NovelToon NovelToon
Rasa Yang Tertelan Jalan Terjal

Rasa Yang Tertelan Jalan Terjal

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Wanita Karir / Anak Genius / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:29
Nilai: 5
Nama Author: Icha cicha

Seperti kapal yang terombang-ambing di tengah lautan gelap tanpa bintang, hidup Murni melintasi jurang kebingungan saat jalan kuliahnya tiba-tiba terputus seperti tali yang dipotong kasar. Dunia yang dulu dihiasi dengan impian lembaran kertas putih bersih kini berubah menjadi hamparan jalan terjal yang penuh batu tajam dan genangan lumpur. Tanpa ragu, dia memilih merangkul dunia pabrik yang keras – tangan yang dulu memegang pena dengan lembut kini memegang alat berat dan bahan baku kasar, setiap tetes keringatnya menorehkan cerita perjuangan yang tak pernah terucapkan. Hidupnya seperti lautan yang terus bergelombang, menghantam pantai harapan dengan ombak rasa yang tertelan dalam diam.

Di tengah hiruk-pikuk mesin pabrik yang tak pernah berhenti berputar, cinta datang seperti embun pagi yang menyentuh dedaunan kering.

Akankah cinta yang tulus benar-benar ada di jalan yang penuh duri ini, atau hanya ilusi yang akan sirna seperti kabut pagi saat matahari muncul?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icha cicha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

FOTO SEPERTI RAHASIA DI BALIK TOPENG

Hidup mereka yang sudah tenang seperti danau yang tidak ada ombak tiba-tiba sedikit bergoyang seperti permukaan air yang disentuh oleh daun yang jatuh. Pada hari kerja yang biasa saja seperti hari-hari yang lain, Murni sedang membersihkan mesin produksi yang sudah berhenti bekerja seperti teman yang sedang beristirahat, ketika Lestri – rekan kerja yang tidak terlalu akrab seperti orang yang hanya bertemu di jalan – mendekatinya dengan wajah yang penuh dengan senyum misterius seperti penjaga rahasia yang akan memberitahukan sesuatu.

Lestri adalah wanita yang suka bercerita seperti burung yang selalu berkicau tentang segala sesuatu, tapi jarang berbicara dengan Murni karena merasa bahwa mereka berasal dari dunia yang berbeda seperti air dan tanah yang sulit menyatu. Tapi hari itu dia datang dengan langkah yang lebih cepat seperti orang yang membawa berita penting, tangannya menyembunyikan sesuatu di balik punggungnya seperti anak kecil yang menyembunyikan hadiah.

"Murni, kamu tahu nggak? Aku punya teman cowok yang sangat ganteng lho," ucapnya dengan suara yang rendah seperti bisikan yang tidak ingin didengar orang lain. Murni mengangkat alisnya seperti orang yang mendengar hal yang tidak terduga, tangan nya masih sedang menyeka mesin yang seperti permukaan kaca yang harus dijaga bersih. "Ya sudah lah, Lestri. Aku sudah punya Khem kok," jawabnya dengan senyum yang lembut seperti bunga yang menyala tapi tidak menyilaukan.

Tapi Lestri tidak menyerah seperti burung yang terus mencari makan meskipun sudah ditolak. Dia menarik tangan Murni ke sudut ruangan yang sepi seperti orang yang ingin berbicara secara pribadi, kemudian mengeluarkan hp nya yang layarnya menyala seperti mata yang melihat sesuatu yang menarik. Di sana ada sebuah foto – foto seorang pria yang berdiri di depan taman kota yang rindang seperti pangeran yang berdiri di taman istananya, tapi wajahnya tertutup oleh masker kain yang warna nya hitam seperti malam yang menyembunyikan wajah bulan.*

"Lihat dong – badan nya tinggi seperti tiang pancang yang tegak, rambutnya rapi seperti helai benang yang disusun dengan rapi, dan gaya berpakaian nya keren seperti artis yang sedang jalan-jalan," ucap Lestri dengan mata yang bersinar seperti bintang yang melihat sesuatu yang disukainya. "Dia bilang ingin kenalan sama kamu lho. Katanya kamu cantik seperti bunga melati yang langka, dan dia penasaran sama kamu." Murni melihat foto itu dengan tatapan yang netral seperti orang yang melihat benda yang tidak berarti, tapi ada sedikit rasa penasaran yang seperti benih kecil yang hampir tumbuh.

"Tapi kenapa pakai masker?" tanya Murni dengan suara yang penuh dengan rasa ingin tahu seperti anak yang bertanya tentang hal yang tidak diketahuinya. Lestri menggelengkan kepalanya seperti orang yang tidak tahu jawabannya, "Dia bilang mau menyimpan misteri aja. Katanya kalo kamu suka, baru dia akan menunjukkan wajah aslinya. Kayak hadiah yang disembunyikan dalam kotak yang tidak bisa dibuka langsung." Murni menggelengkan kepalanya dengan lembut seperti orang yang tidak tertarik dengan permainan misteri, "Aku sudah bahagia dengan Khem, Lestri. Kamu bisa bilang aja ke temen kamu itu ya."

Namun Lestri tidak mau menghentikannya seperti orang yang terus mendorong pintu yang sudah dikunci. Dia menyimpan foto itu di hp Murni seperti file yang tersimpan tanpa izin, "Aku simpen aja foto nya di hp kamu ya. Kalau kamu merasa penasaran atau ada apa-apa sama Khem, kamu bisa kontak dia lho. Nomor nya aku juga simpen ya." Murni tidak punya waktu untuk menolaknya seperti orang yang sibuk dengan pekerjaan dan tidak bisa berhenti, jadi dia hanya mengangguk dengan terpaksa seperti orang yang menerima sesuatu yang tidak diinginkan.

Setelah itu, hari kerja terus berjalan seperti mesin yang tidak pernah berhenti, tapi pikiran Murni sedikit terganggu seperti air yang sedikit keruh setelah batu dilempar. Dia sering melihat ke hp nya yang terletak di mejanya seperti benda yang bisa membuka pintu ke dunia lain, tapi segera mengingat Khem seperti cahaya yang menerangi kegelapan. Dia tahu bahwa cintanya pada Khem adalah seperti besi yang sudah dilebur dan tidak bisa dibentuk lagi – kuat, kokoh, dan tidak akan berubah bentuk karena sesuatu yang tidak jelas seperti rahasia di balik topeng.

Pada jam istirahat, Murni duduk di bawah pohon beringin seperti biasa, tapi kali ini dia tidak bisa fokus seperti burung yang tidak bisa tinggal diam di satu tempat. Dia mengeluarkan hp nya dan melihat foto itu lagi – pria di foto memang terlihat menarik seperti bunga yang cantik tapi tidak dikenal, tapi ada sesuatu yang tidak nyaman seperti baju yang terlalu ketat dan tidak nyaman dipakai. Dia mencoba menghapus foto itu seperti orang yang ingin menghapus kenangan yang tidak diinginkan, tapi ada rasa penasaran yang seperti akar yang sulit dicabik dari tanah.

Saat Khem datang menemukannya seperti biasa pada sore hari, Murni melihatnya dengan mata yang penuh dengan cinta seperti matahari yang melihat bumi yang dicintainya. Khem membawa makanan yang dia buat sendiri dari bahan sederhana seperti makanan yang dibuat dengan cinta, wajahnya penuh dengan kelelahan tapi tetap tersenyum seperti matahari yang tetap bersinar meskipun sudah sore. Murni merasa malu seperti anak kecil yang telah melakukan kesalahan kecil, tapi dia tidak bisa memberitahu Khem tentang foto itu seperti rahasia yang sulit untuk diucapkan.

"Ada apa denganmu? Kamu terlihat sedikit tidak tenang ya," tanya Khem dengan suara yang penuh dengan perhatian seperti dokter yang memeriksa pasiennya. Murni menggelengkan kepalanya dan memberikan senyum yang dibuat-buat seperti bunga yang dipaksakan untuk mekar. "Tidak apa-apa, Khem. Cuma sedikit capek aja sih karena kerjaan." Khem memegang tangannya dengan lembut seperti orang yang ingin memberikan kekuatan, "Kalau capek ya istirahat aja ya. Jangan dipaksakan diri. Kamu penting banget buat aku, kamu tahu kan?"

Murni mengangguk dan merasa hati nya semakin hangat seperti air panas yang menghangatkan tubuh. Dia tahu bahwa apa yang dilakukan Lestri adalah seperti angin yang sedikit mengganggu tapi tidak akan membuat badai, dan bahwa cintanya pada Khem adalah seperti tanah yang kokoh yang tidak akan goyah meskipun ada angin kencang. Dia memutuskan untuk menghapus foto itu dari hp nya seperti orang yang menutup pintu ke dunia yang tidak perlu dikunjungi, dan menghapus nomor yang disimpan Lestri seperti menghapus jejak yang tidak perlu ada.

Namun Lestri masih terus datang dengan cerita tentang teman cowok nya itu seperti burung yang terus berkicau di depan jendela. "Dia bilang kamu pasti akan suka sama dia kalau sudah melihat wajahnya lho," ucapnya dengan suara yang penuh dengan keyakinan seperti orang yang yakin dengan hal yang tidak pasti. "Dia bilang dia bisa memberikanmu kehidupan yang lebih baik dari Khem – kehidupan yang penuh dengan kemewahan seperti mahal yang hanya bisa dinikmati oleh orang kaya." Murni hanya tersenyum dan mengangguk seperti orang yang mendengar cerita yang tidak penting, tidak ingin membenarkan atau membantahnya seperti orang yang tidak mau membuat masalah.

Pada hari Sabtu yang cerah seperti matahari yang sedang bersinar terang, Lestri datang lagi dengan wajah yang lebih bersemangat seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru. Dia mengeluarkan foto baru – kali ini pria tersebut tidak menggunakan masker, tapi wajahnya difoto dari sisi seperti gambar yang tidak jelas bentuknya. "Lihat dong – wajahnya benar-benar ganteng lho seperti aktor film yang terkenal," ucapnya dengan suara yang tinggi seperti orang yang ingin semua orang tahu. Tapi Murni hanya melihatnya sebentar seperti orang yang melihat benda yang sudah biasa, kemudian berkata dengan tegas seperti hakim yang memberikan putusan.*

"Lestri, aku sudah bilang kan aku punya Khem. Aku bahagia dengan dia. Cinta itu bukan tentang siapa yang lebih ganteng atau lebih kaya. Cinta itu tentang bagaimana kita saling mengerti, saling mendukung, dan saling mencintai dengan sepenuh hati. Khem itu seperti rumah yang memberikan tempat perlindungan, sementara teman kamu itu hanya seperti gambar cantik di dinding yang tidak bisa memberikan kehangatan." Lestri melihatnya dengan wajah yang sedikit kecewa seperti anak kecil yang tidak mendapatkan apa yang diinginkan, tapi akhirnya mengangguk seperti orang yang akhirnya mengerti.

"Oke deh Murni. Maaf ya kalau aku mengganggumu. Aku cuma berpikir kamu pantas punya yang terbaik aja," ucapnya dengan suara yang lembut seperti angin yang hampir tidak terasa. Murni menyentuh pundaknya dengan lembut seperti teman yang memaafkan, "Gak apa-apa Lestri. Aku tahu kamu baik hati dan hanya ingin yang terbaik buat aku. Tapi yang terbaik buat aku itu adalah Khem dan kehidupan yang kita jalani bersama."

Setelah itu, kehidupan kembali tenang seperti danau yang kembali jernih setelah sedikit keruh. Murni tidak lagi melihat foto itu atau memikirkan pria yang tidak dikenal seperti orang yang melupakan mimpi buruk setelah bangun tidur. Dia fokus pada pekerjaannya dan pada Khem seperti burung yang fokus pada sarangnya dan anak-anaknya, tahu bahwa kebahagiaan yang dia miliki adalah seperti emas yang sulit ditemukan dan harus dijaga dengan baik.

Pada malam hari, Murni memberitahu Khem tentang hal itu seperti orang yang ingin membuka hati sepenuhnya kepada orang tersayang. Khem mendengarkan dengan tenang seperti tukang yang sedang mendengar cerita tentang masalah kecil yang bisa diselesaikan, kemudian memeluknya erat seperti pelindung yang akan selalu melindunginya. "Aku tahu kamu tidak akan pernah berpaling dariku, Murni," ucapnya dengan suara yang penuh dengan keyakinan seperti orang yang tahu bahwa matahari akan selalu muncul setiap pagi. "Kita seperti besi dan baja yang sudah menyatu – tidak ada yang bisa memisahkan kita, tidak ada yang bisa menggantikan kita satu sama lain."

Mereka berpelukan seperti dua orang yang sudah melewati semua rintangan, hati mereka penuh dengan kebahagiaan dan rasa syukur seperti orang yang mendapatkan segalanya yang mereka inginkan. Di luar kamar, kota masih sibuk dengan kehidupan nya seperti mesin yang tidak pernah berhenti berputar, tapi di dalam kamar kecil mereka, ada kedamaian yang seperti oase yang tenang di tengah gurun yang besar – sebuah kedamaian yang diraih dengan cinta yang kuat dan kesetiaan yang tidak pernah goyah.

 

━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━

Beberapa hari kemudian, Lestri datang lagi dengan wajah yang lebih bersinar dari biasanya seperti matahari yang muncul setelah hujan. Tangannya membawa tas kecil yang terlihat mewah seperti kotak yang berisi sesuatu yang berharga, langkahnya penuh dengan kebanggaan seperti orang yang membawa kabar baik yang sangat penting. Dia mendekati Murni yang sedang memeriksa kualitas produk seperti petugas yang selalu menjaga standar terbaik, dengan senyum yang lebih lebar dari sebelumnya.

"Murni, kamu tahu nggak? Temen ku itu benar-benar baik banget lho!" ucapnya dengan suara yang penuh dengan semangat seperti penyiar yang menyampaikan berita penting. "Lihat dong – dia beliin aku tas branded ini lho, harga nya mahal banget kayak emas yang berat banget untuk dibawa." Dia membuka tas dan menunjukkan barang-barang di dalamnya – kosmetik terkenal seperti bunga yang langka dan mahal, perhiasan kecil yang berkilau seperti bintang yang jatuh ke tangan. "Dia bilang kalau kamu mau kenalan sama dia, dia juga bakal kasih kamu barang-barang seperti ini lho."

Murni melihat barang-barang itu dengan tatapan yang tenang seperti orang yang melihat benda cantik tapi tidak berguna untuk dirinya. "Barangnya memang cantik, Lestri. Tapi aku tidak butuh barang-barang seperti itu," jawabnya dengan suara yang lembut tapi tegas seperti air yang mengalir tenang tapi tidak bisa diubah arahnya. "Aku sudah punya apa yang aku butuhkan – pekerjaan yang aku cintai, impian yang aku ingin capai, dan Khem yang selalu ada untukku. Semua itu lebih berharga dari semua barang branded di dunia ini."

Tapi Lestri tidak mau menyerah seperti burung yang terus terbang mencari makanan. "Tapi kamu rugi banget lho, Murni! Dia baik, kaya, dan ganteng – kamu bakal hidup nyaman kayak ratu yang tinggal di istana." Dia mengambil selembar kertas kecil yang seperti surat yang penuh dengan harapan, "Dia bahkan sampai kirim salam buat kamu lho. Katanya, 'Kabar baik untuk Murni – semoga dia selalu sehat dan bahagia. Jika dia mau memberi kesempatan, aku siap menunjukkan bahwa aku bisa menjaganya dengan baik.'"

Murni menerima kertas itu dengan tangan yang stabil seperti orang yang menerima pesan yang tidak diinginkan. Dia membacanya dengan cepat seperti orang yang ingin cepat menyelesaikan sesuatu, kemudian mengembalikannya kepada Lestri seperti orang yang mengembalikan barang yang bukan miliknya. "Kamu bisa bilang terima kasih atas salam nya ya, Lestri. Tapi aku sudah membuat keputusan – aku akan tetap bersama Khem. Cinta itu bukan tentang barang-barang mahal atau kehidupan yang nyaman. Cinta itu tentang bagaimana kita bisa tumbuh bersama, bagaimana kita bisa saling mendukung dalam suka dan duka."

Lestri melihatnya dengan wajah yang sedikit kecewa seperti anak kecil yang tidak mendapatkan mainan yang diinginkan, tapi juga penuh dengan pemahaman seperti orang yang mulai melihat kebenaran dalam kata-kata Murni. "Aku cuma khawatir kamu aja, Murni. Kamu kerja keras banget, tapi hidupnya masih sederhana kayak bunga yang tumbuh di tanah tandus." Murni tersenyum dan menyentuh pundaknya seperti teman yang memahami kekhawatiran orang lain. "Hidupku memang sederhana, Lestri. Tapi itu adalah hidup yang aku pilih dan aku bahagia dengan nya. Seperti nasi putih yang sederhana tapi bisa membuat kenyang dan sehat – daripada makanan mahal yang tidak sesuai dengan lidah kita."

Pada sore hari itu, ketika Murni pulang kerja, dia melihat sebuah paket yang diletakkan di depan pintu kontrakan nya seperti hadiah yang datang dari jauh. Paket itu dibungkus dengan kertas berwarna kemerahan yang cantik seperti bunga yang mekar, dengan pita emas yang melilitnya seperti ikat tali yang indah. Dia melihat sekeliling mencari tahu siapa yang memberikannya seperti orang yang mencari sumber dari sesuatu yang tiba-tiba muncul, tapi tidak ada orang yang terlihat seperti bayangan yang lenyap ketika cahaya menyala.

Murni membuka paket dengan hati-hati seperti orang yang membuka sesuatu yang misterius. Di dalamnya ada sebuah gaun panjang yang terbuat dari kain berkualitas tinggi seperti langit yang dibuat jadi kain, warna nya putih seperti bunga melati yang murni, dengan bordir yang cantik seperti bintang-bintang yang menjulang di langit. Di samping gaun itu ada sebuah catatan kecil yang seperti pesan yang penuh dengan harapan: "Untuk Murni – sebuah hadiah dari seseorang yang menghargai keindahan dan kebaikan dirimu. Semoga kamu suka dan mempertimbangkan untuk memberi aku kesempatan."

Murni melihat gaun itu dengan mata yang penuh dengan kekaguman seperti orang yang melihat karya seni yang indah, tapi juga ada rasa tidak nyaman seperti pakaian yang terlalu besar dan tidak pas. Dia tahu bahwa hadiah ini datang dari teman cowok Lestri seperti angin yang membawa kabar dari jauh, dan dia merasa seperti orang yang menerima hadiah yang tidak bisa diterima. Dia mengambil gaun itu dan menyimpannya di dalam lemari seperti benda yang cantik tapi tidak bisa dipakai.

Ketika Khem datang malam itu seperti biasa, membawa makanan yang dia buat sendiri seperti makanan yang penuh dengan cinta, Murni memberitahunya tentang paket yang tiba-tiba datang seperti orang yang tidak ingin menyembunyikan apa-apa dari orang tersayang. Khem melihat gaun itu dengan mata yang penuh dengan penghargaan seperti tukang yang menghargai karya yang indah, kemudian memeluk Murni erat seperti pelindung yang selalu ada.

"Gaun nya memang cantik banget, Murni," ucapnya dengan suara yang lembut seperti bisikan yang menyentuh hati. "Tapi kamu lebih cantik ketika kamu mengenakan baju yang kamu suka, ketika kamu sedang bekerja dengan senyum di wajahmu, ketika kamu sedang memasak makanan untuk kita berdua. Barang-barang mahal itu bisa membuat orang tampak cantik dari luar, tapi keindahan yang sebenarnya ada di dalam hati kita – keindahan yang muncul dari cinta dan kebaikan yang kita miliki."

Murni menangis senyum seperti anak kecil yang menemukan kata-kata yang tepat untuk menguatkan hatinya. Dia tahu bahwa kata-kata Khem adalah kebenaran yang seperti besi yang kuat dan tidak bisa diubah. Dia memutuskan untuk mengembalikan gaun itu seperti orang yang mengembalikan sesuatu yang bukan miliknya, dengan catatan kecil yang seperti pesan yang jelas dan tegas: "Terima kasih atas hadiah yang indah. Aku sudah menemukan orang yang bisa membuatku bahagia – seseorang yang mencintaiku apa adanya, bukan karena apa yang aku miliki atau bagaimana aku tampil. Semoga kamu juga menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya."

Lestri datang lagi beberapa hari kemudian, kali ini dengan wajah yang lebih tenang seperti hujan yang sudah reda dan langit mulai cerah. Dia membawa gaun yang sudah dikembalikan seperti orang yang membawa sesuatu yang harus dikembalikan, wajahnya penuh dengan rasa hormat seperti orang yang mulai menghargai keputusan orang lain. "Dia bilang dia mengerti pilihan kamu, Murni," ucapnya dengan suara yang lembut seperti angin yang menyentuh daun. "Dia bilang kamu adalah orang yang benar-benar tahu apa yang kamu inginkan dalam hidup, dan dia menghargai itu."

Murni tersenyum seperti bunga yang mekar setelah menerima hujan penyegar. Dia tahu bahwa dia telah membuat keputusan yang tepat seperti pelaut yang memilih arah yang benar untuk sampai ke pelabuhan. Hidupnya kembali tenang seperti danau yang tidak ada ombak sama sekali, fokus pada pekerjaannya, pada kuliahnya, dan pada Khem seperti burung yang fokus pada sarangnya dan impian yang ingin capai.

Di luar kamar, kota masih sibuk dengan kehidupan nya seperti mesin yang tidak pernah berhenti berputar, dengan semua kemewahan dan godaan yang ada seperti bunga yang cantik tapi bisa beracun. Tapi di dalam kamar kecil mereka, ada kedamaian dan kebahagiaan yang seperti oase yang tenang di tengah gurun yang besar – sebuah kedamaian yang diraih dengan cinta yang kuat, kesetiaan yang tidak pernah goyah, dan pemahaman bahwa kebahagiaan sejati tidak bisa dibeli dengan uang atau barang-barang mahal.

 

...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!