Sasha difitnah hamil oleh adik seorang konglomerat, dan hidupnya hancur dalam semalam. Untuk menutup skandal keluarga, Gio Artha Wijaya dipaksa menikahinya.
Di mata publik, Sasha adalah istri sah pewaris Wijaya. Di dalam rumah itu, ia hanyalah perempuan yang dibeli untuk menjaga reputasi. Gio membencinya. Menganggapnya jebakan.
Sasha membencinya karena telah menjadikan hidupnya alat tawar-menawar. Namun semakin lama mereka terikat dalam pernikahan tanpa cinta itu, Sasha mulai menyadari satu hal yang lebih menakutkan dari kebencian Gio.
Ia mungkin tidak pernah difitnah secara kebetulan. Seseorang telah merencanakan semua ini dan Sasha hanyalah bidak pertama.
Akankah Sasha mengetahui siapa dalang dari kejadian yang menimpanya selama ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mahkota yang Berlumuran Darah
Matahari pagi menembus jendela kaca besar di lantai 30 Wijaya Group, namun cahayanya terasa dingin bagi Sasha. Ia masih duduk di kursi kebesaran Gio, memutar-mutar sebuah pulpen emas di antara jemarinya. Di hadapannya, tiga direktur senior duduk dengan keringat dingin yang membasahi dahi mereka. Mereka adalah orang-orang yang selama ini diam-diam mendukung pergerakan Dimas, mengira bahwa sang "putra yang terbuang" akan segera mengambil alih takhta.
Sasha meletakkan pulpen itu dengan bunyi dentingan kecil yang memicu ketegangan di ruangan.
"Tuan-tuan," suara Sasha tenang, namun ada otoritas yang tajam di dalamnya. "Saya baru saja menyelesaikan peninjauan audit selama dua jam terakhir. Menarik sekali melihat bagaimana dana operasional dialirkan ke perusahaan cangkang milik Dimas di Cayman Island, dan tanda tangan Anda semua ada di sana."
"Nyonya Sasha, itu... itu atas perintah Tuan Dimas sebagai Wakil Direktur," salah satu dari mereka mencoba membela diri dengan suara gemetar.
Sasha mencondongkan tubuh ke depan. "Dimas sudah bukan bagian dari perusahaan ini. Sejak pukul empat pagi tadi, kepolisian telah menetapkannya sebagai tersangka percobaan pembunuhan dan pencucian uang. Jadi, pilihannya sekarang sederhana: Anda bekerja sama dengan saya untuk memulihkan aset yang dicuri, atau Anda akan berbagi sel yang sama dengan Dimas malam ini."
Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan. Sasha melihat ketakutan yang murni di mata mereka. Di saat itulah ia menyadari sesuatu; kekuatan bukan hanya tentang siapa yang memegang senjata, tapi siapa yang memegang informasi. Gio telah mengajarinya itu tanpa kata-kata selama bertahun-tahun.
"Kami... kami akan bekerja sama, Nyonya," bisik mereka serempak.
"Bagus. Arga akan mengawal kalian ke ruang arsip. Jangan ada satu dokumen pun yang hilang," perintah Sasha.
Setelah mereka keluar, Sasha menyandarkan punggungnya dan memejamkan mata sejenak. Kepalanya berdenyut. Ia belum tidur selama lebih dari 24 jam. Namun, ia tidak boleh tumbang sekarang. Ia harus menjemput Gio.
Kepulangan Sang Raja
Rumah sakit terasa lebih tenang pagi itu. Bau antiseptik yang biasanya membuat Sasha mual kini terasa seperti aroma kemenangan. Ia melangkah menuju bangsal VIP, di mana Gio sudah duduk di tepi tempat tidur, mengenakan kemeja bersih meski bahunya masih disangga oleh sling.
Saat melihat Sasha masuk, wajah pucat Gio langsung cerah. Ia menatap istrinya dari ujung kepala hingga ujung kaki—melihat blazer hitamnya yang sedikit kusut namun memancarkan aura pemimpin.
"Kau terlihat seperti seseorang yang baru saja menggulingkan sebuah rezim," goda Gio dengan suara serak.
Sasha mendekat, meletakkan tasnya, dan langsung memeluk leher Gio dengan hati-hati agar tidak menyentuh lukanya. Ia menghirup aroma tubuh suaminya yang bercampur bau rumah sakit. "Aku merindukanmu. Dan ya, aku baru saja memecat tiga direktur."
Gio tertawa kecil, meskipun itu membuatnya sedikit meringis menahan sakit. "Hanya tiga? Aku pikir kau akan memecat seluruh dewan komisaris."
"Satu per satu, Gio. Aku tidak ingin perusahaan itu runtuh sebelum kita sempat menikmatinya," balas Sasha sambil melepaskan pelukannya dan menatap mata suaminya. "Bagaimana keadaanmu? Dokter bilang kau boleh pulang?"
"Aku memaksa mereka, Sha. Aku tidak bisa membiarkan istriku berperang sendirian di kantorku."
Sasha membantu Gio berdiri. Saat mereka berjalan keluar dari rumah sakit, puluhan awak media sudah menunggu di gerbang. Berita tentang penangkapan Dimas dan penembakan di kediaman Wijaya telah meledak menjadi skandal nasional.
Arga dan tim keamanannya dengan sigap membuka jalan. Gio menggenggam tangan Sasha erat-erat di bawah sorotan lampu kilat kamera. Mereka tidak memberikan pernyataan apa pun. Mereka tampak seperti pasangan penguasa yang baru saja melewati badai dan keluar sebagai pemenang.
Puing-Puing yang Tersisa
Setibanya di rumah, suasana masih terasa mencekam. Garis polisi sudah dilepas, namun bercak darah di lantai ruang tamu—meskipun sudah dibersihkan—seolah masih membekas di ingatan Sasha.
Gio duduk di sofa besar, tempat di mana ia melindungi Sasha malam itu. Ia menatap ruangan yang kini terasa sunyi.
"Dimas tidak akan kembali, Sha," ucap Gio tiba-tiba. "Polisi menemukan bukti baru di brankas pribadinya. Bukan hanya soal penembakan ini, tapi dia juga terlibat dalam sabotase kecelakaan mobil orang tuamu belasan tahun lalu."
Sasha membeku. "Apa?"
Gio menarik Sasha untuk duduk di sampingnya. "Dia bukan hanya membenci ayahku. Dia membenci semua orang yang memiliki apa yang tidak dia miliki. Dia memanipulasi rem mobil orang tuamu agar keluarga Pratama runtuh lebih cepat, sehingga dia bisa menyalahkan ayahku atas kehancuran itu. Dia bermain sangat rapi."
Sasha merasakan dadanya sesak. Ternyata musuh yang ia hadapi jauh lebih licik dari yang ia duga. Dimas adalah arsitek dari seluruh penderitaannya.
"Kenapa dunia begitu kejam, Gio?" bisik Sasha, air matanya mulai mengalir lagi.
Gio mengusap pipi Sasha dengan tangan yang tidak terluka. "Dunia memang kejam, tapi kita masih di sini. Kita selamat. Dan sekarang, perusahaan yang menjadi akar dari semua penderitaan ini... sepenuhnya ada di tanganmu. Kau bisa menghancurkannya, atau kau bisa membangun sesuatu yang baru di atas puing-puingnya."
Sasha menatap tangan Gio yang menggenggamnya. Selama ini ia merasa hidupnya ditentukan oleh pria-pria di sekitarnya—ayahnya, ayah Gio, Dimas, bahkan Gio sendiri. Tapi sekarang, untuk pertama kalinya, kemudi itu ada di tangannya.
Ia berdiri dan berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke taman. Langit sore mulai berwarna ungu kemerahan.
"Aku tidak akan menghancurkannya," ucap Sasha tegas. "Aku akan mengubah Wijaya Group menjadi Pratama-Wijaya Foundation. Aku akan mengembalikan setiap sen yang dicuri ayahmu dan ayah Dimas kepada orang-orang yang mereka hancurkan. Aku tidak ingin mahkota ini, Gio. Aku ingin kedamaian."
Gio bangkit berdiri, perlahan mendekati Sasha dari belakang. Ia menyandarkan dagunya di bahu Sasha, memeluk pinggangnya dengan satu tangan.
"Lalu bagaimana denganku?" tanya Gio lembut di telinga Sasha. "Apakah kau masih membutuhkanku di sisimu setelah kau menjadi 'Ratu' yang sesungguhnya?"
Sasha berbalik dalam dekapan suaminya. Ia menatap mata cokelat tua milik Gio yang kini penuh dengan kerentanan, sesuatu yang jarang diperlihatkan pria itu pada dunia.
"Aku tidak butuh seorang raja, Gio. Aku sudah punya banyak pion untuk itu."
Sasha menjeda, jemarinya mengusap rahang tegas Gio sebelum mendarat di bibirnya.
Gio menaikkan satu alisnya, menatap Sasha dengan senyum menantang. "Lalu, posisi apa yang tersisa untukku di dalam kerajaan barumu ini?"
Sasha tersenyum manis, senyum yang paling berbahaya sekaligus paling tulus yang pernah ia miliki. Ia sedikit berjinjit, membisikkan jawabannya tepat di bibir Gio sebelum menciumnya dengan dalam.
"Aku tidak butuh raja, aku butuh pelindung yang berani berdarah untukku. Jadi, bersiaplah, Tuan Wijaya. Karena malam ini, setelah semua rahasia ini terbakar habis, aku ingin kau membuktikan bahwa kau mencintaiku bukan karena rasa bersalah pada masa lalu, tapi karena kau memang tidak bisa hidup tanpaku. Sanggup?"
Gio tertawa rendah, sebuah suara yang penuh dengan gairah dan kelegaan, lalu ia menarik Sasha lebih rapat ke dalam pelukannya.
"Selama napasku masih milikku, Sha... aku adalah milikmu sepenuhnya. Perang mungkin sudah selesai, tapi malam kita? Itu baru saja dimulai."