Cerita tentang seorang anak gadis cantik yang cerdas dan memiliki cita-cita menjadi seorang dokter. Gadis itu bernama Aryanti Wihardja, biasa disapa Ary.Dia memiliki seorang sahabat bernama Eno Mundarwati.
Novel ini mengisahkan tentang kehidupan sehari-hari Ary, mulai dari persahabatan hingga kisah cinta Ary. Ary selalu berdo'a agar tidak jatuh cinta terlebih dahulu sebelum menjadi seorang dokter. Dia tidak ingin sekolahnya terganggu dengan urusan cinta.
Akankah Ary jatuh cinta saat di bangku sekolah, kuliah atau setelah menjadi dokter? Yuk kita baca cerita selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AYi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Menjenguk Ary
Sudah ada lima jam sejak Ary dibawa ke ruang rawat inap kelas satu. Ary masih tetap tertidur pulas belum sadarkan diri. Kedua orang tua Ary sangat khawatir dengan kondisi Ary, walaupun dokter sudah mengatakan bahwa Ary baik-baik saja karena sudah melewati masa kritis.
"Assalamualaikum!" sapa seseorang yang masuk ke kamar melati 10.
"Wa'alaikum salam..." jawab ayah dan bunda bersamaan.
"Bun, gimana keadaan adek? Adek gak apa-apa kan? Tidak ada luka yang serius kan?" Karin, kakak Ary, memborong pertanyaan.
"Adek baik, tapi masih belum sadar karena tadi dokter memberikan obat tidur. Agar dia bisa istirahat dan tidak banyak gerak." jelas bunda berusaha kuat menghadapi ujian ini.
"Kamu istirahat dulu, pasti capek habis perjalanan jauh." kata ayah.
"Wis mangan? Terus kerjamu piye?" tanya bunda.
(Sudah makan? Terus kerjamu gimana?)
"Sampun (sudah)! Karin ambil cuti seminggu kok, bunda tidak usah khawatir." jawab Karina sambil duduk di samping bunda.
Tiba-tiba tangan Ary bergerak-gerak. Ayah, bunda, dan Karin beranjak mendekati ranjang Ary.
"Mi- Minnum..." suara lirih Ary.
"Sudah bangun adek, bun." kata Karin sambil mendekati meja nakas untuk mengambil air minum Ary. Kemudian Karin mulai memberikan minum pada Ary dengan sendok.
"Kamu rebahan aja, biar gak pusing kepalanya." kata Karin sambil terus menyendokkan air ke mulut Ary.
Ary mengangkat sebelah tangannya sebagai tanda, dia sudah cukup minum. Ary belum boleh menggunakan bantalan kepala. Karena posisi kepala yang lebih tinggi dari badan akan mengurangi aliran darah ke otak.
Ary kembali memejamkan matanya sambil memegangi kepala, rasa sakit di kepalanya tiba-tiba menyerang.
"Ary, kamu kenapa nduk?" tanya bunda cemas.
"Kepala Ary sakit, bun."
"Tidur aja lagi, jangan banyak gerak dulu. Biar cepat sembuh!" kata mbak Karin. Ary mulai tidur lagi.
"Ayah sama bunda tidur aja, biar Karin yang jaga adek." Karin meminta ayah bundanya untuk tidur karena hari sudah larut.
Ayah dan bunda tidur di kasur busa yang beralaskan karpet di lantai. Karena fasilitas kamar yang tersedia hanya itu. Karin tidur di kursi samping ranjang Ary.
***
Tok...tok..!!!
Suara pintu kamar rawat Ary diketuk seseorang.
"Assalamualaikum..." terdengar suara salam dari depan pintu dan pintu pun terbuka. Muncul beberapa orang dengan pakaian putih abu-abu. Mereka teman-teman sekelas Ary. Ada empat orang, yaitu Enno, Candra, Alex dan Anton. Mereka ijin ke guru piket untuk menjenguk Ary saat jam istirahat pertama.
"Wa'alaikum salam..." jawab bunda. "Ee, ada Enno. Sini masuk!"
Enno dan teman-temannya menyalami tangan bunda dan mbak Karin, ayah pulang sebentar untuk mengecek keadaan kios. Ary saat ini masih tidur, karena pengaruh obat tadi pagi. Enno meletakkan parsel buah yang dibawanya di meja nakas.
"Ini teman sekelas Ary semua?" tanya bunda.
"Iya, bun. Keadaan Ary gimana bun?" kata Enno. "Kok Ary jadi pelontos, bun?" Enno cengengesan.
"Ary harus dioperasi kepalanya, makanya dia dicukur sampai halus untuk memudahkan operasi." jelas bunda.
"Parah ya tan, kok sampai harus operasi segala" tanya Alex cemas.
Alex begitu mencemaskan Ary saat tadi pagi diberi tau Enno, kalau Ary mengalami kecelakaan kemarin sore. Dia langsung mengajak Enno dan Anton untuk menjenguk Ary di rumah sakit.
"Tidak terlalu parah, hanya kepalanya terbentur aspal. Hanya operasi kecil, untuk mengurangi pembengkakan pada syaraf otaknya." bunda kembali menjelaskan.
Ary terbangun karena sudah tertidur lama dan juga merasa ada suara orang ngobrol.
"Mbak, minum!" Ary meminta minum pada kakaknya.
"Iya, tunggu sebentar! Jangan gerak dulu dan jangan bangun!!!" perintah mbak Karin. Karin berkata demikian karena sudah dipesan oleh dokter yang menangani Ary. Ary belum boleh banyak gerak, apalagi mengangkat kepalanya.
Mbak Karin mulai menyendok air minum, dan menyuapi Ary minum pakai sendok. Mbak Karin sangat telaten merawat Ary, karena Ary adik semata wayangnya jadi Karin sangat menyayangi Ary.
"Mbak Karin kapan nyampe?" tanya Enno. Enno sudah lama mengenal Karin, karena dia berteman dengan Ary sejak kelas 5 SD. Saat itu Enno dan keluarganya baru pindah dari luar kota, karena papanya pensiun.
"Tadi malam En, mbak langsung pulang begitu ditelpon ayah." Karin.
"Kejadiannya gimana tan, kok bisa kecelakaan?" tanya Alex penasaran.
"Persisnya tante tidak tau. Kata orang yang melihat kejadian itu, ada anak kecil yang baru belajar naik motor melaju kencang dari samping kanan. Karena tidak bisa menguasai motor yang dinaikinya, jadi nabrak Ary yang saat itu melintas di perempatan jalan yang sama." jelas bunda.
Ary hanya diam saja, kejadiannya begitu tiba-tiba. Yang diingatnya hanya saat ditabrak dan terpental saja. Saat bangun, dia sudah di rumah sakit dengan kepala diperban.
"Siapa adek itu bun dan gimana keadaannya sekarang?" tanya Ary tiba-tiba dikarenakan rasa penasaran bercokol di kepalanya.
"Si Dio, anaknya Agus - Minah. Dia tidak apa-apa, hanya lecet dikit. Wes ra sah dipikir. Yang penting kowe cepet sehat!" Bunda.
"Kalo si Maxi bun, dimana dia? Gak rusak kan?"Ary makin heboh bertanya.
"Mboh, ra ngerti!(Entah, tidak tau) Cerewet! Sudah tenang saja, yang penting kamu sehat dulu!" kata bunda penuh penekanan karena gemas dengan pertanyaan Ary.
Ary sangat menyayangi si Maxi, motor kesayangannya hadiah kelulusannya waktu SMP dari kakak laki-lakinya, Handika.
Ary hanya diam dimarahi bunda, sebenarnya dia masih penasaran dengan keadaan motor kesayangannya. Kalau dia tetap mau tau keadaan si Maxi, maka bunda akan semakin marah. Dia tidak ingin jadi anak durhaka karena membantah omongan bundanya.
Tak terasa sudah satu jam Enno dan teman-temannya menjenguk Ary. Mereka harus segera kembali ke sekolah, atau akan kena hukuman dari guru piket dan ketinggalan pelajaran. Sebenarnya Alex enggan untuk kembali ke sekolah, tapi dia tidak mau kena hukuman. Dengan berat hati, dia pun melangkahkan kakinya keluar dari rumah sakit.
***
Saat di depan pintu gerbang sekolah, Enno dan Candra berpapasan dengan Bayu. Bayu yang tidak melihat Ary sejak pagi pun, bertanya tentang Ary pada Enno.
"En... Enno!!!" panggil Bayu.
"Iya, kak?" Enno mendatangi Bayu. "Ada apa ya, kak? Tumben nyari Enno yang rupawan nan cantik jelita." Enno mulai narsis dan pengen eksis.
Orang-orang yang mendengar pun langsung tergelak, tertawa lepas. Saat itu ada Candra, Bayu dan teman Bayu.
"Hmppfft... hahaha..."
"Cuma mau tanya, kok Ary dari pagi tidak tampak batang hidungnya? Sangkut dimana ya?" tanya Bayu tidak mau kalah kocaknya dengan Enno.
"Emangnya si Ary layangan, bisa terbang kebawa angin terus sangkut di pohon apa di kabel PLN?" tanya Candra sewot.
"Ary sekarang di rumah sakit. Kemarin ketabrak anak kecil yang baru belajar naik motor. Makanya gak sekolah dia. Masak kak Bayu tidak tau, padahal kak Bayu lagi dekat ma Ary!?" Cerocos si Enno.
"Dekat kalo di sekolah! Kalo di rumah, Ary lebih dekat sama kamu! Di rumah sakit mana dia dirawat?" tanya Bayu, dia ingin menjenguk Ary.
"Rumah sakit swasta depan rumah kak Bayu, kamar melati 10. Sudah jelas? Gue mau masuk kelas dulu!" Enno ingin cepat masuk kelas karena akan ada ulangan.
"Makasih ya, atas infonya!" jawab Bayu.
"Nanti sore aja aku jenguk Ary, pas sepi pembeli." gumam Bayu dalam hati.
Setiap hari, sepulang sekolah Bayu selalu membantu ibunya menjaga rumah makan peninggalan ayahnya. Rumah makan yang berada di seberang jalan rumah sakit dimana Ary dirawat.
semoga kamu dan Ary kelak berjodoh deh
nyaranin Ary ikut pengkaderan biar bs dekat ama Ary kaaaan ???