Dikhianati dan dipermalukan, Nafiza Azzahra, wanita bercadar yang lembut, mendapati pernikahannya hancur berantakan. Dipaksa memulai hidup baru, ia bertemu Zayn Al Malik, CEO muda yang dingin dan tak tersentuh, Namun, sesuatu dalam diri Nafiza menarik Zayn, membuatnya mempertanyakan keyakinannya. Di tengah luka masa lalu, benih-benih asmara mulai bersemi. Mampukah Zayn meluluhkan hati Nafiza yang sedang terluka? Dan bisakah mereka menemukan cinta sejati di tengah badai pengkhianatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Kekhawatiran langsung terpancar di mata Zayn. Senyum cerah yang tadi menghiasi wajahnya lenyap seketika, digantikan kerutan di dahi. Tanpa ragu, ia mendekat dan berjongkok di hadapan Nafiza. "Sayang, kamu kenapa? Sakit di mana?" tanyanya, suaranya penuh dengan kekhawatiran dan perhatian. Ia merasa bersalah karena telah membuat Nafiza kesakitan.
Nafiza menunduk, pipinya semakin merona. Dengan suara yang sangat pelan, hampir tidak terdengar, ia menjawab, "Di ... di bawah sini ... agak sakit ..." sambil menunjuk area perut bagian bawahnya.
Zayn tersenyum tipis, mengerti apa yang dirasakan Nafiza. Namun, senyumnya segera menghilang, digantikan dengan rasa khawatir dan bersalah. Ia merasa bertanggung jawab atas rasa sakit yang dialami Nafiza. Tanpa aba-aba, Zayn mengangkat tubuh Nafiza dengan hati-hati, membawanya dalam pangkuannya.
"Mas, aku bisa jalan sendiri kok," protes Nafiza pelan, terkejut dengan tindakan Zayn. Namun, ia tidak berusaha melepaskan diri. Tangannya dengan refleks melingkar di leher pria tampan di depan matanya.
Zayn tidak menghiraukan protes Nafiza. Dengan langkah lembut dan hati-hati, ia melangkah masuk ke kamar mandi. Ia menurunkan Nafiza perlahan ke dalam bathtub, lalu mulai mengisi air hangat. Ia memastikan suhu airnya pas, tak tidak terlalu panas, atau terlalu dingin, tak lupa juga aroma terapi yang menyegarkan agar Nafiza merasa nyaman.
Nafiza yang melihat perhatian yang tulus dan kelembutan Zayn, tidak bisa menahan air matanya. Air mata haru mulai mengalir membasahi pipinya.
Melihat Nafiza menangis, Zayn semakin panik. "Sayang, kenapa nangis? Apa masih sangat sakit? Apa kita ke dokter aja?" tanyanya dengan nada khawatir.
Nafiza menggeleng pelan, berusaha menenangkan Zayn. Namun, air matanya terus mengalir, tidak bisa dihentikan.
Zayn ikut masuk ke dalam bathtub, menghampiri Nafiza dan memeluknya dengan penuh kasih. Ia membekap pipi Nafiza dengan tangannya yang besar, lalu menghapus air matanya dengan lembut. "Maafkan Mas ya, Sayang. Mas janji lain kali akan lebih hati-hati," bisiknya dengan nada penuh penyesalan.
Nafiza kembali menggeleng pelan, mencoba menyangkal perkataan Zayn.
Zayn semakin merasa bersalah. Ia takut telah menyakiti Nafiza secara fisik maupun emosional.
"Mas nggak perlu minta maaf," ucap Nafiza akhirnya, suaranya bergetar karena menahan tangis. "Naf nangis bukan karena sakit, tapi karena terharu. Mas begitu baik sama Naf," tambahnya sambil menatap Zayn dengan mata yang berkaca-kaca.
Zayn menghela napas lega mendengar pengakuan Nafiza. Ia merasa beban berat terangkat dari hatinya. Ia meraih wajah Nafiza dengan kedua tangannya, lalu mengecup seluruh wajah sang istri dengan gemas. "Kamu adalah prioritas Mas sekarang! Jadi, jangan pernah merasa sungkan atau apa pun. Mas akan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk istri Mas yang cantik ini," ujarnya dengan tulus dan penuh cinta.
Nafiza tersenyum bahagia mendengar perkataan Zayn. Ia merasa sangat beruntung memiliki suami yang begitu perhatian dan penyayang. Ia memeluk Zayn dengan erat, menyalurkan seluruh cinta dan terima kasihnya.
Di tengah keharuan dan kebahagiaan itu, mereka berdua berjanji untuk selalu saling menjaga, saling mencintai, dan saling menghormati dalam segala situasi. Mereka tahu, perjalanan pernikahan mereka masih panjang, namun dengan cinta dan kasih sayang yang mereka miliki, mereka yakin bisa menghadapi segala rintangan dan cobaan yang akan datang.
Setelah keharuan dan percakapan yang menyentuh hati, Zayn dan Nafiza akhirnya memutuskan untuk mandi bersama. Namun, tidak ada adegan intim yang terjadi di sana. Mereka benar-benar mandi untuk membersihkan diri dan mengejar waktu subuh yang sudah sangat terlambat. Mereka saling membantu mencuci rambut dan badan masing-masing dengan lembut, sambil sesekali bertukar senyum dan candaan ringan.
Tak berapa lama, keduanya keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar dan bersemangat.
Dengan tergesa-gesa, mereka bergegas menunaikan shalat subuh, meskipun sudah sangat terlambat. Zayn menjadi imam dan Nafiza menjadi makmum di belakangnya. Keduanya terlihat khusyuk dalam shalatnya, memohon ampunan kepada Allah SWT atas kelalaian mereka dan memohon keberkahan untuk rumah tangga mereka.
Setelah selesai shalat, mereka memutuskan untuk membaca ayat Al-Qur'an bersama. Mereka memilih surat Ar-Rahman, surat yang penuh dengan keindahan dan makna tentang nikmat-nikmat Allah SWT.
Terdengar lah lantunan ayat suci Al-Qur'an menggema di dalam kamar pengantin. Suara Zayn yang merdu dan fasih berpadu dengan suara Nafiza yang lembut dan penuh penghayatan, menciptakan suasana yang tenang dan damai. Mereka membaca ayat demi ayat dengan tartil, meresapi maknanya dan mensyukuri segala nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT kepada mereka.
Setelah membaca Al-Qur'an, mereka memutuskan untuk makan pagi di dalam kamar saja. Zayn khawatir akan keadaan Nafiza dan tidak ingin memaksanya untuk keluar kamar. Ia memesan room service dan meminta agar sarapan mereka diantar ke kamar.
Tak berapa lama, seorang pelayan datang mengantarkan sarapan mereka. Zayn membuka pintu dan menerima nampan berisi hidangan sarapan yang lezat. Ia meletakkan nampan tersebut di atas meja dan mempersilakan Nafiza untuk duduk.
"Kita makan di sini aja ya, Sayang. Mas nggak mau kamu kecapekan," ucap Zayn dengan lembut sambil menarikkan kursi untuk Nafiza.
Nafiza tersenyum bahagia. "Iya, Mas. Makasih ya udah perhatian sama aku," balasnya dengan tulus.
Mereka berdua mulai menyantap sarapan mereka dengan tenang dan penuh syukur. Sambil makan, mereka saling bertukar cerita tentang rencana mereka hari ini.
"Hari ini kita mau ngapain, Mas?" tanya Nafiza dengan nada penasaran.
Zayn tampak berpikir sejenak, lalu tersenyum. "Gimana kalau hari ini kita staycation aja di hotel? Kita nikmatin fasilitas hotel, kayak swimming pool, spa, atau gym," usulnya.
Nafiza tampak ragu. "Tapi, aku kan masih agak sakit, Mas. Nggak enak kalau mau swimming atau spa," ujarnya dengan nada khawatir.
Zayn meraih tangan Nafiza dan menggenggamnya erat. "Nggak apa-apa, Sayang. Kita nggak harus swimming atau spa kok. Kita bisa jalan-jalan di sekitar hotel, atau sekadar bersantai di kamar sambil nonton film," ujarnya lembut. "Yang penting, kita bisa menghabiskan waktu berdua dan saling menikmati kebersamaan," tambahnya sambil tersenyum.
Nafiza tersenyum lega mendengar perkataan Zayn. Ia merasa sangat dicintai dan dimengerti oleh suaminya. "Iya deh, Mas. Aku ikut aja," balasnya dengan tulus.
"Oke, kalau gitu, setelah kita selesai sarapan, kita siap-siap ya. Kita pakai baju yang nyaman dan santai, terus kita jalan-jalan di sekitar hotel," ucap Zayn dengan semangat.
Bersambung ....