Maula, harus mengorbankan masa depannya demi keluarga.
Hingga suatu saat, dia bekerja di rumah seorang pria yang berprofesi sebagai abdi negara. Seorang polisi militer angkatan laut (POMAL)
Ada banyak hal yang tidak Maula ketahui selama ini, bahkan dia tak tahu bahwa pria yang menyewa jasanya, yang sudah menikahinya secara siri ternyata...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andreane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8
Maula bergeming lengkap dengan raut cemas, sama sekali tak tahu kalau Jamal ternyata bekerja di hotel itu sebagai cleaning service. Parahnya lagi, Jamal memergoki dirinya tengah bersama seorang pria di sebuah kamar.
Jelas, Jamal berfikir kalau Maula sedang berbuat mesum dengan pria tersebut. Padahal jelas-jelas Maula belum menikah, lantas apa yang ada di benak Jamal saat ini?
Pelacur..
Satu-satunya kata yang terbersit di otak Jamal.
"Lain kali, kalau mau masuk, ketuk pintu dulu, mengerti!" Suara dingin itu keluar dari mulut yang kini hanya mengenakan celana santai.
"M-maaf, pak!" Ucap Jamal tak enak hati. Sedetik kemudian dia sedikit merunduk lalu bergegas keluar dengan membawa rasa penasaran.
Sesaat setelah kepergian Jamal, si pria langsung mengunci pintu kemudian berbalik menghadap Maula yang masih menyimpan kecemasan.
"Siapa dia? Apa kamu mengenalnya?"
Maula mengangguk.
"Pacarmu?"
Maula menggeleng dengan pikiran bercabang.
"Temanmu?"
Kembali wanita itu menggelengkan kepalanya.
"Saudara?" Mr F belum berhenti bertanya.
Untuk kesekian kali Maula menggeleng meresponnya.
"Lalu siapa?"
"Tetangga!" Sahut Maula dengan sorot kosong.
"Oh... Jadi tetanggamu?" Balas Mr F begitu santainya.
Berbeda dengan Maula yang resah memikirkan banyak hal termasuk kemungkinan terburuk, karena sebentar lagi, gosip tak sedap pasti akan beredar di lingkungan tempat tinggalnya.
Mr F yang menyadari raut wajah Maula, kini keningnya mengernyit.
"Apa tetanggamu nggak tahu profesimu yang ini?" Tanya Mr F, seraya berjalan mendekati Maula.
"Ini bukan profesiku, dan hanya kamu pria satu-satunya yang baru menyewa jasaku"
"Oh, ya?"
"Terserah, yang jelas aku sudah tidak mau lagi bekerja seperti ini"
"Apa nggak sayang? Kamu akan kehilangan berjuta-juta uang loh"
"Aku bukan wanita seperti itu"
"Bukan wanita seperti itu?" Pria itu menyunggingkan senyum tipis. "Buktinya kamu rela menyerahkan segalanya padaku"
"Hanya padamu, tidak akan ku ulangi kesalahan terbesarku ini" Jawab Maula, ia meraih tasnya dan berniat pergi dari sana. "Maaf, aku tidak bisa membayar hutangku, tapi akan ku lunasi secepatnya dengan uang, jika kamu mau, silakan hitung bunganya sesukamu"
Kaki Maula mulai melangkah, melewati pria yang tak mengatakan apapun.
Namun saat langkahnya nyaris sampai di belakang pintu, tangan Maula di cekal dengan sangat kuat dari arah belakang.
"Tidak semudah itu kamu bisa bebas dariku, mau tidak mau, kamu harus ada setiap aku membutuhkanmu"
"Memangnya aku istrimu" Desis Maula.
Tubuhnya sudah di balik dengan paksa menghadap si pria.
"Kenapa nggak cari istrimu untuk menuntaskan kebutuhan biologismu? Apa dia sudah tidak bisa melayanimu?" Benar-benar sudah hilang rasa hormat di hati Maula pada pria yang ada di depannya.
"Jangan coba menghina istriku, dia bahkan lebih segalanya darimu"
"Lantas, kenapa nggak minta jatah pada istri sempurnamu? Kenapa malah mencariku?"
"Tutup mulutmu!"
"Lepaskan tanganmu!" Balas Maula dengan keberanian yang entah dari mana datangnya. Matanya tak kalah tajam dari Mr F. Bagi Maula, jika pria itu bisa emosi, dia pun bisa. "Jangan memancingku, aku sudah taubat" Tambah Maula seraya melepas tangan Mr F.
"Aku tambah bayaranmu" Di luar dugaan. Maula mengira kalau Mr F sangatlah marah karena sudah berani mengolok istrinya. Tapi dia justru menawarkan lebih.
Tak langsung menjawab, Maula melempar tatapan sinisnya ke arah lemari.
Sesaat kemudian kembali membalas sorot tajam pria yang masih mencengkram pergelangan tangannya.
"Mau kamu menawarku seharga lamborgini, aku tetap pada pendirianku. Aku tidak mau lagi berzina"
"Ckk.. Munafik, ku lihat kemarin kamu menikmatinya"
"Kemarin karena aku butuh uangmu, sekarang sudah tidak lagi"
"Kalau begitu balikin uangnya sekarang juga"
"Sudah ku bilang uangnya sudah ku pakai"
"Berarti kamu nggak bisa mengembalikannya kan?"
"Akan aku balikin, tapi nggak sekarang"
"Tidak bisa! Kamu harus menemaniku kalau begitu"
"Aku nggak mau!" Kekeuh Maula.
"Okay, untuk malam ini saja" Tawar si pria.
"Sadarlah! Itu zina, dosa besar!" Maula mencoba memberi pengertian. "Cari istrimu saja, nggak dosa, malah dapat pahala"
Pria itu diam, melepaskan tangan Maula.
"Maaf.. Kemarin aku terpaksa, dan sekarang aku benar-benar nggak bisa lagi" Usai mengatakan itu, Maula langsung pergi, tak peduli dengan ekspresi pria yang mungkin sangat kecewa.
****
sama aku pun juga
next Thor.... semakin penasaran ini