Yurie Harielyn Nazeeran kehilangan ibunya di usia lima tahun. Kematian yang disebut karena sakit itu menyimpan kebenaran kelam—diracun oleh Agnesa, wanita yang dua hari kemudian menikahi ayahnya. Tak ada yang percaya pada kesaksian Yurie kecil, bahkan ayahnya sendiri memilih berpihak.
Sejak saat itu, Yurie hidup sebagai bayangan di rumahnya sendiri hingga di usia delapan belas tahun, ia dijodohkan demi uang sembilan miliar dari keluarga Reynard. Pernikahan itu menyeretnya ke dalam rangkaian misteri:
kematian, pengkhianatan, dan rahasia besar yang berpusat pada keluarga Nazeeran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkyra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 3
Langit tiba tiba menjadi gelap, Hujan turun tanpa aba-aba.
Langit kelabu menggantung rendah di atas rumah Nazeeran, seolah ikut menahan napas.
Yurie berdiri di depan cermin kamarnya sejak pagi, menatap bayangan diri yang terasa asing. Rambut pirangnya dikepang sederhana oleh Agnesa—bukan dengan lembut, melainkan cepat dan asal. Gaun panjang berwarna krem tergantung di tubuhnya, terlalu rapi untuk seseorang yang tidak pernah diminta pendapatnya.
“Jangan bikin malu,” kata Agnesa dingin sambil merapikan lipatan gaun. “Ingat, kamu datang sebagai calon istri keluarga besar.”
Yurie tidak menjawab. Tangannya menggenggam kain gaun itu erat-erat, berusaha menenangkan gemetar yang tak kunjung reda.
Di luar kamar, langkah kaki terdengar sibuk. Kayla mondar-mandir sambil mengeluh soal hujan yang merusak rencana belanjanya. Bimantara sudah menunggu di ruang tamu, mengenakan setelan gelap, wajahnya tanpa ekspresi.
Hari ini, Yurie akan bertemu calon suaminya.
Nama itu sudah berkali-kali ia dengar dalam seminggu terakhir, tapi masih terasa asing di kepalanya: Kaiden Gelano Reynard. Putra kedua keluarga Reynard. Pewaris dengan reputasi dingin. Lelaki yang jarang muncul di media, tetapi selalu disebut dengan nada hormat.
Yurie tidak tahu harus berharap apa.
Mobil melaju meninggalkan halaman rumah. Sepanjang perjalanan, tidak ada yang berbicara. Hanya suara hujan yang memukul kaca dan deru mesin yang stabil. Yurie menatap keluar jendela, memperhatikan tetesan air yang berkejaran, lalu jatuh dan hilang.
Ia bertanya dalam hati :
Apakah hidupku akan seperti itu juga? Mengalir tanpa pilihan, jatuh tanpa pernah ditanya?
Mobil berhenti di sebuah bangunan besar berarsitektur klasik-modern. Dinding kaca tinggi memantulkan warna abu-abu langit. Tulisan REYNARD terukir sederhana di depan, tanpa ornamen berlebihan—tenang, tegas, dan berjarak.
“Turun,” kata Bimantara.
Yurie mengangguk.
Begitu pintu mobil dibuka, udara dingin langsung menyergap. Yurie merapatkan gaunnya. Hujan masih turun, lebih halus sekarang, seperti gerimis yang enggan pergi.
Di lobi utama, aroma kayu dan kopi menyatu. Ruangan itu luas, sunyi, dan terasa formal. Beberapa staf berdiri rapi, menyambut dengan sopan. Agnesa tampak berubah—senyumnya manis, sikapnya lembut. Wajah yang tidak pernah Yurie lihat di rumah.
“Mari,” kata seorang staf, mempersilakan mereka masuk ke ruang pertemuan.
Pintu terbuka.
Dan di sanalah Yurie pertama kali melihatnya.
Kaiden Gelano Reynard duduk di dekat jendela besar, membelakangi cahaya. Tubuhnya tinggi, posturnya tegap. Setelan hitam membingkai sosoknya dengan sederhana, tanpa kesan berlebihan. Rambut hitamnya tersisir rapi, wajahnya tenang, hampir dingin.
Matanya terangkat perlahan.
Tatapan itu—tajam, dingin, seolah menilai dunia dari jarak aman—berhenti tepat di wajah Yurie.
Yurie refleks menunduk.
“Kaiden,” sapa Bimantara lebih dulu, suaranya dibuat ramah. “Terima kasih sudah meluangkan waktu.”
Kaiden berdiri. “Tuan Nazeeran.”
Nada suaranya rendah, tenang. Ia menjabat tangan Bimantara singkat, lalu menoleh ke Agnesa dan Kayla dengan anggukan sopan.
Lalu pandangannya kembali pada Yurie.
Untuk sesaat, ia tidak berkata apa-apa.
Yurie bisa merasakan detak jantungnya sendiri. Ia takut. Takut dinilai. Takut dianggap cocok hanya sebagai syarat. Takut… tidak dianggap manusia.
“Silakan duduk,” kata Kaiden akhirnya.
Mereka duduk berhadapan. Percakapan dimulai—tentang kerja sama, tentang keluarga, tentang hal-hal yang tidak Yurie pahami dan tidak melibatkannya. Ia hanya duduk, mendengar, menjadi objek yang dibicarakan tanpa suara.
“Putri Anda sangat sesuai dengan kriteria,” kata seorang pria paruh baya di sisi Kaiden—pamannya, Yurie menduga.
Agnesa tersenyum puas. “Kami merawatnya dengan baik.”
Yurie menunduk. Kata itu terasa asing.
Kaiden tidak langsung menanggapi. Pandangannya beralih ke Yurie. Tidak tajam kali ini—lebih tenang, lebih dalam.
“Bolehkah saya berbicara dengannya sebentar?” tanyanya.
Ruangan hening.
Agnesa tampak terkejut. “Maksud Anda… berdua?”
Kaiden mengangguk. “Jika tidak keberatan.”
Bimantara ragu sesaat, lalu mengangguk. “Tentu.”
Mereka berdiri dan meninggalkan ruangan, menyisakan Yurie dan Kaiden.
Sunyi kembali turun.
Kaiden berjalan ke arah jendela, lalu berhenti.
“Kamu boleh duduk,” katanya pelan. “Tidak perlu berdiri kaku.”
Yurie menurut.
Kaiden menoleh. Untuk pertama kalinya, ia tersenyum tipis—bukan senyum ramah, melainkan senyum kecil yang menenangkan.
“Namamu Yurie, ya?”
“Iya, Tuan” jawab Yurie lirih.
“Kamu tidak harus memanggil saya Tuan,” lanjutnya. “Kaiden saja.”
Yurie mengangguk. “Baik… Kaiden.”
Kaiden duduk di seberangnya, menjaga jarak. “Saya tidak akan bertele-tele,” katanya. “Pernikahan ini bukan keputusanmu.”
Yurie terdiam.
“Tapi,” lanjut Kaiden, nadanya lembut, “saya ingin tahu satu hal.”
Ia menatap Yurie, kali ini tanpa dingin. “Kamu ingin menikah?”
Pertanyaan itu sederhana. Namun bagi Yurie, itu seperti sesuatu yang belum pernah ia dengar seumur hidupnya.
“Aku…” Yurie menggenggam tangannya. “Aku tidak diberi pilihan.”
Kaiden mengangguk pelan. “Saya tahu.”
Yurie menatapnya, sedikit terkejut.
“Kamu takut,” lanjut Kaiden. “Itu wajar.”
Tidak ada nada menghakimi. Tidak ada desakan.
“Aku tidak akan menyentuhmu,” kata Kaiden kemudian, jelas. “Tidak akan memaksamu melakukan apa pun.”
Yurie mengangkat wajahnya. “Kenapa?”
Kaiden menatap ke luar jendela, hujan yang masih turun menjadi latar sunyi. “Karena saya juga hidup dalam keputusan yang bukan sepenuhnya milik saya.”
Yurie tidak bertanya lebih jauh.
“Aku tidak tahu apakah aku bisa menjadi istri yang baik,” ucap Yurie pelan.
Kaiden kembali menatapnya. “Kamu tidak harus menjadi apa pun untuk saya, selain menjadi dirimu sendiri.”
Kalimat itu sederhana. Namun dada Yurie terasa hangat untuk pertama kalinya sejak lama.
Pintu diketuk pelan. Pertemuan singkat itu berakhir.
Saat mereka keluar, Agnesa langsung menghampiri. “Bagaimana?”
Kaiden menoleh padanya. “Saya setuju.”
Agnesa tersenyum lebar. Kayla tampak puas. Bimantara mengangguk, seolah sebuah transaksi berhasil.
Namun Yurie tahu—ada sesuatu yang berubah.
Di dalam mobil, hujan mulai reda. Yurie menatap jalan yang basah, pantulan lampu kota berkilau di permukaannya.
Ia tidak tahu bagaimana masa depannya nanti. Tidak tahu apa yang menantinya di keluarga Reynard. Tidak tahu rahasia apa yang tersembunyi di balik pernikahan ini.
Namun satu hal pasti:
Untuk pertama kalinya, ada seseorang yang bertanya apa yang ia rasakan. Dan itu cukup untuk membuat Yurie berharap—pelan, sangat pelan—bahwa hidupnya belum benar-benar berakhir.