Sekar Wening hidup sebagai gadis desa terbuang yang kelaparan di gubuk bocor dilereng bukit Menoreh. Ia dianggap pembawa sial, tak berguna, tak diinginkan.
Tak ada yang tahu, jiwanya adalah seorang profesor biohayati jenius yang mati dalam ledakan laboratorium.
Saat tanda lahir di jari manisnya bersinar, sebuah ruang ajaib terbuka. Tanah surga, air kehidupan, dan takdir baru menantinya. Dari gadis hina menjadi wanita yang mengguncang desa hingga Keraton, Sekar bersiap membalikkan nasib, dan tanpa ia sadari, di tengah kebangkitannya, hati seorang Pangeran Yogyakarta mulai terpikat padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membeli Lahan Kematian
Suara batang bambu yang bergesekan karena angin pagi terdengar seperti musik kemenangan di telinga Rahayu.
Sudah tiga hari berlalu sejak sertifikat tanah dan gubuk itu resmi berpindah tangan. Ibunya kini rajin menyapu halaman tanah yang sudah menjadi miliknya sendiri, bersenandung pelan tembang Jawa lawas, seolah beban ribuan ton baru saja diangkat dari pundaknya yang ringkih.
Namun, bagi Sekar Wening, atau lebih tepatnya Profesor Sekar, ketenangan ini hanyalah jeda singkat sebelum badai berikutnya.
Sekar duduk di balai-balai bambu, menyesap teh melati panas sambil mengamati gerak-gerik tetangga dari balik pagar hidup tanaman beluntas.
"Sstt... Yu, sampeyan lihat itu? Anaknya Rahayu kemarin kirim beras berkarung-karung lagi ke kota. Padahal sawahnya saja tidak punya," bisik seorang ibu-ibu tetangga yang sedang menjemur kerupuk di pekarangan sebelah.
"Iya, aneh to? Jangan-jangan beneran miara tuyul seperti kata Bu Marsinah," sahut tetangga lainnya, matanya melirik curiga ke arah gubuk Sekar.
Sekar meletakkan gelas tehnya dengan tenang.
Diskrepanasi data.
Otak profesornya langsung menyalakan sinyal merah. Ini adalah celah logika fatal dalam skenarionya.
Dia bisa terus memanen padi dan sayuran dari Ruang Spasial setiap malam saat tubuh fisiknya tertidur lelap di kamar. Bagi ibunya dan dunia luar, Sekar hanya gadis remaja yang doyan tidur—terkadang tidur dari sore sampai pagi—padahal kesadarannya sedang mencangkul dan memanen di dimensi lain yang waktu berputarnya sepuluh kali lebih lambat.
Tapi hasil panen itu butuh asal-usul.
Masyarakat desa adalah pengamat yang paling teliti sekaligus paling kejam. Jika ada output (beras), harus ada input (sawah). Jika tidak, kesimpulannya pasti lari ke hal mistis atau kriminal.
"Aku butuh alibi fisik," gumam Sekar pelan.
Dia butuh lahan. Bukan sembarang lahan, tapi lahan yang cukup luas, murah, dan tidak menarik perhatian orang untuk mendekat.
Siang harinya, Sekar menemui Pak Dukuh, kepala dusun setempat.
Pria paruh baya itu sedang menikmati rokok klobot di pendopo rumahnya ketika Sekar datang menyampaikan maksudnya.
"Nduk Sekar mau beli tanah?" Pak Dukuh membetulkan letak pecinya, menatap Sekar dengan pandangan sangsi. "Lha wong uang pelunasan utang ibumu saja baru kemarin beres, kok sekarang mau beli tanah lagi? Uang dari mana?"
"Ada sedikit tabungan hasil dagang beras kemarin, Pak," jawab Sekar sopan, menggunakan krama inggil yang halus. "Saya butuh lahan untuk memperluas usaha."
Pak Dukuh mengangguk-angguk, meski matanya masih menyiratkan ketidakpercayaan. "Ya sudah. Kebetulan ada tanah sawah produktif di dekat irigasi utama, milik Pak Haji Sobri. Tapi harganya mahal, Nduk. Lima ratus ribu per meternya."
Sekar menggeleng pelan. "Mboten, Pak. Saya tidak cari tanah bagus. Uang saya tidak cukup."
Sekar menatap lurus ke mata Pak Dukuh. "Saya dengar Bukit Cadas di ujung desa yang berbatasan dengan hutan jati itu mau dijual?"
Pak Dukuh tersedak asap rokoknya sendiri. Dia batuk-batuk hebat sampai wajahnya memerah.
"Uhuk! Bukit Cadas?! Tanah mati itu?!" seru Pak Dukuh setelah batuknya reda. Dia menatap Sekar seolah gadis di depannya sudah kehilangan akal sehat.
"Nduk, sampeyan itu sadar tidak? Tanah di sana itu isinya cuma batu kapur dan lempung keras. Cangkul saja bisa patah kalau dipaksa masuk situ. Rumput teki saja enggan tumbuh di sana!"
"Saya tahu, Pak," jawab Sekar tenang. "Justru karena itu harganya pasti murah, kan?"
Pak Dukuh geleng-geleng kepala. "Bukan murah lagi, Nduk. Itu tanah buangan. Sudah sepuluh tahun tidak ada yang mau menyentuh. Pemilik aslinya orang kota, sudah lama mau lepas aset itu karena capek bayar pajak bumi bangunan tapi tanahnya tidak menghasilkan apa-apa."
"Saya mau beli, Pak. Seluruhnya. Dua ribu meter persegi itu."
Pak Dukuh menatap Sekar lama, mencari tanda-tanda kegilaan di mata gadis itu. Tapi yang dia temukan hanyalah ketenangan sedalam telaga.
"Harganya cuma lima ribu perak per meter. Murah sekali. Tapi bapak ingatkan, Nduk... beli tanah itu sama saja buang uang ke kali. Itu namanya beli masalah."
"Saya ambil, Pak. Tolong disiapkan surat-suratnya hari ini."
Berita itu menyebar lebih cepat daripada api yang membakar jerami kering.
Sekar Wening, gadis yang baru saja lolos dari lubang jarum kemiskinan, kini membeli "Lahan Kematian".
Sore harinya, ketika Sekar sedang berjalan kaki menuju lokasi bukit tersebut untuk survei, dia berpapasan dengan rombongan Bibi Mirna yang baru pulang dari arisan.
Bibi Mirna, yang masih menyimpan dendam kesumat karena dipermalukan notaris seminggu lalu, langsung mendapatkan amunisi baru untuk menyerang.
"Oalah, Gusti! Lihat itu, si tuan tanah baru!" seru Mirna dengan suara cempreng yang sengaja dikeraskan.
Ibu-ibu arisan di belakangnya cekikikan sambil menutup mulut dengan kipas tangan.
Mirna menghadang langkah Sekar di tengah jalan desa yang berdebu. Matanya memindai penampilan Sekar dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan.
"Heh, Sekar. Bibi dengar kamu beli Bukit Cadas? Beneran?" tanya Mirna dengan senyum sinis yang lebar.
Sekar berhenti, menatap tantenya datar. "Benar, Bibi."
Tawa Mirna meledak seketika.
"Hahahaha! Aduh, perutku sakit!" Mirna memegangi perutnya yang berlemak, tertawa sampai air matanya keluar. "Dasar wong ndeso! Punya duit sedikit langsung kalap, tapi gobloknya minta ampun!"
Mirna maju selangkah, menunjuk wajah Sekar dengan telunjuknya yang memakai cincin emas besar.
"Kamu pikir kamu bisa nanam apa di sana, hah? Nanam batu? Itu tanah kutukan, tahu! Dari jaman kakek buyutmu, tidak ada yang bisa hidup di sana. Kambing saja kalau dilepas di sana bisa mati kelaparan!"
"Mungkin Bibi benar," jawab Sekar santai, tidak terpancing emosi sedikitpun. "Tapi setidaknya tanah itu milik saya sendiri. Bukan numpang di tanah warisan orang tua."
Wajah Mirna langsung berubah merah padam. Sindiran itu telak mengenai statusnya yang masih menumpang hidup di rumah Eyang Marsinah.
"Kurang ajar!" sembur Mirna. "Lihat saja nanti! Paling seminggu lagi kamu nangis-nangis minta uangmu balik. Dasar orang gila! Beli tanah kok tanah mati!"
Sekar tidak menanggapi lagi. Dia melangkah tenang melewati Mirna yang masih mencak-mencak seperti ayam betina yang hendak bertelur.
Bagi Sekar, ejekan itu hanyalah kebisingan latar belakang yang tidak relevan.
Dia terus berjalan hingga sampai di ujung desa.
Di depannya, terhampar sebuah bukit kecil yang gersang. Tidak ada pepohonan hijau yang menyejukkan mata. Yang ada hanyalah hamparan tanah berwarna cokelat pucat yang retak-retak, diselingi bongkahan batu kapur putih yang menyilaukan mata karena pantulan matahari sore.
Panas yang memancar dari tanah itu terasa menyengat kulit, seolah tanah itu sendiri sedang demam tinggi.
Sekar berjongkok, mengambil segenggam tanah kering itu. Teksturnya kasar, berpasir, dan panas.
Kandungan organik: minimal. Retensi air: nol. Tingkat alkalinitas: kemungkinan ekstrem.
Secara agrikultur konvensional, lahan ini memang vonis mati. Tidak ada tanaman pangan yang bisa bertahan hidup di sini lebih dari dua hari.
Tapi bibir Sekar justru melengkung membentuk senyum tipis.
Ini sempurna.
Lahan ini terisolasi, jauh dari pemukiman, dan dianggap tidak berharga sehingga tidak akan ada orang iseng yang mau repot-repot datang ke sini untuk mencuri atau mengintip.
Ini adalah "panggung" yang sempurna untuk pertunjukan sulapnya.
Sekar berdiri, menepuk-nepuk debu di tangannya. Matanya menatap hamparan batu gersang itu bukan sebagai masalah, tapi sebagai kanvas kosong.
"Kalian menyebutnya lahan kematian," bisik Sekar pada angin sore yang kering. "Aku menyebutnya laboratorium lapangan."
Di saku celananya, jari manis Sekar terasa hangat. Sebuah botol kecil berisi air spiritual dari Ruang Spasial sudah siap untuk eksperimen pertamanya di dunia nyata.