NovelToon NovelToon
Satu Rumah Dua Asing: Pernikahan Tanpa Suara

Satu Rumah Dua Asing: Pernikahan Tanpa Suara

Status: tamat
Genre:Angst / Pernikahan rahasia / Perjodohan / CEO / Nikah Kontrak / Konflik etika / Tamat
Popularitas:25.7k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Di kantor, dia adalah Arash, CEO dingin yang tak tersentuh. Aku hanyalah Raisa, staf administrasi yang bahkan tak berani menatap matanya. Namun di balik pintu apartemen mewah itu, kami adalah suami istri yang terikat sumpah di atas kertas.

Kami berbagi atap, tapi tidak berbagi rasa. Kami berbagi meja makan, tapi hanya keheningan yang tersaji. Aturannya sederhana: Jangan ada yang tahu, jangan ada yang jatuh cinta, dan jangan pernah melewati batas kamar masing-masing.

Tapi bagaimana jika rahasia ini mulai mencekikku? Saat dia menatapku dengan kebencian di depan orang lain, namun memelukku dengan keraguan saat malam tiba. Apakah ini pernikahan untuk menyelamatkan masa depan, atau sekadar penjara yang kubangun sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tensi di Ruang Rapat

Udara di ruang rapat utama Dirgantara Group terasa sedingin es, namun bukan karena hembusan pendingin ruangan yang dipasang di suhu terendah. Tensi tinggi itu terpancar langsung dari ujung meja oval, tempat Arash duduk dengan punggung tegak dan rahang yang mengeras. Di depannya, layar proyektor menampilkan grafik pertumbuhan yang seharusnya menjadi fokus utama, namun mata Arash justru terpaku pada pemandangan di sisi tengah meja.

Di sana, Raisa duduk dengan wajah yang masih agak pucat—sisa-sisa demam hebat dua hari lalu masih membekas di kelopak matanya yang sedikit sayu. Dan tepat di sampingnya, Vino duduk dengan posisi tubuh yang sengaja condong ke arah Raisa, seolah sedang membangun benteng tak kasat mata untuk melindungi wanita itu.

"Ini masih terlalu pagi untukmu bekerja sekeras ini, Raisa," bisik Vino, suaranya cukup rendah namun tetap tertangkap oleh pendengaran Arash yang mendadak setajam radar.

Vino menggeser sebuah paper cup dari kedai kopi ternama ke hadapan Raisa. "Aku membelikanmu Oatmilk Latte dengan gula aren sedikit. Aku ingat kau benci kopi yang terlalu pahit saat sedang tidak enak badan."

Raisa tersentak kecil, ia melirik ke arah Arash dengan gugup sebelum memberikan senyum tipis yang tulus kepada Vino. "Terima kasih, Vino. Kau tidak perlu repot-repot."

"Bukan repot jika itu untukmu," balas Vino sembari membuka tutup botol air mineral dan meletakkannya di dekat tangan Raisa. Ia bahkan meraih buku catatan Raisa yang terbuka, merapikan letak pulpennya dengan gerakan yang sangat akrab.

Suara pulpen Arash yang dihantamkan ke meja kaca bergema di seluruh ruangan, memutus percakapan bisik-bisik tersebut. Seluruh kepala divisi di ruangan itu seketika menahan napas. Mereka tahu tanda-tanda itu: Sang Singa sedang terusik.

"Vino," suara Arash keluar, rendah dan mengandung ancaman yang mematikan. "Apakah agenda rapat hari ini berubah menjadi sesi layanan pesan antar minuman? Atau kau lupa bahwa kau dibayar untuk mempresentasikan laporan audit, bukan menjadi asisten pribadi rekan kerjamu?"

Vino tertegun, ia segera menegakkan duduknya namun matanya tetap menantang. "Maaf, Pak Arash. Saya hanya ingin memastikan Raisa tetap terhidrasi. Dia baru saja sembuh."

"Jika dia cukup sehat untuk duduk di ruangan ini, maka dia cukup sehat untuk mengurus air minumnya sendiri tanpa bantuan darimu," desis Arash. Matanya beralih ke Raisa, memberikan tatapan dingin yang seolah berkata: Berani-beraninya kau menerima pemberiannya di depanku.

Raisa menunduk, tangannya meremas ujung blazernya di bawah meja. Rasa hangat dari perhatian Vino seketika menguap, digantikan oleh rasa takut yang familier terhadap dominasi Arash.

"Sekarang, tunjukkan laporan audit divisi pemasaran yang kau bangga-banggakan itu," perintah Arash.

Vino berdiri, menghubungkan laptopnya ke proyektor. Ia memulai presentasinya dengan percaya diri. Laporan itu sebenarnya sangat rapi—data yang akurat, analisis risiko yang tajam, dan solusi yang inovatif. Namun, bagi Arash, setiap kata yang keluar dari mulut Vino terdengar seperti kebisingan yang mengganggu. Pikirannya terus terbayang bagaimana Vino menyentuh buku catatan Raisa tadi.

"Berhenti di slide empat," potong Arash kasar, padahal Vino baru bicara lima menit.

Vino mengernyit. "Ada masalah, Pak?"

"Masalah? Ini adalah sampah, Vino," Arash berdiri, berjalan mendekati layar proyektor dengan tangan di saku celana. "Analisis risikomu di sini sangat dangkal. Bagaimana kau bisa menyimpulkan bahwa pengeluaran iklan digital sebesar ini efektif jika kau tidak memperhitungkan fluktuasi pasar di kuartal empat? Ini bukan analisis, ini tebak-tebakan bocah sekolah dasar."

"Tapi Pak, di halaman berikutnya saya sudah melampirkan data perbandingannya—"

"Aku tidak butuh halaman berikutnya jika halaman depannya saja sudah cacat logika!" bentak Arash. Suaranya menggelegar, membuat beberapa staf di barisan belakang terjingkat. "Ulangi semuanya dari awal. Cari data pembanding dari lima tahun terakhir, bukan cuma dua tahun. Dan aku ingin kau membedah setiap sen yang keluar dari divisi ini."

"Lima tahun?" Vino terbelalak. "Itu akan memakan waktu berhari-hari, Pak Arash. Data lima tahun lalu sudah masuk arsip lama."

"Kalau begitu, tidurlah di gudang arsip jika perlu," balas Arash tanpa belas kasihan. "Jangan berikan aku sampah lagi di rapat berikutnya."

Vino mengepalkan tangannya di samping paha. Ia tahu ini bukan tentang laporan. Ini adalah serangan pribadi. Ia melirik Raisa, yang kini menatapnya dengan pandangan penuh rasa bersalah dan iba. Dan tatapan iba dari Raisa untuk Vino justru membuat Arash semakin gelap mata.

"Rapat selesai!" Arash mengumumkan secara sepihak. "Semua kembali bekerja. Kecuali Raisa."

Satu per satu staf keluar dengan langkah terburu-buru, takut terkena percikan amarah sang CEO. Vino sempat tertahan di pintu, menatap Raisa dengan khawatir. "Raisa, kalau kau butuh bantuan—"

"Vino, keluar!" bentakan Arash kali ini tidak memberikan ruang untuk bantahan. Vino akhirnya pergi dengan hati yang panas.

Kini hanya tersisa Arash dan Raisa di ruang rapat yang luas itu. Arash berjalan mendekati Raisa, langkah kakinya terdengar berat di atas karpet mahal. Ia berhenti tepat di belakang kursi Raisa, membungkuk hingga bibirnya berada di dekat telinga wanita itu. Aroma parfum maskulin Arash yang kuat seketika mengintimidasi indra penciuman Raisa.

"Sangat menikmati perhatiannya, hm?" bisik Arash, suaranya bergetar karena kecemburuan yang ia samarkan dengan amarah. "Kopi yang manis, air yang dibukakan ... Apa kau juga ingin dia menyuapimu di depanku?"

"Arash, dia hanya kasihan melihatku pucat," bela Raisa dengan suara bergetar. "Kau tidak perlu mempermalukannya seperti itu di depan semua orang. Laporannya tadi sangat bagus, kau tahu itu."

"Jangan pernah membela pria lain di hadapanku, Raisa. Terutama pria yang menatapmu seolah ingin mencurimu dari kamarku," Arash mencengkeram sandaran kursi Raisa, memutarnya hingga wanita itu terpaksa menghadapnya.

Wajah Arash sangat dekat. Raisa bisa melihat kilat posesif yang murni di matanya. Pria ini sedang tidak bermain peran sebagai suami kontrak; dia sedang menunjukkan taringnya sebagai pemilik.

"Karena kau tampaknya punya banyak energi untuk menggoda rekan kerjamu, aku punya tugas tambahan untukmu," ujar Arash dingin. Ia mengambil tumpukan dokumen tebal dari meja—dokumen yang seharusnya dikerjakan oleh tiga orang staf senior. "Aku ingin semua dokumen rekonsiliasi ini selesai malam ini. Secara manual. Aku tidak ingin ada input digital sampai aku memverifikasinya sendiri."

Raisa menatap tumpukan kertas itu dengan mata membelalak. "Ini... ini tidak mungkin selesai sebelum tengah malam, Arash. Aku baru saja sembuh, kau tahu aku belum benar-benar fit."

"Maka kau harus bekerja lebih cepat," jawab Arash tanpa ampun. "Dan satu lagi. Kau tidak boleh pulang sampai pekerjaan ini selesai. Aku akan menunggumu di ruanganku. Jangan pernah berpikir untuk keluar dari gedung ini sebelum aku mengizinkanmu."

"Kau hanya ingin menahanku di sini agar aku tidak bisa pulang bersama Vino, kan?" tuduh Raisa, air mata mulai menggenang di sudut matanya. "Vino tadi bilang dia akan mengantarku pulang karena dia khawatir aku pusing lagi di jalan. Kau hanya ingin memisahkan kami!"

Arash menarik napas panjang, lalu tersenyum—sebuah senyum predator yang mengerikan. "Tepat sekali, Sayang. Pintar juga kau. Aku tidak akan membiarkan tangan pria itu menyentuh kemudi mobil yang membawamu pulang. Kau datang bersamaku, kau pulang bersamaku. Dan jika itu berarti kau harus terjaga sampai subuh bersamaku di kantor ini, maka itulah yang akan terjadi."

Arash berdiri tegak, merapikan jasnya yang tak berkerut. "Mulai bekerja sekarang, Raisa. Di ruanganku. Di sofa depan mejaku. Aku ingin melihat setiap gerakan penamu."

Raisa hanya bisa menunduk, air matanya jatuh membasahi dokumen di pangkuannya. Ia merasa seperti burung di dalam sangkar emas yang setiap jerujinya dialiri listrik. Arash tidak hanya ingin memilikinya, dia ingin menghancurkan setiap jembatan yang menghubungkannya dengan dunia luar, dengan kehangatan manusiawi yang bisa diberikan orang lain.

Arash berjalan menuju pintu, namun ia berhenti sejenak tanpa menoleh. "Oh, dan buang kopi dari Vino itu. Aku sudah menyuruh sekretarisku membuatkanmu cokelat panas yang jauh lebih mahal. Jangan menyentuh apa pun yang diberikan oleh 'butiran debu' itu lagi."

Pintu tertutup dengan bunyi dentum yang berat, meninggalkan Raisa dalam isak tangis yang tertahan. Di balik pintu, Arash menyandarkan kepalanya sejenak, mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih. Ia membenci dirinya sendiri karena telah bersikap begitu kejam, namun ketakutan akan kehilangan Raisa—ketakutan bahwa Raisa mungkin lebih menyukai kelembutan Vino daripada kekerasan dirinya—telah mengubahnya menjadi monster yang tak ia kenali.

Malam itu, kantor Dirgantara Group menjadi saksi bisu dari sebuah penjagaan yang mencekam. Di bawah lampu ruangan CEO yang temaram, Raisa bekerja dengan air mata yang sesekali disekanya, sementara Arash duduk di mejanya, pura-pura membaca berkas, namun matanya tak pernah lepas dari sosok wanita yang kini benar-benar ia kurung dalam obsesinya.

1
Marini Suhendar
Bagus Ceritanya Thor...Semangat Berkarya💪
Marini Suhendar
Huuh...Good Job Arash
Marini Suhendar
mampooos pàk tua & ulat bulu
Zakia Ulfa
hadehhh selain Selin ,Mr Tan orang paling jahat di crita ini
Zakia Ulfa
naaaahhhh kaaaannnnn😄😄😄
Zakia Ulfa
dan ahirnya arash sadar dan Raisa pergi dalam keadaan hamidun.surat Raisa tidak di baca arash karna ketahuan Selin.selin akan memanipulasi seolah olah Raisa berkhianat..eaaaaaa🤭
Idha Rahman: hahahaha sepertinya crita nya akan seperti itu sista sudah biasa jalan cerita dalam novel seperti itu jalan ceritanya
total 1 replies
Zakia Ulfa
di bab bab awal padahal sudah di jelaskan bahwa arash hanya peduli pada Raisa,tak lagi peduli pada perusahaan.daan jika perusahaan bangkit bukankah yg menang kakek peot itu
Zakia Ulfa
knapa tiap nge like slalu eror ya,padahal critanya bagus lo.sepi pulang yg komentar.semangat thooorrrr
EsKobok: terima kasih 🙇🙏
total 2 replies
Zakia Ulfa
knapa kakek arash semengeerikan itu
Marini Suhendar
Raisa....kenapa kmu percya k selin sih
Zakia Ulfa
oh Raisa malang sekali nasipmu,kuatlah raisa.jangan biarkan monster itu menang,kau harus kuat kuat kuat
Zakia Ulfa
plissss Raisa aku menangisi mu yg di perlakukan tidak manusiawi oleh suamimu.jadiiiiii jangan mudah luluh plisss..biar air mataku tak sia sia🤭
Zakia Ulfa
plissss Raisa jangan mudah goyah oke,,orang seperti arash ini musti di kasih kejut jantung
Zakia Ulfa
Halah arassss,,,gegayaan banget sok jual mahal,padahal mlehoy
Zakia Ulfa
awal bab tiap katanya mudah di pahami,, kayaknya seruuuu💪💪💪
Marini Suhendar
Raisa..bisa gila lama" dlm tekanan begini
Marini Suhendar
lanjut thor💪
falea sezi
raisa kebanyakan drama
Morince Moren
terbaik cerita ini
Marini Suhendar
Thor..jangan terlalu lama Raisa d sakiti/Sob/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!