Keluarga Arini dan Rizky tampak sempurna di mata orang lain – rumah yang nyaman, anak yang cerdas, dan karir yang sukses. Namun di balik itu semua, tekanan kerja dan harapan keluarga membuat Rizky terjerumus dalam hubungan selingkuh dengan Lina, seorang arsitek muda di perusahaannya. Ketika kebenaran terungkap, dunia Arini runtuh berkeping-keping. Novel ini mengikuti perjalanan panjang mereka melalui rasa sakit, penyesalan, dan usaha bersama untuk memulihkan kepercayaan yang hancur, serta menemukan makna cinta yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elrey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEDEKATAN YANG TIDAK TERKONTROL
Seminggu setelah ekspansi proyek dimulai, cuaca di kota mulai memburuk. Hujan deras mengguyur setiap sore hingga malam hari, membuat sebagian pekerjaan di lokasi harus dihentikan sementara.
Rizky dan Lina duduk di dalam kantor lapangan yang kecil namun nyaman, melihat hujan yang deras menyiram lokasi proyek.
Berkas-berkas desain tersebar di atas meja kayu yang sudah lapuk, namun mereka tidak punya mood untuk bekerja lagi.
"Hujan seperti ini memang membuat semua pekerjaan terhenti," ujar Lina dengan suara yang lembut, sambil menatap jendela yang penuh dengan percikan air.
"Tapi kadang saya merasa senang ketika hujan turun – rasanya seperti dunia sedang dibersihkan kembali."
Rizky mengangguk, menyetujui kata-katanya. "Saya juga merasa begitu, Lina. Kadang kita terlalu banyak bekerja dan lupa untuk berhenti sejenak, melihat sekeliling kita." Dia melihat ke arahnya dengan tatapan yang dalam.
"Kamu tahu, sejak kamu bergabung dengan perusahaan ini, banyak hal yang berubah dalam hidup saya."
Lina menoleh padanya, wajahnya sedikit memerah karena hujan yang membuat ruangan menjadi lebih hangat atau karena kata-kata Rizky – dia sendiri tidak tahu.
"Saya juga merasa begitu, Pak Rizky. Bekerja dengan Anda membuat saya merasa bahwa semua usaha saya selama ini tidak sia-sia."
Kata-kata mereka berhenti di situ. Kedua mereka saling melihat, merasakan jarak antara mereka semakin menyempit.
Hujan yang deras di luar membuat ruangan terasa lebih tenang dan intim. Tanpa sadar, tangan Rizky menjangkau wajah Lina yang lembut, menyeka tetesan air yang menempel di pipinya.
"Lina..." bisik Rizky dengan suara yang penuh emosi.
Wanita muda itu tidak berkata apa-apa, hanya menutup matanya dan merasakan sentuhan hangat dari tangan Rizky.
Dalam detik itu, semua alasan dan pertimbangan rasional hilang begitu saja.
Rizky menarik wajahnya lebih dekat, dan bibir mereka bertemu dalam ciuman yang panjang dan penuh emosi – sebuah ciuman yang mengakhiri semua batasan dan memulai sesuatu yang tidak boleh terjadi.
Ketika mereka akhirnya melepaskan diri, kedua-duanya merasa terkejut dengan apa yang baru saja terjadi.
Lina menarik diri sedikit, wajahnya penuh dengan rasa bersalah dan kekaguman yang bercampur.
"Maafkan saya, Pak Rizky. Saya tidak seharusnya..."
"Tidak, Lina. Jangan salahkan dirimu." Rizky mengambil tangannya dengan lembut.
"Saya juga merasa hal yang sama. Ini bukan kesalahanmu saja."
Namun dalam hati mereka, mereka tahu bahwa apa yang mereka lakukan adalah salah.
Rizky memiliki istri dan anak yang dicintainya, sementara Lina menjadi orang yang merusak kebahagiaan keluarga orang lain.
Tapi godaan yang mereka rasakan begitu kuat hingga membuat mereka terlupa akan segalanya.
Hujan akhirnya reda menjelang malam. Rizky mengantar Lina pulang dengan mobilnya, namun kedua-duanya tidak berkata banyak selama perjalanan.
Ketika mereka sampai di rumah kontrakan Lina, dia berbalik dan melihat wajah Rizky dengan ekspresi yang penuh dengan emosi yang kompleks.
"Kita tidak boleh melakukan ini lagi, Pak Rizky," ujar Lina dengan suara yang sedikit bergetar.
"Saya tidak ingin membuat Anda menjadi orang yang tidak baik."
Rizky mengangguk dengan hati yang berat. "Kamu benar, Lina. Kita harus berhenti di sini. Saya memiliki keluarga yang harus saya jaga."
Namun ketika Lina turun dari mobil dan mulai berjalan menjauh, Rizky merasa seperti ada bagian dirinya yang hilang.
Dia ingin mengejarnya, mengatakan bahwa dia tidak bisa hidup tanpa dia – tapi suara hati yang lebih bijak menghentikannya.
Dia mengemudi pulang dengan hati yang penuh dengan perasaan bercampur aduk.
Ketika dia sampai di rumah, sudah hampir jam 23.00 malam. Arini masih terjaga dan sedang duduk di ruang tamu dengan membawa buku catatan. Wajahnya tampak lelah namun tetap menunggu kehadiran suaminya.
"Kamu pulang sangat larut lagi," ujar Arini tanpa melihat ke arahnya.
"Saya sudah menghubungi sekolah Tara. Acara hari ibu akan dimulai pukul 09.00 besok pagi. Saya sudah menyuruh Pak Sudirman untuk mengantar kita jika kamu tidak bisa datang."
Rizky merasa rasa bersalah menyelimuti dirinya. Dia tahu bahwa dia sudah melakukan kesalahan yang tidak bisa dimaafkan, dan sekarang dia bahkan tidak bisa memenuhi janji kecil untuk anaknya.
"Sayang, saya minta maaf. Saya benar-benar ingin datang tapi ada hal penting yang harus saya kerjakan."
Arini akhirnya menatapnya dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca.
"Berapa banyak lagi maaf yang harus kamu ucapkan, Rizky? Berapa banyak lagi acara penting yang harus kita lewati sendirian?"
"Saya akan berusaha untuk lebih baik, sayang. Saya janji."
Namun ketika Arini berdiri dan pergi ke kamar tidur tanpa berkata apa-apa lagi, Rizky tahu bahwa janjinya itu sudah tidak memiliki makna lagi.
Dia telah merusak kepercayaan yang dibangun selama bertahun-tahun dengan satu kesalahan yang tidak bisa diterima.
Di rumahnya sendiri, Lina sedang duduk di lantai kamar dengan menangis dalam diam.
Dia menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi – mengapa dia harus jatuh cinta pada seorang pria yang sudah memiliki keluarga? Mengapa dia harus menjadi orang yang merusak kebahagiaan orang lain?
"Tuhan, maafkan saya," bisiknya sambil menangis.
"Saya tidak ingin menyakiti siapapun, tapi saya tidak bisa mengontrol perasaan saya."
Kedua mereka terjebak dalam perasaan yang tidak bisa dikendalikan dan kesalahan yang tidak bisa diubah.