masih lembur. Nama-nama besar muncul di layar sebagai "pemegang saham" pengiriman ilegal itu. Jabatan-jabatan tinggi disebut. Dan puncaknya, wajah Adiwangsa dan Sekjen terlihat sedang berjabat tangan di atas tumpukan dokumen transaksi narkoba pertama mereka.

"Lima menit tersisa," lapor Debo, keringat menetes dari dahinya.

"Risky, lihat," Almira menunjuk ke layar monitor lain yang menampilkan umpan balik media sosial. Tagar #KeadilanUntukRatna dan #BaskoroTidakBersalah meledak. Ribuan orang mulai turun ke jalan di Jakarta, menuju ke depan kantor kementerian dan markas kepolisian. Rakyat yang selama ini merasa ada yang tidak beres dengan kasus ini akhirnya mendapatkan jawaban yang paling telanjang.

Namun, di luar gudang, suara helikopter mulai terdengar mendekat. Cahaya lampu sorot menyapu permukaan air dermaga, mencari-cari keberadaan mereka.

"Mereka menemukan kita," ucap Pak Baskoro tenang, meski tangannya menggenggam erat sebuah besi tua untuk membela diri.

"Deb, sudah semua?" tanya Risky sambil mulai mengemasi laptop.

"Data sudah terenkripsi ke awan dan dikirim ke sepuluh kantor berita internasional. Mereka tidak bisa menghapusnya lagi," jawab Debo cepat.

Risky meraih tangan Almira. "Kita harus pergi lewat jalur air. Yoga sudah menyiapkan perahu nelayan di dermaga bawah."

Saat mereka berlari keluar menuju bibir dermaga, suara tembakan terdengar dari kejauhan. Polisi Singapura mungkin sudah dikerahkan, atau mungkin orang-orang bayaran Sekjen yang lebih dulu sampai. Mereka melompat ke atas perahu kayu yang bergoyang hebat dihantam ombak. Yoga segera menarik tuas mesin, dan perahu itu melesat membelah kegelapan laut menuju perairan internasional.

Almira menatap ke arah garis pantai Singapura yang menjauh. Di balik sana, ia tahu Jakarta sedang terbakar oleh kebenaran. Ia menoleh ke arah Risky yang duduk di dekat mesin, memandang ke arah laut lepas.

Almira mendekat, duduk di sampingnya, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Risky. Kali ini, Risky tidak menjauh. Ia melingkarkan lengannya di bahu Almira, menariknya erat.

"Apa kita akan selamat?" bisik Almira di tengah deru mesin perahu.

Risky mengecup puncak kepala Almira. "Aku tidak tahu. Tapi setidaknya, malam ini kita semua bisa tidur tanpa beban rahasia lagi. Ibumu, ayahku... mereka akhirnya mendapatkan pengadilannya sendiri."

Di atas perahu yang kecil itu, di tengah laut yang luas dan gelap, Almira merasakan beban di dadanya terangkat. Jawaban itu memang pahit, namun ia tidak lagi sendirian menelannya. Mereka adalah sisa-sisa dari masa lalu yang hancur, namun dari puing-puing itu, mereka mulai membangun sesuatu yang baru. Sebuah janji yang tidak lagi tertulis di atas kertas hukum, melainkan di dalam detak jantung yang saling bertaut.

Kebenaran telah dilepaskan, dan sekarang, biarkan dunia yang menanggung sisanya.

1
Sulfia Nuriawati
potret pejabat ms kini, mw segalanya instant, g bs d pungkiri pasti d dunia nyata jg bgtu cm g ada yg berani bongkar
sabana: 🤭🤭🤭
lanjut baca kk
total 1 replies
Ophy60
Ikut tegang....memang uang dan jabatan membuat orang lupa diri.Pak Wirayuda dengan tega mengorbankan anak buahnya sendiri.
Ophy60
Apakah Hermawan juga korban ??
sabana: lanjutkan baca kak
total 1 replies
Ophy60
Sepertinya menarik kak...
sabana: lanjutkan kak, semoga suka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!