Kayla dikenal sebagai Queen, seorang kupu-kupu malam yang terkenal akan kecantikan wajahnya dan bermata indah.
Suatu hari Kayla menghindar motor yang tiba-tiba muncul dari arah samping, sehingga mengalami kecelakaan dan koma. Dalam alam bawah sadarnya, Kayla melihat mendiang kedua orang tuanya sedang disiksa di dalam neraka, begitu juga dengan ketiga adik kesayangannya. Begitu sadar dari koma, Kayla berjanji akan bertaubat.
Ashabi, orang yang menyebabkan Kayla kecelakaan, mendukung perubahannya. Dia menebus pembebasan Kayla dari Mami Rose, sebanyak 100 juta.
Ketika Kayla diajak ke rumah Ashabi, dia melihat Dalfa, pria yang merudapaksa dirinya saat masih remaja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Kayla mengepalkan tangannya. Sungguh dia sangat marah.
“Dulu semua harta ayahnya Nayla kalian ambil. Rumah ini, pabrik, semuanya! Tidak ada yang tersisa untuk kami.”
Bibi Dewi mendengus. “Itu sudah urusan hukum. Jangan bawa-bawa masa lalu.”
Air mata mulai menggenang di mata Kayla. “Tolong, Nayla masih kecil. Dia butuh pengobatan.”
Om Rafi tertawa sinis. “Kalau tidak sanggup mengurus adik, buang saja ke panti asuhan!”
Kalimat itu seperti tamparan keras di wajah Kayla.
Dadanya naik turun, napasnya memburu.
“Kalian bisa hidup enak di rumah ini karena kerja keras Papa Amran, dulu! Tapi sekarang, ketika anaknya butuh pertolongan, kalian menutup pintu?”
Bibi Dewi memutar bola matanya. “Pergi dari sini sebelum kami usir!”
“BRAK!” Pintu dibanting di depan wajah Kayla.
Tubuh Kayla gemetar. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. Ia berdiri lama di depan gerbang itu, merasa kecil, hina, dan tak berdaya.
“Ya Allah, aku percaya Engkau akan memberikan jalan,” batin Kayla. Dia membalikan badan, menjauh dari rumah yang dahulu pernah ditempatinya.
Dalam perjalanan pulang, langkah Kayla terasa berat. Matahari terik menyengat, tetapi tubuhnya terasa dingin dari dalam. Tiba-tiba, sebuah mobil berhenti di sampingnya.
“Kayla?”
Kayla menoleh. Bola matanya membulat, dia terkejut bertemu dengan orang yang sudah lama tidak bertemu.
Seorang pria paruh baya keluar dari mobil—berkacamata, berpenampilan rapi, wajahnya ramah.
“Pak Zaenal…?” lirih Kayla, hampir tak percaya.
Pak Zaenal tersenyum hangat. “Rupanya kamu masih mengenali Bapak. Kamu sudah besar sekarang.”
Kayla mengangguk pelan. “Aku masih ingat, sama Bapak, kok. Karena Pak Zaenal adalah sahabat baik almarhum papaku.”
Senyum Pak Zaenal memudar saat melihat wajah Kayla yang sembab. “Ada apa, Kayla? Kenapa kamu terlihat seperti ini?”
Kayla menunduk. Ia sempat ragu, tetapi akhirnya semuanya tumpah. Dia bercerita tentang Nayla, tentang penyakitnya, tentang penolakan keluarga Pak Amran, tentang kebingungannya saat ini.
Pak Zaenal mendengarkan dengan wajah serius, sesekali menghela napas panjang. Setelah Kayla selesai bercerita, pria itu menatapnya lembut.
“Kayla, kamu ikut sama Bapak.”
“Mau ke mana, Pak?” tanya Kayla bingung.
“Ke perusahaan Bapak,” jawab Pak Zaenal.
Di kantor megah milik Pak Zaenal, Kayla duduk di sofa empuk, merasa kecil di tengah ruangan luas yang beraroma kayu mahal.
Pak Zaenal duduk di hadapannya. “Kayla, Bapak tidak akan tinggal diam melihat anak sahabat saya menderita,” katanya mantap.
Kayla menatapnya, jantungnya berdegup cepat.
“Bapak akan menanggung biaya pengobatan Nayla sampai dia sembuh.”
Air mata Kayla langsung jatuh. “Pak, saya tidak bisa menerima sebesar itu—”
Pak Zaenal mengangkat tangan, memotongnya dengan lembut. “Dengarkan dulu.”
Pak Zaenal melanjutkan, suaranya tenang. “Kamu masih muda, Kayla. Masa depanmu masih panjang. Bapak ingin kamu bekerja di perusahaan ini. Bukan sebagai pegawai rendahan, tapi sebagai karyawan yang akan Bapak didik.”
Kayla terdiam, bingung.
“Selain itu, Bapak ingin kamu sekolah lagi. Tamatkan SMA-mu, lalu lanjut kuliah. Perusahaan Bapak setiap tahun punya program beasiswa untuk anak-anak kurang mampu.”
Mata Kayla membelalak. “Aku … sekolah lagi, Pak?” bisiknya tak percaya.
Pak Zaenal mengangguk. “Kamu pintar, Bapak yakin. Dan sebagai gantinya, setelah lulus, kamu bekerja di perusahaan saya sesuai bidang yang kamu ambil. Itu adil, bukan?”
Kayla menutup mulutnya dengan tangan gemetar. Air matanya mengalir deras.
“Pak, aku tidak tahu harus bilang apa,” ucap Kayla suaranya tercekat.
Pak Zaenal tersenyum hangat. “Kamu tidak perlu bilang apa-apa. Hidupmu belum selesai, Kayla. Justru baru akan dimulai.”
Kayla menunduk, bahunya bergetar menahan tangis. “Terima kasih, Pak.”
***
Pagi itu udara terasa lebih berat dari biasanya di rumah Pak Ramlan. Kayla berdiri di dapur, memegang kain lap yang sudah lama ia remas tanpa sadar. Suara air keran yang menetes pelan ke wastafel seperti berirama dengan degup jantungnya yang tidak tenang.
Kayla sudah menimbang keputusan ini berhari-hari. Semalaman ia tidak tidur, bolak-balik memandangi wajah Nayla yang terbaring lemah di rumah sakit. Setiap tarikan napas adiknya terasa seperti belati yang menusuk hatinya. Akhirnya, Kayla menarik napas panjang, mengeringkan tangannya, lalu melangkah menuju ruang tengah.
Bu Aisyah sedang duduk di sofa, membaca Al-Qur’an dengan suara lirih. Begitu melihat Kayla mendekat, ia menutup mushafnya dan tersenyum lembut.
“Ada apa, Kayla? Dari tadi kamu kelihatan gelisah.”
Kayla menunduk, jemarinya saling meremas ujung bajunya. “Bu, ada yang ingin saya sampaikan.” Nada suaranya pelan, tetapi sarat kegugupan.
Bu Aisyah meletakkan Al-Qur’an di atas meja. “Sini, duduk dulu.”
Kayla duduk di hadapannya, tubuhnya kaku. “Bu, aku ingin minta izin untuk berhenti bekerja di sini.”
Suasana mendadak hening. Senyum Bu Aisyah perlahan memudar.
“Berhenti?” ulang wanita paruh baya itu pelan, tetapi matanya penuh keterkejutan.
Kayla mengangguk, menahan air mata yang mulai menggenang. “Iya, Bu. Bukan karena saya tidak betah, tapi Nayla sedang sakit parah. Saya tidak bisa fokus bekerja jika meninggalkannya sendirian di rumah.”
Bu Aisyah terdiam cukup lama. Wajahnya berubah lembut, lalu matanya berkaca-kaca.
“Oh, Kayla,” desah Bu Aisyah lirih. Ia meraih tangan Kayla, menggenggamnya hangat. “Kalau memang itu keputusanmu, Ibu tidak akan menghalangi. Nayla lebih membutuhkanmu sekarang.”
Air mata Kayla akhirnya jatuh. “Terima kasih, Bu. Maaf sudah merepotkan selama ini.”
Bu Aisyah mengusap punggung tangannya penuh kasih. “Kamu tidak pernah merepotkan, Kayla. Justru kamu sudah banyak membantu kami.”
Kayla dan Bu Aisyah berpelukan. Walau baru bekerja selama tiga bulan, mereka sudah merasa sangat dekat.
Kayla belum memberi tahu Ashabi tentang keputusannya ini. Dia berharap pria itu mendukung keputusannya.
aduh gimna ini
dan ahh masih bikin bgg
trus duit dr mna dia apa g di lertanyakan sm org tuanya ya
nnti ada wktunya itu klo sudah autornya berkehendak 🙈🙈🙈
kemasa saja ini orang knp baru muncul aja
trus se enak nya ya
ini baru permulaan ya