Maxime Brixtone adalah seorang mafia yang sepanjang hidupnya terjebak dalam perselisihan kelam dengan ibu tirinya. Di tengah hidupnya yang penuh duri dan misteri tentang bagaimana konflik itu akan berakhir, Max berada di ambang kematian akibat rencana pembunuhan yang dirancang oleh sang ibu tiri.
Tak disangka, hidupnya di selamatkan oleh seorang wanita yang telah bersuami. Max bersembunyi di kediaman wanita tersebut, hingga mereka tanpa sengaja menyaksikan sang suami melakukan perselingkuhan.
Dari titik itu, batas antara rasa terima kasih, kemarahan, dan obsesi kepada wanita penyelamat hidupnya mulai kabur.
Max pun memiliki sebuah ide gila untuk menjadikan wanita yang telah menyelamatkan nyawanya menjadi seorang janda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Newbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 25
Zayna merasakan tekstur sprei yang sama, wangi ruangan yang masih menyisakan jejak masa lalu, dan seketika napasnya tercekat. Max, yang menyadari perubahan ritme napas dan ketegangan di bahu Zayna, tidak langsung melanjutkan aksinya. Ia justru berhenti sejenak, menatap lekat manik mata Zayna yang mulai berkaca-kaca.
Max menangkup wajah Zayna, memaksa wanita itu untuk melihatnya, bukan melihat bayangan Drake.
“Lihat aku, Zayna,” bisik Max berat. “Tempat ini tidak lagi milik masa lalu. Malam ini, aku akan menghapus setiap jejak pria itu dari ingatanmu.”
Dengan gerakan yang jauh lebih lembut namun posesif, Max mulai mengklaim kembali ruang tersebut, mengubah memori pahit menjadi sensasi baru yang membakar habis sisa-sisa rasa sakit hati Zayna.
Zayna perlahan mulai melepaskan cengkeramannya pada masa lalu, membiarkan sentuhan Max menjadi satu-satunya realitas yang ia rasakan. Kamar itu bukan lagi saksi bisu kehancurannya, melainkan medan perang baru di mana ia menemukan kembali harga dirinya melalui gairah yang diberikan Max.
Max merendahkan tubuhnya, memerangkap Zayna di antara kedua lengannya. Ia bisa merasakan detak jantung Zayna yang berpacu—bukan lagi karena gairah semata, tapi karena trauma yang mendadak muncul ke permukaan.
“Zayna,” suara Max terdengar rendah, bergetar di telinga wanita itu. “Jangan biarkan dia menang di dalam pikiranmu.”
Zayna memejamkan mata erat-erat, air mata yang sempat tertahan akhirnya jatuh di sudut matanya. “Dia... dia melakukannya di sini, Max. Tepat di posisi ini.”
Max tidak menjauh. Sebaliknya, ia mencium kening Zayna dengan lembut, sebuah kontras dari intensitas mereka sebelumnya. Ia ingin Zayna tahu bahwa kehadirannya di sini adalah untuk memulihkan, bukan sekadar memuaskan diri.
Max menarik tangan Zayna dan menautkan jemari mereka di atas bantal. “Mulai detik ini, setiap inci dari ranjang ini hanya akan mengingat namaku. Bukan dia.”
Max kembali bergerak, namun kali ini dengan ritme yang lebih dalam dan penuh penekanan, seolah setiap gerakannya adalah pernyataan kepemilikan yang sah.
Zayna mengerang, kali ini suaranya bukan hanya berisi nikmat, tapi juga kelegaan. Bayangan Drake yang tadinya nyata perlahan memudar, terbakar oleh api yang dinyalakan Max di dalam dirinya.
”Ahh… Ahhmm… Angghhh…”
Max mencengkram wajah Zayna, dan kemudian mencium Zayna seolah ingin melahapnseluruh wajah Zayna. Gerakan Max semakin cepat, peluh semakin banyak menetes melewati rahang kuatnya.
Zayna akhirnya membuka mata, menatap Max dengan tatapan yang sepenuhnya baru. Rasa pahit itu tersapu bersih, digantikan oleh gelombang gairah yang lebih murni. Ia menarik tengkuk Max, meniadakan jarak di antara mereka, dan membiarkan dirinya tenggelam sepenuhnya dalam kendali pria itu.
Kamar itu bukan lagi tempat pengkhianatan; malam ini, kamar itu menjadi saksi bagaimana Max menghancurkan masa lalu Zayna dan membangun sesuatu yang baru di atas puing-puingnya.
Max merasakan dinding pertahanan Zayna benar-benar runtuh—bukan hanya secara fisik, tapi juga mental. Saat bayangan masa lalu itu memudar dari mata Zayna, Max tahu ini adalah saatnya ia memberikan segalanya.
Ritme Max berubah menjadi lebih dalam dan penuh penekanan, setiap gerakannya seolah sedang memahat tanda kepemilikan yang baru di jiwa Zayna.
“Zayna... lihat aku,” geram Max, suaranya parau dan rendah, sarat dengan beban gairah yang sudah di ujung tanduk.
Zayna membuka matanya, menatap wajah Max yang menegang karena menahan puncak kenikmatan. Ia melihat kejantanan, kekuatan, dan sesuatu yang jauh lebih tulus daripada yang pernah diberikan Drake padanya.
Max mencapai batasnya. Tubuhnya menegang hebat, otot-otot punggungnya mengeras seperti batu saat ia memberikan dorongan-dorongan terakhir yang sangat dalam.
“Kehk!” Geram Max yang tak bisa lagi membendung pelepasannya.
Max membenamkan wajahnya di ceruk leher Zayna, melepaskan geraman rendah yang panjang dan menggetarkan dada. Itu bukan sekadar suara pelepasan; itu adalah suara kemenangan. “Mm… Zayna... Mmh...”
Alih-alih langsung menjauh setelah badai itu mereda, Max tetap berada di sana. Ia menyandarkan keningnya ke kening Zayna, napasnya yang menderu perlahan mulai tenang di permukaan kulit wanita itu.
Max menyeka keringat di pelipis Zayna dengan ibu jarinya, gerakannya sangat kontras dengan intensitas yang baru saja mereka lalui. Ia menciumi kelopak mata Zayna yang masih tertutup, memberikan rasa aman yang belum pernah Zayna rasakan sebelumnya di atas ranjang itu.
“Malam ini milik kita,” bisik Max lembut, memastikan suaranya adalah hal terakhir yang Zayna dengar sebelum mereka terhanyut dalam keheningan yang nyaman. “Hanya kita.”
Zayna memeluk leher Max erat, membenamkan wajahnya di dada pria itu. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa ranjang ini tidak lagi dingin dan kotor. Max telah mengubahnya menjadi tempat yang hangat.
Setelah badai gairah itu perlahan surut, yang tersisa hanyalah keheningan yang pekat dan berat, hanya dipecah oleh suara napas mereka yang masih tersengal. Kamar itu kini terasa lebih dingin, namun tubuh mereka yang masih bertautan menyisakan sisa-sisa panas yang membekas di atas sprei yang berantakan.
Max tidak langsung menjauh. Ia justru mengeratkan pelukannya, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Zayna yang masih basah oleh keringat. Ia bisa merasakan detak jantung Zayna di bawah kulitnya—cepat, tidak beraturan, namun perlahan mulai menemukan ritme yang stabil.
Max menghela napas panjang, sebuah suara yang terdengar seperti perpaduan antara kelegaan dan beban pikiran yang mendalam. Ia mengangkat tubuhnya sedikit, bertumpu pada sikunya hanya untuk menatap wajah Zayna.
Wanita itu memejamkan mata, bulu matanya masih basah, dan bibirnya yang sedikit membengkak tampak bergetar halus.
Dengan gerakan yang sangat lembut—berbanding terbalik dengan intensitas liar beberapa saat lalu—Max menyeka anak rambut yang menempel di dahi Zayna.
“Zayna...”bisiknya, suaranya kini jauh lebih rendah dan serak.
Zayna perlahan membuka matanya. Ada kekosongan di sana, namun juga ada binar kepasrahan yang menyayat hati. Ia menatap Max tanpa sepatah kata pun, seolah kata-kata telah kehilangan maknanya setelah apa yang baru saja mereka lalui.
Janji yang Mengikat.
Max mengecup kening Zayna cukup lama, sebuah ciuman yang terasa seperti sebuah segel.
“Jangan pernah berpikir untuk pergi setelah ini,” bisik Max tepat di depan bibir Zayna.
”Aku tidak peduli jika kau menganggap ini kesalahan, atau jika besok kau akan membenciku. Mulai malam ini, aku tidak akan membiarkanmu menanggung apa pun sendirian lagi.”
Zayna menarik napas gemetar, tangannya yang lemas merayap naik, menyentuh rahang tegas Max dengan ujung jarinya.
“Kau tahu aku hanya wanita yang sedang hancur, Max. Kau hanya akan mendapatkan sisa-sisanya.”
Max menangkap tangan itu, mengecup telapak tangannya, dan menatapnya dengan intensitas yang membuat Zayna merinding.
“Maka biarkan aku menjadi orang yang mengumpulkan sisa-sisamu dan menyatukannya kembali. Aku sudah katakan... aku rela kau manfaatkan, selama itu artinya kau tetap di sisiku.”
Keheningan kembali menyelimuti mereka, namun kali ini terasa berbeda. Ada sesuatu yang telah bergeser secara permanen dalam hubungan mereka.
Di luar, angin malam masih menderu, namun di dalam kamar itu, Max terus memeluk Zayna, seolah dunia di luar sana tidak lagi diizinkan untuk menyentuhnya.
Bersambung
penguntit suruhan nevari belum tuntas yg kemarin 🤣🤣🤣
hemmm mau ketemu istri orang aja adaaa saja gangguannya😏
ceritanya nggantung lagi dah kayak kates
sombonge ndhisek ajooorrre kari wkwkwk