Jika biasanya istri yang dikhianati suaminya, maka yang terjadi pada Rohan tidak demikian. Dia lah yang dikhianati oleh sang istri.
Pernikahan yang dibangun oleh cinta nyatanya tak selalu manis. Rohan harus menerima kenyataan pahit istrinya berselingkuh.
Perceraian pun tak terelakkan. Ia mendapatkan hak asuh putra putrinya yang baru berusia 5 dan 3 tahun.
Tak ingin berlarut dan mengingat sakit hatinya, Rohan menjual semua asetnya di kota dan berpindah ke desa.
Namun siapa sangka, di sana dia malah menjadi primadona.
"Om Dud, mau dibantuin nggak jemur bajunya? Selain jago dalam pekerjaan rumah, aku juga jago dalam hal lain lho."
Entah sejak kapan itu terjadi tapi yang jelas, gadis itu, gadis yang dijuluki Kembang Desa tersebut mulai mengusik kehidupan dan hati Rohan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ibun Ikut 26
"Lho Om Dud, udah balik. Tamunya mana?"
Bestari melihat ke belakang Rohan dan juga ke arah jalan. Akan tetapi tak ada orang lain selain Rohan. Ya Rohan kembali sendiri ke rumah.
"Dia udah pergi. Katanya buru-buru,"jawab Rohan asal. Dia tentu tidak mau menjelaskan tentang apa yang mereka bicarakan. Bestari tidak perlu mengetahui hal yang tidak penting seperti itu.
"Oh iya makasih ya Bestari udah menjaga anak-anak. Dan kayaknya hari ini, Rishi belum bisa ke sekolah. Mungkin besok. Apa aku bisa minta tolong kamu untuk mengabari sekolah itu untuk menjadwalkan ulang masa percobaan Rishi?" sambung Rohan. Ada yang perlu dia bahas dengan anak-anaknya hari ini terkait keinginan Ista untuk bertemu dengan mereka. Dan Rohan tidak ingin hal tersebut mengganggu masa percobaan Rishi di sekolah. Jadi lebih baik memundurkan saja menjadi besok.
"Oke Om Dud, kalau begitu aku pulang dulu ya. Hape aku ada di rumah, jadi aku akan ngubungin guru di sana pas di rumah."
"Iya,makasih banyak ya Bestari. Sekali lagi maaf udah banyak ngerepotin kamu."
Bestari mengangkat ibu jarinya ke depan wajahnya sendiri. Menandakan bahwa dia baik-baik saja.
Setelah Bestari kembali ke rumahnya, Rohan menutup pintu dan masuk menemui anak-anaknya yang duduk di depan televisi. Ternyata Riesha sudah bangun bahkan sudah mandi dan berganti pakaian.
Sekali lagi dia merasa bahwa Bestari sangat banyak membantu. Dia juga berpikir, bagaimana caranya membalas kebaikan gadis itu.
"Oh Ayah udah kembali. Tadi tuh siapa sih, Yah?" tanya si sulung. Rishi tadi sudah melihat Dani karena anak itu yang membuka pintu. Tapi Rohan tidak mungkin memberitahu anak-anak bahwa pria itu adalah selingkuhan ibunya yang akhirnya membuat mereka tercerai berai seperti ini.
"Itu tadi temen ayah. Tapi dia udah pulang. Katanya ada urusan mendadak," jawab Rohan asal. Dia hanya bisa menjawab seperti itu karena akan paling mudah dipahami oleh anak-anak.
"Oh iya sayang, ayah matiin dulu tv nya ya. Ada yang mau ayah bicarakan dengan abang dan adek. Biar fokus, lebih baik tv nya di matiin dulu."
Rishi dan Riesha menganggukkan kepala mereka dengan serempak. Tidak ada yang protes. Dua anak itu sungguh sangat penurut.
"Ayah mau bicala apa? Apa pentin?"
"Iya, kayaknya serius sekali. Ada apa memangnya?"
Kedua anak Rohan nampak penasaran. Kedua pasang mata itu mengerjap-ngerjap. Sungguh sangat lucu bagi Rohan yang memandangnya. Tapi apa yang akan dikatakannya mungkin akan kurang menyenangkan. Setidaknya itu yang dipikirkan oleh Rohan.
"Dengarkan baik-baik ya. Gini, kemarin bunda nelpon ayah. Bunda ingin ketemu sama Rishi dan Riesha. Tapi ayah nggak langsung mengiyakan karena ayah harus tanya sama Rishi dan Riesha lebih dulu. Jadi, abang sama adek giman, mau ketemu sama Bunda nggak?"
"Mau!"
" Nggak!"
Rishi dan Riesha menjawab secara bersamaan tapi dengan jawaban yang berbeda. Ekspresi dua anak itu pun juga terlihat berbeda.
Rohan mencoba untuk tenang. Dia tidak bisa tergesa-gesa untuk bertanya alasan mereka menjawab.
Pria dengan status duda dua anak itu terdiam sejenak sambil mengamati kedua anaknya.
"Nah abang, kenapa abang nggak mau ketemu sama Bunda?" Rohan lebih dulu bertanya dengan Rishi. Sebenarnya dia sudah memiliki dugaan bahwa Rishi akan menolak. Tapi Rohan tidak menyangka bahwa putra sulungnya itu benar-benar menolak dengan tegas.
"Nggak mau, abang nggak mau ketemu bunda. Kenapa bunda baru mau ketemu kita sekarang? Kenapa nggak dari kemarin-kemarin. Pas kita masih ada di kota, bunda sama sekali nggak nemuin kita. Padahal waktu itu kita masih deket. Dan bunda juga ga pulang ke rumah padahal tahu tempatnya. Terus sekarang kenapa mau ketemu, padahal kita udah pergi?"
Degh!
Rohan tak bisa memberikan jawaban apapun. Bahkan sekedar mengarangnya alasan saja dia tidak bisa. Rohan merasa bingung bagaimana cara menjawab pertanyaan Rishi.
"Kalau adek, adek senang ya ketemu sama bunda?" Kini Rohan mengalihkan pandangannya kepada Riesha. Anak keduanya yang masih tiga tahun itu tentu belum mengerti apapun jadi tidak masalah jika bertemu dengan Ista.
"Iya, Liesha senen ketemu sama bunda. Tapi kalau kita ketemu bunda, ajak Ibu ya. Liesha maunya sama ibun peldinya. Kalau nda sama ibun, Liesha nda mau."
Ya?
Rohan tercengang mendengar jawaban Riesha. Kenapa nama Bestari dibawa di rapat kecil keluarga mereka ini. Terlebih ini soal bunda mereka yang ingin bertemu.
"Nah setuju. Abang setuju sama adek. Abang mau ketemu sama bunda asalkan Kak Bestari ikut,"timpal Rishi.
Teeeeeng
Kepala Rohan seketika pening mendengar Rishi yang tiba-tiba setuju untuk bertemu dengan Ista tapi dengan syarat Bestari harus ikut. Bagaimana kedua anak itu kompak sekali menyangkutkan Bestari dalam kasus ini.
"Bestari, apa yang harus aku katakan ke gadis itu. Kenapa anak-anak bisa sebegitunya terikat dengannya?"
Rohan bicara dalam hati sambil mengusap wajahnya kasar. Ista sudah menunggu jawaban darinya. Dan anak-anak setuju bertemu dengan ibu mereka. Akan tetapi syarat yang diajukan oleh kedua anaknya sungguh membuatnya bingung.
"Apa harus sama Kak Bestari biar kalian mau ketemu sama Bunda?" tanya Rohan. Dia berharap bahwa Rishi dan Riesha berubah pikiran.
"Yep, aku maunya sama Ibun."
"Aku juga, aku mau ketemu sama bunda kalau ada Kak Bestari."
haaah
Rohan membuang nafasnya kasar. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa anak-anak akan tetap teguh pada pendirian mereka.
"Harus ya sama Kak Bestari?" Sekali lagi Rohan mencoba untuk memastikan.
"Yups!"jawab Rishi dan Riesha serempak.
"Oke kalau gitu, ayo kita ke rumah Kak Bestari. Ayah nggak enak kalau harus minta tolong lewat telpon. Jadi ayo kita ke rumah Kakek Dewa dan minta izin kepada kakek karena mau ajak Kak Bestari pergi."
Yeaaay!!!
Rishi dan Riesha bersorak senang. Tak ada yang bisa Rohan lakukan sekarang selain menuruti keinginan kedua anaknya. Selain itu, dia juga ingin tahu alasan sebenarnya Ista ingin bertemu dengan anak-anak. Akan tetapi seperti yang dipikirkan olehnya tadi, bahwa dia tidak akan memberitahu tentang rumahnya kepada Ista.
Tap tap tap
Rohan bersama kedua anaknya berjalan menuju ke rumah Bestari. Tak lupa dia membawa roti yang sudah dibuatnya tadi.
"kakeeeek!!" teriak Rishi dan Riesha bersama. Kedua anak kecil itu menghambur ke arah Dewa.
"Woaah tumben kalian main ke rumah kakek hmm?"
"Selamat pagi Pak, maaf kalau kami jarang main padahal dekat."
Rohan menyalami Dewa, dia merasa sangat tidak enak dengan Dewa karena sering merepotkan Bestari.
"Jangan sungkan. Ayo masuk. Best ... ada Rohan dan anak-anak nih!"
Dewa memanggil Bestari yang tidak terlihat.
"Iya, tunggu!" sahut Bestari. Gadis itu keluar dari dalam dengan kepala yang tergulung handuk. Sepertinya ia baru saja mandi.
"Eh ada apa?"
"Ibun, kita mau ketemu sama Bunda. Ibun ikut ya."
Haa??
TBC