NovelToon NovelToon
Aluna : Bayang - Bayang Luka

Aluna : Bayang - Bayang Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Pelakor / Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Naik ranjang/turun ranjang / Cintapertama
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Aluna terjebak dalam pernikahan neraka. Di mata dunia, dia adalah istri Arvino Hardinata. Namun di balik pintu tertutup, dia dianggap sebagai "pembunuh" oleh suaminya sendiri. Aluna bertahan demi Lili, satu-satunya sumber kekuatannya, sambil berharap suatu hari Arvino melihat ketulusan cintanya—sebelum penyakit dan kelelahan batin menggerogoti Aluna sepenuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: Asing di Rumah Sendiri

​Sinar matahari pagi yang menembus celah gorden tebal memaksaku membuka mata. Tubuhku terasa remuk redam. Tidur di lantai beralaskan karpet dengan posisi meringkuk semalaman membuat punggungku kaku dan leherku sakit bukan main.

​Namun, rasa sakit fisik itu seketika terlupakan saat kesadaranku pulih sepenuhnya. Aku menoleh ke arah ranjang.

​Kosong.

Seprai di sisi Arvino sudah rapi, begitu juga boks bayi Lili.

​Kepanikan menyergapku. Aku segera bangkit, mengabaikan rasa pusing yang mendera, dan berlari keluar kamar. Apakah Arvino membawa Lili pergi? Apakah ancaman Papa kemarin membuatnya nekat membawa kabur keponakanku?

​Langkahku terhenti di ujung tangga saat mendengar suara tangisan bayi dari arah ruang makan. Lalu suara bariton yang sedang berusaha menenangkan.

​"Sshhh... cup cup cup sayang. Sebentar ya, Papa buatkan susunya. Jangan menangis, Nak."

​Aku menghembuskan napas lega. Mereka masih di sini.

​Aku merapikan rambutku yang berantakan dan berjalan menuruni tangga menuju dapur bersih yang menyatu dengan ruang makan. Pemandangan di sana membuat hatiku terenyuh sekaligus perih.

​Arvino, masih mengenakan piyama, sedang kerepotan. Tangan kirinya menggendong Lili yang menangis kencang, sementara tangan kanannya gemetar berusaha menakar bubuk susu formula ke dalam botol. Air panas tumpah sedikit ke meja karena dia tidak fokus.

​"Biar aku bantu, Kak," ucapku spontan, mendekat dengan cepat.

​Gerakan Arvino terhenti seketika. Tubuhnya menegang. Dia menoleh, menatapku dengan sorot mata yang membuat langkahku mati kutu.

​"Mundur," perintahnya dingin.

​"Tapi Kakak kerepotan. Airnya terlalu panas, nanti lidah Lili melepuh. Biar aku yang takar—"

​"Aku bilang mundur!" bentak Arvino. Suaranya cukup keras hingga membuat tangisan Lili semakin pecah karena kaget.

​Arvino menatapku tajam. "Jangan pernah sentuh makanan atau minuman anakku. Aku tidak tahu racun apa yang mungkin kau masukkan ke sana."

​Hatiku mencelos. Tuduhan itu lagi.

​"Kak, aku ini dokter. Aku juga tantenya. Mana mungkin aku menyakiti Lili?" suaraku bergetar menahan emosi. "Mbak Sarah memintaku merawatnya, Kak."

​"Sarah memintamu merawatnya karena dia berpikir kau adiknya yang baik. Dia tidak tahu kalau adiknya adalah ular," desis Arvino. Dia kembali fokus pada botol susu, mengocoknya dengan kasar, lalu meneteskan sedikit ke punggung tangannya untuk mengecek suhu. Setelah dirasa pas, dia memberikannya pada Lili.

​Tangis bayi itu perlahan mereda saat dot botol masuk ke mulutnya. Arvino mencium kening Lili penuh sayang, sangat kontras dengan tatapan membunuh yang baru saja dia lemparkan padaku.

​"Mulai hari ini, camkan aturan ini baik-baik," ujar Arvino tanpa menatapku. "Tugasmu di rumah ini hanya status. Di depan Papa dan Mama, kau boleh berpura-pura jadi ibunya. Tapi saat tidak ada mereka, kau tidak boleh menyentuh Lili. Kau tidak boleh mengganti popoknya, memandikannya, atau memberinya susu. Mengerti?"

​"Lalu apa gunanya aku di sini?" tanyaku putus asa. "Kalau Kakak menganggapku tidak ada, kenapa tidak ceraikan saja aku?"

​Arvino meletakkan botol susu yang sudah kosong, lalu menatapku dengan senyum miring yang menyakitkan.

​"Cerai? Dan membiarkan Papa mengambil Lili dariku? Tidak akan. Kau terperangkap di sini bersamaku, Aluna. Kau akan melihatku membesarkan Lili tanpa bantuanmu sedikit pun. Kau akan merasakan sakitnya ada tapi tidak dianggap. Itu hukumanmu."

​Hari-hari berlalu dengan pola yang menyiksa.

​Aku seperti hantu di rumah megah ini. Arvino menyewa seorang baby sitter senior bernama Sus Rini untuk mengurus Lili saat dia bekerja. Dia lebih percaya pada orang asing yang dibayar daripada istrinya sendiri.

​Setiap pagi, Arvino akan berangkat ke Rumah Sakit Hardinata—tempat di mana seharusnya aku juga bekerja. Tapi sejak kejadian itu, Arvino (sebagai Direktur Utama menggantikan Papa yang mulai pensiun) membekukan izin praktikku di sana.

​"Kau tidak pantas memegang pasien. Tanganmu gemetar ketakutan, kan? Kau trauma ruang operasi, kan?" ejeknya saat aku meminta kembali bekerja.

​Dia benar. Sejak malam kematian Sarah, aku memiliki tremor halus di tanganku. Trauma psikologis. Tapi bukan berarti aku tidak berguna.

​Siang itu, rumah sepi. Mama dan Nenek sedang pergi check-up. Arvino di kantor. Hanya ada aku, Sus Rini, dan Lili di kamar bayi.

​Aku berdiri di ambang pintu, memperhatikan Sus Rini yang sedang berusaha menidurkan Lili. Tapi Lili rewel. Dia terus menggeliat dan menangis, menolak digendong Sus Rini.

​"Cup cup... Non Lili kenapa sih? Popok sudah ganti, susu sudah..." keluh Sus Rini, tampak kelelahan.

​Lili menangis semakin kencang, wajahnya memerah padam. Naluri keibuanku—atau naluri tanteku—berteriak. Aku tahu apa yang dia rasakan. Itu tangisan kolik. Perutnya kembung.

​"Sus," panggilku pelan, melangkah masuk.

​Sus Rini tampak ragu. Dia tahu perintah Tuan Mudanya. "Maaf Nyonya Aluna, tapi Tuan berpesan..."

​"Tuan tidak ada di sini, Sus. Lili kesakitan. Dia kembung," potongku tegas. Aku tidak peduli lagi. Aku mengambil alih Lili dari gendongan Sus Rini.

​Ajaibnya, saat tubuh mungil itu berpindah ke pelukanku, tangisannya sedikit mereda meski masih terisak. Aroma bayi, aroma minyak telon, aroma sisa susu... aroma yang sama dengan aroma Mbak Sarah.

​"Sshhh... sayang Mama di sini..." bisikku tanpa sadar menyebut diriku Mama.

​Aku membaringkan Lili di meja ganti, lalu menuangkan minyak telon ke tanganku. Aku menggosok tanganku agar hangat, lalu mulai memijat perut buncit Lili dengan gerakan ILU (I Love You) yang lembut. Pijatan bayi untuk meredakan kolik.

​"Sakit ya Nak? Maaf ya..." senandungku pelan.

​Perlahan, ekspresi kesakitan di wajah Lili menghilang. Kakinya yang tadi menendang-nendang kaku kini rileks. Dia menatapku. Mata bulat itu... mata milik Arvino, tapi hidung dan bibirnya milik Sarah.

​Lili menguap, lalu jemari mungilnya menggenggam jari telunjukku. Erat sekali.

​Hatiku menghangat. Untuk pertama kalinya sejak pulang ke Indonesia, aku merasakan kedamaian. Air mataku menetes jatuh ke pipi gembil Lili.

​"Kamu penguat Mama, Li. Jangan benci Mama seperti Papa membenci Mama ya..."

​"LEPASKAN TANGAN KOTORMU DARI ANAKKU!!"

​Guntur itu datang tiba-tiba.

​Pintu kamar bayi terbanting terbuka. Arvino berdiri di sana, napasnya memburu, wajahnya merah padam karena amarah. Dia pulang lebih awal.

​Aku tersentak kaget, refleks menarik tanganku, tapi Lili masih menggenggam jariku.

​Arvino menerjang maju, menepis tanganku kasar hingga pegangan Lili terlepas. Bayi itu kaget dan langsung menangis lagi. Arvino segera menyambar Lili ke dalam pelukannya.

​"Sus Rini!" bentak Arvino. "Saya bayar kamu mahal untuk menjaga anak saya dari wanita ini! Kenapa kamu biarkan dia menyentuhnya?!"

​Sus Rini gemetar ketakutan di pojok ruangan. "M-maaf Tuan... tadi Non Lili menangis terus..."

​Arvino menatapku dengan nyalang. "Keluar."

​"Kak, dia tadi kolik, aku cuma memijatnya—"

​"KELUAR!!" teriakan Arvino menggema ke seluruh rumah. "Keluar dari kamar ini! Jangan pernah injakkan kakimu di kamar anakku lagi!"

​Aku mundur dengan air mata berderai. "Aku ibunya, Kak! Di akta kelahirannya namaku tercatat sebagai ibunya!"

​"Di kertas!" Arvino menunjuk pintu. "Kau hanya ibu di atas kertas. Di kenyataan, kau tidak lebih dari parasit di rumah ini. Pergi!"

​Aku berlari keluar, membanting pintu kamarku sendiri—atau lebih tepatnya, kamar mewah tempatku tidur di lantai. Aku membenamkan wajah ke bantal, menangis sejadi-jadinya.

​Kenapa mencintaimu harus sesakit ini, Kak?

Dan kenapa mencintai keponakanku sendiri dianggap sebuah kejahatan?

​Sore itu, aku demam tinggi. Mungkin efek kelelahan, stres, dan tidur di lantai dingin berhari-hari. Tubuhku menggigil hebat. Aku meringkuk di bawah selimut, berharap Arvino akan masuk dan setidaknya bertanya keadaanku.

​Tapi sampai malam larut, pintu kamar itu tidak terbuka. Arvino tidur di kamar tamu bersama Lili, meninggalkanku sendirian di kamar pengantin kami yang dingin, berteman dengan bayang-bayang dan rasa sakit yang tak berujung.

​Ternyata benar. Menikah dengannya jauh lebih menyakitkan daripada merelakannya menikah dengan orang lain.

...****************...

Bersambung....

Terima kasih telah membaca💞

Jangan lupa bantu like komen dan share❣️

1
kalea rizuky
bodoh aja harga diri di injak mau balik bilang aja lu gatel bodoh bt di jadiin ban serep doank lu mau najis
kalea rizuky
laki menjijikkan
kalea rizuky
egois ne si sarah uda mati aja nyusain
kalea rizuky
enak jaa minta maaf dihh
kalea rizuky
move on donk masak mau bekas kakak sendiri
leahlaurance
kabur aja menjau sana aluna.hatinya tetap untuk sarah istrinya
leahlaurance
tungu aja istri mu mati ,mungkin rasa bersalamu sampai masuk kubur
leahlaurance
kenapa si kamu bodoh amat wajai perempuan tingalin aja dia
اختی وحی
trllu bertele² ceritanya, sampe bab ini msih bgitu² aja,kejadian berulang
leahlaurance
kan ada pengasuh
leahlaurance
makanya jangan bodoh,masa enga ada kamar lain
اختی وحی
ada bab yg seolah² mrk ini tinggal bareng sma mertua,tp ad bab yg menjelaskan klw mrk tdk serumah dngn orang tuanya, bingung jg
leahlaurance
perempuan bodoh,kau pantas dapat perlekuan seperti itu.
leahlaurance
bagus bangat ceritanya,jiwa ku ikut terseksa tambah beben fikiran😂🤭
leahlaurance
menurut ku aluna juga punya hak menolok.tapi demi cinta butanya kali ya.
leahlaurance
bertepuk sebelah tangan ya aluna
shabiru Al
sebaiknya jika ingin memulai lagi,, carilah rumah baru agar suasana nya pun baru tanpa ada kenangan menyakitkan dan bayangan sarah
leahlaurance: enga dapak ku bayangkan kalau aku menikah dgn ipar ,walau itu wasiatnya
total 1 replies
shabiru Al
entah dengan cara apa arvino bisa meluluhkan hati aluna
shabiru Al
hukuman yang terberat adalah pengabaian dan rasa yang sudah hilang sepenuhnya
shabiru Al
benar maaf saja tdk cukup untuk satu tahun penyiksaan yang kejam dan tdk berdasar.. enak aja
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!