Di tengah dendam, pengkhianatan, dan calamity yang tak terbayangkan, Raito menjadi “cahaya kecil” yang tak pernah padam. penyeimbang yang selalu ada saat dunia paling gelap.
Sebuah kisah survival, pertumbuhan, dan pencarian makna di dunia Hunter x Hunter
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saat Cahaya Kecil Bertemu Badai
(Flashback – Fase Akhir Hunter Exam, Pulau Zevil, Hari ke-3)
Hutan di Pulau Zevil terasa seperti makhluk hidup yang bernapas pelan dan jahat. Pohon-pohon tinggi menjulang rapat, daun-daunnya menutup langit hingga hanya sedikit cahaya matahari yang bisa menyusup, menciptakan bercak-bercak terang yang bergerak-gerak seperti mata-mata di kegelapan. Raito bersembunyi di balik semak rendah, napasnya ditahan, tubuhnya menempel tanah lembab. Dia bukan lagi peserta resmi—dia sudah gagal di fase sebelumnya karena menolak membunuh targetnya—tapi dia masih di pulau ini, karena Mira bersikeras: “Kita nggak akan keluar dari sini sebelum lihat akhir ujian. Kamu perlu tahu apa artinya jadi Hunter.”
Mira ada di sebelahnya, mata tajam menyapu sekitar. Mereka tidak punya nomor target lagi, tapi mereka tetap waspada. Pulau ini penuh peserta yang sudah putus asa, yang siap membunuh siapa saja demi lolos.
Tiba-tiba, suara langkah kaki ringan terdengar dari arah timur. Raito menoleh pelan. Di antara pepohonan, seorang anak kecil berjalan santai—Gon Freecss, dengan tongkat memancing di punggung dan senyum kecil yang tidak pernah pudar meski sudah hari ketiga tanpa tidur nyenyak.
Gon sedang mengikuti jejak samar di tanah—jejak sepatu yang hampir tidak terlihat. Raito tahu jejak itu milik Hisoka. Semua orang tahu Hisoka adalah monster di ujian ini. Nomor target Gon adalah Hisoka, dan sebaliknya. Ini pertarungan yang semua orang tunggu-tunggu, tapi juga yang paling ditakuti.
Mira berbisik sangat pelan. “Jangan gerak. Gon sudah menemukan dia.”
Raito mengangguk, tapi matanya tidak bisa lepas dari Gon. Anak itu berhenti di tepi jurang kecil, memandang ke bawah. Di sana, di antara akar-akar pohon yang menjalar seperti ular, Hisoka berdiri santai—kartu remi di tangan, senyum tipis yang selalu membuat bulu kuduk berdiri.
Gon tidak ragu. Dia lompat turun ke jurang itu dengan ringan, mendarat tanpa suara. Tongkat memancingnya sudah di tangan, ujungnya mengarah ke Hisoka.
“Hisoka!” panggil Gon, suaranya jernih tapi tegas. “Aku datang ambil nomormu!”
Hisoka berbalik perlahan, mata kuningnya berbinar seperti kucing yang melihat mainan baru. “Ara~ Ara~ Bocah kecil yang penuh semangat. Kamu benar-benar datang sendiri. Lucu sekali.”
Raito merasakan jantungnya berdegup kencang. Dia tahu Gon kuat—dia sudah lihat anak itu bertarung di fase sebelumnya. Tapi Hisoka… aura Hisoka seperti lautan gelap yang siap menelan apa saja. Bahkan dari jarak ini, Raito bisa merasakan tekanan aura yang mencekik.
Gon tidak mundur. Dia maju selangkah. “Aku nggak takut sama kamu. Aku cuma mau menang adil.”
Hisoka tertawa pelan—tawa yang membuat udara terasa lebih dingin. “Adil? Di dunia ini tidak ada yang adil, Gon-chan. Tapi kalau kamu ingin main… ayo kita main.”
Kartu remi di tangan Hisoka berputar cepat, aura-nya membungkus kartu itu seperti racun merah muda yang hidup. Gon mengayunkan tongkat memancingnya—ujung tongkat itu sudah dibungkus aura Enhancement sederhana, tapi cukup kuat untuk memotong batu.
Serangan pertama Gon cepat—tongkat meluncur seperti cambuk ke arah dada Hisoka. Hisoka menghindar dengan gerakan minimal, kartu di tangannya melesat balik. Gon menunduk tepat waktu—kartu itu mengiris pohon di belakangnya, meninggalkan potongan rapi seperti pisau bedah.
Raito mengepal tangan. Dadanya panas. Inner Light-nya berdenyut tanpa dia sadari, seperti ingin ikut campur. Mira langsung menarik lengannya keras.
“Jangan,” bisiknya tajam. “Kalau kamu ikut campur, Gon akan anggap itu penghinaan. Dan Hisoka… dia akan incar kamu selanjutnya.”
Raito menggigit bibir. Dia tahu Mira benar. Tapi melihat Gon—anak kecil yang tersenyum riang meski menghadapi monster—membuatnya merasa kecil. Gon bertarung dengan hati yang murni, tanpa dendam, tanpa takut. Sementara Raito… masih penuh keraguan.
Gon melompat lagi, tongkatnya berputar cepat. Hisoka tidak menghindar kali ini—dia tangkap ujung tongkat dengan dua jari, aura Bungee Gum-nya membungkus tongkat itu seperti permen karet merah muda yang lengket.
Gon tersenyum lebar. “Kamu tangkap! Bagus!”
Hisoka tertawa lagi. “Kamu benar-benar lucu. Tapi permainan baru dimulai.”
Dia tarik tongkat itu keras—Gon terdorong maju, tapi anak itu tidak kehilangan keseimbangan. Dia lepaskan tongkat, lompat ke udara, dan tendang ke arah kepala Hisoka dengan aura Enhancement penuh.
Hisoka menghindar dengan gerakan anggun, tapi tendangan Gon mengenai bahunya sedikit—ada suara crack kecil. Hisoka tersenyum lebih lebar.
“Enak sekali. Kamu semakin menarik.”
Raito tidak bisa menahan lagi. Dia bangun setengah badan, tapi Mira menekannya kembali ke tanah.
“Lihat,” bisik Mira. “Gon nggak butuh bantuan. Dia menikmati ini.”
Benar saja. Gon tertawa kecil sambil mendarat. “Lagi! Ayo kita lanjut!”
Hisoka mengangguk puas. “Baiklah. Tapi ingat—kalau kamu kalah, aku akan ambil nomormu… dan mungkin sedikit nyawamu.”
Pertarungan berlanjut. Gon menyerang tanpa henti—tongkat, tinju, tendangan, semuanya dibungkus aura polos tapi kuat. Hisoka bermain-main—menghindar, menangkis, sesekali balas dengan kartu yang hampir mengenai Gon. Tapi Gon selalu selamat di detik terakhir, seperti instingnya selalu satu langkah di depan.
Raito memandang dengan mata terbelalak. Dia merasa ada sesuatu yang bergerak di dadanya—bukan marah, bukan takut, tapi kekaguman yang dalam. Gon bertarung bukan untuk membunuh, bukan untuk menang. Dia bertarung karena dia ingin tahu seberapa jauh dia bisa pergi.
Inner Light di dada Raito berdenyut pelan—hangat, stabil, seperti menjawab semangat Gon dari kejauhan.
Mira berbisik. “Itu yang disebut ‘potensi’. Gon punya itu. Kamu juga punya. Bedanya… Gon nggak ragu. Kamu masih ragu.”
Raito mengangguk pelan. “Aku tahu. Makanya aku di sini… bukan untuk ikut ujian, tapi untuk belajar.”
Pertarungan di bawah jurang berakhir tanpa pemenang jelas. Hisoka tiba-tiba berhenti, tertawa puas. “Cukup untuk hari ini, Gon-chan. Kamu sudah membuatku senang. Kita lanjut lain waktu.”
Gon mengangguk, meski kecewa. “Baik! Tapi lain kali aku pasti menang!”
Hisoka melambai santai, lalu menghilang ke kegelapan hutan.
Gon berdiri sendirian di jurang itu, napas tersengal tapi senyumnya masih lebar. Dia memandang ke atas—seolah tahu ada yang mengawasi. Matanya bertemu dengan Raito di semak.
Gon melambai kecil. “Hei! Kamu masih di sini? Hati-hati ya! Hutan ini berbahaya!”
Raito melambai balik, meski Gon mungkin tidak bisa melihat jelas. Gon tertawa, lalu berlari pergi—ringan, riang, seperti anak kecil yang baru main petak umpet.
Mira menarik Raito mundur. “Ayo. Kita pulang. Kamu sudah lihat cukup.”
Raito berdiri pelan. Dadanya hangat—bukan karena Nen, tapi karena sesuatu yang lebih sederhana: inspirasi.
Di dalam kegelapan hutan Zevil, Raito sadar satu hal.
Dia tidak lagi hanya ingin pulang.
Dia ingin menjadi seseorang yang bisa bertarung dengan senyum seperti Gon—tanpa ragu, tanpa bayang-bayang yang menghalangi.
Dan cahaya kecil di dadanya berdenyut lebih terang, seperti menyetujui.
(Flashback berakhir – kembali ke masa kini, di penginapan Yorknew setelah pertemuan dengan Harlan)
Raito membuka mata. Dia masih duduk di lantai kamar, Mira di sebelahnya sedang membaca catatan kecil dari Sera.
“Aku ingat sesuatu,” kata Raito pelan.
Mira menoleh. “Apa?”
“Gon. Di ujian Hunter. Dia bertarung Hisoka tanpa takut. Dia bertarung karena ingin tahu batasnya. Bukan karena harus menang.”
Mira tersenyum kecil. “Dan kamu sekarang?”
Raito mengepal tangan. Cahaya kecil muncul di telapaknya—lebih stabil, lebih hangat.
“Aku juga mau tahu batasku. Bukan cuma untuk pulang… tapi untuk jadi seperti dia. Untuk bertarung dengan hati yang bersih.”
Mira mengangguk. “Kalau gitu, besok kita latih lagi. Dan kalau Shadow Serpent datang… kita hadapi dengan cara kita.”
Raito tersenyum. senyum kecil, tapi tulus.
Di luar jendela, Yorknew terus bernapas gelap.
Tapi di dalam kamar kecil itu, cahaya mulai terasa seperti fajar yang tak lagi ragu menyingsing.