Meski sudah menikah, Nabila Rasmini tetap menjadi aktris ternama. Filmnya laku dan dia punya banyak fans. Namun tak ada yang tahu kalau Nabila ternyata memiliki suami toxic. Semuanya tambah rumit saat Nabila syuting film bersama aktor muda naik daun, Nathan Oktaviyan.
Syuting film dilakukan di Berlin selama satu bulan. Maka selama itu cinta terlarang Nabila dan Nathan terjalin. Adegan ciuman panas mereka menjadi alasan tumbuhnya api-api cinta yang menggebu.
"Semua orang bisa merasakan cemistry kita di depan kamera. Aku yakin kau pasti juga merasakannya." Nathan.
"Nath! Kau punya tunangan, dan aku punya suami. Ini salah!" Nabila.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8 - Sulit Untuk Percaya
"Ma-mas... Aku... Kau sedang rapat?" Nabila tergagap. Dia yang awalnya ingin mempermalukan, tapi malah dipermalukan sekarang.
"Who is she?" tanya salah satu lelaki berkulit putih dengan rambut pirang.
"Tunggu sebentar, Tuan Andrew. Biar aku yang mengurusnya," ujar Lukman dengan bahasa Inggrisnya. Dia segera menarik Nabila dan keluar dari kamar.
Lukman menyeret Nabila berjalan melewati koridor hotel sampai akhirnya tiba di balkon. Di sana dia hempaskan tangan Nabila dengan kasar.
"Apa yang kau lakukan, hah?! KATAKAN PADAKU!" bentak Lukman.
"A-aku mendapat kabar kalau kau pergi ke hotel bersama Olive. Aku kira kalian..." Nabila menunduk sambil mengusap lengannya karena takut. Dia tak berani menatap Lukman yang sedang murka.
Plak!
Sebuah tamparan mendarat ke pipi Nabila. Reflek perempuan tersebut memegangi pipinya yang terasa perih. Barulah Nabila berani mendongak dan menatap Lukman. Matanya berkaca-kaca. Karena untuk pertama kalinya Lukman menamparnya begitu.
"Itu sebagai peringatan untukmu! Tidak seharusnya kau datang begitu dan menghancurkan bisnisku! Orang-orang yang rapat bersamaku tadi itu klien penting!" omel Lukman.
Air mata Nabila menetes. "Pantaskah aku ditampar hanya karena melakukan itu. Setidaknya kau jelaskan dahulu kenapa kau rapat di hotel. Kenapa harus di kamar? Bagaimana bisa seorang istri sepertiku tidak curiga?" balasnya sambil terisak. Angin sore kala itu berembus menerpa rambut panjangnya yang tergerai. Meskipun begitu, segarnya hembusan angin, tak mampu mengobati hatinya yang terasa remuk. Bukan karena Lukman selingkuh, akan tetapi karena lelaki itu tega menamparnya.
"Kau membuang waktuku! Cepat pulang sana!" bukannya menjawab, Lukman malah mengusir Nabila. Dia berlalu begitu saja tanpa memberi penjelasan. Lukman kembali ke kamar 304 untuk melakukan rapat dengan kliennya.
Tanpa Nabila sadari, sejak tadi Nathan memperhatikan dari balik dinding. Dia bahkan melihat Lukman menampar dan membentak Nabila.
Nathan ingin sekali menghampiri Nabila. Menenangkannya, dan menanyakan keadaan perempuan itu. Tetapi dia memilih tidak melakukannya karena mengingat perkataan Nabila sebelumnya. Perempuan itu sempat menegaskan agar Nathan tidak ikut campur dengan urusan pribadinya. Jadi Nathan memilih diam dan kembali ke kamar.
...***...
Semenjak kejadian di hotel Arwana, Nabila jadi lebih sering murung. Apalagi Lukman tidak pernah pulang ke rumah sejak itu. Nabila sendiri tahu, Lukman memang sering begitu saat sedang marah. Bahkan tidak jarang, Nabila yang terpaksa mengalah dan mengaku salah walau dirinya sebenarnya tidak salah.
Namun sekarang, Nabila merasa lelah. Mungkin dia butuh waktu untuk menemui suaminya lagi. Sampai hari keberangkatan ke Berlin pun tiba. Nabila memutuskan untuk fokus dengan proyek filmnya.
Kini Nabila baru memasuki pesawat. Dia tentu memilih kursi khusus untuk penumpang bisnis. Nabila duduk sambil menghela nafasnya. Tapi dia kaget saat melihat orang yang duduk di sebelahnya. Sosok tidak asing yang menatapnya dengan kacamata hitam. Lelaki itu tersenyum dan menyapa, "Hai, Kakak Cantik!"
"Astaga..." Nabila menggelengkan kepala sambil memutar bola mata jengah. Sepertinya dia tidak akan bisa tenang selama dalam perjalanannya menuju Jerman.
Nathan terkekeh. "Kenapa? Kau kecewa kalau aku yang duduk di sebelahmu?" tanyanya.
"Bukan begitu. Aku hanya tidak menyangka. Tunggu dulu, apa ini memang rencanamu? Kau ingin duduk di sebelahku demi bisa mendalami peranmu sebagai playboy nakal?" timpal Nabila.
"Yup! Aku senang Kakak bisa menebaknya tanpa aku yang harus bertanya duluan," sahut Nathan. Dia membuka kacamatanya dan mengerlingkan mata.
Nabila terperangah, lalu memecahkan tawa. "Gayamu itu norak sekali tahu nggak!" cibirnya.
"Aku tahu. Tapi setidaknya aku berhasil membuatmu tertawa," komentar Nathan.
billa dipenjara tidak papa menyelamatkan semua korban lukman gak akan lama nanti para saksi akan muncul sendiri.
modelan lukman kalau gak dead gak akan berhenti