Dibalik diamnya seorang istri ada penyesalan suami yang sangat mendalam.
Zhia Vanelesia yang telah merasa lelah dengan sikap sang suami yang suka seenaknya saja akhirnya memilih untuk Diam. Dia tidak perduli lagi dengan apa yang di lakukan suaminya dan memilih untuk mengejar karirnya kembali.
Rayyan Ardinata sosok suami yang masih suka kebebasan. Dia selalu menghabiskan waktunya dengan nongkrong dengan teman temannya di bar. Hingga akhirnya Rayyan terkejut melihat reaksi istrinya yang akhirnya diam dan tidak perduli lagi akan apa yang dia lakukan.
Rayyan langsung saja membuat keputusan untuk membawa wanita ke rumah besar mereka untuk melihat bagaimana reaksi istrinya nantinya.
Namun, alangkah terkejutnya Rayyan melihat reaksi istrinya ketika melihatnya sedang bercumbu mesra dengan selingkuhannya di dalam kamarnya.
Mulai dari kejadian itu, Rayyan memilih untuk berubah dan mengejar kembali cinta sang istri.
Akankah Rayyan berhasil merebut hati istrinya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprida Wati Tarigan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 22
Seperti biasa Zhia akan melakukan pemotretan di kantor Kinan. Rayyan mengantarnya sampai ke depan gedung kantor Kinan. Tidak lupa dia mencium kening Zhia terlebih dulu sebelum Zhia keluar dari mobilnya.
"Kamu jangan terlalu lelah ya, Sayang" ucap Rayyan mencoba mengelus rambut panjang Zhia.
"Em!" dehem Zhia menganguk.
Rayyan mencoba mengelus perut datar Zhia lalu menciumnya dengan lembut. Melihat tingkah suaminya yang aneh Zhia mengerutkan keningnya binggung.
"Apa yang kamu lakukan, Ray?" ucap Zhia refleks.
"Tidak ada! Aku hanya berharap benih benihku tumbuh di rahimmu" ucap Rayyan tersenyum.
"Apa kamu sakit? Bukankah selama ini kamu tidak menginginkan anak dariku?" ucap Zhia mengingat sikap Rayyan setiap kali dia membicarakan soal anak.
"Itu'kan dulu! Sekarang aku berubah pikiran. Lagian juga aku sudah mapan dan juga umurku sudah cukup untuk memiliki tanggung jawab sebagai ayah"
Mendengar ucapan Rayyan, Zhia tersenyum sambil menunduk. Jujur saja Zhia merasa bahagia karna Rayyan akhirnya berubah pikiran dan mau memiliki anak darinya. Dulu saat Zhia membicarakan soal anak Rayyan selalu saja mengelak. Bahkan selama setahun ini Zhia sendiri yang berjuang untuk mendapatkan anak dari Rayyan.
Bahkan beberapa kali Zhia telat datang bulan dan Zhia selalu mengeceknya ke dokter kandungan seorang diri. Hingga akhirnya Zhia memilih menyerah karna Rayyan selalu tidak perduli dengannya.
"Nanti saat makan siang kita akan mengeceknya ke dokter kandungan ya. Bukankah jadwal pmsmu sudah lewat bulan ini?"
Mendengar ucapan Rayyan, Zhia yang tidak sadar melihat kalender di ponselnya. Benar saja Zhia sudah telat selama dua minggu dan Zhia tidak menyadari itu. Zhia mencoba memegang perutnya sambil tersenyum. Namun, dia langsung saja menepis semua hayalannya karna takut akan kecewa lagi.
"Kamu tidak usah khawatir, apapun hasilnya nanti kita terima dengan lapang dada. Yang terpenting kita sudah berusah" ucap Rayyan tersenyum sambil mengelus puncak kepala Zhia.
"Terserah kamu saja! Ya, sudah aku kerja dulu ya" ucap Zhia tersenyum lalu mencium punngung tangan Rayyan.
Rayyan langsung saja mencium kening Zhia lalu turun ke wajahnya hingga akhirnya ciumannya terhenti di bibir pink Zhia. Setelah puas mencium wajah Zhia Rayyan menciumi perut Zhia yang masih datar lalu turun untuk membuka pintu untuk Zhia.
Zhia turun dari mobil lalu mengayunkan langkahnya memasuki kantor Kinan. Sesampainya di pintu utama Zhia menoleh ke belakang. Melihat itu Rayyan melambaikan tangannya sambil mengembangkan senyumannya.
Tanpa mereka sadari Kinan menatap mereka dari kaca jendela ruangannya. Melihat hubungan Rayyan dan Zhia semakin membaik Kinan langsung saja tersenyum bahagia. Dia mencoba membuang napasnya lega lalu menatap ke langit dengan tatapam penuh syukur.
"Kakak" ucap Zhia tiba tiba hingga membuat Kinan melompat karna terkejut.
"Astaga naga. Zhia!" bentak Kinan kesal sambil memegang dadanya yang berdetak kencang.
"Kakak ngapain?" ucap Zhia polos sambil menatap ke bawah.
"Tidak ada! Kakak hanya melihat pemandangan yang tidak enak" ucap Kinan asal lalu kembali duduk di bangku kuasanya.
"Pemandangan apa?" ucap Zhia mengetuk getuk dagunya sambil menatap ke bawah dengan penuh rasa penasaran.
"Sudah! Walaupun kamu melototinya sampai besok kamu tidak akan menemukannya lagi" ucap Kinan sambil membaca dokument yang tergeletak di atas mejanya.
Mendengar ucapan Kinan, Zhia mencoba mendekati Kinan. Dia langsung duduk di depan Kinan sambil menatap Kinan dengan posisi kedua tangannya menupang dagunya. Kinan yang melihat tatapan Zhia merasa risih, Kinan'pun menutup dokumen yang ada di tangannya lalu membalas tatapan Zhia.
"Kenapa kamu melihat kakak seperti itu?" ucap Kinan menatap lekat wajah Zhia.
"Tidak! Aku hanya penasaran apa yang kalian bicarakan semalam?"
"Bicara apa?" ucap Kinan mengerutkan keningnya binggung.
"Apa semalam kakak dan Rissa ada membicarakan sesuatu?"
"Tidak! Kami tidak ada bicara apapun. Memangnya kenapa?"
"Tidak ada! Aku kira kakak dan Rissa ada membicarakan hal yang spesial"
"Em! Kamu nanti malam kemana?" ucap Kinan mengalihkan pembicaraan.
"Aku di ajak Rayyan ke pesta reuni teman teman kuliahnya"
"Oh! Kamu ikut bersama Rayyan. Kakak kira Rayyan tidak pergi"
"Kakak juga mau ke sana? Kakak pergi saja sama Rissa. Dari pada kakak membawa wanita wanita pangilan yang tidak jelas asal usulnya"
"Tapi, apa Rissa mau?"
"Pasti dia mau. Biar aku yang menghubunginya" ucap Zhia langsung saja mengeluarkan ide cemerlangnya.
"Ok! Kakak serahkan kepadamu. Sekarang lebih baik kamu siap siap. Sebentar lagi pemotretanmu di mulai" ucap Kinan menatap jam tangannya.
"Siap, Kak. Tapi aku mau rujak di depan sana" ucap Zhia menunjuk ke arah penjual rujak di depan kantor Kinan.
"Baiklah! Akan kakak belikan" ucap Kinan lalu bangkit dari duduknya.
"Yeachh... Terima kasih, Kak" ucap Zhia memeluk Kinan.
Namun, tiba tiba hidung Zhia tergangu akan aroma parfum meskulin yang melekat di tubuh Kinan. Zhia langsung saja melepas pelukannya lalu berlari ie arah kamar mandi yang ada di dalam ruangan Kinan.
Zhi memuntahkan semua isi perutnya. Kinan yang merasa khawatir langsung berlari ke kamar mandi dan memijit tengkuk leher Zhia.
"Kakak pakai parfum apa? Kenapa baunya sangat tidak enak" protes Zhia sambil menatap Kinan kesal.
"Kakak hanya memakai parfum yang biasa kakak kenakan. Masa, sih bau?" ucap Kinan mencoba muncium aroma tubuhnya dan tidak ada bau aneh dari sana.
"Lebih baik kakak mandi dan ganti baju. Aku tidak mau mencium aroma aneh itu lagi" ucap Zhia kesal lalu mengayunkan langkahnya keluar dari ruangan Kinan.
Kinan yang merasa binggung terus saja mencium kemeja dan jasnya. Dia tetap tidak mencium aroma aneh dari sana. Hingga akhirnya Kinan memilih mengalah dan menyuruh sekertarisnya untuk membelikan jas dan kemeja baru untuknya.
Setelah selesai mandi dan menganti pakaiannya Kinan pergi ke bawah untuk membeli rujak untuk Zhia. Namun, saat memberikan pesanan Zhia bukannya mendapat ucapan terima kasih Kinan malah dapat protes dari Zhia
"Kakak! Kenapa ada nenasnya? Aku tidak suka. Rasanya juga sangat pedas" protes Zhia karna rujak pemberian Kinan tidak sesuai seleranya.
"Jadi kamu mau seperti apa?" ucap Kinan lembut tanpa ada rasa amarah sedikitpun.
"Aku mau rasanya jangan pedas seperti ini. Lihat lidahku seperti terbakar"
"Baiklah! Kakak akan membelinya lagi. Kamu jangan marah ya"
"Ia, eh, satu lagi aku mau buahnya jangan pakai nenas dan bengkoang. Em manga mudanya di banyakin sama kedongdongnya"
Mendengar permintaan Zhia yang sangat banyak Kinan hanya mampu membuang napasnya pelan sambil mengaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Siap, Tuan putri. Apa hanya itu saja?"
"Ia! hanya itu" ucap Zhia cengengesan.
Setelah tidak ada lagi perintah dari Zhia, Kinan langsung saja pergi keluar untuk membeli rujak untuk Zhia kembali.
Bersambung.....
Haii semuanya... Sambil nunggu up jangan lupa mampir di karya temanku, ya. Ceritanya sangat menarik di jamin kalian akan suka 🥰🥰🥰