Apa jadinya jika air ketuban pecah di malam kencan pertamamu?
Panik dan syok, itulah yang dirasakan Maggie saat menjalani kencan pertamanya dengan Kael, seorang miliarder tampan dan karismatik.
Kencan romantis itu mendadak berubah kacau ketika air ketubannya pecah di tengah acara makan malam.
Alih-alih ikut panik, Kael justru sigap mengangkat Maggie dan membawanya ke limusin mewahnya untuk segera menuju rumah sakit.
Namun, apa yang terjadi selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Waktunya Belanja!
Maggie merasa ini saatnya bertanya lebih jauh.
“Jadi, sebenarnya kamu bisa mengajakku kencan waktu minggu Mentoring dulu. Tapi kamu enggak melakukannya. Kenapa harus nunggu?”
Kael menatapnya sebentar. “Kamu mau penjelasan jujur?”
“Iya.” Mau tidak mau dia harus dengar, apa pun jawabannya. Dia sedang terjebak di Jogjakarta bersama Kael. “Apa karena aku hamil?”
“Bukan itu. Kamu juga masih hamil waktu aku balik ke Jakarta.”
“Terus kenapa?”
Kael mengangkat cangkir kopi dan menyesapnya. Maggie memperhatikannya. Sepertinya itu kebiasaan Kael setiap kali dia butuh waktu buat berpikir. Kael memang bukan tipe yang asal bicara.
“Aku enggak lagi punya hubungan dengan siapa pun. Aku cuma hindarin hal-hal yang ribet.”
Kael membelah bakpia lain. Maggie diam saja, fokus makan sambil menunggu penjelasannya.
“Tapi sebelum terbang ke sini bareng Joann buat ketemu kamu dan kakakmu, aku sempat beberapa kali kencan dengan seseorang di Amerika. Aku udah tahu itu enggak akan serius, tapi aku belum sempat ngomong langsung ke dia. Menurutku sih lebih baik aku yang jelasin dulu, sebelum dia unggah foto atau tag namaku di sosial media.”
Maggie mengambil potongan sate, melahapnya, lalu meletakkannya lagi. “Masuk akal. Dia nerima kamu?”
“Aku malah udah lihat fotonya bareng cowok lain sebelum sempat bilang itu.”
“Ew. Itu bikin kamu kesal?”
“Enggak sama sekali,” jawab Kael santai. “Justru lega. Ada lagi yang mau kamu tahu soal kehidupan pribadiku?”
Banyak sekali.
“Kamu pernah punya hubungan yang bukan sekedar kencan?”
“Pernah. Hampir setahun waktu kuliah”
“Setelah itu?”
“Karena aku sering bepergian, jadi sulit buat jalin hubungan. Tapi aku biasa punya pasangan buat acara sosial atau penggalangan dana.”
“Ohh ... Aku pernah lihat foto-fotonya,” balas Maggie sambil memasukkan suapan ke mulut.
“Aku tahu. Aku sebenarnya bisa mengontrol sebagian pemberitaan, tapi enggak semuanya. Wartawan suka bikin gosip seolah aku punya hubungan sama seseorang, supaya media mereka jalan. Itu cuma bisnis.”
Kael melirik sekeliling.
“Mereka bakal muncul di sini?” Tangan Maggie refleks membenahi rambutnya. Dia hanya pakai gaun longgar dan menggendong bayi. Kombinasi yang terasa aneh. Judul gosipnya pasti kejam.
“Pernikahan Adiputra seharusnya privat,” lanjut Kael, “tapi kita tetap harus sepakat gimana kita harus tampil di depan mereka.”
Maggie mengunyah sate. “Jadi kamu belum tahu kita bakal kayak gimana?”
“Aku bisa menyesuaikan.”
Maggie harus menelan ludah sebelum bisa bicara. “Aku paham.”
“Kita enggak harus putuskan sekarang,” kata Kael. “Aku juga enggak terus dibuntuti wartawan. Oh, lihat. Dia bangun.”
Mata Kael tertuju ke gendongan bayi.
Maggie menunduk. Biann menatapnya sebentar, lalu memalingkan wajah ke dadanya. Mulut kecil itu bergerak pelan.
“Kayaknya dia lapar,” kata Kael.
Memang.
Maggie punya botol ASI di tas, tapi menyusui langsung jauh lebih cepat. Dia ragu, lalu melihat sekeliling. Meja masih sepi. Masih pagi.
Dia membuka kancing depan gaunnya. Kael langsung sibuk dengan kopinya, memberinya ruang untuk menyusui. Maggie mengatur gendongan agar tidak terlalu terbuka, lalu memposisikan Biann dengan hati-hati.
Awalnya Biann terlihat bingung, belum terbiasa. Tapi tak lama, dia menemukan puting dan mulai menyusu dengan tenang.
Maggie mengembuskan napas lega. Dia berhasil. Dia menoleh ke Kael. Kael sedang menatap Biann, lalu memandang wajah Maggie.
“Ini pemandangan paling indah yang pernah aku lihat,” kata Kael pelan.
Wajah Maggie memanas.
Pandangan mereka bertemu. Ada sesuatu yang berubah. Bukan gairah atau drama seperti yang pernah Maggie alami.
Ini sesuatu yang baru.
Dan Maggie tahu, dia siap menjalani apa pun yang datang setelah ini.
...────୨ৎ────...
Sementara Maggie dan Biann beres-beres di hotel, Kael menelepon beberapa orang.
Waktu mereka di Jogjakarta tidak banyak, tapi dari sorot mata Maggie, kelihatan jelas kalau perempuan itu jatuh cinta pada kota ini.
Setiap kali Kael datang ke sini untuk urusan kerja, dia selalu terpukau oleh keindahan dan gaya kota ini.
Maggie masuk ke ruang suite, kali ini mengenakan gaun biru muda yang serasi dengan gendongan bayi bergaris yang menopang si kecil.
Rambutnya disanggul ke atas, kacamata hitam bertengger di atas tatanan rambutnya yang rapi. Riasannya natural, hanya sedikit eyeliner dan bulu mata yang lentik. Penampilannya seperti baru keluar dari majalah.
“Kamu bakal bikin semua ibu-ibu Jogjakarta iri sama gaya kamu. Kamu yakin bakal nyaman sama itu?”
Maggie mengayunkan satu kaki, memamerkan sandal tebal yang dipakainya. “Aku bisa jalan tiga puluh kilometer pakai ini.”
“Bagus.”
Maggie meraih tas popok dari meja kopi. Tas itu jelas tidak nyambung dengan penampilannya yang elegan.
Kael langsung mengambil tas itu dari tangan Maggie. “Kamu sudah bawa cukup banyak.”
“Makasih,” kata Maggie. “Semoga aku udah masukin semua yang kita butuhin hari ini. Kita mau ke mana?”
“Belanja dulu. Habis itu makan siang. Mungkin lanjut sedikit jalan-jalan. Selama kita masih kuat,” kata Kael.
Mereka turun dengan lift. Mobil sudah menunggu di luar pintu masuk hotel yang besar. Saat melaju di jalanan Jogjakarta, rasanya lebih seru memperhatikan Maggie daripada melihat tempat wisatanya.
Biann kembali ke kursinya, sementara Maggie duduk berlutut menghadap jendela, menyerap semuanya tanpa terlewat.
“Ini jauh lebih keren dari yang aku bayangin!”
“Ya, beginilah Jogjakarta.”
“Banyak banget lapak kecil di mana-mana.”
“Kita lagi di tengah jalur wisata paling populer. Kalau mau, kita bisa menunu ke bagian tempat wisata yang lebih jauh.”
“Enggak kali ini. Kalau cuma sehari di sini, aku pingin lihat semua hal yang ada di sini ... dan belanja!”
“Toko-toko yang kita datangi enggak bakal penuh turis. Tempatnya eksklusif.”
Maggie menoleh. “Dan aku yakin aku enggak bakal mampu beli apa pun. Tapi lihat-lihat aja pasti seru.”
“Hari ini hari kamu. Pilih apa pun yang kamu suka, aku yang bayarin.”
Mata mereka bertemu sejenak. “Kalau kebanyakan, rasanya aku malah kayak jadi punya utang sama kamu.”
Dia mengangkat bahu. “Aku bukan tipe orang yang nagih utang. Tapi aku suka kalau orang berutang sama aku."
Tatapan Maggie bertahan lama. “Aku belum yakin soal itu. Tapi kita harus beli tas popok lain kalau kamu yang mau bawa. Enggak pantas lah, bos perusahaan besar keliling bawa tas Labubu di pundaknya.”
Kael tertawa. “Aku enggak masalah bawa Labubu mu. Tapi kita bisa mampir dulu ke toko bayi. Kita dandanin Biann kayak anak keraton beneran.”
Wajah Maggie langsung bersinar. “Toko bayi. Kedengarannya sempurna. Ayo!”
...𓂃✍︎...
...Ibu, ternyata dunia sekejam ini, ya?...
...────୨ৎ────...
tapi aku gk naik limosin aku naik mobil trios mobil keluarga yg sederhana .