NovelToon NovelToon
Terlahir Lemah, Tapi Otakku Dewa

Terlahir Lemah, Tapi Otakku Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: YeJian

Terlahir dengan bakat rendah dan tubuh lemah, Ren Tao hanya dianggap sebagai murid sampah di Sekte Awan Hitam. Ia dihina, dimanfaatkan, dan diperas tanpa henti. Di dunia kultivasi yang kejam, orang sepertinya seharusnya mati tanpa meninggalkan nama.

Namun tak ada yang tahu Ren Tao tidak pernah berniat melawan dengan kekuatan semata.

Berbekal kecerdasan dingin, ingatan teknik kuno, dan perhitungan yang jauh melampaui usianya, Ren Tao mulai melangkah pelan dari dasar. Ia menelan hinaan sambil menyusun rencana, membiarkan musuh tertawa… sebelum satu per satu jatuh ke dalam jebakannya.

Di dunia tempat yang kuat memangsa yang lemah, Ren Tao membuktikan satu hal
jika bakat bisa dihancurkan, maka otak adalah senjata paling mematikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YeJian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 – Satu Nyawa, Satu Pelajaran

Kabut belum sepenuhnya menghilang ketika Ren Tao bergerak lagi.

Ia tidak terburu-buru. Justru sebaliknya setiap langkahnya lambat, terukur, seolah menyatu dengan lembah. Di telinganya, suara alam kembali terdengar: gesekan dedaunan, napas angin, dan… langkah kaki manusia.

Satu orang.

Ringan. Terlalu ringan.

Ren Tao berhenti di balik batu besar, menundukkan tubuh. Ia memejamkan mata, menghitung ritme langkah itu.

Sendirian. Tidak panik. Percaya diri.

Bukan pemula.

Ia mengintip.

Seorang murid pria berjalan dengan pedang di tangan, pakaian luar sekte sedikit robek, tapi auranya stabil. Tatapannya tajam, berpengalaman. Di pinggangnya tergantung dua token bukti ia sudah menjatuhkan orang lain.

Pemburu.

Ren Tao menekan auranya lebih dalam, membuat dirinya tampak lemah, nyaris kosong. Ia sengaja menginjak ranting kering.

Krek.

Murid itu berhenti.

“Siapa?” suaranya rendah.

Ren Tao melangkah keluar perlahan. Wajahnya terlihat ragu, mata sedikit melebar.

“A-aku tersesat,” katanya.

Murid itu menyipitkan mata, menilai. Tatapannya turun ke pedang kayu Ren Tao, lalu kembali naik.

“…Kau Ren Tao, kan?”

Ren Tao terkejut seolah namanya baru saja dijatuhkan seperti vonis.

“Iya…”

Senyum tipis muncul di wajah murid itu.

“Keberuntunganmu buruk.”

Ren Tao mundur setengah langkah. “Aku nggak mau bertarung.”

“Sayang,” balasnya. “Aku butuh satu token lagi biar aman.”

Ia melangkah maju.

Ren Tao menelan ludah. Tangannya gemetar, tapi otaknya justru bekerja cepat.

Jarak tiga langkah. Angin dari kanan. Tanah sedikit menurun di belakangnya.

Ia sengaja menjatuhkan pedang kayunya.

“Maaf… aku—”

Murid itu langsung menyerang.

Cepat. Bersih. Tebasan yang seharusnya memotong bahu Ren Tao.

Namun Ren Tao tidak mundur.

Ia melangkah masuk.

Tebasan itu meleset tipis.

Ren Tao menghantamkan siku ke pergelangan tangan lawan—tidak kuat, tapi tepat. Pedang besi terlepas sepersekian detik.

Cukup.

Pisau kecil meluncur dari balik lengan Ren Tao.

Satu tusukan.

Pendek. Dalam.

Di bawah tulang rusuk.

Murid itu terhenti. Matanya membelalak, napasnya tercekik di tenggorokan.

Ren Tao menahan tubuhnya agar tidak jatuh dan menarik pisau itu keluar dengan sudut miring.

Darah mengalir deras.

Ia berbisik pelan, datar.

“Kesalahanmu cuma satu.”

Murid itu mencoba bicara, tapi yang keluar hanya darah.

“Kau mengira yang lemah… tidak boleh berpikir.”

Tubuh itu ambruk.

Ren Tao berdiri beberapa detik tanpa bergerak.

Tangannya sedikit bergetar.

Lalu ia menarik napas panjang dan menenangkan diri.

Ini perlu.

Ia membersihkan pisaunya di pakaian korban, lalu mengambil token tanpa ekspresi. Tidak ada rasa bangga. Tidak ada penyesalan.

Hanya satu kesimpulan.

Membunuh lebih mudah daripada yang dibayangkan.

Ren Tao mengubur mayat itu seadanya, bukan untuk menghormati—tapi untuk menghilangkan jejak.

Ia bergerak lagi, kali ini naik ke area lebih tinggi.

Dari sana, ia melihat pergerakan kelompok Wei Kang semakin jelas. Mereka tidak berburu sembarangan. Mereka menyisir. Menutup jalur. Memaksa peserta lain saling bertabrakan.

“Efisien,” gumam Ren Tao.

Ia tersenyum tipis.

“Dan bisa dimanfaatkan.”

Ren Tao mulai menyebar jejak palsu. Jejak langkah. Bekas darah tipis. Ranting patah. Semua diarahkan ke jalur kelompok Wei Kang dan kelompok lain yang bergerak berlawanan.

Ia tidak perlu bertarung.

Cukup membuat dua predator saling mengira mangsa.

Dari kejauhan, suara bentrokan terdengar.

Teriakan marah. Ledakan Qi.

Ren Tao duduk di balik batu, memakan sedikit ransum kering. Wajahnya tenang, seperti penonton.

“Di dunia ini,” katanya pelan, “yang hidup bukan yang paling kuat.”

Ia berdiri, menatap lembah yang kini benar-benar berubah menjadi ladang seleksi.

“Tapi yang paling sabar.”

Langit mulai menggelap.

Dan Ren Tao sudah mengumpulkan cukup banyak informasi lebih berharga dari sekadar token.

1
Zan Apexion
salam sesama penulis novel Kultivasi.☺️👍

semangat terus ya...
YeJian: siap terimakasih bro atas dukungan nya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!