NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Bocah

Transmigrasi Menjadi Bocah

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Transmigrasi / Romansa Fantasi
Popularitas:35.1k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

Alena Alexandria, sang hacker jenius yang ditakuti dunia bawah tanah, tewas mengenaskan dalam pengejaran maut.

Bukannya menuju keabadian, jiwanya justru terlempar ke dalam tubuh mungil seorang bocah terlantar berusia lima tahun.

​Sialnya, yang menemukan Alena adalah Luca, remaja 17 tahun berhati es, putra dari seorang mafia dari klan Frederick.

​"Jangan bergerak atau aku akan menembakmu," desis Luca dingin sambil menodongkan senjata ke arah bocah itu.

"Ampun, Om. Maafkan Queen," ucapnya, mendongak dengan mata berkaca-kaca.

"Om?"

Dapatkah Alena bertahan hidup sebagai bocah kesayangan di sarang mafia, ataukah Luca akan menyadari bahwa bocah di pelukannya adalah ancaman terbesar yang pernah masuk ke kediaman Frederick?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 31

Awalnya Sean terlihat kaku. Tubuhnya tegang. Tapi, beberapa menit kemudian, tanpa sadar, Sean membiarkan dirinya rileks.

Suara tawa Queen saat adegan lucu terdengar begitu jernih. Lama sekali sejak terakhir kali ia mendengar tawa seperti itu di rumah ini.

Sean menatap layar, tetapi pikirannya melayang.

Mungkin kehangatan bukan sesuatu yang dibeli dengan kekuasaan. Bukan pula hasil dari ambisi atau balas dendam. Mungkin kehangatan lahir dari kebersamaan sederhana, makan bersama, mendengarkan cerita, duduk berdampingan tanpa ancaman.

"Paman," panggil Queen pelan saat film hampir selesai.

"Apalagi?"

"Sudah mulai hangat belum?"

Sean menunduk menatap gadis kecil yang setengah mengantuk itu. Ia tidak menjawab dengan kata-kata.

Sebagai gantinya, ia merangkul Queen lebih dekat. "Sedikit lagi," jawabnya.

"Astaga, kenapa dia malah merangkulku sih?" batin Queen ketar ketir.

*

*

Sementara itu, di tempat lain, Luca sama sekali tidak mendapatkan akses apa pun tentang Queen. Tidak ada kabar. Tidak ada pesan. Bahkan sekadar informasi singkat pun tidak sampai padanya. Sean benar-benar menutup semua jalur.

Malam terasa lebih panjang dari biasanya bagi Luca.

Remaja tujuh belas tahun itu berbaring di tempat tidurnya dengan mata terbuka lebar menatap langit-langit kamar.

Lampu sudah dimatikan sejak satu jam lalu, tetapi pikirannya tak mau ikut terlelap. Setiap kali ia memejamkan mata, yang muncul justru wajah Queen saat marah, sedih, atau tersenyum kecil seperti biasanya.

Bagaimana keadaannya sekarang? Apakah ia menangis? Apakah ia sendirian?

Pertanyaan-pertanyaan itu berputar tanpa henti dibenak Luca.

Luca membalikkan tubuhnya ke sisi lain ranjang, lalu kembali telentang. Ia mendesah frustrasi. Perutnya terasa kosong, tetapi ia tidak nafsu makan sejak sore tadi. Makan malam yang disiapkan di meja bahkan nyaris tak tersentuh.

Ia tampak seperti remaja patah hati yang merindukan kekasihnya. Padahal, bagi Luca, perasaannya terhadap Queen lebih rumit dari sekadar cinta remaja. Queen adalah tanggung jawab, sahabat, dan alasan ia merasa dibutuhkan.

Tok! Tok!

Ketukan pelan terdengar di pintu.

"Luca, boleh Mama masuk?" suara lembut Ava terdengar dari luar.

"Masuk saja, Ma," jawabnya pelan.

Pintu terbuka. Ava masuk dengan wajah penuh kekhawatiran. Ia sudah memperhatikan perubahan sikap putranya sejak siang tadi. Biasanya Luca ceria dan aktif, tetapi kini ia seperti kehilangan separuh energinya.

Ava duduk di tepi ranjang.

"Kau belum tidur?" tanyanya lembut.

Luca menggeleng kecil. "Belum ngantuk."

Ava tersenyum tipis. "Atau tidak bisa tidur?"

Luca terdiam. Ia tidak pandai berbohong pada ibunya.

"Aku hanya sedang khawatir." akhirnya ia mengaku.

Ava mengusap rambut putranya dengan lembut. "Tentang Queen?"

Luca mengangguk. "Sean tidak mengizinkan aku bertemu dengannya. Bahkan Bobby tidak bisa mendapatkan informasi apa pun. Aku tidak tahu dia baik-baik saja atau tidak."

Ava menghela napas pelan. Ia tahu hubungan Luca dan Queen begitu dekat. Sejak pertemuan mereka malam itu, Luca selalu berusaha ada di sisinya.

"Kau percaya pada Queen?" tanya Ava.

"Tentu saja."

"Kalau begitu, percayalah dia cukup kuat."

Luca memejamkan mata sejenak. "Dia memang kuat, tapi dia tetap anak kecil, Ma!"

Ava bisa melihat betapa dalam kepedulian putranya. Bukan sekadar rasa suka biasa. Ada protektif, ada ketulusan yang jarang dimiliki remaja seusianya.

"Kau tidak makan malam," ujar Ava sengaja mengalihkan pembicaraan.

"Tidak lapar."

"Kau tumbuh tinggi, Luca. Tubuhmu tetap butuh makan meski hatimu sedang tidak enak."

Luca tersenyum tipis mendengar kalimat itu.

Di luar kamar, Bobby berdiri tak jauh dari pintu yang sedikit terbuka. Asisten pribadi keluarga itu ikut merasa kasihan melihat tuan mudanya.

Sejak sore, Luca hanya duduk termenung di ruang kerja kecilnya, mencoba menghubungi berbagai kontak yang mungkin bisa memberinya kabar tentang Queen. Tapi, semua nihil.

Bobby akhirnya mengetuk pelan sebelum masuk.

"Maaf mengganggu, Nyonya, Tuan Muda," ucapnya sopan.

Ava menoleh. "Ada apa, Bobby?"

"Saya hanya ingin melaporkan, saya sudah mencoba menghubungi beberapa orang di rumah tuan Sean. Tapi benar, akses benar-benar dibatasi."

Luca langsung bangkit setengah duduk. "Tidak ada celah sama sekali?"

"Untuk saat ini belum ada, Luc."

Kekecewaan jelas terlihat di wajah Luca mendengar ucapan Bobby. Remaja itu mengusap wajahnya kasar.

"Aku merasa seperti orang bodoh," gumamnya.

"Kenapa berkata begitu?" Ava bertanya.

"Karena aku tidak bisa melakukan apa pun. Dia mungkin butuh aku, tapi aku bahkan tidak tahu keadaannya."

Bobby menatap Luca dengan iba. Ia sudah mengenal anak itu sejak kecil. Jarang sekali melihat Luca terlihat begitu tak berdaya.

"Luc, terkadang menunggu juga bagian dari berjuang," ucap Bobby dengan hati-hati. Taku menyinggung perasan Luca.

"Selama ini kau selalu melindungi Queen. Mungkin sekarang saatnya memberi ruang agar dia belajar berdiri di tempatnya sendiri," lanjut Bobby.

Luca terdiam. Kata-kata itu memang terdengar masuk akal, meski sulit diterima.

"Aku hanya takut dia merasa sendirian," bisiknya.

"Kalau hatimu tulus, perasaan itu akan sampai padanya. Tidak semua koneksi harus lewat telepon atau pesan," ucap Ava menggenggam tangan Luca.

Luca tersenyum kecil. "Mama terdengar seperti sedang mengutip sebuah kalimat novel."

"Mungkin karena kau terlihat seperti tokoh utama yang patah hati," balas Ava sembari tersenyum.

"Aku tidak patah hati. Aku hanya merindukannya!" bantah Luca.

Kejujuran Luca seolah menggantung di udara. Ava berdiri lalu mengecup kening putranya.

"Cobalah tidur. Besok kita pikirkan langkah berikutnya dengan kepala yang lebih jernih."

"Aku akan terus mencari informasi, Luc," sahut Bobby.

Setelah mereka keluar, kamar kembali hening. Luca memandangi ponselnya yang tetap kosong dari notifikasi. Ia menarik napas panjang, lalu akhirnya memejamkan mata.

"Apa kau tidak merindukanku sama sekali?" lirihnya.

1
partini
luca dah bangun dari semedi udah dapat Ilham 🤣🤣🤣
Tiara Bella
wow Luca KY anak remaja lg LG jatuh cinta ya.....makasih Thor up nya triple.....
Ipehmom Rianrafa
lnjuut 💪💪💪
Maria Hedwig Roning
thnks thor ceritanya sangat menarik...
ᴊᴜʏ -ᴋɪᴍ: Lanjut thor, seru and semangat ya💪
total 2 replies
Murni Dewita
double up donk thor
Senja: Heheh, udah triple up hari ini kak🤭 besok ya up seperti biasa 3bab
total 1 replies
partini
good
partini
luca lagi semedi kah Thor
Senja: Hooohh
total 1 replies
Ipehmom Rianrafa
lnjuut 💪💪💪
Senja: Siappp
total 1 replies
Ita Xiaomi
Aku jg mau kue gosongnya 😁
Ita Xiaomi
🤣🤣🤣.
Evi Marena
wkwkwkwwkk
ternyata Sean juga manusia biasa😌
Ipehmom Rianrafa
lnjuut 💪💪💪
Kinara Widya
atau jangan2 Edgar dulu yg mencelakai orang tua queen....bakal ribet ni klo benar Edgar...
Ita Xiaomi: Berharap bukan Edgar. Kasihan nanti Sean, Queen ama Luca.
total 1 replies
Tiara Bella
wow Sean sangat mengharukan ...
Ipehmom Rianrafa
lnjuut 💪💪💪
tinie
mulut naga katanya🥺😁😄
Ita Xiaomi
Sama aja kalian berdua tuh kan sama-sama baru belajar tentang kehangatan 😁.
Ita Xiaomi
Sabar Luca. Ini Sean lg belajar menjd hangat😁. Ndak boleh panas.
Ita Xiaomi
Msh mencerna😁
Senja: Wkwkw😭
total 1 replies
Tiara Bella
wah Sean ngerjain Luca ternyata bisa Luca LBH sabar lg
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!