NovelToon NovelToon
Anak Untuk Rayyan

Anak Untuk Rayyan

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Nikahmuda / One Night Stand / Hamil di luar nikah / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ifah Latifah

"Gue lahirin anak lo, lo bawa dia pergi sama lo. Sementara gue pulang ke Papa dan pergi jauh dari sini. Kita lupain semua yang terjadi disini. Lo lanjutin hidup lo dan gue lanjutin hidup gue. Itu rencananya,” jelas Alana.

Entah bagaimana Alana bisa terbangun dalam sebuah kamar asing dengan seorang pria di sampingnya. Tapi bukan itu masalahnya.

Masalahnya, video mereka malam itu diputar di momen yang paling Alana tunggu setelah kelulusan yaitu penghargaan dirinya sebagai siswi paling berprestasi.

Cerita ini remake dari tulisanku Dalam Pelukan Dosa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifah Latifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 - Perintah Dharma

Alana membuka mata karena merasakan sentuhan lembut di kepalanya. Ketika matanya terbuka, Alana melihat seorang perempuan di depannya. Perempuan yang sejak kecil hanya dapat Alana lihat dari foto. Perempuan yang sangat Alana rindukan sepanjang hidupnya.

Alana berbaring dalam pangkuan ibunya, Alika.

“Mama,” panggil Alana pelan.

Alika tersenyum, mengusap lembut kepala Alana dengan penuh kasih.

Alana melingkarkan tangannya di perut Alika. “Lana kangen.”

“Mama kenapa pergi tinggalin Lana, Ma?”

Air mata Alana mengalir.

Alika tersenyum lembut, lalu mengusap air mata itu. 

“Mama nggak pernah tinggalin Lana. Mama selalu ada di sini…” Alika menyentuh dada Alana. “... di hati Lana.”

Alana tersenyum kecil.

“Mama… Lana capek,” ucap Lana lirih.

Alika kembali mengusap kepala Alana dengan lembut. Alana memejamkan mata, merasakan setiap sentuhan hangat dari Alika.

“Lana, anak kesayangan Mama, Mama tahu Lana kuat. Lana pasti bisa tegar menghadapi semua masalah yang ada.”

Alika tersenyum lembut. “Mama akan selalu menemani kamu, Sayang. Mama sayang sekali sama Lana.”

...***...

Alana membuka mata. Hal pertama yang dia lihat adalah langit-langit ruangan dan bau antiseptik yang menyengat di hidungnya. Alana mengedarkan pandangan. Tidak ada Alika disana. Tidak ada siapapun selain dirinya.

Alana menyentuh sudut matanya. Ada bulir air mata yang menetes disana. Dia memejamkan mata, menarik napas dalam, mengingat lagi wajah Alika yang dia lihat dalam mimpi.

Wajah itu masih terlihat jelas dalam ingatannya.

“Mama…,” gumamnya lirih.

Ckrek!

Suara pintu terbuka pelan terdengar di telinga Alana. Alana membuka mata dengan perlahan. Dharma baru saja masuk ke dalam ruang rawat Alana dengan langkah tenang.

Alana tersenyum kecil. Dia segera mengubah posisinya menjadi duduk. Tatapannya tertuju pada wajah Dharma yang terlihat lebih dingin daripada biasanya.

“Papa,” panggil Alana pelan, seakan mendapatkan lagi uluran tangan untuknya bangkit.

Dharma berhenti di sisi ranjang Alana. Tatapan matanya beralih pada Alana yang menatapnya dengan binar kecil di matanya.

Alana tersenyum tulus.

Rahang Dharma mengeras. Dia segera memalingkan pandangan dari Alana. 

“Papa tidak peduli apa yang sebenarnya terjadi.” 

Dharma menoleh kembali pada Alana. “Yang perlu kamu lakukan sekarang adalah kamu gugurkan anak itu.”

Jeda sejenak sebelum Dharma kembali berkata, “kita pindah ke Amerika. Kamu lanjutkan kuliah disana seperti rencana awal dan Papa akan fokuskan bisnis Papa disana. Kita menetap disana, lupakan semua yang terjadi disini dan tidak usah kembali lagi.”

Alana terdiam membeku untuk waktu yang lama. 

Alana pikir Dharma datang kesana untuk memeluknya, menemaninya, dan mengatakan padanya bahwa semua akan baik-baik saja. Karena itu yang sangat ingin Alana rasakan, tapi ternyata tidak.

Dharma masih marah dan kecewa padanya.

“Boleh Lana peluk Papa?” pinta Alana lirih dan putus asa.

Rahang Dharma kembali menegang. Tangannya terkepal kuat. Dia buru-buru mengalihkan pandangan. 

Dharma mengeluarkan sebuah kartu nama dari saku jas dengan cepat. Kemudian meletakkannya di pangkuan Alana.

“Kamu pergi ke sana. Ferdi sudah buatkan janji untuk kamu.”

Alana menunduk, menatap kertas persegi panjang itu dengan mata berkaca-kaca.

“Dokter itu sudah sangat berpengalaman. Papa juga sudah bayar mahal untuk dia, jadi kamu nggak usah khawatir,” tambah Dharma tanpa menoleh.

“Tidak akan terjadi apapun dan tidak ada yang akan tahu tentang hal ini." 

Tanpa sepatah kata apapun lagi, bahkan tanpa menoleh pada Alana sekali lagi, Dharma berbalik badan dan melangkah keluar. Suara pintu menutup pelan, meninggalkan Alana dalam keheningan yang menyakitkan.

Alana masih membeku di tempatnya. Dia tidak histeris seperti kemarin, tapi separuh jiwanya terasa ditarik paksa keluar dari tubuh.

Alana menunduk kembali. Tatapannya jatuh pada kartu nama di pangkuannya. Perlahan dia meraih dan menggenggamnya dengan tangan gemetar.

Dr. Evelyn Paramitha, Sp.OG.

Klinik Graha Husada

...***...

Rayyan menghentikan motornya di basement rumah sakit. Mesin motor dimatikan cepat, helmnya dilepas. Dia turun dari motornya. Ketika baru saja melangkah, Rayyan melihat tiga bayangan bergerak dari arah kanan dan kiri. Cepat. Tenang.

Rayyan berhenti. Belum sempat Rayyan menoleh, sebuah pukulan mendarat di wajahnya hingga membuatnya terpelanting dan jatuh.

Rayyan mendongak, menatap tiga orang berbadan besar dengan setelan jas lengkap berdiri di depannya.

“Siapa kalian?” Rayyan bangun.

Bukannya menjawab, mereka justru kembali menyerang Rayyan.

Orang pertama mengayunkan pukulan ke arah rahang. Rayyan menunduk cepat, pukulan itu hanya mengenai udara. 

Orang kedua berusaha menangkap Rayyan dari belakang. Rayyan memutar badan, menyikut rusuknya hingga orang itu terhuyung.

Tubuh Rayyan bergerak cepat, napasnya berat tapi terkontrol. Adrenalin memacu refleksnya.

Saat Rayyan memutar badan untuk menangkis serangan ketiga, salah satu dari mereka tiba-tiba mengunci lengannya dari belakang. 

Dua orang kini memegangi Rayyan dari kiri dan kanan, memaksa tubuhnya terbuka, tak bisa membungkuk atau menghindar.

Satu orang lagi berdiri di depan Rayyan. Dia memukul Rayyan bertubi-tubi tanpa jeda. Suara bogem mentah memantul di dinding beton.

Satu pukulan lagi telak menghajar sisi wajahnya. Bibirnya pecah dan berdarah.

Dua orang yang memegangnya akhirnya melepaskan Rayyan. Tubuh Rayyan jatuh ke lantai, terduduk dengan napas tersengal.  Darah keluar dari bibir dan pelipisnya, menetes di lantai. 

Lalu, mereka masuk ke dalam sebuah mobil. 

Rayyan mengalihkan pandangan pada mobil SUV yang berada tidak jauh dari tempat Rayyan berada. Mobil itu mulai melaju dengan diikuti mobil yang ditumpangi tiga orang yang memukuli Rayyan.

Di kursi penumpang, ketika kaca jendela perlahan tertutup, Rayyan melihat seorang laki-laki yang duduk disana.

Ting!

Ponsel Rayyan berbunyi pelan, membuatnya menoleh.

Rayyan bangun dengan langkah tertatih, lalu segera meraih ponselnya yang terlempar beberapa meter.

Sebuah pesan masuk.

Alana mengirimkan sebuah lokasi padanya.

...***...

Alana berdiri mematung tepat di depan Klinik Graha Husada, tempat yang sudah dipilihkan Dharma untuk Alana menggugurkan kandungannya. 

Sudah sejak lama Alana sampai di tempat itu. Banyak orang berlalu lalang keluar masuk klinik itu, tapi Alana tidak. Kakinya terpaku. Napasnya memburu. 

Wajah Alika terbayang begitu jelas dalam ingatannya dan membuat Alana ragu untuk melangkah. Setiap Alana menguatkan diri untuk melangkah, seperti ada tangan tidak terlihat yang menahan tubuhnya.

Alana bergeming.

Tidak lama, Rayyan sampai dan memarkirkan motornya di tepi jalan. 

Melihat Alana yang berdiri di tepi jalan, Rayyan segera melepaskan helm yang dipakainya. Wajahnya babak belur. Darah mengering di wajahnya.

“Na, kenapa lo disini?” tanyanya panik.

Alana diam. Tidak menjawab.

Rayyan meraih tangan Alana, menggenggamnya. “Ayo kita ke rumah sakit lagi.” 

Alana tetap bergeming.

“Na?”

Dengan gerakan perlahan, Alana menoleh pada Rayyan. Menatap manik mata cowok itu dalam-dalam.

“Lo serius mau tanggung jawab?”

Rayyan diam menatap Alana. Kemudian mengangguk mantap.

...----------------...

1
Nadiaaa
kpn up lagi kak
Retno Harningsih
up
Nadiaaa
doubel up kk🤭
Chillzilla: yahhh udah aku set satu² kak😁
total 1 replies
Nadiaaa
semangat nulisnya kak 💪 lanjut terus sampe tamat💗
Chillzilla: makasih kak🤗🤗
total 1 replies
Nadiaaa
👍
Nadiaaa
kpn lanjut kak
Chillzilla: nanti sore kakk
total 1 replies
Nadiaaa
suka❤️‍🔥
Nadiaaa
lanjut
Nadiaaa
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!