NovelToon NovelToon
Luka Sang Pengganti

Luka Sang Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Pengganti / Dosen
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Zahra mencintai Akhsan, kakak kandungnya yang juga menjadi dosen di kampusnya. Menyadari perasaan tak wajar adiknya, Akhsan membangun benteng tinggi dan memilih untuk meminang Gea guna memutus harapan Zahra.
Namun, tragedi berdarah terjadi tepat malam hari saat mereka akan menikah. Kecelakaan hebat merenggut nyawa Gea dan mengungkap fakta mengejutkan—Akhsan ternyata bukan anak kandung Papa Hermawan. Demi menjaga nama baik keluarga dari undangan yang telah tersebar, Papa Hermawan mengambil keputusan ekstrem: Zahra harus menggantikan posisi Gea di pelaminan.
Pernikahan yang dahulu menjadi dambaannya kini berubah menjadi mimpi buruk bagi Zahra. Akhsan yang hancur karena kehilangan Gea berubah menjadi sosok yang dingin dan kejam. Ia menuduh Zahra sebagai dalang di balik kecelakaan maut tersebut, menjebak Zahra dalam pernikahan tanpa cinta yang penuh dengan kebencian dan air mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Suasana di dalam ruang perawatan VIP itu terasa begitu mencekam, jauh lebih dingin daripada hembusan AC yang menderu halus.

Di satu sisi, Akhsan terbaring kaku dengan berbagai selang yang menopang hidupnya.

Di sisi lain, Mama duduk di kursi roda dengan pandangan kosong, seolah jiwanya telah tercabut paksa dari raganya.

"Ma..." panggil Zahra lirih, mendekat dan berlutut di samping ibunya.

Mama tidak menoleh. Matanya yang sembap terus menatap wajah pucat Akhsan.

Bibirnya bergetar hebat saat menggumamkan kalimat yang sedari tadi menghantuinya.

"Dia siapa, Zahra? Kalau dia bukan anakku, lalu di mana anakku? Apa, papa kamu berselingkuh dengan wanita lain?"

Zahra menggenggam tangan Mama yang sedingin es.

"Ma, Papa juga sama terkejutnya ketika mendengar penjelasan dokter tadi. Papa sedang di rumah Kak Gea sekarang, mengurus pemakaman. Kita harus tenang, Ma."

"Tenang?" Mama tertawa getir, sebuah suara yang terdengar menyayat hati.

"Aku menyusuinya, Zahra. Aku mengganti popoknya, aku menangis saat dia sakit. Selama ini aku mengira dia adalah darah dagingku yang paling membanggakan. Tapi sekarang? Bahkan darah di tubuhnya pun menolak keberadaanku."

Zahra terdiam, ingin menghibur, namun ia sendiri sedang memikul beban yang tak kalah berat.

Keputusan ekstrem Papa untuk menjadikannya pengantin pengganti terasa seperti lonceng kematian bagi nuraninya.

Lampu neon di ruang ICU berkedip samar, seolah ikut merasakan ketegangan yang menggantung di udara.

Akhsan mengerang lirih. Kelopak matanya bergerak perlahan, terasa sangat berat karena pengaruh obat bius yang masih tersisa.

Saat matanya terbuka sempurna, hal pertama yang ia tangkap adalah langit-langit putih yang asing dan aroma antiseptik yang menyengat.

Rasa sakit yang luar biasa menghantam kepalanya, namun sebuah nama langsung melesat di pikirannya seperti kilat.

"M-mama..." suaranya serak, nyaris tak terdengar di balik masker oksigen.

Zahra segera berdiri dan mendekat ke sisi ranjang, sementara Mama tetap bergeming di kursi rodanya.

Mata Mama yang biasanya memancarkan kasih sayang kini meredup, menatap Akhsan dengan tatapan asing sebuah luka baru akibat fakta golongan darah yang tak sinkron.

"Mas Akhsan sudah bangun?" bisik Zahra. Suaranya be

Akhsan tidak menjawab Zahra. Tatapannya liar menyapu ruangan, mencari sosok yang terakhir kali ia lihat bersimbah darah di sampingnya.

Ia mencoba menggerakkan tangannya yang kaku, meraba sisi ranjang seolah berharap ada seseorang di sana.

"Di mana, Gea?" tanya Akhsan parau. Matanya beralih ke arah Mama, memohon jawaban.

"Ma, Gea mana? Dia tadi bersamaku. Kita mau ambil cincin..."

Mama tetap diam, tangannya mencengkeram erat pinggiran kursi roda hingga buku-buku jarinya memutih.

Kebenaran bahwa pria yang memanggilnya "Mama" ini bukanlah darah dagingnya membuat lidahnya kelu.

Ia merasa dikhianati oleh takdir yang selama ini hadir.

Akhsan mulai gelisah. Napasnya memburu, memicu bunyi monitor jantung yang semakin cepat.

Pip... pip... pip...

"Zahra, jawab Mas! Mana Gea?!" bentak Akhsan meski suaranya masih lemah.

Ia mencoba bangkit, namun rasa sakit di dadanya memaksanya kembali terbaring.

Zahra menutup mulutnya dengan tangan, berusaha menahan isak tangis yang meledak.

Ia menatap Papanya yang baru saja melangkah masuk ke ruangan dengan wajah yang sangat gelap.

"Gea sudah tenang, Akhsan," suara Papa Hermawan menggelegar dingin, memutus harapan yang tersisa di mata Akhsan.

"Kecelakaan itu merenggut nyawanya di tempat. Dia tidak tertolong."

Hening. Detik itu juga, dunia Akhsan seolah berhenti berputar.

"Nggak mungkin..." Akhsan menggeleng lemah.

Air mata mengalir dari sudut matanya, membasahi bantal rumah sakit yang kaku.

"Ini mimpi, kan? Pa, katakan kalau ini cuma mimpi!"

Papa Hermawan mendekat, berdiri tepat di samping ranjang dengan kewibawaan yang menindas.

"Ini kenyataan. Dan ada satu lagi kenyataan yang harus kamu tahu sebelum besok pagi."

"Pa, jangan sekarang!" sela Zahra panik, ia tahu arah pembicaraan Papanya.

Papa tidak peduli dan menatap Akhsan dengan tatapan tajam.

"Besok adalah hari pernikahanmu. Undangan sudah menyebar ke seluruh kolega bisnis Papa. Papa tidak akan membiarkan keluarga kita dipermalukan atau menjadi bahan gunjingan karena pengantin wanitanya tidak ada."

Akhsan menatap Papanya dengan tatapan kosong.

"Apa maksud Papa? Gea sudah meninggal! Pernikahan apa yang Papa bicarakan?!"

"Pernikahanmu dengan Zahra," ucap Papa tegas.

"Besok pagi, Zahra yang akan duduk di pelaminan menggantikan Gea. Dan mulai detik ini, kamu harus tahu satu hal, Akhsan. Kamu bukan anak kandungku. Kamu bukan kakak Zahra. Jadi, tidak ada alasan bagimu untuk menolak."

Bagai disambar petir di siang bolong, Akhsan terpaku.

Ia menatap Papa, lalu beralih ke Mama yang masih bungkam, dan terakhir ke arah Zahra yang menunduk dalam tangis.

Hatinya yang hancur karena kematian Gea kini hancur berkeping-keping untuk kedua kalinya oleh pengkhianatan identitas.

Akhsan tertawa getir di tengah rasa sakitnya. Tatapannya yang semula penuh kasih kepada adiknya, kini berubah menjadi sorot penuh kebencian dan kemarahan yang amat dalam.

Ia menatap Zahra seolah gadis itu adalah monster yang merampas segalanya.

"Jadi ini rencanamu, Zahra?" desis Akhsan dingin, suaranya mengandung racun yang menyayat hati Zahra.

"Kamu membunuh Gea agar bisa menggantikan posisinya? Kamu, benar-benar iblis."

Zahra mendongak, terperangah. "Mas, demi Allah, bukan begitu..."

"Diam!" bentak Akhsan.

"Mulai hari ini, jangan pernah panggil aku Mas lagi. Jika pernikahan ini yang kalian mau untuk menjaga 'nama baik', akan aku lakukan. Tapi jangan harap kamu akan menemukan surga di sana, Zahra."

Zahra bersimpuh di kaki Papa Hermawan. Lantai rumah sakit yang dingin terasa membeku di bawah lututnya, namun tak sedingin tatapan pria yang selama ini ia hormati sebagai pahlawan itu.

"Pa, Zahra mohon. Zahra tidak bisa menikah dengan Mas Akhsan," isaknya pecah.

Bahunya terguncang hebat. "Bukan seperti ini yang Zahra mau. Menikah di atas duka Kak Gea itu kejam, Pa. Menikah dengan Mas Akhsan yang membenci Zahra itu bunuh diri!"

Papa Hermawan tidak bergeming. Ia melepaskan tangan Zahra dari kakinya dengan gerakan perlahan namun penuh penekanan.

"Lalu, apa pilihan kita, Zahra? Membatalkan pernikahan saat gubernur dan rekan bisnis internasional Papa sudah dalam perjalanan ke sini? Membiarkan mereka tahu bahwa calon menantu Papa tewas dan putra mahkota keluarga ini ternyata anak pungut?"

"Tapi Mas Akhsan sedang sakit, Pa! Dia hancur!"

"Justru karena itu!" Papa membentak pelan, suaranya merendah namun tajam.

"Hanya pernikahan ini yang bisa membungkam mulut orang-orang tentang asal-usulnya. Kalau dia menikah denganmu, orang akan menganggap dia tetap bagian dari darah Hermawan. Jika tidak, rahasia ini akan meledak dan menghancurkan bisnis yang Papa bangun puluhan tahun. Apa kamu mau melihat Papa dipenjara karena pemalsuan dokumen negara selama puluhan tahun?"

Zahra terdiam saat mendengar sebuah ancaman itu terlalu berat untuk dipikulnya sendiri.,

"Lakukan saja, Zahra," suara Akhsan terdengar parau, memotong keheningan.

"Menikahlah denganku. Bukankah ini yang kamu tulis di buku diary yang diam-diam kamu sembunyikan? Bukankah ini doa yang kamu panjatkan setiap malam di balik pintu kamarku?"

Zahra menggeleng lemah. "Tidak seperti ini, Mas. Tidak dengan cara ini."

"Panggil aku Akhsan!" bentak Akhsan, hingga monitor jantung di sampingnya berbunyi nyaring.

"Jangan gunakan sebutan itu untuk menutupi obsesi busukmu. Jika kamu ingin menjadi Nyonya Akhsan, silakan. Tapi ingat satu hal, di ranjang kita nanti, hanya akan ada bayangan mayat Gea yang berdiri di antara kita."

Malam itu berlalu seperti mimpi buruk yang enggan usai. Zahra menghabiskan sisa malam di mushala rumah sakit, bersujud hingga keningnya terasa kaku, namun tak ada ketenangan yang singgah.

Di ruang VIP, perias pengantin yang dipesan Papa datang dengan wajah serba salah.

Mereka harus merias seorang wanita yang matanya bengkak dan jiwanya mati.

1
Fatma
jangan bilang nanti aruna malah balikan sama akhsan, suaminya gmn?
Masha 235
lha terus christian kepiye aruna ...mau diapain ..
my name is pho: sabar kak 🤭
total 1 replies
Piyah
,masa begitu, arunany
Dwi Winarni Wina
balas dendam siap dimulai tunggu kehancuranmu akhsan...
Dwi Winarni Wina
siulet bulu sisil kayak cacing kepanasan🤣🤭
Dwi Winarni Wina
Akhsan merindukan zahra pret tega sekali menyiksa zahra, siap2 aruna cristian akan balas dendam🤣
Dwi Winarni Wina
Zahra akan ganti identitas dengan barunya, siap2 balas dendam...
Dwi Winarni Wina
Zahra adiknya cristian akan membalas dendam sm keluarga hermawan dan akhsan akan melakukan operasi plastik
Dwi Winarni Wina
Zahra balas dendam telah orang2 yg menyakitinya...
Dwi Winarni Wina
bagus cristian selamatkan zahra dari para iblis itu...
Dwi Winarni Wina
zahra bertahan balas org2 telah menyakitimu, jadi zara yg kuat tanggung jangan jadi zahra yg lemah yg mudah ditindas....
Dwi Winarni Wina
Zahra pergi yg jauh akhsan dan orgtua sendiri aja gak peduli sm kamu, ngapain juga bertahan yg ada dapat siksaan aja
Dwi Winarni Wina
cristian bawa zahra pergi jauh daripada disakiti sm akhsan terus...
Dwi Winarni Wina
muncul ulet bulu kegatelan ini🤣🤭
Dwi Winarni Wina
akhsan gak punya hati apa, menyiksa zahra...
Dwi Winarni Wina
sebaiknya pergi yg jauh aja zahra, daripada diperlakukan kayak tahanan...
Dwi Winarni Wina
kejam sekali akhsan sm zahra, zahra istri kamu perlakukan dengan baik..zahra juga tidak bersalah bukan penyebab kematian gea...
𝑸𝒖𝒊𝒏𝒂
klo akhsan disusui mama'y zahra itu sma aja akhsan & zahra saudara sepersusuan & itu hukum'y haram jika mereka brdua menikah
my name is pho: Zahra bukan anak dari mama Hermawan
total 1 replies
Dwi Winarni Wina
Lagian bukan zahra juga penyebab kematian gea kali, seharusnya sadar akhsan menyalahkan zahra teru...
Dwi Winarni Wina
akhsan kejam bingit menuduh zahra penyebab kematian gea, kecelakaan yg menimpa gea karena takdir...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!