Ketika dunia seolah runtuh di sekelilingnya, hanya cinta anak-anak yang bisa membangunnya kembali.
Rian baru saja di-PHK ketika rumah tangganya yang sudah berjalan 7 tahun hancur berkeping-keping. Dituduh selingkuh oleh istri, Novi, dan dipermalukan oleh keluarga besarnya, ia tidak punya pilihan selain kembali ke kampung halaman dengan membawa dua anaknya – Hadian dan Alea. Kedua anak itu dengan tegas memilih mengikuti ayahnya, bahkan menolak untuk bertemu dengan ibunda kandung mereka yang kini sudah hidup dengan orang lain.
Di rumah panggung peninggalan orangtuanya, Rian memulai dari nol. Dengan tangan yang terlatih bekerja keras dan dukungan tak lekang dari kedua anaknya, ia mengolah lahan pertanian, membuka peternakan, hingga akhirnya mendirikan perusahaan dan restoran yang sukses.
Setiap langkah kemajuan yang diraihnya tak pernah lepas dari kehadiran Hadian dan Alea. Ketika pertemuan tak terduga dengan Novi dan keluarga barunya terjadi berkali-kali, anak-anak itu tetap berdir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. RIAN MENYANGKAL
Suasana di ruang tamu masih terasa sedikit kaku meskipun tangisan dan teriakan sudah reda. Rian mengambil tangan Novi dengan lembut namun tegas, menatap langsung ke mata istri yang masih merah dan berkaca-kaca akibat menangis.
“Saya dengan sepenuh hati menyangkal tuduhanmu tentang saya selingkuh dengan Siti, Novi,” ujarnya dengan suara yang jelas dan mantap, tidak ada sedikit pun keraguan dalam nada suaranya. “Saya tidak pernah melakukan sesuatu yang tidak pantas terhadapmu atau keluarga kita. Tidak pernah dan tidak akan pernah.”
Novi mengerutkan kening sedikit, masih tampak ragu namun mulai menunjukkan tanda ingin mendengar penjelasan suaminya. Dia mengangguk perlahan, memberikan kesempatan bagi Rian untuk menjelaskan semuanya dengan jelas.
“Kamu ingat kan beberapa hari yang lalu saya pulang lebih larut dari biasanya dan membawa pulang beberapa surat lamaran ke perusahaan baru?” tanya Rian, melihat wajah Novi yang mulai menunjukkan ekspresi pemahaman. “Itu semua karena bantuan Siti. Setelah kita semua terkena PHK, dia tetap menjaga hubungan dengan beberapa teman kerja yang masih bekerja di perusahaan lain atau sudah mendapatkan pekerjaan baru.”
Rian menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan penjelasannya. “Saat dia tahu bahwa saya kesulitan mencari pekerjaan dan bahkan mendapat tekanan dari keluarga kamu untuk menemukan pekerjaan stabil dalam waktu satu bulan, dia secara sukarela menawarkan bantuan. Dia menghubungi semua orang yang dia kenal untuk mencari informasi tentang lowongan pekerjaan yang sesuai dengan keterampilan saya. Foto yang kamu temukan itu diambil saat dia sedang memberi tahu saya tentang rencana perusahaan yang akan membuka lowongan besar beberapa bulan kemudian.”
Novi terdiam sejenak, matanya bergerak dari wajah suaminya ke arah foto yang masih tergeletak di atas meja makan. Dia mulai menyadari bahwa dia telah membuat kesalahan besar dengan menyalahkan Rian tanpa mengetahui seluruh kebenaran. Rasa bersalah mulai muncul dalam dirinya, membuatnya merasa sangat tidak nyaman.
“Kamu bisa bertanya langsung pada Anton atau Pak Slamet jika kamu tidak percaya pada saya,” tambah Rian dengan suara yang lebih lembut. “Mereka tahu bahwa Siti hanya membantu saya mencari pekerjaan dan tidak ada hubungan lain di antara kami. Bahkan beberapa hari yang lalu, dia juga memberikan informasi tentang lowongan pekerjaan di perusahaan konstruksi besar yang akan membuka pendaftaran minggu depan.”
Rian mengambil tas kerja yang selalu dia bawa dan mengeluarkan beberapa amplop putih yang berisi surat lamaran serta informasi perusahaan yang sedang membuka lowongan. “Ini semua hasil dari bantuan dia,” ujarnya dengan suara yang penuh rasa terima kasih. “Tanpa bantuannya, saya tidak akan bisa mendapatkan informasi tentang kesempatan kerja ini dengan cepat. Dia tahu betul bahwa saya sedang dalam kesulitan dan hanya ingin membantu seorang teman kerja yang sedang mengalami kesusahan.”
Novi menangis pelan mendengar penjelasan itu. Dia mengambil surat-surat yang diberikan Rian dengan tangan yang gemetar, melihat setiap lembaran dengan cermat. Semua surat itu jelas merupakan informasi tentang lowongan pekerjaan dan surat rekomendasi dari beberapa perusahaan yang pernah bekerja sama dengan pabrik lama mereka.
“Aku… aku sungguh menyesal, Sayang,” ujar Novi dengan suara yang bergetar, menatap wajah Rian dengan mata yang penuh dengan rasa bersalah dan kesedihan. “Aku tidak boleh menyalahkanmu tanpa tahu seluruh kebenaran. Aku hanya merasa sangat takut kehilanganmu dan keluarga kita, sehingga membuatku mudah curiga dan melihat hal-hal yang tidak sebenarnya.”
Rian membungkus istri dengan pelukan yang erat dan penuh kasih. “Aku mengerti rasamu, Sayang,” ujarnya dengan suara yang lembut. “Kita semua sedang mengalami tekanan yang luar biasa akhir-akhir ini. Kamu khawatir tentang masa depan kita dan anak-anak, dan itu membuatmu menjadi sangat sensitif terhadap hal-hal yang tidak jelas.”
“Tapi kita harus saling percaya satu sama lain, Novi,” lanjut Rian dengan suara yang lebih tegas namun tetap penuh kasih. “Kita adalah pasangan suami istri yang telah melalui banyak hal bersama. Jika ada sesuatu yang membuatmu merasa tidak nyaman atau curiga, kamu harus datang dan bertanya padaku dengan terbuka. Jangan pernah membuat tuduhan tanpa bukti lagi, karena itu bisa merusak hubungan kita yang sudah kita bangun dengan susah payah selama ini.”
Novi mengangguk dengan penuh rasa bersalah, menyandarkan wajahnya pada dada suaminya sambil menangis pelan. “Aku janji tidak akan pernah melakukan hal yang sama lagi, Sayang,” ujarnya dengan suara yang jelas. “Aku akan selalu percaya padamu dan akan selalu berkomunikasi dengan terbuka jika ada sesuatu yang membuatku merasa khawatir atau tidak nyaman.”
Pada saat itu, pintu kamar terbuka perlahan dan Hadian muncul dengan membawa gelas air hangat. “Papa, Bu Mama, tolong jangan bertengkar lagi ya,” ujarnya dengan suara yang lembut namun jelas. “Aku sudah mendengar semua pembicaraan kalian. Kakak Alea sudah tidur lagi, tapi dia bilang ingin Papa dan Mama segera damai.”
Rian dan Novi segera melepaskan pelukan dan melihat putra sulung mereka dengan wajah yang penuh dengan cinta dan rasa bersalah. Rian mendekat dan membungkus Hadian dengan pelukan yang erat. “Maafkan Papa ya Nak,” ujarnya dengan suara yang penuh kasih. “Papa dan Mama sudah tidak akan bertengkar lagi. Kita akan selalu berbicara dengan baik dan saling mengerti satu sama lain.”
Novi juga mendekat dan mencium dahi Hadian. “Maafkan Mama juga ya Nak,” ujarnya dengan suara yang lembut. “Mama tidak sengaja membuatmu dan Kakak Alea merasa takut. Mama dan Papa akan selalu bersama-sama untuk kamu berdua.”
Setelah itu, mereka semua duduk bersama di sofa kecil di ruang tamu. Rian memberitahu Novi dan Hadian tentang rencana dia untuk mendaftar ke perusahaan konstruksi besar yang informasi diberikan oleh Siti. Dia juga menjelaskan bahwa perusahaan itu menawarkan gaji yang cukup baik dan kesempatan untuk menjadi karyawan tetap dengan tunjangan yang lengkap.
“Jika saya diterima di sana, kita tidak akan perlu lagi mengalami kesulitan ekonomi seperti sekarang,” ujar Rian dengan suara yang penuh dengan harapan. “Kita bisa membayar semua tagihan yang tertunda, memberikan pendidikan yang baik bagi anak-anak, dan bahkan bisa memikirkan untuk membeli rumah kita sendiri suatu hari nanti.”
Novi merasa hati nya menjadi hangat mendengar kata-kata itu. Dia menyadari bahwa dia telah salah mengira suaminya dan bahwa Rian benar-benar melakukan segala yang bisa untuk memberikan kehidupan yang layak bagi keluarga mereka. Dia bertekad untuk menjadi istri yang lebih baik, lebih percaya, dan lebih mendukung bagi suaminya dalam setiap langkah yang dia tempuh.
Di malam hari itu, setelah anak-anak tertidur pulas kembali, Rian dan Novi duduk bersama di teras depan rumah melihat langit yang penuh dengan bintang-bintang. Mereka tidak banyak berbicara, hanya saling memegang tangan dan merenungkan segala sesuatu yang telah terjadi hari itu. Mereka menyadari bahwa kepercayaan adalah pondasi utama dalam setiap hubungan, dan bahwa tanpa kepercayaan yang kuat, tidak ada hubungan yang bisa bertahan lama.
Rian bertekad untuk segera mendaftar ke perusahaan konstruksi besar dan melakukan yang terbaik untuk melewati tes serta wawancara kerja. Dia juga bertekad untuk selalu berkomunikasi dengan jujur dan terbuka dengan Novi tentang segala sesuatu yang terjadi dalam hidup mereka, sehingga tidak akan pernah lagi muncul kesalahpahaman yang bisa merusak hubungan mereka.
Novi juga bertekad untuk lebih mempercayai suaminya dan untuk selalu memberikan dukungan serta dorongan yang dibutuhkan Rian dalam mengejar impiannya. Dia menyadari bahwa mereka adalah pasangan yang harus saling membantu dan mendukung satu sama lain dalam setiap situasi, baik dalam keadaan senang maupun susah.
Meskipun mereka tahu bahwa masih ada banyak tantangan yang akan datang dan jalan yang akan ditempuh tidak akan mudah, namun mereka merasa bahwa mereka telah melewati salah satu ujian terberat dalam hidup mereka sebagai pasangan. Dan dengan kepercayaan, cinta, dan komitmen yang mereka miliki satu sama lain, mereka yakin bahwa mereka akan bisa mengatasi segala rintangan yang ada dan membangun kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan serta kedamaian bagi keluarga mereka yang sangat dicintai.