Seorang Wanita Kuat-Amara. setelah hampir 15 th pernikahan ternyata suaminya ketahuan Selingkuh.
Semenjak itu Kehidupan Amara dan kehidupan rumah tangga nya berubah.
Masih Mencinta namun tak dapat bersama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Yang Berbeda
Fajar belum sepenuhnya menguasai langit Jakarta ketika Amara melangkah keluar dari gerbang rumahnya. Dia mengenakan sepatu kets putih yang sudah usang, celana legging hitam, dan hoodie abu-abu tua yang nyaman—pakaian yang biasanya hanya untuk olahraga di dalam rumah.
Udara pagi yang masih sejuk dan sedikit berpolusi menerpanya, membawa aroma khas kota yang baru bangun: campuran uap dari gerobak bakso, asap knalpot pertama, dan embun yang menempel di daun-daun puring di taman kompleks.
Ini adalah "jalan pagi sendiri" yang pertama dalam daftarnya. Kakinya terasa ringan, aneh, seolah-olah melangkah tanpa beban rutinitas yang biasa: menyiapkan sarapan, membangunkan Luna, memastikan semuanya sempurna sebelum Rafa turun.
Hari ini, Yuni datang lebih awal untuk mengurus itu semua. Amara meminta, dengan sopan tapi tegas, pagi ini untuk dirinya sendiri.
Dia berjalan tanpa tujuan pasti, menyusuri trotoar yang sepi. Pikirannya yang biasanya penuh dengan daftar belanja dan jadwal les, hari ini dipenuhi dengan bentuk dan warna.
Proyek untuk klinik Ibu Dewi telah memicu sesuatu. Dia melihat lingkungan sekitar dengan mata yang berbeda: lengkungan atap sebuah gazebo di taman kompleks mengingatkannya pada bentuk gigi bungsu; pola retak-retak di trotoar memberi inspirasi untuk motif grafis yang abstrak; warna-warni jemuran di balkon satu blok apartemen menciptakan palet warna tak terduga yang ceria.
Saat dia duduk di bangku taman, menikmati secangkir kopi panas yang dibeli dari gerobak pinggir jalan (sesuatu yang tidak akan pernah dilakukannya biasanya karena khawatir dengan kebersihan), dia membuka aplikasi sketsa di tabletnya. Jari-jemarinya bergerak lincah, menangkap ide-ide yang melintas.
Sebuah ruang tunggu yang terinspirasi dari taman: kursi dengan bentuk seperti bunga, rak majalah yang menyerupai batang pohon, dinding akustik bertekstur seperti kulit kayu.
Dia menambahkan catatan tentang pencahayaan: "cahaya matahari difilter, lembut, seperti di bawah kanopi hutan."
Dia merasa gembira. Sebuah kegembiraan yang sederhana, murni, berasal dari penciptaan.
Kembali ke rumah, setelah mandi dan berganti pakaian menjadi blus linen dan celana wide-leg yang nyaman, Amara duduk di ruang kerjanya dengan tekad baru. Dia membuka file untuk Ibu Dewi.
Bukan sekadar sketsa kasar, tapi sebuah presentasi moodboard digital yang sederhana namun jelas. Dia menyusun gambar-gambar inspirasi, palet warna (hijau sage, putih gading, kayu oak hangat, aksen kuning mustard), material samples virtual, dan beberapa sketsa konsep awal.
Di bagian akhir, dia menuliskan sebuah proposal sederhana tentang tahapan kerja dan estimasi biaya yang sangat masuk akal, bahkan di bawah standar pasar, sebagai bentuk terima kasih atas kepercayaan pertama ini.
Dia mengeklik "Kirim" ke email Ibu Dewi. Tidak ada keraguan kali ini.
Beberapa menit kemudian, ponselnya berdering. Ibu Dewi.
"Bu Amara! Astaga! Baru saja saya buka emailnya! Ini… ini luar biasa!" suaranya nyaris teriak di seberang sana.
"Saya suka sekali konsep 'taman'nya! Suami saya juga lihat, dia bilang, 'Wah, jadi nggak serem ya tempatnya'. Ini persis yang kami mau!"
Amara tersenyum lebar, senang yang meluap.
"Alhamdulillah kalau cocok, Bu Dewi."
"Kapan kita bisa mulai? Saya tidak sabar!" tanya Ibu Dewi antusias.
"Minggu depan kita bisa survei lokasi langsung, kalau Ibu ada waktu," usul Amara.
"Ada! Pasti ada! Nanti saya atur jadwalnya. Oh, Bu Amara, terima kasih ya. Saya bisa merasakan 'jiwanya' di desain ini."
Percakapan singkat itu meninggalkan rasa hangat di dada Amara. Itu validasi. Nyata. Bukan dari Rafa, bukan dari keluarganya, tapi dari klien yang puas. Rasanya seperti otot yang lama tidak digunakan baru saja mengangkat beban dengan sempurna.
Siang hari, setelah mengurus beberapa hal rumah tangga dan memastikan Luna baik-baik saja dengan Yuni, Amara bersiap untuk meeting virtual dengan Clara.
Dia mengenakan blus sutra berwarna krem yang rapi, sedikit lipstik, dan mengatur latar belakang ruang kerjanya agar terlihat profesional—rak buku berisi buku-buku seni dan desain terlihat di belakangnya.
Saat layar Zoom terbuka, wajah Clara yang bersemangat muncul. Rambutnya yang pendek kini telah memutih, tapi matanya masih sama tajam dan bersahabat.
"Mara! Lihat kamu! Masih sama cantiknya," sapa Clara dengan khasnya.
"Bu Clara, lebih awet muda dari saya," balas Amara tersipu.
"Ah, sudahlah. Langsung saja, saya lihat moodboard untuk koleksi 'Winter Whisper' itu. Bagus. Tapi…," Clara mencondongkan tubuh ke depan.
"Terlalu aman, Mara." Amara terkejut. "Terlalu aman?"
"Ya. Paletnya bagus, teksturnya menarik. Tapi kurang… berani. Kurang 'Amara'. Ingat koleksi final projectmu dulu? Yang pakai material daur ulang dengan potongan radikal? Itu yang bikin saya rekrut kamu."
Amara terdiam. Clara benar. Dia bermain aman, takut gagal.
"Kamu sedang takut, ya?" tanya Clara, lebih lembut.
"Sedikit," akui Amara.
"Jangan. Dunia sudah berubah. Sustainability bukan lagi tren, tapi kebutuhan. Saya mau koleksi ini punya statement. Bukan cuma cantik. Tapi punya cerita. Punya amarah, punya harapan."
Clara menatapnya melalui layar. "Saya percaya kamu masih memilikinya. Coba lagi. Lihat ke dalam. Apa yang membuatmu marah sekarang? Apa yang membuatmu masih punya harapan? Tuangkan itu."
Pertanyaan itu mengguncang. Apa yang membuatku marah? Gambar taplak meja bernoda sirup, suara dengungan kipas angin, kuitansi di amplop hotel, pintu kamar tamu yang tertutup. Apa yang membuatku berharap? Sketchbook biru, senyum Luna, tawa Riana, mata Ibu Dewi yang berbinar.
"Baik, Bu Clara. Saya akan revisi ulang. Saya… saya punya ide lain," kata Amara, suaranya lebih yakin.
"Bagus. Deadline masih lama. Tapi kirim progress ke saya. Dan Mara…," Clara tersenyum.
"Selamat datang kembali."
Meeting berakhir. Amara duduk lama di depan laptopnya. Clara telah melihat langsung ke dalam keraguannya dan menantangnya. Dia tidak marah. Dia justru merasa tertantang. Seperti seorang pelatih lama yang mendorongnya untuk melompat lebih tinggi.
Dia membuka moodboard lama, menghapusnya. Mulai dari halaman kosong.
Menjelang sore, saat energi dari meeting mulai mereda, Amara menarik napas dan mengambil langkah ketiga dalam daftarnya: menghubungi Sari.
Sari, sahabat semasa kuliah dulu, partner dalam begadang dan berjuang. Mereka perlahan terpisah oleh pernikahan, oleh karir Sari sebagai kurator di sebuah galeri seni kontemporer, oleh kehidupan yang berbeda.
Jari Amara gemetar sedikit saat menekan nomor yang sudah lama tidak dihubungi. Telepon berdering beberapa kali sebelum akhirnya diangkat.
"Halo?" suara Sari yang khas, sedikit serak namun hangat.
"Sar? Ini aku, Amara."
Diam sejenak. "Mara? Wah, langka! Lamaaaaa banget tidak ada kabar!" suara Sari terdengar genuinely senyap dan terkejut, tanpa sedikit pun kesan kesal.
"Iya… maaf ya, Sar. Aku… sibuk dengan urusan di sini," jawab Amara, merasa bersalah.
"Ah, sudahlah. Yang penting sekarang kamu telpon. Gimana kabar? Luna? Rafa?"
"Luna baik. Rafa… baik-baik saja. Aku… aku mulai desain lagi, Sar."
"Serius?!" teriak Sari, bersemangat. "Akhinya! Gue selalu bilang, sayang banget talentamu disimpan. Proyek apa?"
Amara menceritakan tentang Clara dan Ibu Dewi. Sari mendengarkan dengan antusias, sesekali menyela dengan, "Wah, keren!" atau
"Itu ide bagus!"
"Tapi Clara bilang karyaku terlalu aman," keluh Amara.
"Clara selalu jitu," kata Sari. "Dengar sarannya. Lo perlu keluar, Mara. Lihat pameran, lihat apa yang terjadi di luar sana. Banyak seniman muda dengan karya yang bikin lo terbelalak. Bikin lo marah, bikin lo berpikir. Itu yang lo butuhin."
"Gue… gue merasa ketinggalan, Sar. Kayak dunia di luar sana udah jauh banget."
"Gak ada kata ketinggalan. Lo cuma perlu nyebur lagi. Gimana kalau minggu depan kita ketemu? Ada opening pameran seni rupa baru di galeri temen gue. Karya-karya instalasi tentang 'memory' dan 'trauma'. Mungkin bisa kasih inspirasi."
Pertemuan langsung? Jantung Amara berdebar. Itu melampaui rencana awalnya yang hanya menelepon.
"Rafa…," batinnya protes.
Tapi suara Riana bergema di kepalanya: "Urus dirimu dulu."
"Aku… aku mau, Sar. Tapi aku harus atur jadwal dulu dengan yang jaga Luna."
"Sip! Lo konfirmasi aja nanti. Gue tunggu. Dan Mara…," suara Sari lebih lembut. "Gue kangen lo. Beneran. Seneng banget lo telpon."
Percakapan itu berakhir dengan janji yang samar namun nyata. Amara meletakkan ponselnya, perasaan campur aduk. Ada rasa bersalah karena telah mengabaikan pertemanan, ada rasa takut menghadapi dunia lama, tapi ada juga kegembiraan yang mendidih. Sari masih ada. Persahabatan itu tidak mati, hanya tertidur.
Dia berdiri, berjalan ke jendela. Hari mulai sore. Dia melihat Rafa pulang, mobilnya melambat memasuki gerbang. Biasanya, pandangan ini akan membuatnya tegang, mempersiapkan diri untuk menyambut atau menghindari.
Tapi hari ini, sesuatu berbeda.
Dia tidak buru-buru turun atau berpura-pura sibuk. Dia tetap di ruang kerjanya, menyelesaikan sebuah sketsa garis kasar untuk konsep baru koleksi Clara.
Sebuah ide tentang "bentuk yang terpecah namun menyatu", terinspirasi dari perasaannya sendiri tentang identitas yang retak namun berusaha diperbaiki.
Dia mendengar langkah Rafa di bawah, suara sapaan pada Luna. Lalu, langkah itu naik ke tangga, mendekati ruang kerjanya. Dia berhenti di ambang pintu.
Amara menoleh. Mereka saling memandang.
"Ada meeting?" tanya Rafa, suaranya netral.
"Sudah selesai. Dengan mantan bosku, Clara," jawab Amara, juga netral.
"Oke." Rafa terdiam sebentar, seperti ingin mengatakan sesuatu. Matanya melihat ke sketchbook yang terbuka. "Itu untuk proyekmu?"
"Iya."
Rafa mengangguk pelan. "Bagus," ucapnya, satu kata sederhana, hampir tak terdengar. Lalu dia berbalik, menuju kamar untuk berganti pakaian.
Itu bukan dukungan. Bukan pula penolakan. Hanya sebuah pengakuan. Sebuah pengakuan bahwa "proyekmu" itu ada.
Bagi Amara, pada hari ini, itu sudah cukup.
Dia menoleh kembali ke sketchbook-nya. Jari-jarinya yang memegang pensil tidak lagi gemetar. Garis yang digambarnya tegas dan penuh keyakinan. Di luar, matahari sore mulai mencelupkan Jakarta dalam cahaya keemasan.
Hari ini, dia telah mengirimkan ide, menerima tantangan, dan menghidupkan kembali sebuah persahabatan. Tiga langkah kecil.
Tapi bagi Amara, setiap langkah terasa seperti pijakan yang kokoh menuju daratan yang selama ini hanya dia lihat dari kejauhan. Daratan tempat "Amara" yang dulu mungkin masih hidup, menunggu untuk ditemukan kembali, dan mungkin, diciptakan ulang menjadi versi yang lebih kuat.
sambil ☕ thor
Penulisnya sukses mengaduk emosi jiwa seperti naik roller-coaster dan yang buat salut hampir tidak ada typo dalam tiap bab cerita yang disuguhkan. Semoga kisah di novel ini bisa diangkat ke film,karena asli bagus jalan cerita dan penokohan serta konflik yang ada benar-benar membuat cerita ini hidup.
Terimakasih buat penulis dan sukses selalu.