Berada di tengah laut jawa, Pulau Koriyaksa dihuni para siluman dalam segala bentuk, dipimpin oleh siluman tanpa nama berwujud menakutkan. Akhirnya setelah 50 tahun berperang, sebuah perjanjian damai ditandatangani.
Setiap malam satu suro, bangsa manusia wajib mengirim tumbal untuk dipersembahkan pada Sang Raja.
Namun Sura mahasiswa yang terlempar ke dalam buku harus menjadi tumbal ke-100, anehnya dia justru berhasil merebut hati Sang Penguasa. WARNING! HATI-HATI DALAM MEMILIH BACAAN!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Naga biru
"Beraninya..." Raja mendengus kesal,
Matanya membulat sempurna, mencengkram kuat tongkat di tangannya, taring tajam itu terlihat seakan siap mengoyak 2 siluman kecil di depannya.
Tak segan Raja ayunkan tongkat hingga menambah sinar terang pada ujungnya.
Langit malam menyalak, diikuti suara gemuruh meraung dari balik awan hitam. Hendak Raja layangkan sihir pemusnah, namun...
"Sura sedang menunggu anda di Kota Shaksa!" imbuh Lawar memekik keras,
"Tadi kami berdua sedang dalam perjalanan, lalu saat melewati Kota Shaksa...tiba-tiba Sura berhenti,"
"Dia menyuruh saya untuk menyampaikan pesan agar anda menyusul ke sana--"
"Omong kosong! Ini pasti jebakan. Jangan mempercayainya Raja!" tegas Anubis menyela pembelaan,
Raut geramnya menatap tajam, membuat Lawar tertekan. Tampak bersikeras meyakinkan Raja untuk memberi hukuman,
"Tidak salah lagi, Lawar sudah berpihak pada manusia."
"Hh?!" Semua siluman terbelalak,
Dibuat kaget oleh tuduhan sang patih, mereka serentak melirik sinis, mengerang menunjukkan kebencian.
"Raja..."
"Cukup!" bentaknya menghentikan ocehan,
Raja melirik Anubis agar kembali bungkam. Tahu masalah ini terjadi karena campur tangan Anubis, jadi mana mungkin dia terhasut semudah itu.
"Tidak ada yang boleh berbicara tanpa seizinku!"
"...!" Anubis menggertakkan gigi, langsung menunduk bisu.
"Dimana penyusup itu?" tanya Raja menatap ke arah Lawar,
"Penyusup itu sekarat karena terlalu banyak menghirup miasma. Jadi Sura meninggalkannya di desa manusia,"
"Sekarat? Memang benar, belum ada manusia yang bisa bertahan setelah menghirup miasma." Raja bergumam lirih,
Berpikir sejenak guna mengambil keputusan. Memang benar hatinya percaya, namun tak menutup kemungkinan jika Sura berkhianat,
Mau bagaimana pun, Raja adalah penguasa yang harus melindungi kerajaan dan rakyatnya. Jangan sampai terbawa perasaan,
"Apa yang sedang Raja pikirkan? Kalau Raja ingin menyusul, aku harus bisa mengikutinya dan lihat apa yang terjadi." batin Anubis menyipitkan mata,
"Bagaimana kalau Sura tahu, aku lah yang membantu mereka kabur, lalu mengadukan semuanya pada Raja?"
"Ada apa ini?" tegur tetua,
Kedua siluman tua renta itu baru saja masuk, berjalan pelan menghadap Raja.
"Kami dengar ada keributan di istana,"
"Sepasang kekasih berhasil kabur. Penyusup dan manusia itu...kupikir masalah ini sudah selesai,"
"Apa lagi yang sedang Raja pikirkan? Biarkan saja mereka. Kita tinggal meminta tumbal lebih banyak untuk ritual tahun depan,"
"Aneh sekali. Padahal sudah kuperingatkan agar berita ini tidak menjalar keluar...tapi para tetua yang tinggal di atas gunung malah bisa tahu,"
"Kira-kira siapa siluman lancang yang berani melakukannya?!" gertak Raja membuat Anubis tersindir.
Sang patih benar-benar dibuat kaku tak berani mendongak apalagi menyahuti.
"Masalah ini, hanya aku yang boleh memutuskannya." Memberi penegasan,
Para tetua tertegun mendapati Raja yang bergumam cepat, merapalkan mantra sakral. Menciptakan percikan cahaya serta kabut putih di sekitar tubuhnya,
BRAK! Telapak tangan Raja menghantam lantai dengan keras.
Ditemani munculnya roh binatang legendaris yang telah lama menghilang.
Hewan buas bersayap lebar, berekor panjang, memiliki tanduk tajam dengan mata keemasan. Konon hawa panas dari mulutnya mampu menghanguskan sebagian istana dalam sekejap,
Naga biru, binatang legendaris tunggangan Raja siluman pertama. Menurut buku sejarah, setiap Raja akan diwarisi mantra sakral pemanggil roh.
Namun hanya naga biru lah roh terkuat yang pernah dipanggil. Setelah wafatnya Raja pertama, belum ada yang bisa memanggilnya.
"Tidak salah lagi...Itu roh naga biru!"
"Tidak kusangka, Raja akan berhasil membangunkan binatang legendaris yang sudah lama menghilang." Tetua bergumam penuh takjub,
Mereka yang melihat semakin tunduk dan meyakini kekuatan sang Raja.
"Besar sekali," batin Anubis merinding takut.
"Tapi menurut buku kuno. Naga biru sangat sulit dijinakkan bahkan oleh pemanggilnya,"
"Apa tidak berbahaya? Bagaimana kalau naga biru mengamuk dan membakar istana?"
Raja berbalik tak acuh, tak mendengar ocehan. Bergegas mendekat, mengusap pelan punggung naga yang akan ditunggangi.
"Jangan sembarangan menyentuhku." tegur suara yang entah dari mana asalnya,
"Hh?!" Raja tercengang, sekilas menoleh namun tak mendapat reaksi apa pun.
Sepertinya hanya Raja yang bisa mendengar suara tadi. "Apa itu suaramu? Kamu bisa berbicara padaku?"
"Ini hanya telepati, tapi aku juga bisa berbicara dengan kalian semua. Hanya saja tidak kulakukan...sepertinya kamu adalah Raja, aku tidak mau mempermalukanmu."
"Benar kah? Kalau begitu, bisa kah kamu mengantarku ke suatu tempat?" tanya Raja dalam hati,
Tangannya diam, tak berani menyentuh guna menuruti permintaan.
"Baiklah. Aku isinkan kamu duduk, tapi jangan sampai tanganmu menyentuhku."
"Tenang saja. Tidak akan kulakukan..." sahut Raja,
Melangkah mundur sembari menekuk kedua lutut, tubuhnya melompat tinggi hingga beralih duduk ke atas tubuh naga.
Aksinya membuat para siluman terkesima, tanpa tahu penolakan yang naga biru berikan.
"Ingatlah ucapanmu. Awas saja kalau kamu berani menyentuhku...aku takkan segan melemparmu dari atas," ancam Naga biru mulai mengepakkan sayap.
Secepat kilat menghilang, menciptakan badai yang menjatuhkan semua siluman. Mereka menerjang keluar dari pintu lebar lalu melesat ke udara,
"Cepat sekali. Aku takkan bisa menyusul mereka," tubuh Anubis terdiam di tempat.
Melihat tunggangan Raja telah terbang ke atas, melewati badai yang mereda.
"Bagaimana kamu bisa tahu jalannya?" tanya Raja penasaran,
Padahal belum menunjuk arah, tapi sayap itu langsung membawa mereka ke jalan yang benar.
"Mudah saja. Aku membaca pikiranmu yang sedang membayangkan tempat itu,"
"Membaca pikiran? Apa sehebat itu? Aku tidak pernah tahu kalau naga biru bisa membaca pikiran," batin Raja termenung bingung.
"Aku hanya bisa membaca hati pemanggilku. Soal pikiran, itu tergantung seberapa keinginanmu! Sama saja seperti telepati yang kita lakukan sekarang..."
"Tapi aku tidak menyangka, kamu juga jatuh cinta pada manusia."
"A-apa maksudmu?!" sontak Raja dibuat gugup,
"Aku hanya menjemput orang yang bisa membantu kerajaan siluman. Manusia ini punya semacam sihir yang berguna bagi kami,"
"Baiklah. Aku percaya..." ujar Naga menjawab remeh.
"Apa maksudmu dengan juga? Memang sebelum ini ada siluman lain yang jatuh cinta pada manusia?"
"Tentu. Tuanku yang sebelumnya juga jatuh cinta pada manusia..."
"Sayang sekali mereka tak berjodoh. Manusia itu mati mengenaskan karena dibunuh bangsanya sendiri,"
"Tuanmu yang sebelumnya?" batin Raja mengernyitkan alis.
"Selain aku, hanya satu orang yang pernah memanggilmu...yaitu, Raja pertama."
"Jadi Raja pertama mencintai manusia. Kenapa cerita ini tidak ditulis di buku sejarah?"