Apa jadinya jika seorang Scientist Gila mendapatkan Sistem Pertanian?
Elena adalah seorang ilmuwan kimia gila yang mati dalam ledakan laboratorium dan terbangun di tubuh gadis desa yang tertindas. Berbekal "Sistem Petani Legendaris", ia tidak lagi bermain dengan cairan asam, melainkan dengan cangkul dan benih ajaib. Di tangan seorang jenius gila, ladang pertanian bukan sekadar tempat menanam padi, melainkan laboratorium maut yang bisa mengguncang kekaisaran!
Ingin mencuri hasil panennya? Bersiaplah menghadapi tanaman karnivora dan ledakan reaksi kimia di ladangnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8
Pagi itu, tanah hitam Han Jia tidak lagi mencekam, namun suasana di dalam gubuk justru lebih panas daripada reaksi eksotermik. Gas lumpuh semalam sudah menguap, meninggalkan warga desa yang merangkak pulang dengan harga diri yang hancur. Di dalam gubuk, Han Jia sedang sibuk menumbuk mineral menggunakan batu, sementara Feng Shura yang sudah bisa duduk meski masih pucat terus menatapnya dengan pandangan penuh selidik yang amat sangat mengganggu.
"Katakan padaku," suara Shura memecah keheningan untuk yang kesepuluh kalinya pagi itu. "Bagaimana mungkin kau adalah Han Jia? Aku pernah mendengar tentang putri tabib Han. Dia gadis yang gagap, takut pada bayangannya sendiri, dan tidak bisa membedakan mana rumput liar dan mana tanaman obat."
Han Jia tidak menyahut. Ia hanya terus menumbuk dengan ritme yang stabil.
Duk. Duk. Duk.
"Lalu semalam," lanjut Shura dengan nada yang lebih berat, "kau mengeluarkan kabut yang bisa melumpuhkan orang tanpa mantra. Kau bicara tentang 'atom', 'molekul', dan 'energi kinetik'. Tidak ada manusia di seluruh Kekaisaran Da Yan yang bicara seperti itu."
Han Jia menghentikan kegiatannya. Bahunya mulai naik turun. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan saraf-sarafnya yang mulai menegang karena gangguan suara frekuensi rendah dari Shura.
"Profesor, tekanan darah Anda meningkat. Detak jantung 110 per menit. Saya sarankan Anda minum air atau setidaknya jangan melempar batu penumbuk itu ke wajah subjek," goda Hera di kepalanya.
"Lalu puncaknya," Shura belum menyerah, ia menunjuk ke arah botol-botol tanah liat di meja. "Kau mengobati racun Taring Hitam dalam hitungan jam. Itu mustahil bagi manusia. Jadi, katakan yang sejujurnya... Kau ini sebenarnya apa? Iblis rubah? Atau dewi dari langit yang turun karena kasihan melihat tanah ini?"
BRAK!
Han Jia membanting batu penumbuknya ke meja hingga meja kayu reyot itu berderit seolah ingin menyerah pada takdir. Ia berbalik dengan wajah merah padam, matanya berkilat gila kali ini bukan karena sains, tapi karena kekesalan yang murni.
"Cukup! Berhenti di sana, Spesimen Shura!" Han Jia berteriak, suaranya melengking memenuhi gubuk.
Shura tersentak, punggungnya menabrak dinding gubuk. Ia belum pernah melihat gadis ini emosional sebelumnya.
"Dewi? Iblis? Rubah?" Han Jia berjalan mendekat, menunjuk dada Shura dengan jarinya yang kecil namun kuat. "Dengar ya, kau makhluk primitif yang hanya tahu cara mengayunkan besi tajam! Jika aku bukan manusia, lalu aku ini apa? Alien?! Kau pikir aku datang dari galaksi Andromeda menggunakan kapal ruang angkasa bertenaga antimateri hanya untuk mencangkul tanah sialan ini?!"
Shura mengerjapkan mata, benar-benar bingung. "Andromeda? Antibadai? ah Anti... apa?"
"Lihat! Kau bahkan tidak tahu istilah dasar astrofisika!" Han Jia mencak-mencak, ia mulai mondar-mandir di ruangan sempit itu sambil menggerakkan tangannya secara ekspresif. "Aku ini manusia! 100 persen karbon, hidrogen, nitrogen, kalsium, dan fosfor! Aku punya organ dalam, aku punya sistem saraf, aku butuh oksigen untuk respirasi seluler! Jika kau membedahku sekarang yang jangan pernah kau coba lakukan kau akan menemukan anatomi yang sama persis denganmu, hanya saja otakku jauh lebih fungsional daripada otakmu yang isinya cuma otot!"
"Tapi kekuatanmu—"
"Itu bukan kekuatan! Itu sains!" potong Han Jia dengan teriakan yang lebih nyaring. "Sains! S-A-I-N-S! Kau menyebutnya sihir karena kau terlalu malas untuk mempelajari hukum alam! Gas semalam? Itu hanya reaksi kimia sederhana antara alkaloid bunga tidur dan katalis mineral sulfur! Tidak ada iblis di sana! Tidak ada dewa yang turun tangan! Hanya aku, otakku, dan beberapa botol cairan kimia!"
Hera tertawa kecil di dalam kepala Han Jia. "Profesor, Anda terlihat sangat lucu saat mencoba menjelaskan biokimia pada orang jaman perunggu. Ini seperti mencoba menjelaskan internet pada seekor kambing."
"Diam kau, Hera!" bentak Han Jia keras-keras. Saking kesalnya karena dituduh bahwa dia iblis, dewa, dewi dia sampai melupakan bahwa shura tak dapat melihat Hera
Feng Shura mematung. Wajahnya berubah dari curiga menjadi benar-benar ngeri. "Kau... kau baru saja bicara pada udara kosong? Kau menyebut nama 'Hera'? Apakah itu nama iblis yang merasukimu?"
Han Jia berhenti bergerak. Ia menatap langit-langit gubuk, lalu menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia merasa ingin menangis karena frustasi intelektual.
"Hera bukan iblis! Dia adalah... dia adalah asisten digital!" Han Jia berteriak lagi, lalu menyadari bahwa istilah itu pun tidak akan dipahami. "Argh! Sudahlah! Anggap saja dia adalah jin penunggu botol kimia kalau itu membuat otak kecilmu merasa lebih nyaman!"
Shura menelan ludah, ia perlahan menggeser duduknya menjauh. "Jadi benar... kau bicara dengan jin. Dan kau bilang kau manusia."
"AKU MANUSIA!" Han Jia memungut sebuah botol berisi cairan biru dan mengacungkannya ke arah Shura. "Jika kau bertanya lagi apakah aku dewi atau rubah, aku bersumpah akan menyuntikkan larutan pencahar dosis tinggi ke dalam supmu! Kau akan menghabiskan tiga hari tiga malam di atas lubang kakus, dan mari kita lihat apakah saat itu kau masih punya energi untuk menanyakan identitasku!"
Feng Shura segera menutup mulutnya rapat-rapat. Ancaman itu terdengar jauh lebih mengerikan daripada pedang musuh di medan perang. Ia melihat mata Han Jia yang masih melotot ke arahnya, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya sebagai seorang jenderal besar, Shura merasa benar-benar terintimidasi oleh seorang gadis kecil yang memegang botol biru.
"Baiklah... kau manusia. Manusia yang sangat... unik," gumam Shura pelan, hampir tak terdengar.
"Bagus," Han Jia menarik napas dalam-dalam, merapikan rambutnya yang berantakan dengan kasar. "Sekarang, karena kau sudah sadar dan cukup sehat untuk menghinaku, bangun! Pakai kakimu yang besar itu dan bantu aku membawa batu-batu dari pinggir sungai. Aku butuh membangun tungku distilasi, dan tanganku yang 'manusia' ini tidak bisa mengangkat batu sebesar kepala kerbau sendirian!"
Shura hanya bisa mengangguk pasrah. Ia bangun dengan perlahan, menatap Han Jia yang kembali sibuk dengan botol-botolnya sambil terus menggerutu tentang "ketidakmampuan populasi lokal memahami hukum dasar materi".
"Kerja bagus, Profesor," puji Hera. "Anda baru saja merekrut jenderal paling ditakuti di kekaisaran ini untuk menjadi kuli angkut batu. Efisiensi manajemen sumber daya manusia Anda meningkat 400%."
Han Jia hanya mendengus, namun di balik kekesalannya, ia merasa sedikit lega. Setidaknya, berdebat dengan Shura membuatnya merasa lebih "hidup" daripada saat ia terkunci di laboratorium Sektor 7 yang sunyi.