"Aku butuh istri untuk mendapatkan warisan Kakek, dan kamu butuh uang untuk pengobatan ibumu. Adil, kan?" — Aksara Danendra.
Bagi Aylin, pernikahan ini hanyalah transaksi pahit. Ia rela membuang harga dirinya dan menjadi 'Istri Bayaran' demi pengobatan sang ibu. Ia berjanji tidak akan melibatkan hati, apalagi pada pria dingin dan penuh rahasia seperti Aksara. Bagi Aylin, semua lelaki sama saja brengsek.
Namun, bagaimana jika di atas kertas kontrak yang dingin itu, benih cinta justru tumbuh secara perlahan? Dan bagaimana jika saat cinta itu mulai mekar, Aylin menyadari bahwa dirinya hanyalah tameng untuk rahasia gelap suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopani Dwi Ari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.8 Gaun Putih Dan Janji Masa Depan
Aylin memejamkan mata sebentar, lalu melirik ke arah Rosalind yang mengangguk pelan—tanda bahwa keputusan sepenuhnya diserahkan kepadanya.
Percuma juga menolak… aku juga nggak bisa kabur, gumam Aylin dalam hati. Namun ia tetap tersenyum menatap Kakek Harsa.
“Aku serahkan semua pada Aylin,” ucap Rosalind lembut.
“Aylin, bagaimana?” tanya Harsa.
Aylin menelan ludah. “Aku mau, Kek. Mau bagaimana lagi… cucu Kakek tampan soalnya,” ucapnya keceplosan.
Begitu sadar apa yang ia katakan, Aylin buru-buru menutup mulut. Ia melirik Aksara yang langsung salah tingkah pura-pura membenarkan jam tangannya. Kakek Harsa tertawa puas, seperti menemukan hiburan terbaik pagi itu. Lalu beliau mengeluarkan sebuah kotak merah kecil.
“Kek, kapan Kakek menyiapkannya?” bisik Aksara saat melihat cincin putih bertahtakan berlian itu.
“Sudah lama,” jawab Harsa santai.
Saat Aksara hendak mengambil cincin itu, Kirana tiba-tiba berdiri. “Biar aku yang pasangkan. Kalian tidak boleh bersentuhan dulu, belum sah.”
Jangan tanya bagaimana kondisi jantungku sekarang… nggak aman, guys, batin Aylin.
“Loh! Kok Mami? Harusnya kan aku,” protes Aksara.
“Kamu nggak dengar tadi Mami bilang? Jangan bersentuhan. Kalian belum muhrim,” balas Kirana sambil menatap tajam anaknya.
“Dad…” rengek Aksara.
“Ikuti kata Mami-mu,” jawab Abian santai, masih sibuk menghabiskan jajanan buatan Aylin.
Kirana pun mengambil cincin itu dan memasangkannya di jari manis Aylin. Setelah itu, ia membuka tasnya, mengeluarkan sebuah gelang emas tua—berlian kecil tertanam di bagian tengahnya.
“Gelang ini untuk menantu perempuan keluarga Danendra. Dan… aku menurunkannya padamu, Aylin,” ucap Kirana sambil menatap Aylin dengan sorot mata yang sulit dijelaskan.
Aylin terpaku. Bukannya Tante Kirana gak menerima aku? Jadi… kenapa memberikan gelang turun-temurun ini?
“Akhirnya, selamat Aylin! Kamu resmi menjadi calon menantu keluarga Danendra!” seru Harsa penuh semangat.
Aylin tersenyum lebar menatap Kakek Harsa.
Rosalind sendiri tersenyum haru. Putri yang penuh kekurangan —putri yang sering ia khawatirkan— kini punya seseorang yang mampu melindunginya.
“Selamat ya, sayang,” ujar Rosalind sambil memeluk Aylin. Aylin balas tersenyum, memeluknya kembali.
*
*
Rosalind pun membawa tamunya untuk makan, lagi-lagi Kakek Harsa kagum dengan makanan di meja makan. Aylin mengambil untuk Kakek Harsa.
"Dimakan, Kek. Ini semua Aylin yang masak," ujar Aylin.
Harsa pun mencobanya, dia menyuapkan satu sendok makanan yang sudah di campur. Rasa gurih dan manis bercampur jadi satu.
"Enak, ini enak sekali," puji Kakek Harsa memejamkan matanya, apalagi dia sangat suka dengan sambel goreng kentangnya.
Aylin pun tersenyum senang, Abian dan Aksara pun penasaran langsung memasakan makanan kedalam mulutnya.
"Betul, Dad. Masakan Aylin enak," puji Abian.
Kirana yang mendengar itu, langsung mencicipi dia akui masakan Aylin memang enak. Kirana menatap Aylin, yang sedang menambahkan sambel goreng kentang untuk mertuanya. Seketika dia teringat saat dulu tak bisa memasak.
Bahkan untuk menggoreng telur pun gosong, setelah itu Abian melarangnya untuk masuk ke dapur. Setelah makan, Kakek Harsa mengajak Aylin ke butik bersama Aksara. Dan pamit pada Rosalind.
Aylin satu mobil bersama Aksara dan Kakek Harsa, sedangkan Abian dan Kirana langsung pulang. Empat puluh menit kemudian, mereka sampai di butik langganan Danendra.
"Ayo pilih yang kamu suka." Titah Kakek Harsa.
Aylin menatap satu per satu gaun pernikahan di etalase. Ada rasa takut, kagum, dan trauma yang saling bertabrakan di dadanya.
“Indah… tapi membuatku takut,” gumam Aylin.
Tatapannya jatuh pada sebuah gaun putih tulang dengan payet lembut yang berkilau malu-malu. Gaun itu berdiri di sudut ruangan seperti ratu yang sedang menunggu takhta—ball gown dengan renda tipis di bagian dada, lengan tulle yang rapuh, dan bordiran biru keperakan di ujung rok yang mengalir seperti embun musim dingin.
Indah. Terlalu indah. Dan justru itu yang membuatnya semakin takut.
Aylin masih terpaku pada gaun itu ketika sebuah bayangan tinggi berhenti di sampingnya.
Tanpa menyentuh, Aksara berdiri cukup dekat hingga Aylin bisa merasakan parfum lelaki tersebut yang membuatnya tenang. Dia tidak berkata apa-apa dulu—seolah ingin memberi ruang pada perempuan itu untuk bernapas.
"Mbak, tolong bawa calon istri saya untuk mencoba gaun itu." ujar Aksara, membuat Aylin langsung refleks menoleh dengan mata membesar.
“Eh! A-aku…"
“Sudah, jangan membantah. Kamu nggak kasihan sama Kakek?” Aksara melirik Harsa yang sedang santai menyeruput teh hangat seolah tidak terjadi apa-apa.
Pasrah, Aylin pun mengikuti pegawai butik. Dia menyentuh gaun itu hati-hati, takut merusaknya. Ketika akhirnya dipakaikan ke tubuhnya, gaun itu jatuh sempurna—seolah memang dibuat untuk dirinya.
“Wahh, Nona. Gaunnya cocok sekali,” puji pegawai butik itu.
Aylin membuka mata perlahan, menatap pantulan dirinya di cermin. Cantik. Anggun. Begitu tidak percaya bahwa dirinya bisa terlihat seperti itu. Namun bayangan masa lalu muncul sesaat, membuatnya buru-buru menepis perasaan itu.
“Anda baik-baik saja?” tanya pegawai itu hati-hati.
“Sa-saya baik-baik saja. Ayo… calon suami saya harus lihat.” Serunya dengan ceria.
Pegawai itu mengangguk, lalu membawa Aylin keluar. Begitu ia muncul, langkah Aksara terhenti. Tatapannya terpaku lama.
“Cantik, kan?” tanya Kakek Harsa sambil tersenyum jail.
Aksara tersentak sadar. “Iya. Sangat cantik.”
Kemudian pura-pura sibuk menatap ponsel agar tidak ketahuan wajahnya memanas.
“Bagaimana? Bagus tidak, Kek?” tanya Aylin malu-malu.
“Bagus. Kamu cantik memakai gaun itu,” sahut Kakek Harsa sebelum Aksara sempat menjawab.
“Terima kasih, Kek. Kakek memang yang terbaik,” kekeh Aylin, melirik Aksara yang masih pura-pura tidak terpengaruh.
“Saya ambil yang itu,” putus Kakek Harsa. Pegawai butik langsung mencatatnya.
Setelah pembayaran selesai, Harsa pamit lebih dulu. Kakek Harsa sudah di jemput oleh Hadi sang asisten.
“Hati-hati, Kek,” ujar Aylin sambil melambaikan tangan.
Kini hanya Aksara dan Aylin di dalam mobil. Hening. Suasana canggung bercampur hangat setelah proses memilih gaun tadi.
“Setelah menikah… apa aku boleh bekerja?” tanya Aylin pelan.
“Boleh. Kamu bisa kerja di kantor cabang dekat tempat tinggal kita nanti,” jawab Aksara tenang.
Dia sudah merencanakannya: membawa Aylin dan Rosalind ke apartemen baru—lebih mewah, lebih aman.
“Terima kasih, Aksa…” lirih Aylin. “Kalau bukan karena kamu… aku nggak tahu nasib Mama gimana.”
Aksara menatap jalan yang mulai diguyur gerimis. “Tidak apa-apa. Yang penting Ibumu sekarang aman. Dan…” ia jeda sebentar, “jangan lupa kamu harus memberi Kakek seorang cicit.”
Aylin langsung menoleh cepat. “A-anak maksudmu?” serunya kaget.
“Iya. Memangnya kenapa? Kalau aku dapat warisan, siapa yang akan menikmati harta itu nanti?”
Aylin menunduk. Wajahnya merah.
Kedua telunjuknya saling menyentuh—gesture polos yang membuat Aksara seketika membeku.
“Ja-jadi… kita bakal gitu dong…” gumam Aylin malu sekali, ujung jarinya saling menyentuh 👉👈.
Aksara hampir tersedak napas sendiri. “Iyalah… memang mau gimana lagi,” sahutnya ketus—lebih untuk menutupi debaran jantungnya sendiri.
Aylin terdiam, wajahnya makin memanas. Jujur, dia belum siap. Punya anak… terasa terlalu besar baginya.
Bersambung ...
😄😄
🤣
berarti muka'mu tetap datar ya Aks...
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣