Hidup yang sangat berkecukupan membuat seorang Anya Febiola Anggara sangat terlena dengan kemewahan yang ia miliki.
Sampai suatu hari keadaan berbalik sangat drastis, membuat kedua orang tua Anya terpaksa menjodohkan anak mereka kepada rekan bisnis yang akan membantu membangkitkan kembali keadaannya yang saat itu tengah terpuruk.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilicilian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedelapan
Anya membuka mata di tengah malam, merasa tubuhnya remuk dan pikirannya kosong. Bahkan tidur panjang pun tak mampu menghapus kelelahannya.
Tiba-tiba, perutnya berbunyi, mengingatkannya bahwa sejak pagi ia belum makan apa pun. Bukan karena tidak sempat, melainkan karena selera makannya hilang. Namun, setelah bangun tidur, rasa lapar menyerang, membuatnya memutuskan untuk turun dan mencari makanan.
Saat beranjak dari tempat tidur, Anya melihat Arga meringkuk di sudut ruangan, memeluk lutut dan menangis tersedu-sedu.
Anya beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, mencoba mengabaikan Arga yang tampak begitu menyedihkan.
"Memuakkan... benar-benar memuakkan! Seandainya saja ada jalan keluar dari neraka ini, aku tidak ingin lagi melihat wajahnya barang sedetik pun!" bisik Anya pada pantulan dirinya di cermin kamar mandi, merasakan keputusasaan yang semakin menghimpit.
Setelah selesai membersihkan diri, Anya keluar dari kamar mandi dengan perasaan sedikit lebih baik. Ia melihat Arga masih terduduk di sudut ruang, memeluk lutut dan menangis tersedu-sedu.
Anya menghela napas panjang, merasa lelah dan terjebak.
Arga mendongak, menatap Anya dengan mata sembab. "Anya jahat," ucap Arga bergetar, "Anya tidak sayang Arga."
Anya memutar bola mata, merasa muak dengan drama ini. "Bodo amat! Aku lapar dan mau cari makan! Sana nangis saja di pojokan, siapa tahu ada hantu yang sudi menemanimu," ucap Anya sinis, berharap Arga akan diam.
Namun, Arga justru menangis semakin histeris, memekakkan telinga Anya.
"DIAM! Kalau tidak, dia akan datang dan membawamu!" ancam Anya, merasa semakin terjebak dalam mimpi buruk yang tak berkesudahan.
Anehnya, ancaman Anya berhasil membungkam Arga. Ia masih terisak, namun tidak sekeras tadi. Anya menghela napas lega dan bergegas keluar dari kamar hotel.
"Kamu diam di sini, jangan ke mana-mana. Tapi kalau mau kabur juga tidak masalah, malah itu bagus," ucap Anya dengan senyum sinis.
Arga menggelengkan kepala sambil terisak. "Arga ikut, Arga lapar," rengeknya dengan mata sembab.
"Cari makan sendiri! Jangan merepotkan!" ucap Anya ketus. Ia hendak keluar kamar, namun Arga dengan cepat menahan lengannya.
"Arga ikut! Kalau Anya tidak mau Arga ikut, Arga akan bilang pada Ayah kalau Anya jahat!" ancam Arga, membuat Anya terkejut.
Anya membelalakkan mata. Ia tidak percaya Arga berani mengancamnya. "Wah, hebat kamu! Sekarang sudah berani mengancamku!"
"Oke, fine! Kamu ikut! Tapi jangan harap aku akan membelikanmu makanan! Kamu harus cari sendiri!" ucap Anya dengan nada yang kesal. Ia merasa seperti sedang berurusan dengan anak kecil yang keras kepala.
Arga mengangguk dengan senang hati. "Oke!" ucapnya dengan riang.
Anya menghela napas panjang dan berjalan keluar dari kamar hotel. Arga mengikuti Anya dari belakang dengan langkah yang riang.
Anya berjalan menuju lift dan menekan tombol untuk turun ke lantai dasar. Arga berdiri di samping Anya dengan tatapan yang polos.
Di dalam lift, Anya dan Arga hanya diam. Anya menatap lurus ke depan, sementara Arga melihat sekeliling dengan tatapan yang penuh dengan rasa ingin tahu.
Sesampainya di lantai dasar, Anya dan Arga berjalan menuju pintu keluar hotel. Anya berjalan dengan cepat, sementara Arga berusaha untuk mengikutinya.
Di luar hotel, Anya melihat banyak sekali restoran dan warung makan yang menjual berbagai macam makanan. Ia merasa bingung, makanan apa yang harus ia pilih.
Air mata mulai mengalir di pipi Arga. Ia merasa sendirian dan ketakutan. Ia tidak tahu ke mana harus pergi dan apa yang harus dilakukan. Ia merindukan ayahnya dan ingin segera pulang.
Tiba-tiba, seseorang menabrak Arga dari belakang. Arga terhuyung dan hampir jatuh, namun ia berhasil menyeimbangkan diri. Ia menoleh ke belakang dan melihat seorang wanita muda yang sedang menatapnya dengan tatapan yang aneh.
"Maaf," ucap wanita itu dengan nada yang datar. "Aku tidak sengaja."
Arga tidak menjawab. Ia hanya menatap wanita itu dengan tatapan yang kosong.
Wanita itu menatap Arga dengan tatapan yang iba. Ia bisa melihat bahwa Arga sedang ketakutan dan kebingungan.
"Kamu kenapa?" tanya wanita itu dengan nada yang lembut. "Kamu tersesat?"
Arga menggelengkan kepalanya. "Arga tidak tersesat," ucap Arga dengan suara yang bergetar. "Arga hanya takut."
Wanita itu tersenyum. "Tidak apa-apa," ucap wanita itu. "Aku akan menemanimu. Siapa namamu?"
"Nama Arga," ucap Arga. "Nama Kakak siapa?"
"Nama aku Rina," ucap wanita itu. "Ayo, kita cari makan bersama."
Arga menatap Rina dengan tatapan yang penuh harapan. "Anya juga mau makan," ucap Arga.
Rina mengerutkan keningnya. "Siapa Anya?" tanya Rina.
"Anya istri Arga," ucap Arga. "Anya jahat sama Arga."
Rina terkejut mendengar ucapan Arga. Ia tidak menyangka bahwa Arga sudah menikah.
"Di mana Anya sekarang?" tanya Rina.
Arga menggelengkan kepalanya. "Arga tidak tahu," ucap Arga. "Anya meninggalkan Arga sendirian di sini."
Rina merasa kasihan pada Arga. Ia tidak menyangka bahwa ada orang yang bisa memperlakukan Arga sekejam itu.
"Ayo, kita cari Anya bersama," ucap Rina. "Tapi sebelum itu, kita cari makan dulu, ya?"
Arga mengangguk dengan semangat. Ia merasa senang karena ada seseorang yang mau menemaninya dan membantunya mencari Anya.
Tanpa Arga ketahui, dari kejauhan Anya mengawasi interaksi mereka. "Dasar bocah idiot! Awas saja kalau sampai tidak pulang ke hotel… Eh, tapi kalau sampai Ayah tahu, bisa gawat!" batin Anya bimbang.
"Terserah! Yang penting aku makan dulu, baru cari Arga agar tidak bertambah masalah," ucap Anya, melanjutkan makannya dengan tenang, seolah tak ada yang terjadi.
Anya menyelesaikan makannya dengan cepat. Ia merasa bersalah karena telah meninggalkan Arga sendirian. Ia tahu, Arga tidak bersalah dalam situasi ini. Arga hanya tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
Setelah membayar makanan, Anya segera mencari Arga. Ia menyusuri jalanan yang ramai dengan harapan bisa segera menemukan Arga.
Namun, semakin lama Anya mencari, semakin besar pula rasa cemasnya. Ia tidak melihat tanda-tanda keberadaan Arga. Ia mulai panik dan takut jika terjadi sesuatu yang buruk pada Arga.
"Arga!" seru Anya dengan nada yang lantang. "Arga, di mana kamu?!"
Namun, tidak ada jawaban. Anya semakin panik dan berlari ke sana kemari mencari Arga.
Tiba-tiba, ia melihat Rina dan Arga sedang berjalan bersama. Anya merasa lega dan segera menghampiri mereka.
"Arga!" seru Anya dengan nada yang marah. "Kamu ke mana aja?! Kenapa kamu tidak menunggu aku di sana?!"
Arga terkejut mendengar suara Anya dan segera bersembunyi di belakang Rina. Ia terlihat ketakutan dan tidak berani menatap Anya.
Rina menatap Anya dengan tatapan yang tajam. "Kamu siapa?" tanya Rina dengan nada yang dingin. "Kenapa kamu membentak Arga?"
Anya terkejut mendengar pertanyaan Rina. Ia tidak menyangka bahwa Rina akan membela Arga.
"Aku istrinya," ucap Anya dengan nada yang gugup. "Aku hanya khawatir karena dia menghilang."
Rina tersenyum sinis. "Khawatir?" tanya Rina. "Kalau kamu khawatir, kenapa kamu meninggalkannya sendirian di sini? Apa kamu tahu bahwa dia ketakutan dan kebingungan?"
"Jangan ikut campur urusan orang! Ini antara aku dan suamiku!" desis Anya pada Rina dengan nada mengancam.
"Arga! Ayo kita pulang sekarang!" perintah Anya, mengulurkan tangannya.
Dengan ragu, Arga keluar dari balik punggung Rina. Ia ingin menghampiri Anya, namun Rina dengan sigap menahan lengannya.
"Arga, jawab aku dengan jujur. Apa benar dia Anya, istri kamu yang tadi kamu cari?" tanya Rina dengan tatapan tajam, seolah mencoba menyelamatkan Arga dari jerat manipulasi.
Arga mengangguk lemah, menatap Anya dengan mata penuh ketakutan. "I... iya. Dia Anya yang tadi Arga cari..."