NovelToon NovelToon
Serpihan Yang Patah

Serpihan Yang Patah

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat
Popularitas:908
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Dua tahun terjebak dalam neraka pelecehan dan ancaman sang kakak ipar, Markus, membuat Relia kehilangan jiwanya—terlebih saat kakak kandungnya sendiri memilih berkhianat. Di titik nadir, Relia berhasil melarikan diri dan bertemu Dokter Ariel, seorang psikiater sekaligus CEO yang menjadi pelindungnya. Melalui pernikahan yang awalnya berlandaskan rasa aman dari ancaman Markus, Ariel membimbing Relia menyembuhkan trauma parah dan kecemasannya. Ini adalah kisah tentang keberanian seorang wanita untuk memecah keheningan dan merebut kembali hidup yang sempat terenggut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Keheningan di ruang ICU itu pecah oleh suara alarm bedside monitor yang frekuensinya tiba-tiba berubah.

Garis-garis hijau di layar yang tadinya bergerak ritmis dan tenang, kini melonjak naik.

Jemari Relia yang berada dalam genggaman Ariel berkedut pelan.

Ariel yang sedang menunduk langsung tersentak. Ia mengangkat wajahnya, dan jantungnya seakan berhenti berdetak saat melihat kelopak mata Relia bergetar hebat sebelum akhirnya terbuka perlahan.

"Relia?" bisik Ariel, napasnya tertahan di tenggorokan.

Mata Relia tampak kabur, mencoba menyesuaikan dengan cahaya lampu yang redup.

Ia mengerjap beberapa kali hingga fokusnya tertuju pada sosok pria di depannya.

Pria yang tampak sangat lelah dengan lingkaran hitam di bawah mata, namun menatapnya dengan binar harapan yang luar biasa.

"M-mas..." suara Relia nyaris tak terdengar, hanya berupa hembusan napas yang lemah di balik masker oksigennya.

Ariel langsung berdiri, ia menekan tombol darurat di samping ranjang dengan tidak sabar.

"DOKTER! CEPAT KE SINI! DIA BANGUN!" teriak Ariel ke arah pintu, mengabaikan ketenangannya yang selama ini terjaga.

Relia mencoba bergerak, namun rasa nyeri yang tajam di dadanya membuatnya merintih kecil.

Air matanya perlahan mengalir di sudut matanya saat ia menyadari bahwa ia masih bernapas, bahwa ia tidak benar-benar pergi bersama Bintang.

"Sshh... jangan bergerak dulu, Sayang. Kamu aman. Aku di sini," Ariel menggenggam tangan Relia dengan kedua tangannya, menciumi jemari istrinya berkali-kali seolah ingin memastikan ini bukan sekadar mimpi.

Pintu ICU terbuka kasar. Dokter bedah senior dan dua perawat masuk dengan terburu-buru.

Mereka segera memeriksa reaksi pupil mata Relia dan tanda-tanda vitalnya.

"Ini keajaiban, Ariel. Kesadarannya kembali lebih cepat dari perkiraan medis," ucap sang dokter dengan wajah lega.

Relia menarik napas pendek, matanya menatap Ariel dengan tatapan yang dipenuhi ribuan pertanyaan.

Ia teringat akan suara letusan senjata, rasa panas di dadanya, dan wajah Markus yang tertawa gila sebelum dunianya menjadi gelap.

"M-markus...?" tanya Relia dengan suara yang masih sangat serak.

Ariel mendekatkan wajahnya, ia mengusap air mata di pipi Relia.

"Dia sudah tidak ada lagi di luar sana, Relia. Dia sudah di dalam sel. Kamu sudah menghancurkannya. Sekarang, tidak ada lagi yang bisa menyakitimu."

Relia memejamkan mata sejenak, sebuah helaan napas lega keluar dari bibirnya.

Ia merasakan kekuatan kembali ke tubuhnya, meski sedikit.

Ia melirik ke arah meja di samping ranjang, melihat iPad-nya yang retak ada di sana.

"Mas, tulisanku..."

Ariel tersenyum, senyum tulus yang pertama kali muncul sejak tragedi penembakan itu.

"Tulisanmu sudah mengubah dunia, Penulis Kecilku. Kamu tidak hanya menyelamatkan dirimu sendiri, tapi kamu memberikan harapan bagi ribuan orang lainnya. Kamu pemenangnya, Relia."

Relia menggenggam tangan Ariel sedikit lebih kuat, meski tenaganya belum pulih.

Di ruangan yang serba putih itu, ia menyadari satu hal dimana peluru yang ditembakkan oleh suruhan Markus mungkin berhasil menembus tubuhnya, tapi tidak akan pernah bisa menembus jiwanya yang kini telah benar-benar bebas.

Pemindahan Relia ke ruang perawatan VVIP berlangsung dengan sangat hati-hati.

Kamar itu kini dipenuhi dengan buket bunga mawar putih dan aroma terapi yang menenangkan, jauh dari kesan dingin ruang ICU.

Ariel baru saja membantu membetulkan letak bantal Relia agar istrinya bisa duduk bersandar dengan lebih nyaman, ketika pintu kayu jati kamar itu terbuka pelan.

Dokter Wahyuni melangkah masuk. Aura ketegasan yang biasanya melekat pada dirinya sebagai psikiater senior kini luruh, digantikan oleh gurat kelegaan seorang ibu.

Ia melepaskan jas putihnya dan segera mendekat ke ranjang.

"Mama..." sapa Relia lirih, suaranya kini terdengar sedikit lebih kuat.

Wahyuni tidak berkata-kata. Ia langsung memeluk Relia dengan sangat lembut, menghindari luka di dadanya.

"Anakku, terima kasih sudah kembali. Mama pikir Mama akan kehilangan putri pemberani ini," bisik Wahyuni, suaranya sedikit bergetar.

Wahyuni kemudian menatap putranya, Ariel, yang berdiri di sisi lain ranjang.

Ia melihat betapa kacau penampilan putranya yang biasanya rapi itu.

"Ariel, sekarang pergilah mandi dan istirahat sebentar di sofa. Biar Mama yang menjaga Relia," perintah Wahyuni lembut.

"Aku tidak apa-apa, Ma. Aku ingin di sini," jawab Ariel keras kepala.

"Mas, dengerin Mama," sela Relia sambil menyentuh tangan Ariel.

"Mas sudah menjagaku berhari-hari. Aku sudah bangun, aku tidak akan pergi ke mana-mana lagi."

Ariel akhirnya mengalah setelah melihat tatapan memohon dari Relia. Ia mengecup dahi istrinya, lalu melangkah ke kamar mandi di dalam ruangan VVIP tersebut.

Kini tinggal Wahyuni dan Relia di sana. Wahyuni meraih tangan Relia, memeriksa denyut nadinya secara profesional namun dengan sentuhan kasih sayang.

"Relia, Mama ingin kamu tahu satu hal," ucap Wahyuni serius. "Markus sedang mencoba melakukan pembelaan dengan alasan gangguan jiwa. Dia pikir dia bisa menggunakan ilmu kedokteran untuk lolos ke rumah sakit jiwa alih-alih penjara."

Mata Relia sedikit menegang, namun Wahyuni segera menenangkannya.

"Tapi dia lupa siapa mertuamu. Mama sudah ditunjuk sebagai saksi ahli oleh kejaksaan. Mama akan membuktikan bahwa dia bukan gila, melainkan seorang predator sadis yang sepenuhnya sadar akan perbuatannya. Dia tidak akan mendapatkan tempat di rumah sakit jiwa. Dia hanya akan mendapatkan lantai penjara yang dingin."

Relia mengembuskan napas panjang. "Terima kasih, Ma. Aku tidak ingin ada orang lain yang mengalami apa yang aku alami karena dia dianggap 'tidak sadar'."

"Sekarang, fokuslah pada pemulihanmu," Wahyuni mengusap rambut Relia.

"Dunia di luar sana sedang menunggumu. Novelmu sudah naik cetak untuk edisi pertama. Orang-orang ingin melihat wajah pahlawan mereka yang sebenarnya."

Relia menoleh ke arah jendela, menatap langit sore yang berwarna jingga.

"Aku bukan pahlawan, Ma. Aku hanya seorang wanita yang ingin hidup."

"Dan itulah definisi pahlawan yang sebenarnya, Sayang. Seseorang yang menolak untuk mati di tangan kegelapan," balas Wahyuni bangga.

Wahyuni memberikan senyum menenangkan sembari menyelimuti Relia dengan hati-hati.

"Tidurlah sebentar, Sayang. Tubuhmu butuh energi untuk menyatukan kembali luka itu. Mama akan di sini, menjagamu bersama Ariel."

Relia mengangguk patuh. Kelopak matanya terasa berat, sisa-sisa obat bius dan kelelahan mental membuatnya perlahan tenggelam dalam kantuk yang damai.

Untuk pertama kalinya, tidurnya tidak dibayangi ketakutan akan pukul dua pagi.

Tak lama kemudian, suara ketukan pintu terdengar pelan.

Seorang perawat masuk mendorong troli berisi makanan hangat.

Di atas nampan itu tersedia bubur ayam halus dengan kaldu bening, buah potong, dan segelas susu hangat.

Ariel keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang lebih segar, meski wajahnya masih menunjukkan sisa kelelahan.

Ia melihat ibunya memberikan isyarat untuk diam karena Relia sedang terlelap.

"Dia baru saja memejamkan mata," bisik Wahyuni sambil bangkit dari kursi.

"Biarkan dia istirahat sepuluh menit lagi, baru bangunkan untuk makan. Mama harus kembali ke ruangan Mama sebentar untuk menandatangani beberapa dokumen kesaksian ahli untuk kasus Markus."

Ariel mengangguk, "Terima kasih, Ma."

Setelah Wahyuni pergi, Ariel mendekati ranjang istrinya.

Ia menatap wajah Relia yang tenang. Tidak ada lagi kerutan cemas di dahi istrinya.

Ariel mengambil nampan makanan itu dan meletakkannya di meja.

Ia memutuskan untuk membangunkan Relia dengan lembut.

"Relia, bangun, Sayang. Makanannya sudah datang," bisik Ariel sambil mengusap pipi Relia.

Relia membuka matanya, mengerjap pelan, dan mencium aroma kaldu yang gurih.

"Mas..."

"Ayo, aku suapi lagi. Kali ini harus habis, ya? Kamu butuh tenaga untuk menghadapi hari esok," ucap Ariel lembut.

Relia tersenyum tipis dan menikmati suapan bubur dari suaminya, matanya sesekali melirik ke arah iPad yang retak di nakas.

Ia tahu, setelah makan ini, ia akan memiliki kekuatan untuk menuliskan bab penutup sebuah bab tentang kemenangan dan kedamaian yang sesungguhnya.

1
Uthie
Awal cerita yg sudah sangat mengerikan 😰
Mundri Astuti
lagi napa ngga diborgol si, kan dah bahaya banget ...dari kemarin nafsu banget mau bunuh relia juga ..
Mundri Astuti
si Markus bener" ya, masih belum jera..miskinin sekalian dia biar ngga bnyk gaya ma ga berkutik
Mundri Astuti
usut sampe tuntas Ariel, siapa" aja dibelakang Markus yg ngebantu melrikan diri ..ringkus juga si Sarah.
mudah"an relia selamat
Herdian Arya
mungkin itu lebih baik, kalaupun lahir juga akan menderita punya bapak kelainan mental seperti Markus.
Mundri Astuti
lah relia kan belum nikah sama Markus, jatuhnya anak diluar nikah calon bayi relia, dan itu nasabnya pada ibu
my name is pho: iya kak.
total 1 replies
Herdian Arya
saking bencinya dengan Markus dan sarah pengen tak kremasi hidup hidup tuh 2 manusia iblis.
my name is pho: sabar kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!