NovelToon NovelToon
Jejak Malam Di Kamar Nomor 101

Jejak Malam Di Kamar Nomor 101

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Beda Usia / Nikahmuda / Teen School/College / Menjadi bayi / Hamil di luar nikah
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mr. Awph

Satu malam di kamar nomor 101 menghancurkan seluruh masa depan Anindira. Dijebak oleh saudara tiri dan terbangun di pelukan pria asing yang wajahnya tak sempat ia lihat, Anindira harus menelan pahitnya pengusiran dari keluarga.
​Lima tahun kemudian, ia kembali sebagai asisten pribadi di Adiguna Grup. Namun, bosnya adalah Baskara Adiguna, pria berhati es yang memiliki sepasang mata persis seperti putra kecilnya.
​Ketika rahasia malam itu mulai terkuak, Anindira menyadari bahwa ia bukan sekadar korban satu malam. Ia adalah bagian dari rencana besar yang melibatkan nyawa dan harta. Baskara tidak akan melepaskannya, bukan karena cinta, melainkan karena benih yang tumbuh di rahim Anindira adalah pewaris tunggal yang selama ini dicari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Rahasia di balik lemari

Rahasia di balik lemari yang ia simpan rapat-rapat selama ini kini telah menjelma menjadi monster nyata yang siap menelan seluruh hidupnya tanpa sisa. Anindira tersungkur di atas lantai kamarnya setelah ayahnya melemparkannya dengan sangat kasar hingga bahunya menghantam kaki tempat tidur yang keras.

Pintu kamar didepak hingga tertutup rapat dan suara kunci yang diputar dari luar terdengar seperti suara palu hakim yang menjatuhkan vonis mati.

Ia meringkuk sambil memegangi perutnya yang masih terasa mual akibat guncangan emosional yang baru saja terjadi di ruang dokter tadi. Air mata terus mengalir tanpa henti hingga membasahi karpet bulu yang kini terasa sangat dingin menusuk kulit wajahnya yang pucat.

Di luar sana, ia bisa mendengar suara teriakan ayahnya yang sedang memaki para pelayan karena merasa sangat malu memiliki putri sepertinya.

"Mengapa ini harus terjadi padaku, Tuhan?" isak Anindira sambil meremas dadanya yang terasa sangat sesak dan perih.

Tiba-tiba, suara ketukan pelan terdengar dari arah dinding kayu yang berbatasan langsung dengan lemari pakaian besar miliknya. Anindira tersentak dan mencoba menahan napas agar bisa mendengar suara itu dengan lebih jelas di tengah kesunyian yang mencekam.

Sebuah bayangan muncul dari balik celah lemari yang ternyata memiliki pintu rahasia yang selama ini tidak pernah ia ketahui keberadaannya.

"Cepat masuk ke sini jika kamu masih ingin menyelamatkan nyawamu dari amarah tuan besar," bisik sebuah suara wanita yang sangat ia kenal.

Anindira menatap dengan mata membelalak saat melihat Bi Inah, pengasuh setianya sejak kecil, mengintip dari kegelapan di balik lemari tersebut. Dengan sisa tenaga yang masih ada, ia merangkak mendekat dan masuk ke dalam lorong sempit yang tersembunyi di balik tumpukan pakaian gantung.

Ruangan itu sangat pengap dan hanya diterangi oleh sebuah lampu minyak kecil yang diletakkan di atas lantai kayu yang berdebu.

"Bi Inah, apa yang sebenarnya sedang terjadi? Mengapa ada jalan rahasia di dalam kamarku?" tanya Anindira dengan suara yang sangat bergetar hebat.

"Ini adalah jalan yang dulu dibangun oleh almarhumah ibumu untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu yang buruk di rumah ini," jawab Bi Inah sambil memeluk bahu Anindira dengan penuh rasa iba.

Bi Inah menyerahkan sebuah kotak kayu kecil yang sudah nampak sangat usang dan berdebu kepada Anindira dengan tangan yang terlihat gemetar. Ia menjelaskan bahwa kotak itu harus dibuka hanya saat Anindira merasa benar-benar terdesak dan tidak memiliki pilihan lain untuk bertahan hidup.

Anindira menerima kotak itu dengan perasaan yang campur aduk antara rasa penasaran dan ketakutan yang mendalam.

"Ibu tirimu sedang menghasut tuan besar untuk mengirimmu ke tempat terpencil agar rahasia kehamilan ini tidak mencuat ke publik," bisik Bi Inah dengan nada yang sangat serius.

"Lalu aku harus bagaimana, Bi? Aku tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini selain ayah," tangis Anindira pecah kembali di atas pundak sang pengasuh.

Anindira membuka kotak kayu itu perlahan dan menemukan selembar surat tua serta sebuah cincin emas dengan permata biru yang sangat indah. Di dalam surat itu tertulis sebuah alamat di pinggiran kota yang sangat asing bagi pendengaran Anindira selama ini.

Ibunya ternyata telah menyiapkan sebuah tempat perlindungan jauh sebelum maut menjemputnya beberapa tahun yang lalu.

"Bi Inah harus pergi sekarang sebelum mereka menyadari bahwa Bibi sedang membantu nona kecil," ujar wanita tua itu sambil membantu Anindira berdiri tegak kembali.

"Terima kasih, Bi, aku akan selalu mengingat kebaikanmu ini sampai kapan pun juga," ucap Anindira sambil mendekap kotak kayu itu dengan sangat erat ke dadanya.

Setelah Bi Inah menghilang kembali ke balik kegelapan, Anindira duduk terdiam sambil menatap cincin pemberian ibunya yang berkilau di bawah cahaya lampu minyak. Ia merasa ada kekuatan baru yang mulai mengalir ke dalam nadinya meskipun rasa takut masih membayangi setiap langkah yang akan diambilnya.

Ia tahu bahwa ia tidak bisa terus berdiam diri di dalam kamar ini menunggu hukuman yang tidak adil dari ayahnya.

Suara langkah kaki yang berat terdengar mendekat ke arah pintu kamar dan membuat jantung Anindira kembali berdegup dengan sangat kencang. Ia segera menyembunyikan kotak kayu itu di bawah bantal dan mencoba mengatur posisi duduknya agar nampak seperti orang yang sedang putus asa.

Pintu terbuka dengan sentakan keras dan menampakkan sosok ibu tirinya yang masuk dengan senyum yang sangat penuh dengan kemenangan.

"Bagaimana rasanya menjadi sampah yang sudah tidak lagi diinginkan oleh ayahmu sendiri, Anindira?" tanya ibu tirinya dengan nada suara yang sangat merendahkan.

Anindira hanya diam membisu sambil memberikan tatapan mata yang sangat tajam ke arah wanita yang telah menghancurkan kebahagiaan keluarganya itu. Ia tidak ingin memberikan kepuasan kepada musuhnya dengan menunjukkan kelemahan atau memohon belas kasihan yang tidak mungkin didapatkan.

Ibu tirinya melangkah mendekat dan mencengkeram dagu Anindira dengan kuku-kukunya yang panjang dan tajam.

"Bersiaplah, karena besok pagi ayahmu akan mengirimmu ke panti rehabilitasi yang paling ketat agar kamu belajar menjadi wanita yang benar," ancam wanita itu sambil melepaskan cengkeramannya dengan kasar.

Anindira merasakan perih di dagunya namun rasa perih itu tidak sebanding dengan tekad yang kini mulai membara di dalam hatinya yang terluka. Ia menatap ke arah lemari pakaiannya dan menyadari bahwa ia memiliki jalan keluar yang tidak pernah diduga oleh siapa pun di rumah ini.

Kecurigaan sang ibu tiri yang mulai menyadari ada sesuatu yang disembunyikan di dalam kamar itu membuat suasana menjadi semakin berbahaya bagi Anindira.

 

1
Healer
aduiiii Dira....jgn lagi kamu kerangkap ya...💪💪💪
Healer
antara karya yg menarik...susun kata yg teratur kesalahan ejaan yg sgt minimalis...✌️✌️👍👍!!terbaik thor👍👍👏
Healer
salah satu karya yg menarik dari segi tatabahasa....dari bab awal hingga bab yg ini kesalahan ejaan blm ada lagi.... teruskan thor
Healer
Dira kamu harus kuat dan jgn jadi wanita lemah....lawan si Sarah itu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!