NovelToon NovelToon
Ketika Istriku Berbeda

Ketika Istriku Berbeda

Status: tamat
Genre:Tamat / Cintapertama / Berbaikan / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:853.6k
Nilai: 4.9
Nama Author: Muhammad Yunus

"Mas kamu sudah pulang?" tanya itu sudah menjadi hal wajib ketika lelaki itu pulang dari mengajar.

Senyum wanita itu tak tersambut. Lelaki yang disambutnya dengan senyum manis justru pergi melewatinya begitu saja.

"Mas, tadi..."

Ucapan wanita itu terhenti mendapati tatapan mata tajam suaminya.

"Demi Allah aku lelah dengan semua ini. Bisakah barang sejenak kamu dan Ilyas pulang kerumah Abah."

Dinar tertegun mendengar ucapan suaminya.

Bukankah selama ini pernikahan mereka baik-baik saja?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Yunus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fakta

Dada Irham berdebar kencang. Rasa takut, marah dan kesal jadi satu.

Irham tertampar dengan kenyataan itu. Hanya satu kata yang istrinya katakan. Tapi seolah membuka matanya lebar-lebar. Jika selama ini yang salah adalah dirinya yang kurang perhatian. Bukan wanita yang ia nikahi empat tahun lalu ini.

"Maaf, Mas Irham. Aku tidak bisa..."

Bulir bening masih setia mengalir di pipi putih milik Dinar. Sekarang Irham jadi semakin merasa bersalah karena ialah sumber kesedihan sang istri.

Masih dengan berlutut. Irham membungkuk, meletakkan kepalanya di atas pangkuan Dinar.

Dinar tergugu.

"Yank..." Irham tak kuasa memaksa kehendaknya. Paham mereka di rumah orang tua, bukan rumah sendiri.

Melihat wajah melas suaminya, ia tak tega, perlahan tapi pasti, tangan kecil itu terulur untuk mengusap rambut hitam nan tebal Irham.

"Bangun, Mas. Jangan duduk di lantai." lirihnya.

Irham menengadah.

"Disinilah tempatku, sampai pada kamu ridho dan mau memaafkan kesalahanku, Yank."

"Ya Allah, Mas...."

Dinar benar-benar istri yang baik, ia tahu dimana letak surganya sekarang. Melihat suaminya mengiba, ia tak mampu menahan perasaannya. Direngkuhnya sang suami yang masih berjongkok di bawah.

Dinar sangat percaya diri, jika itu tentang mencintai suaminya. Dinar juga sangat yakin kalau dia bisa mencintai laki-laki pilihan ayahnya hingga akhir hayatnya. Sejak mereka menikah, Dinar tidak pernah memandang laki-laki lain lebih menarik dari suaminya. Tidak satu kali pun, bahkan hingga hari ini.

Meski Irham bukan tipikal suami yang manis dengan kata-kata. Dinar bahagia hanya dengan kehadiran laki-laki itu. Sayangnya, perasaan Irham telah berubah. Dinar tidak bisa berjuang sendirian, bukan.

Tubuh mungil Dinar terasa pas dalam pelukannya, seolah sejak awal memang tubuh itu diciptakan untuk berada dalam rengkuhannya. Seolah tuhan menciptakan perempuan itu hanya untuknya. Damai dan tenang. Saat tubuh mungil itu menelusup dalam dirinya, menghangatkan jiwa dan raga Irham.

Ujung hidungnya dapat dengan mudah membau wangi yang menguar dari ceruk leher istrinya yang sudah tak mengenakan hijab. Saat nafas kecil dan hangat dari bibir Dinar menyapu permukaan wajah tetapi tak mengganggu. Irham menyukai segala yang terjadi, sejak hari itu, ini yang ia rindukan.

Tiga tahun, Irham merasakan kedamaian dan ketenangan ini. Sebelum setahun terakhir hatinya memberontak. Belum satu bulan, ia kehilangan dan baru sadar betapa setiap waktu dengan istrinya adalah keajaiban. Tak bisa ditukar dengan apapun.

Dinar hanya manja saat berdua, atau dengan keluarga.

"Afwan, Yank..." Irham menangkupkan telapak tangannya di depan dada.

Diraihnya cepat tangan Irham seraya menggeleng. Dinar mencium tangan suaminya seraya berkata."Jangan lelah untuk menjadi suamiku, Mas." pinta Dinar.

Tak terasa air mata Irham jatuh juga. Jika ia bisa, ia ingin menarik kata-katanya yang sudah melukai wanita ini. Sampai-sampai Irham tak mampu hanya sekadar menjawab Dinar. Terlalu malu pada istrinya.

Kening keduanya saling menempel. Irham menarik Dinar kembali kedalam rengkuhannya. Demi Allah. Dia menyesal dengan apa yang ia ucapkan.

Ampunilah aku ya Allah...lapangkan hati istri ku untuk memaafkan kesalahan yang pernah ku buat, hapuskan lah rasa sakit hatinya akibat kata-kata yang pernah ku lontarkan. Doa Irham malam ini sebelum meraup istrinya kedalam gendongan dan di rebahkan pelan ke atas pembaringan yang awut-awutan karena ulah putranya.

Kembali di sayang oleh suaminya membuat air mata Dinar mengalir. Beberapa kali Irham mencoba menghapusnya tapi air mata itu tak kunjung mereda.

"Yank, mengapa tak pernah memberitahu ku tentang Ilyas?" Tanya Irham. "Apa hanya aku yang tidak tahu keadaan Ilyas?"Irham mengingat bagaimana bingungnya ia melihat kondisi Ilyas sementara yang lain terlihat lebih santai.

Dinar menatap wajah suaminya yang sedang berada di hadapannya.

"Sebenarnya aku sudah pernah ingin mengatakan keadaan Ilyas pada Mas Irham." pengakuan Dinar mengusik ketenangan Irham.

"Dulu... saat usia Ilyas masih sekitar satu tahun delapan bulan, putra kita sering sekali menangis tiba-tiba. Mas ingat tidak? Waktu Mas baru pulang menemani Abah dari Pati?"

Irham mencoba menarik ingatannya kembali.

Hari itu sekitar jam satu malam. Suara tangis putranya terdengar ketika ia membuka pintu.

Irham menemukan Dinar yang duduk meringkuk dengan Ilyas di pelukannya.

Saat itu Irham kaget. Ia segera mendekati keduanya dengan rasa khawatir yang dalam.

Mata Dinar bengkak, hidungnya memerah dan Ilyas yang pangkuannya tak kalah merah wajahnya.

Bodohnya Irham tak bertanya apa yang membuat Dinar hingga menangis. Ia hanya menyimpulkan istrinya yang mama muda tengah merasa capek sebab anak mereka rewel di tengah malam.

Tapi, malam itu Dinar memang memberi tahu ia kalau Ilyas sempat di periksa oleh dokter yang di panggil Uminya setelah ashar.

"MasyaAllah, Mas. Allah menitipkan anak yang istimewa untuk kita, semoga kita bisa menjadi orang tua yang amanah, ya.."

"Dinar, bisa tidak? Kalau ada apa-apa jangan dikit-dikit hubungi orang tuamu," alih-alih mendengarkan cerita Dinar, ia memotong cerita itu sebab kesal.

Dinar selalu melibatkan orang tuanya yang membuat Irham kian hari kian muak.

"Mas, kata dokter tadi Ilyas harus di bawa ke rumah sakit.."

"Ilyas sakit?" lagi-lagi ia memotong ucapan Dinar.

"Bukan begitu, Ilyas suka nangis tiba-tiba, dia...

"Astaghfirullah, Yank. Anak kecil nangis itu hal yang wajar, jadi aku mohon jangan terlalu berlebihan." Irham mencoba menenangkan diri, lalu ia menasehati istrinya agar belajar lebih mandiri, katanya kodrat seorang ibu ya mengurus anaknya. Ia justru memberi contoh kisah Siti Maryam.

"Jadi, Yank. Setidaknya jangan selalu libatkan orang tua untuk masalah kita, dan, belajarlah mengurus Ilyas dengan benar, Mas sudah capek diluar sana, masak harus mendengar keluh kesah lagi?"

Ya...

Ingatan Irham memudar.

Akhirnya Irham menyadari kesalahannya. Seingat Irham dari sana asalnya Dinar mulai jarang membicarakan tentang putranya. Dinar lebih sering bercerita tentang kegiatannya, meski kemanjaan itu tidak pernah berubah menurut Irham.

Dan kini ia baru menyadari jika kerumitan rumah tangganya berawal dari dirinya sendiri.

"Maafkan aku sebisamu, aku ngaku salah, kita pulang ya..."

Terdengar tawa lirih dari Dinar, sebelum ia bertanya.

"Malam ini juga?"

"Bagaimana kalau besok sore? Setelah Mas pulang mengajar langsung jemput Kalian?."

Mendengar penuturan Irham, Dinar hanya mengangguk antusias.

"Terserah Mas Irham saja."

"Terimakasih, sayang.."

*******

Setelah malam hari mereka berdamai, waktu bergulir dengan cepatnya.

Dinar dan Ilyas sudah menunggu kedatangan Irham untuk menjemput mereka seperti janji pria itu.

Akan tetapi, sudah lewat setengah jam dari jam laki-laki itu pulang mengajar, sosok Irham tak kunjung terlihat batang hidungnya.

"Umi, Antuk.." Ilyas mulai rewel, dia merengek, membuat Dinar membujuk lembut.

"Ya, sayang.. Sebentar lagi Abi sampai." hibur Dinar.

"Sudah di hubungi?" tanya Umi Zalianty ikut menunggu kedatangan sang menantu untuk menjemput putri dan cucunya.

"Belum, takut Mas Irham nya lagi nyetir, Umi."

Sementara di pesantren Al-Hasan. Seorang pria tengah membantu seorang wanita yang baru saja di tarik turin dengan sedikit kasar seseorang dari dalam mobil Jeep.

"Astaghfirullah.. Anda tidak apa-apa?"

Wanita itu mendongak. "Saya... Kang Irham?" serunya tak percaya bisa bertemu kembali dengan orang yang selama ini dicarinya.

"Ratih..."

1
Dewi Oktavia
laki tuh tak akan puas,jika sudah ketahuan ujung y maaf atau khilaf🤣😂 menjijikan.
Ratna Fika Ajah
Luar biasa
Wang Dong
Bukankah dinar dan hassan adalah saudara persusuan dimana dalam islam gak boleh nikah???
Farika Willesden
Luar biasa
Nurtina Arjuna
Lumayan
Yuni Ngsih
Tkooooor knapa Ending yg punya ceritra meninggsl ngga seruuuuuu Thor😭😭😭😭😭
Yuni Ngsih
Thooooor knp Dinar trs diuji dlm ceritra ini yg membuat ceritra tdk adil kapan Dinar bahagianya Thor....😡😡😡
Naufal hanifah
Luar biasa
Yuni Ngsih
Thooooooor ceritramu aneh masa orang yg ceritra meningga ngga seru Thor ulang ceritranya ....😡😡😡
Siti M Akil
nanti Ilham meninggal dinar nikah sama Hasan
Yuni Ngsih
Dasar laki" tak tahu diri kan tau gmn membimbing istri ,apalagi dinikahkan usia 19 th kawin punys anak ,emang enak ngurus anak tanpa ada yg membantu ....kynya blm pas Thor dipanggil Gus ....introfeksi Ilham berarti sbg suami menurut syariat islam blm berhasil ....bikin kesel yg baca Thor😠😠😠
Hastin71
Buruk
Dewi Kasinji
ya Allah , sad ending ya
Dewi Kasinji
irham kayaknya gak belajar dari pengalaman ya.
Dewi Kasinji
Luar biasa
Dewi Kasinji
ijin baca kak
3sna
tanggung jawab,atas dasar apa tanggung jawab itu ham?
Heryta Herman
muter",pusing
Heryta Herman
dasar irham laki" tdk pandai bersyukur...
Merli Gosal
Luar biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!