NovelToon NovelToon
Satya Wanara, Pendekar Toya Emas Angin Langit

Satya Wanara, Pendekar Toya Emas Angin Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Perperangan / Penyelamat / Kelahiran kembali menjadi kuat / Action / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:914
Nilai: 5
Nama Author: Zaenal 1992

Di ambang keruntuhan Majapahit dan fajar menyingsingnya Islam di Nusantara, seorang pemuda eksentrik bernama Satya Wanara berkelana dengan tingkah laku yang tak masuk akal. Di balik tawa jenaka dan tingkah konyolnya, ia membawa luka lama pembantaian keluarganya oleh kelompok rahasia Gagak Hitam. Dibekali ilmu dari seorang guru yang lebih gila darinya, Satya harus menavigasi dunia yang sedang berubah, di mana Senjata bertemu doa, dan pedang bertemu tawa.

​Daftar Karakter Utama:

​Satya Wanara (Raden Arya Gading): Protagonis yang lincah, konyol, namun mematikan.

​Ki Ageng Dharmasanya: Ayah Satya, Panglima Telik Sandi Majapahit (Almarhum).

​Nyai Ratna Sekar: Ibu Satya, keturunan bangsawan yang bijak (Almarhumah).

​Eyang Sableng Jati: Guru Satya yang konyol dan sakti mandraguna.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaenal 1992, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebenaran yang terungkap

Langkah kaki Senopati Rangga Gading bergema di lorong sempit gudang arsip bawah tanah keraton Majapahit. Sebagai perwira tinggi, ia memiliki akses, namun ia tahu bahwa bergerak di sini sama saja dengan berjalan di atas sarang ular.

​Dengan bantuan kepingan logam matahari pemberian Satya, Rangga menemukan sebuah laci rahasia yang tersembunyi di balik ubin lantai yang lembap. Di dalamnya, terdapat gulungan perkamen yang setengah terbakar, berisi catatan logistik rahasia: pengiriman emas kepada sekte Gagak Hitam yang ditandatangani dengan stempel resmi milik Patih Gajah Pradoto.

​Rangga Gading segera memanggil Wira, mata-mata kepercayaannya yang paling lincah.

​"Cari seseorang bernama Ki Danu," bisik Rangga. "Dia adalah sersan logistik di masa Ki Ageng Dharmasanya yang tiba-tiba menghilang setelah malam berdarah dua puluh tahun lalu. Kabarnya, ia bersembunyi di pemukiman nelayan kumuh di pelabuhan Canggu."

​Dua hari kemudian, Wira berhasil membawa Rangga Gading ke sebuah gubuk yang bau amis ikan kering di pinggiran sungai Brantas. Di sana, seorang tua dengan kaki pincang dan mata satu sedang menjala jaring yang robek. Ia adalah Ki Danu.

​Melihat kepingan logam matahari di tangan Rangga, Ki Danu jatuh terduduk. Air mata mengalir di pipinya yang keriput.

​"Akhirnya... setelah dua puluh tahun, matahari itu terbit kembali," isak Ki Danu.

​Pengakuan yang Mengguncang

​Ki Danu menceritakan rahasia yang selama ini ia simpan di bawah ancaman mati:

​Malam Pengkhianatan: Ki Ageng Dharmasanya bukan dibunuh oleh pemberontak, melainkan dijebak oleh Patih Gajah Pradoto. Dharmasanya telah menemukan bukti bahwa sang Patih menjual rahasia pertahanan laut Majapahit kepada pihak asing demi kekuasaan pribadi.

​Gagak Hitam: Sekte tersebut sebenarnya adalah pasukan bayaran pribadi sang Patih yang dibiayai dari kas negara untuk melenyapkan siapa pun yang terlalu jujur.

​Identitas Satya Wanara: Ki Danu mengungkapkan bahwa bayi yang dibawa lari oleh Suro malam itu adalah putra tunggal Ki Ageng Dharmasanya dan Nyai Ratna Sekar.

​"Anak itu bernama Raden Arya Gading," kata Ki Danu dengan suara gemetar. "Dia bukan sekadar pemuda liar. Dia adalah pewaris sah dari seluruh jaringan intelijen Majapahit yang dihancurkan. Di punggungnya, ada tanda lahir berbentuk bulan sabit kecil—tanda keturunan Dharmasanya."

​Rangga Gading tertegun. Namanya sendiri memiliki unsur "Gading", sebuah penghormatan yang diberikan ayahnya kepada keluarga Dharmasanya. Ternyata, selama ini ia memburu orang yang seharusnya ia lindungi.

​"Nyai Ratna Sekar tidak langsung tewas malam itu," tambah Ki Danu dengan suara rendah. "Ia bertarung seperti singa betina untuk memberi waktu pada Suro. Sebelum ia mengembuskan napas terakhir di ujung pedang Gajah Pradoto, ia sempat berteriak bahwa suatu saat, kebenaran akan kembali dengan tawa yang menghancurkan."

​Rangga Gading mengepalkan tinjunya hingga berdarah. Ia menyadari satu hal yang mengejutkan: Satya Wanara atau Arya Gading sedang menjalankan nubuat ibunya. Tawa "Sableng"-nya adalah tamparan bagi kemunafikan istana.

​Rangga Gading kini tahu siapa lawan yang sebenarnya. Ia tidak lagi melihat Satya sebagai pemberontak, melainkan sebagai saudara seperjuangan yang harus ia bela.

​"Wira!" perintah Rangga tegas. "Kumpulkan semua prajurit yang masih memiliki hati nurani. Kita tidak akan menyerang Satya. Kita akan membukakan jalan baginya menuju jantung Trowulan."

​Di kejauhan, di lereng bukit, Satya Wanara sedang duduk di atas dahan pohon, mengunyah ubi sambil menatap bintang. Ia tersenyum tipis, seolah angin malam telah membisikkan kepadanya bahwa kebenaran mulai menemukan jalannya melalui tangan seorang Senopati.

1
anggita
wah ada anggota Wali Songo juga😊.
anggita
oke lah👌👍
anggita
ikut dukung like👍iklan👆👆, buat author novel fantasi timur lokal. semoga lancar sukses novelnya.
anggita
nama teknik jurusnya unik😉
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!